Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (22)


__ADS_3

Lanzi pulang ke rumah setelah lelah berkeliling. Lanzi langsung pergi ke kamar mandi dan lupa menceritakan pertemuannya dengan Aurel. Triana duduk di taman belakang rumah, melihat Daren yang sedang bermain mobil-mobilan. Fitri sedang membantu Triana mengoleskan minyak angin di tengkuknya.


"Tri, lebih baik pergi ke dokter. Mama takut kamu sakit, dari pagi tidak berhenti muntah-muntah. Mama antar ya?" tanya Fitri.


"Tidak perlu, Ma. Sepertinya ini tanda-tanda hamil," ucap Triana.


"Benarkah? Kamu telat berapa hari, sayang?" tanya Fitri dengan bahagia.


"Tri sudah terlambat dua minggu, Ma. Nanti siang Tri suruh bibi beli testpack saja, tidak perlu ke dokter," jawab Triana.


"Ya, sudah. Apa Lanzi tahu?"


"Belum, Ma. Nanti kalau sudah positif baru Tri kasih tahu," ucap Triana.


Lanzi turun dari kamar, mencari keberadaan Tri dan Daren. Ia mendengar suara tawa dari halaman belakang, Lanzi pergi ke halaman belakang dan tersenyum melihat Daren dan Fitri yang sedang bercanda. Lanzi menghampiri mereka dan menyapa Fitri.


"Selamat pagi, Bu," sapa Lanzi.


"Pagi, Lan. Sudah sarapan?" tanya Fitri.


"Sudah, Bu."


"Maaf, tadi Ibu dan Tri sarapan lebih dulu karena Daren sudah lapar dan ingin makan bersama kami," ucap Fitri.


"Tidak apa-apa. Bagaimana keadaan Tri, Bu?" tanya Lanzi.


"Baik, mungkin hanya masuk angin saja," jawab Fitri.


Lanzi bisa tenang sekarang, tadi ia merasa cemas karena Tri tidak mau pergi ke dokter. Lanzi duduk di bangku taman bersama Fitri. Tiba-tiba Triana berlari ke arah Fitri dan Lanzi.


"Mas, jagain Daren dulu, ya! Aku lupa, kemarin pesan sesuatu ke tukang sayur. Harusnya jam segini sudah ada di depan gang, aku ke sana dulu," ucap Triana.


Triana menunggu tukang sayur di depan pintu gerbang. Tetangga disamping rumah Lanzi itu kebetulan lewat, ia baru pulang dari pasar.


"Bu Tri, sedang apa?" tanya wanita itu.


"Eh, Bu Sofi, ini sedang menunggu tukang sayur. Ibu dari mana?" tanya Triana.


"Dari pasar. Bu, tahu tidak? Tadi saya melihat Pak Lanzi godain ABG, loh," ucap Sofi.

__ADS_1


"Ibu... pasti salah lihat. Itu... tidak mungkin, Mas Lanzi," jawab Triana tak percaya. Dia tahu persis seperti apa suaminya, mana mungkin Lanzi berani menggoda perempuan. Apalagi perempuan ABG yang masih belasan tahun.


"Nih, Ibu lihat kalau Ibu pikir saya berbohong." Sofi menunjukkan foto Lanzi dan Aurel di ponselnya.


Meskipun Triana tidak percaya pada apa yang Sofi ucapkan. Namun foto itu cukup membuat Triana terbakar cemburu. Tri memberikan kembali ponsel Sofi dan tersenyum dengan terpaksa saat Sofi berpamitan.


"Apa benar Mas Lanzi seperti itu? Tapi senyumnya begitu bahagia di foto itu? Tolong, jangan buat aku kecewa, Mas!" gumam Triana dalam hati.


Tukang sayur yang Triana tunggu pun datang. Ternyata Tri memesan mangga muda pada tukang sayur. Setelah mengambil dan membayar pesanannya, Triana masuk kembali ke dalam rumah.


***


Di rumah Aditya.


Aurel selesai berbelanja dan pulang ke rumah. Saat sedang mengambil belanjaannya dalam keranjang sepeda, Fariz datang menghampiri Aurel.


"Aku bantuin, ya," ucap Fariz. Ia mengambil belanjaan di keranjang tapi Aurel melarangnya.


"Tidak perlu, aku biasa sendiri," ucap Aurel.


Fariz memaksa dan merebut belanjaan di tangan Aurel, Aurel menahannya. Karena mereka saling tarik menarik, plastik kantong belanjaan sayuran itu putus dan semua sayuran di didalamnya terjatuh. Aurel menjadi kesal dan akhirnya marah-marah.


"Gara-gara kamu, lihat! Aku sudah bilang, tidak perlu, kenapa kamu memaksa? Bisa tidak sih, jangan ganggu aku!" Aurel pergi ke kamarnya dan mengunci pintu.


*Tok! Tok! Tok!


"Rel, aku minta maaf. Aku tahu, aku salah. Aku minta maaf, ok," ucap Fariz di depan pintu kamar Aurel.


"Ral, Rel, Ral, Rel. Kamu pikir aku rel kereta. Namaku Aurel, bukan Rel," jawab Aurel kesal.


"Ok, aku minta maaf, A-u-r-e-l." Fariz mengeja nama Aurel, membuat Aurel makin kesal.


*Ceklek.


"Kamu itu, kenapa sih, menyebalkan sekali. Kenapa tidak ikut bibi pergi tadi, daripada menggangguku," ucap Aurel dengan emosi.


"Bibimu ada janji makan siang katanya sama pamanmu, lalu, aku mengganggu mereka yang mau makan berdua, gitu?" tanya Fariz.


"Memang kamu percaya kalau bibiku pergi makan siang? Ini baru jam delapan pagi, memang jam makan siang jam berapa?" tanya Aurel menyadarkan pikiran Fariz. Aurel menutup pintu kembali dan menguncinya.

__ADS_1


Fariz tersenyum geli melihat Aurel marah.


"Kenapa dia malah terlihat lucu dan imut saat marah," gumam Fariz. Fariz pergi ke dapur dan mengambil dua lembar roti dan satu gelas jus jeruk. Fariz lalu melihat kantong berisi sayuran yang sudah rusak. Fariz melihat isinya dan menulisnya di sebuah kertas kosong. Fariz pergi ke pasar menggunakan taksi dan turun di pasar modern. Fariz membeli semua sayuran di dalam daftar belanjaan.


Saat Fariz pulang, Aurel masih tidak mau keluar dari kamar. Fariz membuang sayuran yang rusak dan hancur itu di tong sampah di depan gerbang rumah. Fariz lalu pergi ke kamarnya dan bermain game online.


***


Di rumah Lanzi.


Triana melamun di dapur. Ia terus bertanya-tanya dalam hati, tentang kebenaran foto itu. Triana ingin bertanya, tetapi Triana takut jika ia yang salah. Triana meyakinkan dirinya sendiri, bahwa itu salah, itu pasti hanya salah paham.


Lanzi dan Daren masuk ke dalam rumah. Daren kelelahan setelah bermain dan merasa haus. Lanzi menggendong Daren ke dapur dan melihat Triana yang sedang melamun di kursi ruang makan.


"Sayang, sedang apa?" tanya Lanzi.


"Hah? Oh, tidak ada. Sedang duduk saja," jawab Triana.


Lanzi jadi curiga, jelas-jelas Triana sedang melamun, tapi Triana tidak mengatakannya pada Lanzi. Lanzi menurunkan Daren dari gendongannya. Lanzi menarik kursi di samping Triana dan duduk menatap wajah Triana.


"Sayang, kalau ada masalah, ceritakanlah padaku. Kenapa kamu pendam sendiri dan melamun seperti ini?" tanya Lanzi Lanzi.


"Apa, Mas akan marah, kalau aku bertanya?"


"Mas tidak akan marah, kapan kamu pernah lihat Mas marah?" tanya Lanzi.


"Mas, tadi pagi, apa Mas bertemu wanita?" tanya Triana.


"Kenapa? Mas bertemu Aurel tadi pagi saat berolahraga, Mas lupa menceritakannya sama kamu. Apa ada yang melaporkan macam-macam sama kamu dan kamu cemburu, benar, kan?" tanya Lanzi dengan senyum menggoda.


Triana tersenyum membenarkan ucapan Lanzi.


"Bagaimana kabar Aurel, Mas?" tanya Triana.


"Baik, tadi pagi dia sedang bersepeda santai," jawab Lanzi.


"Aku juga kangen sama Aurel, Mas," ucap Triana sedih.


"Kapan-kapan kamu pasti bertemu dengan Aurel. Seandainya dia tidak menolak kehadiran kita, aku pasti sudah mengajakmu ke rumahnya," ucap Lanzi.

__ADS_1


Triana sedih mengingat dua tahun lalu, saat Triana pergi ke rumah Aurel karena ingin bertemu dengannya. Aurel mengusir Triana dan melarang Triana untuk datang lagi ke rumahnya.


Triana tidak tahu jika Aurel terpaksa melakukan itu. Karena paman dan bibinya tidak suka jika Aurel berhubungan dengan keluarga Lanzi. Sebenarnya, Aurel juga sangat ingin bertemu dengan Triana. Aurel juga sangat merindukan Triana, sama seperti Triana yang sangat merindukan Aurel.


__ADS_2