Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (30)


__ADS_3

Ting tong ting tong. 


Fariz melangkah ke pintu depan dan membuka pintunya. Dua orang petugas polisi berdiri tegap bersama seorang pria paruh baya. Pria paruh baya itu memakai setelan jas hitam dengan dasi berwarna coklat. Tangan pria itu memegang sebuah tas kantor.


"Selamat pagi," ucap petugas polisi.


"Selamat pagi, Pak. Silahkan masuk! Ada apa ya?" tanya Fariz. 


"Kami datang kemari untuk menangkap saudara Edi dan saudari Olivia. Mereka dilaporkan atas tindakan penggelapan uang perusahaan hingga membuat perusahaan bangkrut," ucap petugas polisi. 


Fariz memanggil Olivia dan Edi yang masih tertidur. 


"Tante, Om, ada yang mencari Om dan Tante," ucap Fariz dari depan pintu kamar Olivia dan Edi. 


Di kamarnya, Aurel baru saja menghabiskan sarapannya dan pergi ke dapur untuk menyimpan nampan dan piring kotor. Aurel mendengar keributan di ruang tamu dan segera berlari ke sana.


"Anda berdua harus ikut kami ke kantor polisi!" Polisi itu sudah memborgol kedua tangan Edi dan Olivia.


"Pak, Anda pasti salah, Pak. Saya tidak melakukan itu, Pak," ucap Edi membela diri.


"Anda jelaskan semuanya di kantor polisi," ucap Polisi itu. 


"Aurel, tolong Tante, sayang," ucap Olivia sambil memelas dan merayu Aurel agar mau membantunya. 


Aurel hanya menatap dingin ke arah Olivia. Ia tidak menjawab permintaan tolong dari Olivia. Aurel justru mendekati pria berjas hitam yang membawa polisi ke rumah Aurel. 


"Om Bimo, ada apa ini?" tanya Aurel. 


Ya, pria berjas hitam itu adalah, Bimo Digantara. Pengacara yang dipercaya Aditya untuk menyimpan surat wasiat asli dari Aditya. Aditya tahu seperti apa sifat adiknya Edi, oleh karena itu, Aditya sudah menyiapkan surat wasiat jauh sebelum istrinya meninggal. Aditya membeli sebuah resto mewah untuk dikelola istri dan anaknya jika Aditya sampai kehilangan semua perusahaannya. 


Rumah yang saat ini Aurel tempati juga sudah atas nama Felicia, ibunya Aurel. Karena Felicia sudah meninggal, warisan resto dan rumah itu kini jatuh ke tangan Aurel. 

__ADS_1


"Pak Polisi, bawa mereka! Mereka sudah mengambil uang dan perusahaan orang lain tanpa ijin," ucap Bimo.


"Tidak! Aurel, Tante mohon, tolong Tante." Olivia terus memelas, tetapi Aurel tidak mau menatap bibinya itu. 


Polisi pun membawa mereka ke dalam mobil dan melaju meninggalkan rumah Aurel. Bimo mengajak Aurel bicara berdua di ruang baca milik Aditya. 


"Duduklah!" Bimo mengajak Aurel duduk di sofa ruang baca.


"Ada apa, Om? Aurel sungguh penasaran," ucap Aurel. 


"Paman dan bibimu itu, sangat berbahaya. Karena itu, meskipun tahu bahwa perusahaan dan semua harta kekayaan Pak Aditya diambil paksa oleh mereka, papamu itu tidak memperkarakan mereka. Papamu takut jika mereka akan mencelakaimu jika tidak berhasil mengambil semua harta papamu. Papamu ingin Om melaporkan mereka saat perusahaan sudah bangkrut. Mereka hanya ingin menikmati kekayaan tanpa bekerja, sudah pasti uang seberapapun banyaknya akan habis. Semua perusahaan papamu sudah bangkrut. Tapi papamu punya sedikit warisan untukmu, yaitu rumah ini dan sebuah resto yang saat ini masih Om yang kelola. Saat lulus sekolah nanti, uruslah resto peninggalan papamu. Om sudah tua, ingin pensiun jadi pengacara, dan papamu adalah klien terakhir Om. Saat serah terima resto nanti, maka selesailah tugas Om," ucap Bimo bercerita panjang lebar.


"Terima kasih, Om. Sudah memegang amanat Papa dengan baik. Maaf sudah merepotkan, Om," ucap Aurel berkaca-kaca. 


"Om sudah menganggapmu seperti putri Om, mana mungkin merepotkan. Dan … kalau bisa, usir pemuda asing itu dari rumah ini. Om, khawatir padamu," ucap Bimo.


"Om, tidak perlu khawatir. Aurel bisa jaga diri," ucap Aurel. 


" Ya, sudah. Om, pamit dulu," ucap Bimo.


"Ekhem …." Fariz meledek Aurel yang sedang asyik melamun.


"Eh … Kakak, batuk ya? Mau Aurel buatkan obat batuk herbal yang paling manjur?" tanya Aurel dengan tersenyum manis.


Pertama kalinya Fariz melihat senyum tulus dari bibir tipis Aurel. Senyum tulus seakan tidak ada lagi beban dalam hidupnya, senyum itu sungguh manis laksana buah persik. Wajahnya begitu bersinar cerah, secerah mentari yang bersinar pagi ini.


"Hah! Aku lupa mau berangkat sekolah," ucap Aurel lalu berlari mengambil tasnya di dalam kamar lalu berlari ke garasi, ia menaiki sepedanya dan dihadang Fariz di pintu gerbang. 


"Aku antar pakai mobil Tante, ya?" tanya Fariz. 


"Kalau pakai mobil takutnya terjebak macet, Kak. Aurel berangkat, dah Kakak," ucap Aurel lalu mengayuh sepedanya secepat mungkin.

__ADS_1


Setelah Aurel pergi, Fariz melangkah masuk ke dalam rumah. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan wajah murung.


"Kalau Tante Olivia tidak ada di rumah ini, seharusnya aku juga pergi. Tapi rasanya berat jika aku menjauh dari Aurel. Apa yang harus kulakukan?" Fariz bergumam sedih. Ia datang ke rumah Aurel karena ibunya adalah teman Olivia. Sekarang Olivia ditangkap polisi, Fariz tidak enak hati jika harus tinggal di sana berdua dengan Aurel. 


***


Di parkiran sekolah.


Aurel sampai di parkiran sekolah. Ia mengunci sepedanya dan melangkah hendak meninggalkan parkiran. Namun, seseorang memanggil Aurel.


"Aurel, tunggu!" Bian berlari menghampiri Aurel. 


"Kak Bian, tumben terlambat?" tanya Aurel yang heran melihat Bian datang terlambat. Biasanya, Bian selalu datang lebih pagi dari siswa siswi yang lain karena ia adalah ketua kelas. 


"Kata siapa aku terlambat? Ini masih lima belas menit sebelum bel berbunyi. Ayo masuk bareng!" Bian menarik tangan Aurel. Aurel menarik tangannya, tetapi Bian memegang tangan Aurel dengan erat hingga sulit terlepas.


Dua orang siswi yang berpapasan dengan Aurel dan Bian itu berkasak-kusuk. Aurel merasa tidak nyaman.


"Eh, coba lihat! Itu Kak Bian kan? Ketua kelas kita yang super dingin kaya kulkas. Ya, ampun, dia gandengan sama Aurel. Mereka pacaran apa, ya?" tanya seorang siswi pada teman di sampingnya.


"Tapi, sepertinya mereka cocok. Cantik dan tampan, juga sama-sama dingin, cocok kan." Siswi itu menimpali ucapan temannya.


Aurel menarik tangannya kembali, dan Bian tetap tidak mau melepaskannya. 


"Kak, bisa lepasin tidak? Aku tidak nyaman dengan pandangan mereka," ucap Aurel sambil menatap sekeliling. 


"Kenapa? Mereka bilang kita cocok, kok. Kamu malu punya teman kaya aku?" tanya Bian sambil melepaskan tangan Aurel. 


"Bukan, bukan, seperti itu. Aku senang, kok, punya teman seperti Kakak," ucap Aurel. 


"Lalu?" tanya Bian singkat.

__ADS_1


"Tidak usah gandengan tangan, bisa kan?" tanya Aurel. Aurel menunduk, tidak berani menatap wajah Bian. Aurel takut membuat Bian tersinggung. Sementara Aurel tahu bahwa Bian selama ini diam-diam menjaganya. Aurel tidak mau dianggap tidak tahu balas budi. 


Bian mengacak rambut Aurel seperti seorang kekasih yang merasa gemas dengan pasangannya. Aurel mengangkat wajahnya ketika Bian mengacak rambutnya. Aurel mengembuskan napas lega, melihat Bian tersenyum. Itu artinya, Bian tidak tersinggung oleh ucapan Aurel. Bian kembali melangkah berdampingan dengan Aurel tanpa bergandengan tangan. Aurel merasa bahagia memiliki teman sekarang. 


__ADS_2