LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 90


__ADS_3

Panglima Han Kan dan Nio Yu Bi dengan tergopoh-gopoh segera menyambut kedatangan musuh baru tersebut.


Tetapi tidak lama dari jurusan Utara datang seorang yang melarikan kereta perangnya seperti terbang, orang itu adalah Keng The. Dia menghampiri pasukan Chin dan berteriak, ”Jangan berperang lagi, sebab Cu-kong sudah terkepung oleh tentara Cin di gunung Liong-bun-san dan sudah terjerumus di tengah lumpur! Ayo, segera tolong beliau!”


Mendengar kabar itu Han Kan dan yang lain-lain tidak ada yang bernapsu lagi untuk berperang. Mereka meninggalkan kawanan orang gagah itu, lari ke gunung Liong-bun-san. Tetapi kedatangan mereka sudah terlambat, waktu itu Raja Chin Hui-kong sudah tertawan oleh Kong-sun Ci, begitu pun Ke Pok Touw, Kek Shia, Kiok Pouw Yang dan yang lainnya. Mereka semua sudah diikat dan digiring masuk ke dalam pesanggrahan besar. Alangkah jengkel dan penasarannnya Han Kan dan Nio Yu Bi, mereka buang senjata mereka menyerahkan diri pada Cin.


Tiga ratus orang gagah sesudah menolong Raja Cin Bok-kong dan Se Kit Sut mereka pergi. Sementara tentara Cin membasmi tentara Chin, hingga mayat manusia berserakan di kaki gunung Liong-bun-san seperti gunung, enam ratus kereta perang hanya tinggal dua bagian saja.


Keng The setelah mendengar Raja Chin Hui-kong sudah tertangkap, buru-buru dia keluar dari barisan Cin, kebetulan dia bertemu dengan Ngo Sek yang tergeletak di tanah dengan luka berat. Lalu dia angkat dan dinaikan di kretanya dan terus dibawa pulang ke negeri Chin


Sementara itu Raja Cin Bok-kong telah pulang di pesanggrahan besar, setelah bertemu dengan Pek Li He dia berkata, ”Karena aku tidak mendengarkan nasihat Tuan, hampir saja aku celaka di tangan orang Chin.”


Ketika itu 300 orang gagah itu menghadap pada Raja Cin Bok-kong.


”Kalian orang mana? Mengapa kalian bersungguh-sungguh membantuku?” kata Raja Cin. ”Apa Tuanku sudah lupa ketika Tuanku kehilangan kuda?” kata salah seorang di antara orang gagah itu. ”Sebenarnya kami adalah orang yang makan daging kuda itu.”


Raja Cin Bok-kong baru ingat, betul dulu dia pernah keluar berburu di gunung Liang-san, malam harinya dia telah kehilangan beberapa ekor kuda bagus, dia perintahkan menterinya pergi mencari kuda itu.


Ketika itu menteri mencari sampai di kaki gunung Ki-san, di situ terdapat 300 orang pengebun sedang berkumpul makan daging kuda. Tetapi pembesar ini tidak berani menegur. Dia pulang untuk melapor pada Cin Bok-kong, agar memerintahkan tentara menangkap mereka.


Tetapi Raja Cin Bok-kong segera menghela napas dan berkata, ”Kuda-kuda itu sudah mati, jika karena itu kita membuat orang celaka, niscaya rakyat negeri akan mengatakan aku lebih menghargai binatang dan merendahkan martabat manusia.”


Sesudah itu dia perintahkan orangnya untuk mengambil arak yang baik beberapa guci dan diperintahkan pergi mengantarkan ke kaki gunung Ki-san untuk dihadiahkan pada orang desa itu.


Semua orang itu merasa kagum sekali atas kebaikan Cin Bok-kong, padahal mereka mencuri kudanya, bukan dihukum, malah dihadiahi arak bagus untuk menambah kelezatan daging kuda itu. Sehingga mereka sangat bersyukur dan mengingat budi ini.

__ADS_1


Ketika mereka mendengar kabar Raja Cin Bok-kong sedang berperang dengan orang Chin, mereka datang membantu. Kebetulan waktu itu Cin Bok-kong sedang terkepung musuh.


Cin Bok-kong menghela napas terharu mendengar kisah para petani itu.


”Lihat, petani saja masih punya ingatan untuk membalas kebaikan orang, cuma Raja Chin saja yang tidak bisa dikatakan manusia!” kata Raja Cin Bok-kong.


Raja Cin Bok-kong bertanya.


”Apakah kalian ingin bekerja di pemerintahan?” kata Raja Cin.


”Tidak, Tuanku,” jawab mereka.


Raja Cin lalu memberi mereka hadiah uang dan kain sutera. Tetapi orang-orang itu menolak hadiah itu. Kemudian Raja Cin Bok-kong mengucapkan terima kasih, dan mereka pun bubar kembali ke tempat mereka.


Di suatu tempat dari dalam sebuah lubang terdengar suara orang merintih, maka mereka memeriksa lubang itu.


Di situ mereka menemukan Pek It Peng dan Touw Gan I, kedua orang gagah itu semula berkelahi dengan tangan kosong, tidak diduga mereka terjerumus ke dalam lubang. Waktu itu masing-masing sudah kehabisan napas, tetapi tangannya masih saling cengkeraman tidak mau terlepas.


Tentara Cin segera mengangkat mengeluarkan kedua orang itu dan memisahkan pelukan mereka yang kencang, lalu mereka digotong dan masing-masing diletakkan di atas sebuah gerobak, terus dibawa pulang ke pesanggrahan besar.


Raja Cin Bok-kong melihat keadaan kedua orang itu terluka parah, Raja Cin bertanya pada Pek It Peng.


”Apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Raja Cin.


Tetapi Pek It Peng sudah tidak bisa bicara dan diam saja.

__ADS_1


Ada orang yang melihat ketika mereka berdua bertarung, lalu orang itu maju ke hadapan Raja Cin Bok-kong dan menceritakan dengan jelas, bagaimana hebatnya mereka berdua berkelahi.


”O, ternyata kedua orang ini kuat sekali!” kata Cin Bok-kong memuji.


Cin Bok-kong memandang pada menteri-menterinya dan bertanya.


”Apakah di antara kalian ada yang kenal pada panglima Chin ini?” tanya Raja Cin.


Kong-cu Ci segera menghampiri kereta yang membawa Touw Gan I.


”Dia panglima Touw Gan I namanya.” kaya Kong-cu Ci.


”Apakah orang bisa kita pakai?” tanya Cin Bok-kong.


”Dialah yang membunuh Tok Cu dan membinasakan Pi The Hu,” sahut Kong-cu Ci. ”Hari ini dia harus dihukum mati!”


Raja Cin Bok-kong setuju pada saran Kong-cu Ci, dia perintahkan algojo menebas kepala Touw Gan I Kemudian Raja Cin membuka baju sulamnya untuk menutupi tubuh Pek It Peng, dan diperintah agar Pek Li He membawa panglima itu ke kereta kurung untuk dibawa pulang duluan ke negeri Cin.


Sesudah membongkar pesanggrahan, Cin Bok-kong perintah Kong-cu Ci memimpin seratus kereta perang mengiringkan Chin Hui-kong, sedang Kek Shia, Han Kan, Nio Yu Bi, Ke Pok Touw, Kiok Pouw Yang, Kwee Yan dan Kiok Kip, semua rambut acak-acakan dan berjalan kaki mengikuti rajanya, seperti orang yang sedang mengantar peti jenazah.


Setelah tentara Cin berjalan pulang sampai di batas tanah Yong-ciu (negeri Cin), Cin Bok-kong segera memerintahkan berhenti dulu, dia kumpulkan semua panglimanya untuk berunding.


”Sesuai kehendak Tuhan aku berbuat kebaikan,” kata Cin Bok-kong, ”aku berhasil menaklukan Raja Chin, aku telah mengangkat I Gouw menjadi raja di negeri Chin. Sekarang itu raja Chin telah melupakan kebaikanku, sama saja dia berdosa kepada Allah. Maka aku menurut pendapatku hendak membunuh Raja Chin untuk sembahyang. Bagaimana pendapat kalian?”


”Ucapan Tuanku benar sekali!” kata Kong-cu Ci menyatakan setuju.

__ADS_1


__ADS_2