
Raja Chin Hui-kong segera memanggil Put Te dan diam-diam diperintah membunuh Tiong Ji.
”Tiong Ji sudah dua belas tahun lamanya menetap di negeri Ek,” kata Put Te. ”Dulu Raja Ek memerangi bangsa Kiu-ji, berhasil menangkap dua perempuan bernama Siok-kui dan Kui-kui, keduanya berparas elok. Kemudian Raja Ek menikahkan Kui-kui dengan Tiong Ji, sedangkan Siok-kui dinikahkan dengan Tio Swi. Masing-masing melahirkan anak lelaki. Maka menurut hamba karena Tiong Ji sudah hidup tentram, dia pasti tidak bermaksud mengganggu kita lagi. Jika Tuanku tetap ingin membunuhnya, jangan gunakan angkatan perang. Jika kita serang dia, pasti Raja Ek akan membantu dia. Kita kirim saja pembunuh bayaran untuk membunuhnya!”, kata Put Te.
Raja Chin Hui-kong setuju, Put Te dihadiahi uang emas dan diperintahkan mencari pembunuh bayaran, jika berhasil akan diberi hadiah besar.
Pribahasa mengatakan jika tidak mau ada yang mengetahui, jangan lakukan perbuatan itu, jika tidak mau ada yang mendengar, jangan bicarakan masalah itu. Sekalipun Raja Chin Hui-kong cuma menyuruh Put Te seorang, ternyata ada juga budak yang tahu rahasia ini.
Ketika Ho Tut mengetahui Put Te dengan menghambur-hamburkan uang mencari orang gagah, Ho Tut jadi curiga. Diam-diam dia menyelidikinya. Ho Tut ipar raja almarhum, dia banyak kenal dengan para budak istana. Tidak heran keterangan yang dia cari segera didapatkan.
”Alangkah kagetnya Ho Tut ketika mengetahui rencana pembunuhan terhadap Tiong Ji tersebut. Maka segera dia menulis surat rahasia dan mengirimkannya kepada Tiong Ji di negeri Ek.
Ho Tut ketakutan setengah mati. Pada hal di negeri Ek,Tiong Ji santai dan sedang berburu binatang liar.
Pada suatu hari.......
Tiong Ji bersama Raja Ek sedang berburu di tepi sungai Wi-sui, datanglah seseorang minta bertemu dengan dua saudara Ho. Orang itu mengaku sebagai utusan Ho Tut dari negeri Chin.
Mendengar kabar itu Ho Mo dan Ho Yan terkejut.
”Biasanya Ayah belum pernah mengirim kabar, sekarang mendadak mengirim surat, pasti ada unrusan penting. ” kata Ho Mo.
Segera utusan itu dipanggil menghadap dan dia terima surat dari Ho Tut. Lalu membuka dan membacanya.
”Cu-kong hendak membinasakan Kong-cu Tiong Ji, dia sudah memerintahkan Put Te; dalam tiga hari mendatang sudah berangkat ke negri Ek dengan mengajak pembunuh bayaran mereka. Kau berdua, segera beri tahu pada Kong-cu supaya segera menyingkir ke lain negeri, jika terlambat sedikit saja, niscaya bisa mendapat bencana.”
Ho Mo dan Ho Yan sangat terperanjat sesudah membaca surat itu, mereka memberitahu Tiong Ji.
__ADS_1
Tapi Tiong Ji merasa sangsi.
”Anak-istriku semua ada di sini, maka di sinilah rumah tanggaku berada, lalu aku mau pergi ke mana lagi?” kata Tiong Ji.
”Kedatangan kami ke sini, bukan untuk mencari rumah supaya Kong-cu menetap di sini, tetapi hendak berikhtiar untuk mendapatkan negara,” kata Ho Yan. ”Karena belum ada kesempatan, terpaksa menumpang di negeri Ek. Di sini kita sudah terlalu lama dan sekarang Pu Te datang, seolah dia diutus oleh Allah untuk memaksa Kong-cu pergi ke negara yang lebih besar!”
”Jika kita pergi dari sini, kita mau pergi ke negeri mana?” tanya Tiong Ji.
”Raja Cee meskipun sudah tua, tetapi dia masih menjadi yang terkuat sekarang ini,” kata Ho Yan. ”Dia baik pada semua Raja-muda sekalipun Koan Tiong dan Sek Peng sudah meninggal, di istananya kurang orang yang pandai. Jika Kong-cu ke sana kita tunggu sampai saatnya tiba untuk kembali ke negeri Chin. Mungkin kita dibantu oleh Raja Cee!”
Tiong Ji setuju atas saran itu. Maka dia pulang untuk memberitahu keluarganya.
”Raja Chin menyuruh orang hendak membunuhku,” kata Tiong Ji dengan sedih. ”Maka aku berniat pergi ke negeri besar untuk menyingkirkan diri. Kelak jika ada rejeki, aku akan berserikat dengan Raja Cin untuk pulang ke negeri Chin. Kau rawat anak kita, jika sudah 25 tahun aku tidak kembali, kau boleh ikut orang lain.”
”Aku tidak dapat menghalangi niatmu,” kata Kui-kui. ”Jangankan baru 25 tahun, sekalipun harus seratus tahun, akan kutunggu jika aku ada umur.”
Esok paginya......
Tiong Ji perintahkan Ouw Siok menyiapkan kereta dan siap akan berangkat.
Saat Tiong Ji sedang mengatur anak buahnya, tiba-tiba datang utusan dari Ho Tut menyampaikan kabar pada Ho Yan dan Ho Mo, bahwa Pu Te sudah berangkat dan sedang menuju tempat Tiong Li.
Bukan main kagetnya Tiong Ji, dengan tidak tukar pakaian lagi bersama dua saudara Ho segera berangkat.
Ouw Siok yang hanya membawa kereta kecil segera menyusul Tiong Ji, dan dia minta mereka berangkat. Tio Swi dan yang lainnya sudah tidak keburu naik kendaraan, semua berjalan kaki untuk menyusul.
Setelah semua orang berkumpul, Tiong Ji segera bertanya. ”Mengapa Tauw Si tidak ikut?” tanya Tiong Ji.
__ADS_1
Di antara anak buah Tiong Ji melapor bahwa Tauw Si telah kabur entah ke mana.
Tiong Ji jadi sangat berduka, karena semua barang berharga miliknya hilang dibawa kabur oleh Tauw Si.
Sesudah berjalan setengah hari lamanya Tiong Ji bersama rombongannya berangkat, Raja Ek baru mengetahuinya. Dia akan membekali uang pada Tiong Ji, tetapi sudah tidak sempat.
Raja Ek mencari tahu, kenapa Tiong Ji pergi dari negerinya. Sesudah tahu, Raja Ek melakukan penjagaan keras di negerinya.
Ketika Put Te sampai di negeri Ek, Put Te ditahan dan diperiksa. Karena tidak bisa memberi keterangan yang jelas, Pu Te tidak diizinkan masuk ke negeri Ek.
Terpaksa Put Te kembali ke negeri Chin dan memberitahu hal itu pada Raja Chin Hui-kong. Raja Chin tidak bisa bilang apa-apa, melainkan cuma menyesal dan penasaran.
Tatkala Tiong Ji dan menteri-menterinya sudah keluar dari perbatasan negeri Ek, karena tidak punya ongkos di perjalanan, mereka sangat menderita sekali.
Selang beberapa hari, mereka sampai di perbatasan negeri We.
Pembesar negeri We yang menjaga perbatasan negerinya segera menahan Tiong Ji dan rombongannnya.
”Kalian semua mau ke mana?” tanya si penjaga.
”Ini majikan hamba, Pangeran Tiong Ji. Karena ada bahaya, maka kami ingin mencari tempat aman.” jawab Tio Swi. ”Tujuan kami ke negeri Cee maka kami mohon diberi jalan.”
Penjaga perbatasan tidak keberatan, Tiong Ji dan rombongannya diizinkan masuk ke negeri We. Sedang dia langsung melapor pada rajanya.
Perdana menteri Leng Siok dari negeri We, berkata pada Raja We Bun-kong.
”Sebaiknya Tuanku menyambut kedatangan Pangeran Tiong Ji dengan manis,” kata Leng Siok.
__ADS_1
Tetapi Raja We Bun-kong tidak setuju, dia berkata, ”Negriku bertetangga dengan negeri Couw, sedikit pun aku tidak berhutang budi pada negeri Chin. Sekalipun Raja We dan Raja Chin satu she (marga), tetapi belum berserikat.