
Raja negeri Cee bernama Cee Siang Kong. Baginda berputra dua orang. Putra sulungnya bernama Kiu, dilahirkan oleh istri pertama baginda. Istri baginda ini berasal dari negeri Louw. Putra baginda yang ke-dua bernama Siao Pek. Anak ini lahir dari istri ke-dua baginda, seorang putri berasal dari negeri Kiu.
Kedua putra Raja Cee itu dilahirkan dari istri-istri mudanya (selir-selirnya), tetapi kedua putra baginda ini sudah diaku sah sebagai putra Raja Cee. Malah mereka sudah hendak dicarikan guru untuk dipimpin atau dididik dalam ilmu Bun (sastra) maupun Bu (kemiliteran).
Mendengar niat baginda Koan I Gouw alias Koan Tiong sangat tertarik. Dia ingin menjadi guru salah satu dari kedua putra raja tersebut.
KoanTiong lalu menemui seorang menteri sahabatnya. Dia bernama Pao Siok Gee.
Kemudian mereka membahas niat baginda dengan Pao Siok Gee.
”Putra Raja kita ada dua orang,” kata Koan Tiong, ”di kemudian hari salah satu dari mereka pasti akan menjadi raja. Jika bukan Kiu, pasti Pangeran Siao Pek. Bagaimana jika kita masing-masing mendidik salah seorang dari mereka? Jika di kemudian hari mereka sudah siap manggantikan ayahnya. Kita lihat, siapa di antara mereka yang beruntung?”
”Baik, aku setuju pada pendapatmu itu,” jawab Pao Siok Gee.
Mereka sepakat akan mendidik salah seorang dari kedua pangeran itu. Kemudian Koan Tiong dan Siao Hut menemui Raja Cee. Mereka memohon agar mereka diizinkan menjadi guru Pangeran Kiu. Begitu juga Pao Siok Gee. dia juga memohon untuk menjadi guru Pangeran Siao Pek. Permohonan kedua menteri yang akhli dan pandai itu diluluskan oleh Cee Siang Kong.
Sejak saat itu kedua pangeran belajar di bawah pimpinan Koan Tiong dan Pao Siok Gee.
Pangeran Siao Pek belajar di bawah pimpinan Pao Siok Gee dan Pangeran Kiu belajar di bawah pimpinan Koan Tiong.
**
Ada peristiwa yang tak senonoh terjadi atas Raja Cee. Setiap kali Cee Siang Kong bertemu dengan Bun Kiang, adik kandungnya, mereka melakukan perselingkuhan. Kelakuan Raja Cee main serong dengan adik kandungnya lama-lama ketahuan juga. Salah seorang Pao Siok Gee yang memergoki mereka. Perbuatan itu oleh Pao Siok Gee dianggap sangat biadab dan memalukan.
Suatu hari Raja Cee akan menemui adiknya, Bun Kiang di Tanah Ko.
Mendengar niat Raja Cee ke Tanah Ko, Pao Siok Gee menasihati Raja Cee agar baginda tidak pergi ke sana. Pao Siok Gee juga minta agar baginda mau mengubah kelakuannya. Keadaan lebih buruk lagi, karena adiknya Bun Kiang, sudah menikah dengan raja dari negeri Louw. Tetapi nasihat Pao Siok Gee tidak dihiraukan.
Sesudah Pao Siok Gee resmi menjadi guru Pangeran Siao Pek, dia tetap berusaha ingin menasihati Raja Cee. Kali ini lewat Pangeran Siao Pek. Dia minta muridnya itu membujuk ayahnya agar mengubah tingkah buruknya.
”Kekejian Maha-Raja sudah tersiar, sehingga rakyat tidak senang,” kata Pao Siok Gee. ”Jika Kong-cu (Pangeran) tidak mencegahnya, aib itu akan bertambah besar! Tetapi jika baginda mau mengubah sikap, keburukan itu bisa agak reda. Tetapi jika usahamu gagal selanjutnya bahaya akan mengancam kita. Seumpama sebuah bendungan air, jika terlalu penuh isinya, pasti\ airnya meluap. Kemudian menjadi air bah! Maka itu Kong-cu harus memperingatkan Ayahmu.”
Mendengar keterangan gurunya Siao Pek kaget, dia tidak menyangka ayahnya main serong dengan bibinya. Sesudah berpikir sejenak Siao Pek berjanji akan menasihati ayahnya. Dia berjanji akan berusaha sampai ayahnya itu insyaf.
Suatu saat dia masuk ke istana ayahnya. Dia langsung menemui ayahnya. Sesudah memberi hormat, dengan muka manis Siao Pek berkata, ”Ayah, aku harap Ayah tidak marah, karena aku punya sedikit kata-kata yang hendak disampaikan pada Ayahanda. Sekali lagi mohon Ayahanda tidak marah.”
”Katakan, soal apa itu?” kata Raja Cee.
”Seperti khabar yang tersiar di luaran, hamba mendengar gosip tentang kematian Raja Louw. Hamba dengar tuduhan buruk ditujukan kepada Ayahanda. Orang membuat cerita burung tentang Ayahanda. Terutama mengenai pergaulan Ayah dengan kaum lelaki dan perempuan. Hamba dengar orang mencurigai dan menuduh yang bukan-bukan pada Ayah. Hamba rasa lebih baik Ayah membatalkan niat akan pergi ke tanah Ko.” kata Siao Pek.
__ADS_1
”Apa kau bilang? Anak kurang ajar!” sentak Cee Siang Kong marah. ”Kau satu anak kecil, mengapa kau berani banyak omong di depanku? Ayo, lekas pergi dari sini!”
Sehabis mengucapkan kata-kata kasar itu, Raja Cee mengangkat kakinya dan menendang. Dengan sigap Siao Pek mengelak hingga luput dari tendangan ayahnya. Siao Pek buru-buru berlari keluar, terus kabur meninggalkan istana. Kejadian itu buru-buru dia sampaikan kepada Pao Siok Gee.
”Aku rasa orang keji pasti akan mendapat balasan yang setimpal juga,” kata Pao Siok Gee.. ”Aku bersedia pergi bersamamu, Pangeran.”
”Pergi ke mana?” tanya Siao Pek bingung.
”Mari kita pergi ke negeri orang. Sementara di sana kita tunggu saat yang baik bagimu, Pangeran!” kata Pao Siok Gee.
”Baik, aku setuju Su-hu. Tetapi pergi ke negeri apa?” tanya Siao Pek.
”Kegembiraan dan bencana di negeri besar tidak menentu, alangkah baiknya jika kita pergi saja ke negeri Ki. Di negeri Ki yang kecil dan letaknya sangat dekat dengan negeri Cee ini.” kata Pao Siok Gee. ”Karena kecilnya negeri Ki, maka negeri itu tidak menarik perhatian. Aku yakin di sana tidak akan ada yang menghina kita. Sedang jaraknya yang dekat dengan negeri Cee, akan memudahkan jika kita akan pulang kampung.”
”Ya, baiklah, aku setuju,” kata Siao Pek.
Begitulah diam-diam mereka meninggalkan negeri Cee. Ketika mendapat laporan Raja Cee Siang Kong tidak memusingkan kepergian putera dan menterinya itu.
**
Suatu ketika Raja Cee Siang Kong dibunuh oleh Kong-sun Bu Ti, kerajaannya dirampas.
Dalam rapat sesudah Kong-sun Bu Ti berkuasa, Kwan Ci Hu usul pada raja baru itu. Dia minta agar Kong-sun Bu Ti memanggil Koan Tiong untuk dijadikan menteri. Usul itu diterima oleh Kong-sun Bu Ti. Dia segera memerintahkan orang mengundang Koan Tiong. Dia minta agar Koan Tiong mau bekerja sama dengannya. Tetapi Koan Tiong menolak ajakan itu. Dengan sengit Koan Tiong berkata, ”Ha, bagus betul tingkah pengkhianat itu! Dia tidak sadar golok yang tajam sudah hampir sampai di lehernya. Malah dia mau merembet-rembet orang lain?!”
Raja Louw Cong Kong menerima baik kedatangan mereka, malah mereka diberi tempat tinggal di tanah Seng-touw. Makan dan pakain mereka setiap bulannya dikirim sampai cukup.
**
Pada tahun Louw Cong Kong ke-dua belas.....
Waktu itu tepat pada musim Cun (semi) di bulan Ji-gwe (bulan 12). Ketika itu Kong-sun Bu Ti sudah menjadi raja di negeri Cee. Seluruh pejabat baik sipil dan militer waktu itu hendak memberi selamat kepada raja baru itu. Ketika itu mereka sudah berkumpul di kamar samping istana sedang menunggu waktu dibukanya persidangan.
Di ruang tunggu tersebut tingkah-laku Lian Ceng dan Kwan Ci Hu sangat angkuh dan sombong. mereka pikir mereka berdualah yang telah membantu Kong-sun Bu Ti menggulingkan Cee Siang-kong. Lantaran jasa mereka berdua Cee Siang Kong binasa. Kemudian Kong-sun Bu Ti pun naik tahta menjadi raja. Mereka pikir pahala mereka sangat besar.Tidak mengherankan jika tingkah mereka jadi sombong, dan tidak memandang sebelah mata pada menteri lain yang juga ikut berjasa.
Sebagian besar menteri-menteri jadi sangat benci kepada kedua menteri yang congkak itu. Kebencian mereka itu terlihat jelas dari tingkah mereka.Yong Lim mengerti bagaimana keadaan dan perasaan para menteri itu. Dengan sengaja dia berkata kepada rekan-rekannya itu, ”Tadi aku dengar ada tamu yang datang dari negeri Louw. Tamu itu bercerita bahwa Pangeran Kiu hendak meminjam tentara dari negeri Louw akan menyerang ke negeri Cee..Apakah Tuan-tuan sudah mendengar khabar itu?”
Semua pembesar di tempat itu saling pandang di antara mereka. Mereka bilang, ”Kami tidak tahu mengenai khabar itu.”
Sebelum Yong Lim melanjutkan ceritanya lebih jauh, lonceng istana sudah terdengar dibunyikan. Lonceng sebagai tanda Kong-sun Bu Ti sudah duduk di atas tahtanya. Maka semua pembesar lantas masuk ke dalam istana untuk memberi selamat.
__ADS_1
Setelah upacara pengangkatan raja baru itu selesai dijalankan, persidangan pun ditutup. Semua pembesar keluar dari istana. Sebagian besar menteri itu tidak segera pulang ke rumahnya. Mereka langsung ke rumah Yong Lim. Mereka mau minta keterangan lebih jauh tentang khabar Pangeran Kiu yang hendak memerangi negeri Cee. Sesudah mereka berkumpul, salah seorang langsung bicara.
”Benarkah apa yang Tuan katakan di istana tadi? Apakah benar Pangeran Kiu suidah siap menyerrang negeri ini?” tanya salah seorang pembesar.
Yong Lim tidak langsung menjawab, malah dia berbalik bertanya.
”Jika benar Kong-cu Kiu datang membawa angkatan perang yang dipinjam dari negeri Louw dan menyerang negeri Cee. Apa pendapat Tuan-tuan mengenai hal ini?” tanya Yong Lim.
”Sekalipun Raja Cee Siang Kong almarhum tidak bijaksana dan tidak benar saat menjadi raja. Tetapi putera beliau tidak berdosa. Siang dan malam aku mengharap-harap kedatangannya,” kata Tong Kok Gee.
Suaranya mantap tetapi agak terisak karena terharu.
Mendengar ucapan Tong Kok Gee, sebagian besar pembesar-pembesar itu meneteskan air mata mereka.”Tadi aku ikut berlutut bukan karena aku tunduk kepada Kong-sun Bu Ti,” kata Yong Lim.
Yong Lim girang karena banyak menteri yang sependapat dengannya.
”Aku diam saja tidak melawan, karena aku belum tahu bagaimana isi hati Tuan-tuan sekalian. Sekarang jika Tuan-tuan suka bahu-membahu menyingkirkan si pengkhianat. Mari kita angkat putera Raja Cee Siang Kong almarhum menjadi raja kita. Perbuatan ini baru bisa dikatakan kita adalah menteri yang setia dan tahu kewajibannya.”
Semua pembesar menyatakan setuju pada pendapat Yong Lim.
”Tetapi bagaimana caranya kau mau melaksanakan masalah ini?” tanya Tong Kok Gee.
”Kho He alias Keng Tiong, seorang menteri yang sudah turun-temurun dari Kerajaan Cee. Beliau seorang yang cerdas dan pandai. Beliau juga paling ditakuti dan dipercaya oleh semua orang,” kata Yong Lim. ”Sedang Lian Ceng dan Kwan Ci Hu, dua pengkhianat besar! Malah aku dengar mereka mencoba membujuk Kho He, agar Kho He mau berpihak kepada Kong-sun Bu Ti. Jika mereka berhasil membujuk Kho He ke pihaknya, maka pengaruh akan bertambah besar. Tetapi tahukah tuan-tuan, keinginan mereka tidak terpenuhi. Mereka sangat mendongkol kepada Keng Tiong.”
”Syukurlah kalau begitu,” kata Tong Kok Gee dengan sangat girang. ”Lalu apa akal kita sekarang?”
”Kita minta pada Kho He supaya dia mengatur sebuah perjamuan. Kemudian mengundang kedua pengkhianat itu datang ke pesta tersebut. Mereka pasti akan sangat girang sekali, karena mereka mengira Kho He bersedia bekerja sa-ma dengan mereka. Mereka pasti akan datang ke pesta itu,” kata Yong Lim ”Nanti aku akan berpura-pura memberi khabar kepada Kong-sun Bu Ti. Akan kukatakan bahwa Pangeran Kiu te-lah mengerahkan angkatan perangnya. Karena dia sangat bodoh dan tidak punya kekuatan, niscaya dia percaya saja pada khabar ini.
Nanti jika aku sudah bisa mendekatinya, aku akan menikam hulu hatinya, pasti dia binasa! Kemudian aku akan menyalakan api sebagai pertandaan. Kjo He boleh segera menutup rapat pintu rumahnya.
Kemudian membasmi dua pengkhianat itu. Dengan demikian, bukankah urusan ini lantas bisa dibereskan seperti gampangnya membalikkan telapak tangan?”
”Ya, ini salah satu siasat yang sangat bagus!” kata Tong Kok Gee dengan girang, ”Bagi Kho He, sekalipun kami tahu dia sangat benci pada Raja Cee Siang Kong almarhum. Tapi demi kepentingan negeri ini, pasti dia tidak akan menolak membantu. Aku berani jamin, pasti dia akan setuju dengan rencana kita ini.”
Semua menteri turut girang, masing-masing berjanji dan bersedia membantu dengan segenap hati.
Tong Kok Gee segera pergi ke rumah Kho He. Dia langsung bicara dengan Kho He dan memberitahukan rencana mereka dan siasat Yong Lim yang hendak mereka atur dan jalankan.
Kho He memang sangat benci kepada kedua pengkhianat dan kepada Kong-sun Bu Ti. Begitu mendengar rencana rekan-rekannya, dia langsung setuju. Dia memerintahkan Tong Kok Gee agar pergi ke rumah Lian Ceng dan Kwan Ci Hu untuk menyampaikan undangannya. Maka bergegaslah Tong Kok Gee ke rumah kedua pengkhianat itu.
__ADS_1
Ketika Tong Kok Gee sampai, kedua pengkhianat itu menerima kedatangan Tong Kok Gee dengan girang. Sesudah berbasa-basi, Tong Kok Gee menyampaikan undangan dari Keng Tiong pada mereka. Tentu saja mereka gembira sekali menerima undangan itu. Mereka langsung berjanji akan datang ke pesta tersebut.
**