LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 40


__ADS_3

Tentara Cee bekerja keras mengumpulkan bahan yang mudah terbakar, tidak berapa lama bahan-bahan itu sudah terkumpul cukup banyak. Sesudah itu hutan tersebut mereka bakar. Tidak berapa lama api pun sudah berkobar menghanguskan pepohonan, rumput-rumput yang tinggi dan sebagainya.


Tempat yang tadinya hutan-rimba dan semak-belukar, kini rumput dan pohon itu telah berubah menjadi lautan api raksasa.


Lima hari lima malam lamanya api raksasa itu berkobar-kobar, seolah-olah lautan api saja. Akibat kobaran api itu rumput-rumput telah berubah menjadi debu, pohon-pohon telah menjadi areng. Binatang-binatang buas atau beracun pun tidak ketahuan ke mana larinya.


Sesudah kobaran api raksasa itu padam, Koan Tiong memerintahkan tentaranya membuka jalan. Mereka membongkar dan menggali bukit dijadikan jalan setapak di samping-samping gunung. Dengan demikian kereta perang dan kuda bisa berjalan dengan sedikit leluasa tanpa halangan.


Para panglima Cee menyatakan kekhawatirannya. Mereka menyaksikan banyak sekali gunung yang tinggi dan berbahaya. Gunung-gunung itu menghadang di tengah jalan yang akan mereka lalui. Situasi ini terutama sangat menyulitkan bagi pasukan kereta perang mereka bergerak.


"Kuda-kuda bangsa Jiong bisa berlari cepat di tempat ini. Mereka sudah terbiasa dengan daerah ini. Sebaliknya kereta perang kita tidak bisa bergerak begitu seperti kuda-kuda mereka!" kata Koan Tiong pada semua panglima Cee.


"Karena itu pasukan kita jadi tidak bersemangat!" kata panglimanya.


"Akan kutulis dua buah lagu untuk membangkitkan semangat mereka." kata Koan Tiong.


"Lagu apa, Tiong-hu?" tanya mereka.


"Lagu naik dan turun gunung," jawab Koan Tiong sambil tersenyum.


Kemudian Koan Tiong membuat syair atau nyanyian "Naik Gunung" dan Turun Gunung". Sesudah selesai dia perintahkan semua panglimanya mempelajari nyanyian itu. Kemudian nyanyian itu diajarkan pada tentaranya.


Nyanyian "Naik Gunung" ciptaan Koan Tiong itu syairnya demikian:


"Gunung berderet-deret jalan pun terputar-putar.

__ADS_1


Pohon berbaris batu berderet seperti lankan.


Awan tipis membuat udara dingin dan segar.


Kami giring kereta kami naik ke gunung yang tinggi.


Hong Pek pegang les Ji-ji memegang cambuk membuat larinya kencang.


Seperti juga burung terbang yang memiliki sayap kekar.


Bertolak mendaki ke atas gunung dengan tidak merasa sukar."


Sedang "Nyanyian Turun Gunung" berbunyi demikian:


"Naik gunung tidak susah turun gunung lebih mudah.


Suara kereta berderit-derit seperti mendengar suara balang.


Melewati beberapa tikungan sampai di tanah rata yang terang.


Habiskan rumah kaum Jiong yang sering bikin orang bimbang.


Musnahkan negeri Kho-tiok beroleh ganjaran berjalan pulang."


Begitu semua tentara Cee sudah bisa menyanyikan kedua lagu itu, mereka bergerak maju. Sambil berjalan dan berderap mereka menyanyikan nyanyian itu dengan bersemangat. Tentara jadi bersemangat dan senang sekali. Dengan demikian mereka melupakan rasa lelah mereka saat berjalan. Dengan tidak terasa kereta-kereta perang itu bergerak naik turun gunung dengan cepat.

__ADS_1


Setelah berjalan melewati beberapa gunung, akhirnya mereka sampai di sebuah bukit yang tinggi sekali. Kereta-kereta perang besar dan kecil berjalan dengan lancar. Tetapi suatu ketika deretan kereta ini berhenti tidak bisa berjalan terus.


Tidak lama datang orang melapor pada Cee Hoan Kong.


"Di depan kita ada bukit yang sangat berbahaya! Bukit itu tinggi sekali, dan di kedua tepi bukit itu penuh batu yang terjal dan licin. Hanya ada jalan setapak kecil sekali. Jalan itu hanya bisa dilewati sebuah kereta perang saja!" kata prajurit yang melapor.


Mendengar laporan itu Cee Hoan Kong terkejut. Dia khawatir dan berkata.


"Oh, jika di tempat ini ada tentara musuh bersembunyi, jika mereka menyerang, pasti kita akan mendapat kerusakan besar!" kata Raja Cee Hoan Kong.


Pada saat Cee Hoan Kong sedang kebingungan, tiba-tiba dari sudut gunung dia melihat seekor makhluk keluar. Makhluk itu mirip manusia. Tetapi jelas bukan manusia, binatang pun bukan binatang. Panjang makhluk itu kira-kira satu kaki lebih. Mengenakan baju merah dan kopiah berwarna ungu. Sepasang kaki makhluk itu tidak memakai sepatu. Makhluk itu datang ke hadapan Cee Hoan Kong sambil memberi hormat tiga kali. Sikap makhluk itu seperti orang sedang menyambut tamunya. Sesudah mengusap bajunya dan menggerakkan tangan kanannya, makhluk itu menghilang di balik gunung.


Melihat kejadian itu Raja Cee Hoan Kong jadi semakin khawatir, lalu dia bertanya kepada Koan Tiong.


"Apa kau melihatnya, Tiong-hu?" kata Cee Hoan Kong.


"Tidak," sahut Perdana Menteri itu.


Raja Cee Hoan Kong menceritakan apa yang dilihatnya tadi.


"Oh, bagus! Dalam nyanyian hamba, hamba juga menyebut makhluk itu Ji-ji," kata Koan Tiong dengan girang.


"Apa Ji-ji itu?" tanya Cee Hoan Kong heran.


"Hamba dengar di tanah utara ada malaikat gunung bernama Ji-ji," kata Koan Tiong. "Dia memperlihatkan diri pada calon Raja Jagoan. Pasti itu makhluk yang disebut Ji-ji! Dia bersikap hormat, tandanya dia minta tuanku mengerahkan angkatan perang. Dia usap bajunya, dia memberi tanda di depan kita ada mata air. Dia gerakan tangan kanannya, artinya air sungai bagian kanan dalam sekali. Dia minta tuanku mengambil jalan di sebelah kirinya!"

__ADS_1


Mendengar keterangan itu Cee Hoan Kong manggut-manggut. Dia kagum juga merasa aneh sekali.


__ADS_2