
Sesudah The Le Kong sudah menjadi raja kembali di negerinya, dan raja negeri We dan Co bersedia berserikat, Raja Cee Hoan Kong akan mengadakan pertemuan untuk mengukuhkan perserikatan para Raja Muda.
"Tuanku baru mulai berkuasa, jadi Tuanku harus mentramkan rakyat dulu," kata Koan Tiong."
"Bagaimana caranya?" tanya Raja Cee Hoan Kong.
"Negeri Tan, negeri Coa dan negeri Ti sejak pertemuan di Pak-leng mereka takluk pada Tuanku. " kata Koan Tiong. "Raja Co sekalipun tidak ikut berserikat, tetapi ia ikut kita menyerang ke negeri Song. Ke-empat negeri itu jangan diganggu. Tetapi negeri Song dan We yang belum kita ketahui apa maunya? Kita harus mengawasi mereka. Sesudah semua Raja Muda bersatu, baru kita adakan pertemuan pengukuhan."
Sebelum Koan Tiong selesai bicara, datang laporan.
"Kaisar Ciu memerintahkan Tan Biat untuk membalas budi Raja Song. Panglima Tan Biat sudah sampai di negeri We," kata si pelapor.
Mendengar kabar itu, Koan Tiong girang sekali.
"Kalau begitu Raja Song kelak bisa tunduk benar! Negeri We letaknya di tengah perjalanan, sebaiknya Tuanku pergi ke negeri We untuk mengadakan pertemuan dengan semua Raja Muda."
Raja Cee Hoan Kong sepakat pada rencana Koan Tiong tersebut, segera dia kirim kabar ke negeri Song, We dan The. Mereka diminta datang berkumpul di tanah Yan (tanah milik negeri We).
Tatkala sampai saat yang ditentukan, Raja Cee, Song Kong, We Houw, The Pek dan Tan Biat sudah berkumpul di tanah Yan. Sesudah bertemu dan saling memberi hormat mereka bubar dengan gembira. Waktu itu kelihatan semua Raja Muda sangat girang.
Raja Cee senang karena semua Raja Muda suka di bawah kekuasaannya. Kemudian baru dia membuat perhimpunan besar dengan Raja Song, Louw, Tan, We, The, Khouw dan lain-lain di tanah Yu, tanah milik negeri Song. Di sana mereka minum darah untuk menetapkan perserikatan mereka. Di situ Cee Hoan Kong diangkat menjadi Beng-cu (Kepala Perserikatan) yang sah.
__ADS_1
**
Dikisahkan keadaan di negeri Couw......
Sejak Couw Bun Ong yang bernama Him Cu mendapatkan Nyonya Sit-kui yang cantik, dia mengangkat Sit-kui menjadi permaisuri. Raja Couw sangat mencintai nyonya manis itu.
Selang tiga tahun Sit-kui melahirkan dua orang putera; yang sulung oleh Raja Couw diberi nama Him Pi, dan yang ke-dua diberi nama Him Tan.
Sekali pun sudah tiga tahun Sit-kui tinggal di istana Couw, dia belum pernah bicara sepatah kata pun.
Raja Couw heran sekali melihat kelakuan jantung hatinya itu.
Pada suatu hari dia bertanya dengan lemah lembut pada Sit-kui. Dia minta agar Sit-kui mau berterus terang, kenapa dia tidak mau bicara.
Tetapi karena terus dipaksa dan didesak, akhirnya apa boleh buat Sit-kui bicara juga.
"Aku perempuan hina yang diperisteri oleh dua orang suami. Ini bukti bahwa aku tidak bisa menjaga kehormatanku! Bagaimana aku mau bicara dan bertemu dengan orang-orang?" kata Sit-kui sambil menangis.
Mendengar pengakuan Sit-kui Raja Couw ikut terharu. Sambil mewek dia berkata, "Jangan menangis, jantung hatiku. Diamlah, nyonya manis. Jika kau menangis aku jadi jengkel sekali. Ini semua gara-gara Raja Coa! Tetapi jangan kesal aku akan membalaskan sakit hatimu!"
Pada suatu hari Raja Couw mengerahkan angkatan perangnya menyerang ke negeri Coa. Bahkan dia sampai ke istana Raja Coa.
__ADS_1
Raja Coa Ai-houw dengan kaki telanjang berlutut di tanah minta-minta ampun. Dia keluarkan seluruh keklayaannya untuk dihadiahkan kepada Raja Couw.
Dengan senang Raja Couw mengambil harta tersebut. Kemudian Raja Couw kembali ke negaranya.
Waktu itu Raja The Le Kong mengirim utusan ke negeri Couw. Maksudnya memberi tahu bahwa Raja The Le Kong telah menjadi raja kembali di negerinya.
"Hm, Raja Tut sudah dua tahun kembali ke negerinya, tetapi baru meberitahuku sekarang!" kata Couw Bun Ong dengan gusar. "Dia benar-benar kurang ajar sekali. Dia sangat besar kepala!"
Raja Couw mengusir utusan Raja The itu, kemudian dia kerahkan kembali angkatan perangnya untuk menyerang ke negeri The.
Mendengar laporan Raja Couw datang menyerang, Raja The ketakutan. Buru-buru Raja The minta maaf, untung Raja Couw menerima permintaan maafnya.
Karena Raja The takut pada pengaruh Raja Couw, terpaksa dia memutuskan hubungannya dengan Raja Cee. Tetapi Raja Cee tidak tinggal diam. Dia kirim utusan untuk menegur Raja The.
Dengan hati berduka Raja The memerintahkan Siang-kok (Menteri Negara) Siok Ciam pergi ke negeri Cee untuk memberi tahu Raja Cee Hoan Kong. Begitu Siok Ciam sampai dia bertemu dengan Raja Cee.
"Raja kami takut pada Raja Couw. Jika Tuanku bisa mengalahkan Couw, maka Raja kami akan setia pada Tuanku." kata Siok Ciam.
Mendengar keterangan itu, Cee Hoan Kong jadi mendongkol, dia masukan Siok Ciam ke dalam penjara.
Tetapi Siok Ciam berhasil kabur dan pulang ke negeri The. Sejak saat itu negeri The putus hubungan dengan negeri Cee karena Raja The menakluk pada Raja Couw.
__ADS_1
**