
Si Pek memang cerdas. Daripada Kwan Tiong dipakai di negeri Cee, dan tidak bekerja pada junjungannya, lebih baik Kwan Tiong binasa. Sehingga mereka sama-sama tidak memiliki orang gagah ini. Siasat ini sungguh licin dan tak heran jika kisah klask ”Tong Ciu Liat Kok” pada zaman Cun Ciu ini sangat digemari karena penuh akal dan intrik yang menarik.
Tatkala Raja Louw Cong Kong sudah kembali ke istananya,ia menyatakan kagum dan bertanya kepada Co We.
”Coba kau jelaskan padaku, mengapa hanya dalam sekali serang kau bisa memenangkan peperangan itu?” kata baginda.
Co We tersenyum dan berkata, ”Dalam masalah perang, semangat tempur tentara yang paling penting. Semangat perang yang tinggi baru bisa memenangkan peperangan. Jika semangat tentara lemah, maka kita akan kalah. Genderang adalah suatu tanda untuk membangkitkan semangat prajurit. Pertama kali dibunyikan, semangatnya masih tinggi. Ketika bunyi genderang yang ke-dua kalinya, jadi agak lemah kurang bersemangat. Ketika terdengar bunyi genderang yang ke-tiga kalinya, semangat itu pun habislah!
Mengapa hamba melarang memukul genderang, itu karena hamba hendak memelihara semangat tempur tentara kita. Ketika musuh sudah tiga kali membunyikan tambur, jelas sudah semangat tempur musuh sudah lemah! Barulah kita membunyikan tambur yang pertama, sehingga semangat tentara kita sedang kuat-kuatnya. Karena yang masih bersemngat menerjang pada musuh yang mulai loyo, sudah tentu kita jadi pemenangnya.”
”Selain itu,” kata Louw Cong Kong dengan paras ceria, ”pertama, apa yang hendak kau lihat maka kau tidak mengizinkan tentara kita mengejar musuh? Kemudian, apa yang sudah kau lihat maka kau memerintahkan tentara kita mengejar musuh? Aku harap kau suka menjelaskannya.”
”Orang Cee banyak akalnya,” sahut Co We, ”aku khawatir mereka menyembunyikan tentara mereka di suatu tempat. Maka kekalahan atau mudurnya mereka belum bisa dipercaya penuh. Sesudah aku mendapat kenyataan kereta perang mereka sudah kalang-kabut dan bendera-benderanya tidak teratur rapih. Baru aku yakin, sesungguhnya mereka sudah kalah! Mereka sedang kabur ”sipat kuping”. Maka aku perintahkan pasukan mengejar mereka.”
”Hai, kiranya kau mengerti benar tentang ilmu berperang,” memuji Raja Louw dengan girang..
Kemudian baginda memberi jabatan sebagai Tay-hu pada Co We, serta memberi hadiah besar pada Si Pek yang sudah bisa mencarikan orang pandai itu.
Waktu itu jatuh pada musim Cun (Semi) tahun Ciu Cong Ong ke-13.
Dalam peperangan itu pihak Louw mendapat kemenangan besar. Pihak Cee telah mendapat kerusakan besar dengan tersipu-sipu mereka pulang ke negaranya.
__ADS_1
Ketika Raja Cee Hoan Kong melihat tentaranya banyak yang binasa, dia uring-uringan.
”Keluarnya angkatan perang kita tidak ada gunanya, bagaimana bisa menalukin semua Raja-raja Muda!”
”Cee dan Louw sama-sama mempunyai seribu pasukan kereta perang,” kata Pao Siok Gee, ”Satu sama lain keadaannya tidak berbeda. Sedang ketangguhan dan kelemahannya pun menurut hamba serupa juga. Dulu ketika berperang di Kian-si, kita yang menjadi tuan rumah. Kita mampu mengalahkan Louw. Sekarang kita berperang di Tiang-ciak. Louw yang menjadi tuan rumah dan kita mendapat kerusakan besar. Jika Tuanku setuju, hamba bersedia menerima titah tuanku untuk minta bantuan pada negeri Song. Apabila Cee dan Song bergabung tentaranya, pasti kita akan mampu mengalahkan negeri Louw!”
Raja Cee Hoan Kong meluluskan permohonan Pao Siok Gee untuk menemui Raja Song.
**
Ketika Pao Siok Gee sudah bertemu dengan Raja Song, kepada Raja Song Pao Siok Gee menyatakan.
”Atas perintah Raja Cee hamba datang untuk meminta bala-bantuan dari negeri Song.” kata Pao Siok Gee.
Dengan gembira Pao Siok Gee mengucapkan terima kasih pada Raja Song; sesudah itu dia pamit, kembali ke negeri Cee. Sesampai di negerinya dia melapor pada Raja Cee Hoan Kong.
Raja Cee sangat girang, dia membuat persjanjian dengan Raja Song.
Tatkala sudah sampai waktunya yang telah ditetapkan. Raja Song mengirim Lam-kiong, Tiang Ban sebagai jenderal perangnya. Dia dibantu oleh Beng Hek. Sedang di pihak Cee telah diperintahkan Pao Siok Gee menjadi jenderal dibantu oleh Tiong Sun Ciu. Masing-masing mereka mengepalai pasukan besar. Mereka berkumpul di kota Long-shia. Tentara Cee mendirikan perkemahan di bagian Timur-laut, dan tentara Song mendirikan perkemahannya di bagian Tenggara.
Juru khabar dari tentara Louw segera mewartakan pada Raja Louw, bahwa tentara musuh sudah tiba hendak menyerang.
__ADS_1
Setelah Raja Louw Cong Kong menerima laporan, wajahnya segera berubah pucat, dengan suara gemetar ia berkata, ”Kedatangnya Pao Siok Gee dengan pasukannya sudah tentu dengan amat gusar, sementara itu dia dibantu oleh tentara Song yang dipimpin oleh Lam-kiong Tiang Ban, seorang panglima perang yang sudah tersohor kegagahannya. Di negeri kita pasti tidak ada yang akan sanggup melawan dia! Aku dengar kedua pasukan itu sangat kuat. Apakah kita bisa melawan mereka?”
”Cu-kong, izinkan hamba pergi memeriksa angkatan perang mereka,” kata Pangeran Yan.
”Baik, kau boleh berangkat!” kata Raja Louw Cong Kong.
Pangeran Yan segera pergi untuk mengintai markas musuh dan keadaan angkatan perang musuh. Sesudah melakukan penyelidikan, tidak berapa lama Pangeran Yan sudah kembali lagi hendak melapor.
”Bagaimana menurut apa yang sudah kau selidiki?” tanya Raja Louw Cong Kong.
”Pao Siok Gee, orangnya teliti dan selalu berhati-hati, tentaranya tampak teratur rapih sekali,” sahut Pangeran Yan, ”tapi Lam-kiong, Tiang Ban karena terlalu menganggap dirinya hebat, dan menganggap tak ada yang berani kepadanya, tampak pasukannya kacau! Mereka kelihatan tidak melakukan penjagaan. Maka jika kita keluar dari pintu kota I-bun yang letaknya di sebelah selatan, kemudian melabrak perkemahan tentara Song, niscaya kita bisa mengalahkannya. Apabila pasukan Song sudah kalah, tentara Cee pasti gentar karena harus berperang dan ditinggal sendirian.”
”Tetapi kau bukan tandingan Tiang Ban,” kata Louw Cong Kong dengan rasa khawatir.
”Hamba ingin mencobanya,” sahut Pangeran Yan.
”Kalau begitu, baikah, aku akan membantumu,” kata Louw Cong Kong.
Dia mengizinkan keinginan Pangeran Yan.
Pangeran Yan segera memerintahkan orangnya mengambil 100 lembar kulit macan, lalu dipakai untuk menutupi kuda anak buahnya. Ketika sinar rembulan tampak remang-remang, Pangeran Yan memimpin tentaranya. Kulit macan yang dikenakan pada kuda mereka. sungguh anggun. Mereka sengaja merebahkan bendera perang pasukan Pangeran Yan. Perlahan-lahan mereka menuju ke pintu kota. Membuka pintu kota I-bun perlahan-lahan dan bergerak keluar kota. Mereka bergerak perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
Setelah hampir sampai ke perkemahan tentara Song, Pangeran Yan melihat tentara Song masih enak-enak tidur. Pangeran Yan mengeluarkan perintah pada tentaranya supaya menyalakan api, berbareng membunyikan genderang perang. Pasukannya langsung mengamuk kalang-kabut di tengah asrama tentara Song yang sedang tidur lelap.