
Lanzi masuk kembali ke ruang tamu kantor. Triana menutup telepon dari Aditya.
"Nyonya Felis, mari saya antar Anda ke lokasi syuting," ucap Lanzi.
"Felis, Mas. Cukup panggil saja, Felis," ucap Triana.
Lanzi tertegun mendengar suara Felicia saat memanggilnya dengan kata 'Mas' karena itu membuat Lanzi teringat pada Triana. Lanzi membuka pintu dan mempersilakan Felicia keluar lebih dulu. Lanzi tidak dapat lagi berkata, hatinya begitu terusik ketika Felicia bicara. Karena itu, Lanzi tidak ingin membuka percakapan lagi, agar Felicia juga tidak bicara.
Mereka berjalan sejajar menuju lift. Lanzi masuk terlebih dulu ke dalam lift dan menahan tombol pintu agar tetap terbuka. Karena Felicia tidak segera masuk, jadi Lanzi menahan tombol pintu. Saat Felicia melangkah hendak masuk ke dalam lift, seorang OB menyenggol punggung Felicia hingga ia terjerembab ke dalam lift. Lanzi segera melepas tangan yang menekan tombol, dan segera menangkap Felicia agar tidak terjatuh.
Lanzi menahan tubuh Felicia hingga menabrak dada bidangnya. Triana mengangkat wajahnya, dalam dekapan Lanzi, Tri meneteskan airmata. Betapa ingin Triana memeluk suaminya itu dengan erat.
Lanzi menatap kedua manik mata Felicia.
"Kenapa tatapan Felis begitu dalam padaku? Kenapa dia meneteskan airmata, setiap kali beradu pandangan denganku. Lanzi segera lepaskan, dia istri orang!" Lanzi mengutuk diri sendiri saat ia sadar, ia masih memeluk Felicia. Lanzi melepas pelukkannya, dan segera menjauh dari tempat Felicia berdiri.
"Maaf, Felis, aku tidak sengaja. Aku hanya ingin menahanmu agar tidak terjatuh," ucap Lanzi.
"Tidak apa, terima kasih, sudah menolongku." Triana mengusap air matanya lalu tersenyum. Betapa tersiksa batin Triana, ia berada dekat dengan orang yang dia sayang, tapi tak bisa bersamanya.
Lanzi mengantar Felicia berkeliling, sepanjang jalan, Lanzi selalu mencuri pandang ke arah Felicia. Ia merasa heran, karena Felicia tahu setiap letak ruangan di perusahaan iklan milik Lanzi. Lanzi penasaran dan mencoba menguji Felicia untuk membuktikan dugaannya. Lanzi merasa ada sesuatu yang misterius tentang Felicia.
"Felis, sudah waktunya makan siang, bagaimana jika kita makan siang dulu?" Lanzi mengajak Felicia ke tempat dimana ia belum menunjukkannya pada Felicia. Gerakan Felicia yang langsung berbelok ke arah kantin, membuat mata Lanzi membulat sempurna. Lanzi segera menarik tangan Felicia dan membawanya masuk ke kamar mandi yang mereka lewati, lalu Lanzi mengunci pintu kamar mandi. Lanzi melempar Felicia hingga tubuhnya menempel di dinding, dengan kedua tangan Felicia di cekal oleh Lanzi.
"Aw, sakit," ucap Felicia saat tubuhnya membentur dinding. Kedua tangannya dicekal di sisi kanan dan kiri, oleh Lanzi dengan kuat. Felicia meringis kesakitan.
"Siapa kau? Kenapa kau tahu setiap ruangan di gedung ini? Apa kau mata-mata dari perusahaan lain? Jawab aku!" bentak Lanzi.
__ADS_1
"Jangan berpikir berlebihan! Bagaimana jika aku jawab, aku adalah istrimu?" tanya Felicia dengan senyum menggoda.
Lanzi mencekal tangan Felicia dengan lebih keras. Lanzi menatap tajam ke arah Felicia. Lanzi marah karena Felicia menggodanya dan menyebut nama istrinya.
"Apa suamimu itu tahu, jika istrinya menggoda partner bisnisnya seperti ini? Apa kau tidak punya rasa malu?" tanya Lanzi pada Felicia.
Felicia malah makin semangat menggoda Lanzi. Felicia memajukan wajahnya dan dengan cepat mengecup bibir Lanzi.
Lanzi terbelalak kaget dan segera melepas tangan Felicia. Lanzi mundur beberapa langkah dan menatap tajam ke arah Felicia.
"Kau! benar-benar wanita menjijikkan. Kau berani mencium laki-kaki yang baru kau kenal. Kau benar-benar tidak tahu malu," ucap Lanzi sambil mengusap bibirnya dengan telapak tangan.
Triana berjalan ke arah pintu dan bersandar di sana. Dengan senyuman menggoda, ia membalas ucapan Lanzi.
"Bukannya itu yang kamu mau? Kamu membawaku ke kamar mandi dan mengunci pintu. Bukankah karena kau kesepian setelah istrimu pergi, dan kau butuh kehangatan," ucap Felicia sambil maju mendekati Lanzi lalu mengalungkan tangannya di leher Lanzi.
"Lepaskan aku! Jangan sampai aku berbuat kasar!" ancam Lanzi. Lanzi sekuat tenaga menarik tangan Felicia agar terlepas darinya. Setelah berhasil melepaskan tangan Felicia, Lanzi segera keluar. Di luar pintu kamar mandi, ternyata ada dua karyawan wanita yang berdiri dan terkejut saat melihat Lanzi keluar dari kamar mandi wanita. Lanzi tidak mempedulikan hal itu, ia langsung pergi ke ruangan Tom.
"Seru juga mengerjai suami sendiri, aku akan gunakan wajah ini untuk menguji kesetiaan Mas Lanzi. Aduh ... aku lupa, si gila itu tahu tidak ya? Kalau dia tahu apa yang kulakukan, bagaimana?" Triana berubah jadi cemas dan ketakutan.
Beberapa menit yang lalu, Triana masih bisa tertawa. Saat terngiang ucapan Aditya, yang mengawasi dia, barulah Triana merasa panik. Triana segera keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya di ruang tamu kantor Lanzi. Triana kembali ke rumah Aditya dengan menggunakan taksi.
***
Di dalam ruangan Tom, Lanzi duduk di sofa dengan frustasi. Tom melihat tingkah Lanzi yang terlihat begitu tertekan. Tom duduk di samping Lanzi.
"Tuan muda, ada apa?" tanya Tom.
__ADS_1
"Felicia, dia ...." Lanzi tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Kenapa dengan Nyonya Felicia?" tanya Tom penasaran.
"Entah kenapa? Aku merasa kalau Felicia mirip dengan Triana. Suaranya yang paling mirip dengan Triana, apa kau merasa begitu?" tanya Lanzi pada Tom.
"Jika yang Tuan muda tanyakan adalah suaranya, saya jawab, ya. Suaranya bukan mirip lagi, tapi seperti salinan suara Nyonya muda. Tapi, jika yang Tuan muda tanyakan adalah hal lain, saya rasa tidak ada, selain suaranya yang mirip. Wajah dan yang lain tidak ada yang mirip," jawab Tom panjang lebar.
Lanzi menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, ia memijat kepalanya yang berdenyut nyeri. Di dalam pikiran Lanzi, di penuhi kilasan kejadian di kamar mandi tadi. Lanzi selalu terbayang bibir tipis Felicia yang mengecup bibirnya.
"Sial sekali, kenapa bayangan bibirnya terus menari di pikiranku. Sadar Lanzi, sadar. Triana aku minta maaf, sungguh aku tidak berniat memikirkan wanita lain," ucap Lanzi dalam hati. Lanzi kemudian bangun dan memberi perintah pada Tom.
"Pak Tom, hari ini cukup sampai di sini saja. Bawalah mobilku pulang! Aku akan pergi ke rumah Surya memakai taksi. Katakan juga pada ibu, jika dia bertanya tentangku," ucap Lanzi. Ia kemudian keluar dari ruangan Tom.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Tadi pagi, dia masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jadi muram setelah berkeliling dengan Nyonya Felicia?" gumam Tom. Ia memandang punggung Lanzi hingga hilang di balik pintu ruangannya.
------------------------------------------------
hy hy reader
author kasih penjelasan dulu ya soal Felicia.
Felicia dan Triana adalah orang yang sama.
Jadi jangan bingung mikir siapa Felis/Felicia.
Masih penasaran siapa Aditya, stay terus ya dsni
__ADS_1
tinggalkan jejak seperti biasanya 😁
buat yg sudah like n vote novel author, author ucapkan terima kasih. 😘😍😍