
Bian pergi begitu saja, Gusti juga pergi meninggalkan Aurel dan Fariz. Aurel menatap mereka dengan rasa bersalah.
"Kenapa tidak mengatakan apapun sebelum pergi? Mereka marah padaku? Hiks hiks," ucap Aurel terisak.
"Jangan menangis! Jelek. Makanya jangan main-main seperti itu. Lagipula mereka tidak marah padamu," ucap Fariz.
"Darimana Kakak tahu?" tanya Aurel penasaran.
"Karena mereka, lebih tahu isi hatimu dibandingkan dirimu sendiri." Fariz menggandeng tangan Aurel dan mengajaknya pulang.
"Isi hatiku? Memangnya mereka tahu darimana?" tanya Aurel bingung.
"Entahlah, dasar bocil. Sudah malam, ayo pulang!" ucap Fariz sambil menarik Aurel.
Mereka pulang ke rumah, tapi di dalam perjalanan pulang, Aurel ingin mampir ke rumah Triana.
"Kak, kalau mampir ke rumah Ibu, terlalu malam tidak, ya?" tanya Aurel.
"Ini sudah terlalu malam, besok saja. Besok Kakak antar Aurel kesana, ok!" ucap Fariz.
"Ya."
Aurel dan Fariz sampai di rumah. Karena lelah, Aurel pamit tidur lebih awal. Padahal di kamarnya, Aurel tidak bisa tidur. Ia mengingat kembali kejadian sore tadi ketika Fariz memeluknya. Rasanya seperti tangan Fariz masih menempel dan memeluknya, meski sudah berlalu beberapa jam yang lalu. Aurel menutup wajahnya dengan bantal saat di pikirannya terlintas adegan Fariz yang ingin menciumnya. Seketika itu pula Aurel berdebar-debar mengingatnya.
"Ya, ampun. Apa aku sudah gila? Kenapa aku terus membayangkan hal aneh itu?" gumam Aurel. Lagi-lagi Aurel lupa mengunci pintu kamarnya.
"Membayangkan apa?"
Aurel terkejut mendengar suara Fariz. Saat Aurel menyingkirkan bantal di wajahnya, Aurel langsung tersentak bangun, membuat kepalanya membentur kening Fariz.
"Aduh ... sakit," ucap Fariz lalu ia tergeletak di ranjang.
Aurel panik melihat Fariz tergeletak pingsan.
"Kak, bangun! Jangan membuatku takut," ucap Aurel sambil menepuk-nepuk pipi Fariz. Tidak ada reaksi dari Fariz, Aurel makin ketakutan.
"Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Napas buatan, tapi aku tidak tahu caranya. Kak, bangun dong!" ucap Aurel panik. Akhirnya meski tidak tahu cara memberi napas buatan, tapi Aurel akan mencoba sebisanya untuk membuat Fariz bangun.
Aurel sudah bersiap memegang hidung Fariz, Aurel menarik napas dan menutup hidung Fariz lalu menempelkan bibirnya. Belum sempat bibir itu menempel, Fariz membalik posisi dan mengunci kedua tangan Aurel diatas kepala.
"Kakak, membohongiku? Jahat!" ucap Aurel mencoba menarik tangannya.
"Aku hanya ingin mengujimu, seperti apa reaksimu jika terjadi sesuatu padaku," ucap Fariz sambil menatap lekat kedua mata indah milik Aurel. Aurel merasa canggung dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Fariz memegang dagu Aurel dan menarik wajah Aurel agar menatapnya.
__ADS_1
"Awalnya, aku ingin meminta jawaban darimu saat di bioskop. Tidak disangka, kamu malah mengundang dua orang sainganku untuk menonton bersama. Sekarang dengarkan aku! Aurelia Adidjaya, Aku menyukaimu. Kali ini kau harus menjawabnya. Katakan jawabanmu sekarang!" ucap Fariz sambil menatap dengan senyuman manis tetapi penuh intimidasi.
"Ekhem ... itu ... lepaskan Aurel dulu! Aurel tidak nyaman seperti ini," ucap Aurel. Wajahnya sudah sangat panas dengan jarak hanya beberapa inchi dari wajah Fariz. Aurel bisa merasakan embusan napas Fariz yang hangat menerpa wajahnya, memberikan sensasi merinding di tengkuk Aurel.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Fariz yang malah semakin mendekatkan wajahnya. Fariz mendekatkan wajahnya dengan telinga Aurel, membisikkan kata-kata yang mengundang desiran aneh di hati Aurel.
"Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang tanpa alasan, atau aku akan melakukan sesuatu padamu!" ancam Fariz. Aurel menelan saliva ia benar-benar gugup mendengar ancaman Fariz.
"Aku ... a-ku ... akan membencimu jika kau macam-macam denganku!" Aurel mengancam balik Fariz meski dengan gugup.
"Ck, susah juga jatuh cinta pada anak kecil," ucap Fariz dan menyingkir dari tubuh Aurel.
Aurel bernapas lega setelah Fariz duduk di tepi ranjang. Aurel bangun dan duduk di samping Fariz.
"Aurel juga menyukai Kakak, tapi Aurel tidak suka sebuah pemaksaan. Aurel belum siap untuk ... em ... berciuman. Aurel harap, Kakak bisa menunggu sampai Aurel siap. Aurel sudah berjanji pada diri Aurel sendiri, kalau Aurel tidak akan berpacaran sebelum Aurel lulus sekolah. Itu janji Aurel pada Papa," ucap Aurel menjelaskan alasannya.
"Kenapa tidak jujur pada Kakak? Kakak tidak akan memaksa Aurel menjawab seperti ini. Maafkan Kakak," ucap Fariz sambil mengelus pipi Aurel. Aurel tersenyum menatap Fariz.
"Terima kasih," ucap Aurel.
"Ya, sudah, tidurlah! Besok kita ke rumah Tante Tri," ucap Fariz.
Aurel berbaring, Fariz menaikkan selimut Aurel lalu keluar dari kamar Aurel. Fariz tersenyum pada Aurel sebelum menutup pintu kamar. Fariz merasa lega setelah mendapat jawaban dari Aurel. Meskipun Aurel bilang tidak bisa berpacaran dengannya sekarang, setidaknya, Fariz tahu perasaan Aurel padanya. Fariz masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju tidur lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Perlahan-lahan matanya menjadi berat dan tak lama kemudian Fariz tertidur. Di kamarnya, Aurel juga sudah tertidur pulas.
***
Triana masih sering muntah-muntah di pagi hari, meskipun sudah diberikan vitamin dan obat oleh Dokter. Hanya saja, tidak seperti sebelumnya. Lanzi sudah menyiapkan makanan untuk Triana dan membawanya ke kamar.
"Sayang, sarapannya dimakan dulu." Lanzi menghampiri Triana di kamar mandi.
"Sudah mandi?" tanya Lanzi.
"Sudah, Mas," jawab Triana.
Lanzi membantu memapah Triana ke ranjang. Triana duduk di ranjang, punggungnya bersandar di kepala ranjang. Lanzi mengambilkan segelas susu hangat. Biasanya setelah meminumnya, rasa mual Triana berkurang.
"Daren sudah bangun, Mas?" tanya Triana.
"Sudah, sedang disuapi oleh Ibu. Bagaimana masih mual?" tanya Lanzi.
"Sedikit. Makan buburnya nanti saja, aku mau tiduran dulu, pusing." Triana merebahkan tubuhnya kembali. Lanzi mengelus rambut Triana dan mengecup keningnya.
"Istirahatlah," ucap Lanzi. Ia meninggalkan Triana agar beristirahat. Lanzi melangkah ke ruang makan dan sarapan bersama Fitri dan Daren.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Tri? Sudah sarapan?" tanya Fitri sambil menyuapi Daren.
"Belum, Bu. Katanya nanti saja. Lanzi kasihan sama Tri, kehamilannya yang sekarang benar-benar membuat badannya lemah," ucap Lanzi.
"Itu sudah biasa, setiap kehamilan selalu berbeda-beda reaksinya pada si ibu. Tri anak yang kuat, kamu tidak perlu khawatir," ucap Fitri menenangkan Lanzi.
--------------------------------------------------
Hy readers, maaf ya klo bosen liat promo novelku 🙏
Hy readers
Tingglkan jejak kalian ya.
Author mo promo jg nih,
Cinta Ada Karena Terbiasa season 3 dah up.
Mohon dukungannya ya😍
Kasih like n bintang
Jangan lupa favoritkan juga.
Semoga kalian suka
Mampir juga di novel author yg lain juga.
Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
Cinta Ada Karena Terbiasa
Kupilih Hatimu
Status Gantung Miss CEO
Putri Yang Tergadai
Dll
Yuk! Mampir😚😚🙂
Makasih buat yang sudah dukung novel ini.
__ADS_1
makasih buat yg udh like n vote.
Dkung terus ya dengan cara like, vote dan selalu krisannya Author tampung.