LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 36


__ADS_3

Ketika Raja Cee Hoan Kong mendengar tentang kemajuan di negeri Couw, dia kaget. Tetapi segera dia mengetahui mengapa negeri Couw bisa begitu maju dan makmur. Rupanya Raja Couw pandai menempatkan orang-orang yang luar biasa kemampuannya. Raja Cee Hoan Kong menjadi agak gentar pada negeri Couw ini. Dia khawatir suatu saat kemajuan dan kekuatan tentara negeri Couw itu akan menjadi bahaya bagi negaranya. Karena itu dia berniat hendak mengajak semua Raja Muda di Tiongkok mengerahkan tentara mereka untuk menyerang lebih dahulu pada negeri Couw; sebelum mereka didahului oleh negeri Couw tersebut. Tetapi sebelum melaksanakan niatnya itu Cee Hoan Kong menyampaikan maksudnya itu kepada Koan Tiong.


"Raja Couw telah mengangkat dirinya menjadi Kaisar di bagian selatan Tiongkok. Daerah mereka sangat luas dan angkatan perangnya pun sangat kuat. Aku rasa sekalipun Kaisar Ciu yang kuat tidak akan bisa menaklukannya," kata Koan Tiong. "Apalagi sekarang Raja Couw sangat mengandalkan Chu Bun untuk mengurus pemerintahan. Sehingga keadaan negerinya demikian aman. Karena itu tidak mudah kita kalahkan dengan kekuatan angkatan perang kita! Sedang Tuanku baru mampu menggabungkan semua Raja Muda, tetapi belum bisa menyenangkan semua orang. Bahkan belum mampu menaklukkan setiap hati Raja Muda yang bergabung dengan kita. Maka hamba khawatir angkatan perang semua Raja Muda pun tidak bisa kita gunakan dengan leluasa. Maka Tuanku harus melakukan berbagai kebajikan supaya semua Raja Muda takluk hatinya. Untuk menaklukan negeri Couw, kita harus menundanya dulu dan menunggu saat yang baik, baru kita bergerak. Dengan demikian usaha kita baru bisa berhasil dengan baik!"


Mendengar nasihat Koan Tiong tersebut, Raja Cee mengangguk. Dia sadar akan kelemahannya itu. Tetapi kemudian Raja Cee berkata lagi.


"Selama ini negeri Ciang masih berdaulat, mereka belum takluk kepada kita, apa tidak lebih baik kita serang saja mereka?" kata Raja Cee Hoan Kong.


"Sekalipun negeri Ciang sangat kecil, tetapi leluhur mereka berasal dari turunan Kiang Tay Kong,*) mereka satu She (Marga) dengan Raja Cee. Jika kita menghancurkan sesama satu She, hal ini menjadi kurang pantas. Lebih baik Tuanku perintahkan Ong-cu Seng Hu memimpin pasukan perang pergi meronda di kota Ki, seolah-olah Tuanku mau menyerang negeri Ciang. Dengan berbuat demikian pasti Raja Ciang jadi ketakutan dan datang menakluk, sehingga tidak usah mendapat nama buruk kita bisa mendapatkan daerahnya." kata Koan Tiong.


Raja Cee Hoan Kong setuju pada pendapat Koan Tiong, begitulah dia langsung menjalankan siasat tersebut. Benar saja Raja Ciang jadi ketakutan ketika melihat gerakan tentara Cee yang hendak menyerang ke wilayahnya. Dia segera menyatakan ketaatnya.


Raja Cee Hoan Kong memuji kepandaian Koan Tiong.


"Hai, sesungguhnya harus kuakui, Tiong-hu memang seorang yang pandai!" kata Raja Cee Hoan Kong.


**


Pada suatu hari, saat Raja Cee sedang berunding dengan para menterinya. Tiba-tiba ada anak buahnya yang melapor.


"Tuanku dari negeri Yan telah datang seorang utusan. Dia mengatakan negerinya kedatangan tentara bangsa San-jiong. Raja Yan minta bantuan pada Tuanku." kata pelapor itu.


Mendengar khabar itu Koan Tiong berkata pada Raja Cee Hoan Kong.

__ADS_1


"Jika Tuanku hendak menyerang negeri Couw, Tuanku harus menundukkan dulu bangsa Jiong, jika bahaya dari bangsa Jiong sudah lenyap, baru Tuanku akan berhasil menaklukan negeri Couw!" kata Koan Tiong.


*) Kiang Tay Kong adalah nama Kiang Cu Gee. Tokoh terkenal dalam Roman klasik Tiongkok berjudul "Hong Sin".


Letak negeri San-jiong di tanah Leng-ci. Negara itu di bagian barat berbatasan dengan negeri Yan, di sebelah timur dan selatan dekat dengan negeri Cee dan Couw.


Bangsa San-jiong dinilai sangat jahat oleh orang Tiongkok. Mereka mengandalkan daerahnya yang dilindungi gunung yang tinggi-tinggi, hutan yang lebat dan angkatan perang yang kuat. Karena itu mereka tidak mau tunduk kepada negara lain. Mereka juga sering masuk ke wilayah Tiongkok untuk melakukan kerusuhan dan perampokan secara semena-mena.


Mendengar khabar Raja Cee hendak menjadi jago di benua Tiongkok, dengan sengaja Raja bangsa San-jiong mengerahkan angkatan perang mereka yang besar, datang mengacau di negeri Yan. Maksud mereka hendak merenggangkan hubungan antara negeri Yan dan negeri Cee.


Raja negeri Yan, Yan Cong Kong, karena merasa tidak sanggup menangkis serangan bangsa San-jiong, dia perintahkan seorang utusan untuk minta pertolongan ke negeri Cee.


Mendengar khabar negeri Yan diserang oleh bangsa San-jiong, Koan Tiong langsung memberi saran pada Raja Cee Hoan Kong.


"Kita harus segera mengirim bala-bantuan ke negeri Yan." kata Koan Tiong.


"Pada saat ini negeri yang berbahaya bagi kita, di selatan adalah negeri Couw. Di bagian Utara bangsa San-jiong, dan di bagian barat bangsa Tek. Mereka mirip duri dalam daging! Maka itu menjadi tugas Tuanku untuk melenyapkan mereka. Sekalipun bangsa Jiong tidak mengusik negeri Yan, tetapi kita tetap harus berusaha menaklukkan mereka.


Apalagi negeri Yan sudah mereka serang dan raja negeri Yan datang minta pertolongan kepada kita. Mau tidak mau kita harus menyapu bersih bangsa San-jiong itu sampai tuntas!" kata Koan Tiong.


Mendengar keterangan Koan Tiong tersebut Raja Cee Hoan Kong setuju juga pada saran dari Koan Tiong tersebut.


Selang beberapa hari Raja Cee sudah menyiapkan pasukan perangnya, kemudian berangkat ke negeri Yan.

__ADS_1


**


Raja bangsa San-jiong bernama Bit Louw. Sudah dua bulan dia mengacau di negeri Yan. Mereka telah berhasil merampas harta-benda dan anak-isteri rakyat biasa. Mereka juga melakukan bermacam-macam kejahatan. Tetapi setelah mereka mendengar pasukan Cee sudah hampir tiba, mereka merasa jerih juga. Raja San-jiong mengajak tentaranya pulang dengan membawa barang rampasan ke negaranya.


Ketika pasukan Cee sampai di San-bun-kwan (tanah negara Yan), mereka telah disambut oleh Raja Yan yang menghaturkan terima kasih kepada Raja Cee atas kesediaannya membantu mereka. Karena dengan tidak menghiraukan perjalanan yang jauh, Raja Cee datang menolong. Karena ketakutan bangsa San-jiong pulang ke negaranya. Dengan sikap yang hormat dan merendah Raja Cee membalasnya.


"Ini sudah menjadi kewajiban kami membantu sesama Raja Muda," kata Raja Cee Hoan Kong.


"Tetapi bangsa San-jiong yang kabur berhasil membawa hasil jarahan mereka," kata Koan Tiong kurang puas, "pasti mereka akan datang lagi karena mereka belum jera. Mereka belum merasakan hajaran yang hebat dari kita. Jika tentara kita sudah mundur, orang San-jiong akan datang kembali. Sebaiknya kita gunakan saat yang baik ini untuk melabrak mereka sekarang juga! Dengan demikian kita bisa menyingkirkan bahaya di kemudian hari."


"Aku sependapat dengan Tiong-hu," kata Raja Cee Hoan Kong.


Raja Yan sangat girang, ia ingin bangsa San-jiong itu musnah sama sekali dari muka bumi.


"Dari sini ke arah timur sekitar 10 li ada sebuah negeri bernama Bu Ciong, sekalipun raja di Bu Ciong bangsa Jiong juga, tetapi mereka tidak tunduk pada pengaruh bangsa San-jiong. Maka itu kita bisa minta bantuan pada mereka untuk menjadi penunjuk jalan." kata Raja Yan.


Raja Cee Hoan Kong girang, dia sediakan emas dan perak sebanyak-banyaknya. Kemudian memerintahkan Sek Peng mengantarkan bingkisan itu kepada Raja di Bu Ciong.


Tatkala Sek Peng sudah sampai di Bu Ciong, dia serahkan bingkisan itu kepada Raja Bun Ciong. Sesudah bingkisan diterima dan setelah berbincang sesaat Sek Peng menjelaskan maksud kunjungannya.


"Raja kami ingin minta bantuan dari tuanku untuk menjadi penunjuk jalan ke tempat bangsa San-jiong. Jika tuanku tidak keberatan bantuan itu sangat kami harapkan." kata Sek Peng.


Karena Raja Bu Ciong sudah mendapat bingkisan, dia langsung setuju saja.

__ADS_1


"Baik karena mereka juga musuh kami," kata Raja Bu Ciong.


Dia memerintahkan panglima bernama Houw Ji Pan memimpin 2000 tentara Bu Ciong membantu Raja Cee berperang melawan bangsa San-jiong.


__ADS_2