Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (24)


__ADS_3

Lanzi tiba di halaman rumah Aditya. Triana segera turun dan berlari ke dalam rumah. Sementara Lanzi memarkir mobilnya terlebih dulu. 


Triana masuk ke dalam rumah dan melihat Aurel menangis, dalam pelukan seorang pemuda. Triana memanggil nama Aurel.


"Aurel," panggil Triana. Aurel menoleh lalu bangun dan segera memeluk Triana yang berdiri di belakangnya.


"Ibu," ucap Aurel dalam pelukan Triana. Aurel memeluk Triana dengan erat. Ada rasa bahagia diantara kesedihan Aurel. Ia bahagia bisa memeluk Triana kembali. Namun ia menyesal, kenapa harus dalam keadaan berduka mereka baru bertemu. 


"Yang sabar, ya, sayang! Ikhlaskan papamu." Triana membelai rambut panjang Aurel. Dua tahun lamanya Triana tidak bertemu dengan Aurel. Saat pertama kalinya mereka bertemu, rambut Aurel seperti model laki-laki, kini rambut itu sudah bertambah panjang. Triana melirik ke arah Fariz, ia belum pernah melihat Fariz sebelumnya. Fariz sadar dengan pandangan Triana padanya. Ia pun memperkenalkan diri meski Triana tidak bertanya. 


"Saya Fariz, Tante, Kakak sepupu Aurel," ucap Fariz. Ia tidak mau jika Triana berpikir macam-macam padanya. Jadi lebih aman bagi Fariz jika mengaku saudara Aurel. Aurel tidak membantah ucapan Fariz. 


Lanzi masuk setelah memarkir mobilnya di halaman. Ia menghampiri Aurel dan memeluknya sebentar lalu mengajak Fariz untuk mengurus pemakaman Aditya. Fariz dan Lanzi melapor ke RT setempat, tak lama kemudian para warga sekitar mulai berdatangan untuk berbela sungkawa. Beberapa warga laki-laki menuju ke pemakaman umum daerah setempat untuk menggali lubang makam, setelah selesai mereka segera memakamkan Almarhum Aditya Adidjaya. 


Selesai upacara pemakaman, Triana dan Lanzi tidak langsung pulang tetapi kembali ke rumah Aurel. Triana menemani Aurel setidaknya sampai Olivia, bibinya itu, pulang ke rumah. Namun hingga malam hari, Olivia tidak kunjung pulang ke rumah. Aurel tahu, Triana pasti cemas meninggalkan Daren di rumah terlalu lama.Aurel pun menyuruh Triana dan Lanzi pulang.

__ADS_1


"Om dan Ibu, pulanglah! Ini sudah malam, kasihan dedek di rumah pasti nyariin. Aurel tidak apa-apa. Lagipula masih ada Kak Fariz," ucap Aurel menenangkan Triana. Aurel juga tahu bahwa Triana juga khawatir meninggalkan Aurel. Karena itu Aurel mencoba tersenyum agar tetap terlihat tegar dihadapan Triana. 


"Tante jangan khawatir, Fariz akan menjaga Aurel dengan baik. Jadi, Tante dan Om pulanglah! Benar kata Aurel, anak Tante pasti mencari Tante," ucap Fariz. 


"Kalau gitu, Tante titip Aurel ya, Nak Fariz. Aurel, Tante pulang, kamu jaga kesehatan ya," ucap Triana berpamitan, Triana mengecup kening Aurel lalu pulang bersama Lanzi.


Fariz mengantar mobil Lanzi hingga menghilang di tikungan gang, Fariz menutup pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah kembali. Ia tidak menemukan Aurel di ruang tamu. Fariz menutup pintu rumah dan berjalan ke arah kamar Aurel. 


Aurel mengunci pintu kamarnya dan duduk bersandar di pintu. Aurel memeluk kedua lututnya dan kembali terisak. Di depan pintu kamar, Fariz mengusap daun pintu kamar Aurel yang terkunci. 


***


Di rumah Lanzi. 


Cassy dan Surya sedang duduk di ruang tamu, mengawasi Daren yang sedang bermain bersama putrinya Surya dan Cassy, Azzalea cinta. Lanzi dan Triana masuk ke dalam rumah dan menyapa Surya dan Cassy. 

__ADS_1


"Hai, Sur. Kapan kalian datang?" tanya Lanzi sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Lanzi merasa sangat lelah setelah mengurus pemakaman Aditya. 


"Tadi siang," jawab Surya. 


"Aku ke kamar dulu," ucap Triana berpamitan untuk pergi ke kamarnya. 


"Kalian akan menginap?" tanya Lanzi kembali. 


"Harusnya, kami pulang tadi sore, tapi Daren menangis mencari Triana. Jadi Lea menemani Daren bermain dulu. Lagian Kak Lanzi ini aneh, sudah jelas-jelas Aditya yang sudah mencelakai Kak Triana, masih saja dibantuin," ucap Cassy kesal.


"Sayang! Jangan berkata seperti itu!" ucap Surya memperingatkan istrinya. 


"Dia sudah mendapatkan balasan atas perbuatan dari Tuhan, apa aku harus ikut menghukumnya juga? Sudahlah, jika kalian mau pulang, pergilah!" ucap Lanzi. 


"Habis manis sepah dibuang. Ck, sudah tidak dibutuhkan sekarang diusir," ledek Surya. 

__ADS_1


Lanzi tersenyum diledek oleh Surya. Surya dan Cassy berpamitan dan pulang. Setelah mereka pulang, Lanzi menggendong Daren dan membawanya ke kamar. Lanzi membaringkan Daren di ranjang dan menunggunya hingga tertidur, sambil mengusap-usap punggung Daren. Daren biasa diusap-usap seperti itu agar bisa tertidur. Setelah Daren tidur, ia menyelimuti Daren, mengecup keningnya dan meninggalkannya.


__ADS_2