Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (55)


__ADS_3

Pesta kejutan ulang tahun diakhiri dengan makan malam bersama. Mereka semua berkumpul di meja makan, tidak terkecuali bi Aen dan Pak Somad, satpam mereka. Mereka semua makan malam dengan bahagia. Triana juga tidak henti tersenyum karena mereka semua memuji masakan Triana.


"Ini enak sekali, Nyonya ternyata sangat pintar memasak," ucap Somad.


"Kamu ini, kamu pikir Nyonya tidak bisa masak, begitu?" tanya Aen.


"Haha, sudah, kalian ini seperti anak kecil saja, bertengkar di meja makan," ucap Triana dengan tersenyum geli.


"Dia terus tersenyum tapi tidak sedikitpun melirik padaku padahal aku duduk disampingnya. Dia masih marah padaku tapi tetap merayakan ulang tahunku. Tri, aku rindu sapaanmu, aku rindu saat kamu bermanja-manja padaku, aku rindu semua itu, sayang. Akankah semua bisa kembali seperti dulu? Akankah aku melihatmu seperti dulu?" Lanzi menggumam lirih dalam hatinya. Ia senang bisa berkumpul di hari ulang tahunnya. Ia berharap semua kesalahannya dapat dimaafkan oleh Triana.


"Makanlah! Kenapa melamun?" tanya Triana.


"Kamu sudah tidak marah?" Lanzi menggenggam tangan Triana, tetapi Triana mènarik tangannya.


"Kita bicarakan itu nanti. Sekarang makanlah dan jangan membuat suasana jadi aneh," ucap Triana sambil menatap mereka semua bergantian. Lanzi menurut dan diam menunggu acara makan malam selesai.


Selesai acara makan malam, mereka mengobrol di ruang keluarga. Mereka menceritakan kisah masa lalu, sedangkan Tom lebih suka menceritakan kisah masa kecil Lanzi. Tom sudah bekerja bersama Leonard sejak ia masih muda dan Lanzi masih berumur lima tahun. Mereka semua tertawa setiap Tom menceritakan sikap manja Lanzi pada kakeknya. Semuanya tertawa terpingkal-pingkal, hanya Lanzi saja yang tersenyum tipis. Lanzi tidak sabar menunggu untuk bicara dengan Triana.


***


Jam sepuluh malam, Fariz menjemput Aurel di resto. Dia menunggu di dalam mobil sambil melihat ke dalam resto. Fariz melihat istrinya sedang sibuk menyapu dan bercanda dengan pelayan resto yang lain, Fariz ikut tersenyum melihat senyuman dan tawa Aurel. Senyum Fariz menghilang dan berganti rasa penasaran, ketika ia melihat seorang pria mendekati Aurel.


Di dalam resto, Aurel terkejut saat ia sedang mengepel dan mundur. Aurel menabrak seseorang dan orang itu memegang kedua bahu Aurel untuk menahannya agar tidak terjatuh. Aurel segera berdiri tegak dan maju beberapa langkah. Aurel berbalik untuk melihat siapa orang yang sudah ia tabrak barusan.


"Maaf, Chef, saya tidak sengaja," ucap Aurel.


"Panggil saja saya, Iyan," ucap Dwiyan.


"Sa-ya permisi," ucap Aurel sambil pergi ke dapur dan menyimpan alat pel-nya. Aurel kembali bertemu Corry yang sudah mengganti seragamnya dengan baju biasa. Lagi-lagi Aurel dijegal oleh Corry, kali ini Aurel terjatuh karena tidak ada orang lain di dapur.


Gubrakk.


Aurel jatuh tersungkur, alat pel dan ember ia bawa pun ikut terlempar, hingga semua orang yang ada di depan segera berlari ke dapur, termasuk Gusti yang baru saja akan pulang. Gusti sudah sampai di dekat pintu resto, dan mendengar suara dari dapur lalu semua karyawannya berlarian ke dapur. Gusti ikut berlari ke dapur dan tercengang melihat Aurel terduduk di lantai. Dwiyan maju dan ingin membantu Aurel berdiri, tetapi Gusti lebih dulu sampai dan berjongkok di depan Aurel.

__ADS_1


"Rel, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu bisa terjatuh?" tanya Gusti khawatir.


"Aurel baik-baik saja, Kak. Kakak tidak usah khawatir," jawab Aurel tetapi matanya melirik ke arah Corry.


Dari dalam mobil, Fariz juga penasaran kenapa semua berlari ke arah yang sama. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Fariz masuk ke dalam dan menghampiri orang-orang yang berkerumun. Fariz segera mendekati Aurel yang sedang dibantu berdiri oleh Gusti. Fariz merebut Aurel dari tangan Gusti.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fariz sambil mendorong Gusti.


"Biasa aja, Bro! Main dorong aja. Kamu mau-maunya Rel dengan pria arogan seperti dia," ledek Gusti.


Fariz menatap tajam ke arah Gusti. Gusti hanya mendengus kesal melihat tatapan Fariz.


"Ternyata Aurel sudah punya kekasih. Pantas saja dia terus menghindar kalau aku mendekatinya. Tapi kasihan Aurel, baru jadi kekasih saja sudah seperti itu. Seperti mengekang Aurel. Aurel tidak pantas dengan pria seperti itu, aku akan berusaha merebut Aurel dari tangannya. Karena aku akan membahagiakan Aurel, tidak mengekangnya seperti dia," gumam hati Dwiyan.


"Kita pulang sekarang, Kak!" Aurel mengajak Fariz segera pulang agar tidak bertengkar dengan Gusti. Karena Aurel berjalan dengan sedikit pincang, Fariz memilih menggendongnya.


Setelah Aurel dan Fariz keluar dari dapur, semuanya bubar dan pulang. Hanya tinggal Corry dan Dwiyan di dapur. Dwiyan tahu, pasti Aurel jatuh karena perbuatan Corry. Dwiyan mendekati Corry dengan tatapan tajam. Corry gemetar ketakutan.


"Sudah berkali-kali kamu mengerjai anak baru di resto ini. Kebanyakan dari mereka mengundurkan diri, dan aku tidak peduli. Tapi ... jika kamu terus mengganggu Aurel dan membuatnya keluar dari resto ini .... Kau akan menanggung akibatnya!" ancam Dwiyan. Dwiyan keluar dari dapur dan pulang menaiki mobilnya. Corry semakin menaruh benci pada Aurel.


***


Jam sebelas malam, Tom pulang dan semua masuk ke kamar masing-masing. Triana bangun dari sofa dan melangkah pelan menuju kamar. Saat menaiki tangga, Triana terlihat kelelahan, padahal baru tiga anak tangga yang ia pijak. Lanzi tidak bisa tinggal diam, ia mendekati Triana dan menggendongnya. Lanzi tidak peduli meskipun Triana akan marah padanya karena menyentuhnya.


Triana hanya diam tanpa mengatakan apapun. Sampai di kamar, Lanzi membaringkan Triana di tengah ranjang. Lanzi duduk di tepi ranjang membelakangi Triana.


"Maaf, telah melukai hatimu. Aku tahu, sulit untuk menyembuhkan luka hati kamu. Aku siap, jika kamu ingin memukulku, atau membunuhku sekalipun. Tapi aku tidak siap jika harus menjauhimu, itu lebih berat bagiku dibandingkan kematian. Seumur hidupku, aku hanya ingin bersamamu, aku hanya mencintaimu," ucap Lanzi.


"Kalau kamu tahu, sulit untuk menyembuhkan luka hati. Kenapa kamu melakukannya? Ada banyak cara untuk membantu Cintya selain menikahinya. Kalaupun hanya ada cara itu untuk membantunya, harusnya kamu bilang sama aku. Jika kamu mencintaiku dan tidak ingin aku terluka, harusnya kamu rundingkan dulu denganku. Tidak dengan cara main belakang," ucap Triana dengan mata berkaca-kaca.


"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf," ucap Lanzi dengan suara parau. Ia menahan airmatanya sekuat hati agar tidak terjatuh.


"Ini, dari Cintya. Aku sudah memaafkanmu. Jika ada lain kali, aku tidak akan memaafkanmu lagi," ucap Triana.

__ADS_1


"Benarkah?" Lanzi berbalik menatap wajah Triana. Wajahnya berbinar mendengar ucapan Triana.


"Ya, tapi ingat! Jika terjadi lagi, aku akan menghilang darimu, selamanya," ucap Triana dengan wajah serius.


"Janji, aku janji tidak ada lain kali," ucap Lanzi sambil memeluk Triana.


"Aku sangat lelah, ingin tidur, jadi, lepaskan aku!" Triana melepaskan pelukan Lanzi.


"Ya, tidurlah. Aku mau mandi dulu," ucap Lanzi sambil mengecup kening Triana. Lanzi menyelimuti Triana lalu pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum tidur. Beban di hatinya telah terangkat. Karena hanya Triana yang bisa membuatnya frustasi seperti itu.


______________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.

__ADS_1


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2