Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (33)


__ADS_3

Aurel mengayuh sepedanya dengan tersenyum riang sepanjang jalan. Menghirup napas lega, merasakan hembusan angin yang menerpa wajah cerianya. Hangatnya sinar mentari pagi hari ini sehangat perasaan bahagia Aurel. Perjalanannya menuju sekolah tidak terasa lama dan jauh, padahal jalan yang dilalui masih sama seperti kemarin.


"Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Jika bukan, lalu perasaan apa yang aku rasakan saat ini? Aku hanya merasa sedih saat tahu bahwa dia akan menjauh dariku. Dan aku merasa sangat bahagia saat di sampingnya. Aku tidak bisa membaca dan memahami apa isi hatiku sendiri, bantu aku menjawabnya, Tuhan," gumam hati Aurel.


Aurel tiba di sekolah dan segera menuju parkiran dan menyimpan sepedanya di sana. Bian juga baru saja tiba dan menaruh sepedanya di samping sepeda Aurel.


"Hai, Rel, selamat pagi," sapa Bian.


"Pagi juga, Kak. Pakai sepeda lagi? Kenapa dengan mobilnya?" tanya Aurel. Aurel bertanya demikian karena biasanya Bian membawa mobil sendiri. Namun dua hari terakhir, Bian datang ke sekolah memakai sepeda.


"Ya, soalnya sudah dua hari Kakak bangun kesiangan. Kalau pakai mobil takut terjebak macet. Ayo masuk!" Bian melangkah bersama Aurel menuju kelas mereka.


Ujian Nasional hanya tinggal dua bulan lagi. Aurel mulai disibukan dengan latihan ulangan dan ujian praktek. Hari ini, kelas Aurel mendapat jadwal praktek olahraga. Aurel pergi ke kamar mandi untuk mengganti seragam putih abu-abu dengan seragam olahraga. Dan merekapun menjalani ujian praktek olahraga lompat jauh, dan lari estafet. Aurel dan grupnya mendapat nilai paling tinggi, karena kelompok mereka adalah siswa siswi yang juara di bidang olahraga. Meskipun Aurel bukan siswi yang jago dalam olahraga, tetapi juga bukan berarti bodoh.


Ujian olahraga selesai dan Aurel pergi ke kamar mandi, membasuh tubuhnya dan mengganti kembali seragam olahraganya dengan seragam putih abu-abu. Aurel melangkah menuju kantin, ia melewati studio musik yang sedang dipakai untuk latihan drama. Aurel berhenti sebentar dan melihat mereka yang sedang menghapalkan naskah sambil berakting. Aurel kemudian pergi karena ia benar-benar merasa sangat haus setelah berolahraga.


"Aurel, tunggu!" Bian berlari menyusul Aurel yang berjalan menuju kantin.


"Kak Bian, baru istirahat juga?" tanya Aurel.


"Ya, tadi Kakak membereskan peralatan olahraga dulu," ucap Bian.


Mereka hampir setiap waktu selalu bersama, membuat semua siswa siswi yang melihat mereka percaya, bahwa mereka memang berpacaran. Aurel tidak mempedulikan gosip yang mereka katakan. Begitupun dengan Bian, meski ia memang menyukai Aurel, tapi dia tidak tahu apakah Aurel menyukainya atau tidak. Sebelum ia tahu perasaan Aurel padanya, Bian hanya akan mendampingi Aurel sebagai teman.


"Setelah ini, kamu mau kemana?" tanya Bian.


"Pulang. Kalau Kakak?" tanya Aurel.


"Mau antar kamu pulang, boleh kan? Oh, ya, kemarin kamu tidak pergi bekerja, ya?" tanya Bian.


"Ya, Kak. Aurel berhenti, dan ingin fokus belajar untuk ujian. Ayo pulang!" Aurel naik ke atas sepedanya dan mengayuhnya dengan pelan, agar Bian bisa mengimbangi di sisinya.


Tidak terasa Aurel sudah sampai di depan rumahnya. Aurel menawarkan Bian agar singgah ke rumahnya. Tetapi karena Bian ada janji dengan temannya, Bian pun menolak dengan halus. Aurel merasa lega karena Bian menolak, sebab ia sebenarnya takut jika Fariz kesal melihat Bian. Aurel sudah mendengar pernyataan cinta dari Fariz, tapi Aurel belum menemukan jawaban atas pernyataan cinta itu. Apakah Aurel juga menyukai Fariz sebagai pria atau menyukainya sebagai seorang kakak.


Sebelum Aurel yakin seperti apa perasaannya, ia tidak akan memberikan jawaban pada Fariz. Aurel takut jika nanti ia mengecewakan dan menyakiti hati Fariz. Aurel melangkah masuk ke dalam rumah dan mencari Fariz. Orang dicarinya itu ternyata sedang memasak.

__ADS_1


"Kak, sedang apa?" tanya Aurel.


"Mau masak untuk makan siang. Kamu kapan pulang sekolah?" tanya Fariz tersenyum.


"Baru saja. Tunggu Aurel ya, Kak! Aurel mau bantuin tapi mau ganti baju dulu," ucap Aurel sambil berlari ke dalam kamarnya. Aurel segera mengganti seragam sekolahnya dengan kaus longgar berwarna putih polos dan celana panjang longgar. Aurel lebih suka memakai pakaian yang longgar jika di rumah. Lebih nyaman untuknya bergerak. Selesai mengganti bajunya, Aurel menghampiri Fariz.


Mereka bekerja sama memasak untuk makan siang. Aurel dan Fariz memasak sambil sesekali bercanda. Jika ada yang melihat mereka saat ini, pasti mereka akan dianggap pengantin baru. Aurel menata meja makan setelah mereka selesai memasak.


"Ayo kita makan!" ucap Aurel. Merekapun makan siang berdua.


"Kak Fariz, Kakak belajar masak dimana? Semua masakan yang Kakak masak pasti sangat lezat," ucap Aurel sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Belajar sendiri sih, memangnya seenak itu ya, masakan Kakak?" tanya Fariz.


"He,em. Masakan Kakak enak sekali, Aurel suka, apalagi kalau masakan pedas seperti sekarang, Aurel lebih suka lagi," ucap Aurel berbinar.


Hari ini Fariz memasak udang balado dan ternyata itu adalah makanan kesukaan Aurel. Kebetulan sekali, karena Fariz juga menyukai makanan itu. Selesai makan mereka mencuci piring berdua. Selesai mencuci piring, Fariz dan Aurel melihat televisi, tetapi tidak ada siaran yang mereka sukai.


"Rel, kita jalan-jalan sore yuk!" ajak Fariz.


"Kemana?"


"Ya, sudah. Kalau mampir ke resto tempat kerja Aurel, boleh tidak?" tanya Aurel.


"Boleh, kalau begitu, Kakak ganti baju dulu," ucap Fariz.


Fariz pergi ke kamarnya dan mengganti baju rumahnya dengan kaus putih dan rompi jeans biru, dipadu celana jeans biru senada warna rompinya. Aurel juga sudah berganti baju dress tanpa lengan dengan panjang dibawah lututnya. Dress berwarna pink itu membuat Aurel terlihat sangat cantik. Fariz tidak berhenti memandang Aurel, sejak Aurel keluar dari kamarnya sampai Aurel tiba di depannya.


"Kenapa, Kak, tidak cocok ya?" tanya Aurel dengan canggung.


"Cocok sekali, cantik," ucap Fariz.


"Syukurlah. Aku pikir ini sangat jelek karena Kakak terus menatapku," ucap Aurel tertunduk.


Deg!

__ADS_1


Jantung Aurel berdetak kencang saat Fariz menggandeng tangan Aurel, dan merekapun berjalan-jalan santai menuju tempat kerja Aurel, dengan bergandengan tangan sepanjang jalan. Aurel tersenyum, ada rasa gugup dan bahagia saat Fariz menggenggam tangannya. Ini pertama kalinya bagi Aurel. Pertama kali dalam hidup Aurel, ia bergandengan tangan dengan seorang pria.


-------------------------------------------------


Hy readers


Tingglkan jejak kalian ya.


Author mo promo jg nih,


Cinta Ada Karena Terbiasa season 3 dah up.


Mohon dukungannya ya😍


Kasih like n bintang


Jangan lupa favoritkan juga.


Semoga kalian suka


Mampir juga di novel author yg lain juga. 


Pengasuh Cantik Sang Putri CEO


Cinta Ada Karena Terbiasa


Kupilih Hatimu


Status Gantung Miss CEO


Putri Yang Tergadai


Dll


Yuk! Mampir😚😚🙂

__ADS_1


Makasih buat yang sudah dukung novel ini.


Dkung terus ya dengan cara like, vote dan selalu krisannya Author tampung.


__ADS_2