LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 11


__ADS_3

Ketika Baginda Ciu Cong Ong naik tahta dan memerintah sudah 15 tahun lamanya. Waktu itu baginda menderita sakit dan kemudian meninggal dunia.


Tay-cu (Pangeran) Ouw Ce segera naik tahta menggantikannya. Dia memakai gelar Hi-ong (disebut juga Li Ong atau Kaisar Li). Kaisar Li Ong mengirim utusan untuk memberitahu pada Raja Song dan lain-lain negeri.


Pada suatu hari.....


Raja Song Bin Kong mengajak permaisuri dan selir-selirnya jalan-jalan di taman bunga di istananya.


Orang-orang di istana itu sudah mendengar bahwa Lam-kiong Tiang Ban pandai sekali memainkan kek. Seperti melemparkan kek ke udara beberapa tombak tingginya, lalu kek itu disambut dengan tangannya. Beratus-ratus kali belum pernah meleset. Kemudian mereka memohon pada Raja Song Bin Kong agar diizinkan menonton permainan kek Tiang Ban tersebut.


Raja Song Bin Kong tidak keberatan. Dia perintahkan Tiang Ban memainkan permainan keknya.


Perintah itu oleh Tiang Ban tidak dibantah. Dia mengeluarkan kepandaiannya di depan keluarga raja. Permainan itu sungguh indah sekali, sehingga orang-orang di istana tidak hentinya bersorak-sorak dan memujinya.


Raja Song Bin Kong merasa iri hati. Dia perintahkan budak istana pergi mengambil papan tio-ki (catur Tionghoa), Raja Song Bin Kong mengajak Tiang Ban main tio-ki. Dia juga mengajak bertaruh, jika ada yang kalah dia akan didenda minum arak sepuluh mangkuk besar.


Dalam hal main tio-ki Raja Song Bin Kong pandai sekali, karena itu Tiang Ban secara beruntun kalah sampai lima kali. Dia sudah didenda minum arak sebanyak 50 mangkuk. Hawa arak dalam sepuluh bagian sudah naik delapan atau sembilan bagian ke otaknya. Tegasnya bisa dikatakan Tiang Ban sudah sinting.


Sekali pun sudah mabuk berat Tiang Ban belum mau menyerah kalah. Dia ajak Song Bin Kong bermain terus. Raja Song Bin Kong yang merasa dirinya sangat pintar, lalu menertawakan Tiang Ban. Sambil berkata menyindir.


”Hai, segala orang perantaian turunan pecundang, betul tidak tahu malu! Kau masih berani menantang main padaku!” kata raja Song.


Mendengar sindiran yang pedas itu, hati Tiang Ban sangat mendongkol. Dengan muka guram dia duduk bercokol seperti kera yang sedang marah.


Ketika Raja Song Bin Kong sedang mentertawakan Tiang Ban, tiba-tiba seorang budak istana datang melapor.


”Di istana telah datang utusan dari Kaisar Ciu. Dia bilang Kaisar Cong Ong telah wafat. Penggantinya Kaisa Li Ong.” kata pelapor.


”Jika Kerajaan Ciu sudah berganti Kaisar,” kata Raja Song Bin Kong, ”aku harus mengirim utusan pergi ke Ibukota Ciu untuk mengucapkan selamat.”

__ADS_1


Sudah lama Tiang Ban berniat akan pergi melihat keadaan kota raja. Ketika mendengar Raja Song Bin Kong hendak mengirim utusan. Dia memohon sambil berkata, ”Hamba belum pernah melihat keindahan kota raja, hamba ingin sekali menjadi utusan pergi ke sana.” kata Tiang Ban.


”Ha, ha, ha! Apa kau kira di negeri Song ini sudah tidak punya orang lain lagi? Sehingga segala orang perantaian seperti kau dijadikan utusan negara Song?” kata Bin Kong sambil tertawa.


Orang-orang di istana itu semua tertawa bergelak-gelak.


Wajah Tiang Ban berubah jadi marah padam. Dia sangat malu segera berbalik menjadi marah. Apalagi waktu itu memang dia sedang mabuk arak. Hal itu membikin dia lupa peraturan antara Raja dan hambanya. Dengan suara keras dia menista Raja Song begini:


”O, Raja yang sempit pikiran! Apa kau belum tahu seorang perantaian bisa membunuh orang!” kata Tiang Ban dengan sengit.


Melihat Tiang Ban bersikap kurang ajar, Raja Song Bin Kong gusar. Sambil berjingkrak dia balas memaki: ”Bangsat perantaian! Mengapa kau begitu berani kurang ajar kepadaku?!” kata Raja Song.


Sambil berkata begitu Song Bin Kong merebut tian-kek milik Tiang Ban hendak ditusukan kepadanya.


Tiang Ban tidak merebut tian-kek miliknya itu, tapi langsung mengangkat papan tio-ki yang terus dia pukulkan ke kepala Song Bin Kong. Pukulan Tiang Ban sangat keras, sehingga Raja Song terguling jatuh ke lantai. Tiang Ban membarenginnya lagi dengan tinjunya. Dengan sekali pukul saja Song Bin Kong putus nyawanya.


Orang-orang di istana panik melihat Raja Song sudah binasa. Mereka semua jadi sangat ketakutan. Mereka berlarian simpang-siur menyelamatkan diri.


”Ciang-kun, Cu-kong ada di mana?” tanya Kiu Bok.


”Raja dungu itu tidak tahu aturan, dia sudah kubunuh!” sahut Tiang Ban dengan suara gemas.


”Ah, barangkali Ciang-kun sedang mabuk dan bergurau?” kata Kiu Bok sambil tertawa.


”Tidak, aku tidak mabuk! Aku bicara sebenarnya!” kata Lam-kiong Tiang Ban.


Sikap Tiang Ban sangat gagah. Dia tunjukin tangannya yang masih berlumuran darah.


Setelah melihat bukti tersebut, Kiu Bok menjadi marah. Dengan nyaring dia menista.

__ADS_1


”Hei, pengkhianat yang durhaka! Jika begitu Allah tidak akan membiarkan kau tinggal hidup!” kata Kiu Bok.


Kiu Bok mengambil sepotong kayu, dia pukul Tiang Ban sekuat-kuatnya. Tetapi raksasa yang kekuatannya tidak terhingga itu, melemparkan tian-keknya ke tanah. Kemudian dia berkelahi dengan Kiu Bok dengan tangan kosong tanpa senjata. Tiang Ban menggunakan tangan kirinya menangkis dan menjatuhkan kayu di tangan Kiu Bok. Sedang tangan kanannya menjotos kepala Kiu Bok.


Tinju Tiang Ban begitu keras. Saat itu juga kepala Kiu Bok hancur, dan giginya rontok melompat dan menancap di pintu sampai tiga dim dalamnya.


Sesudah membinasakan Kiu Bok, raksasa itu menjemput kembali tian-keknya. Dengan langkah perlahan dia pergi naik kereta. Tidak seorang pun yang berani menghalangi perjalanannya lagi.


Ketika itu Raja Song Bin Kong baru menjadi raja 10 tahun lamanya.


Hoa Tok, Perdana Mentri negeri Song, ketika mendengar huru hara terjadi. Dia ambil pedangnya. Dia naik di kereta, kemudian memimpin pasukan hendak memadamkan huru-hara tersebut. Setelah berjalan sampai di bagian barat Istana Tengah, ia berpapasan dengan Lam-kiong Tiang Ban.


Tatkala Tiang Ban melihat Hoa Tok, dengan tidak banyak bicara lagi dia angkat keknya. Dia tusuk Hoa Tok, yang segera terjungkel dari keretanya. Sesudah itu segera pula ia menusuknya sekali lagi, hingga Hoa Tok tewas.


Sesudah membunuh Perdana Mentri Hoa Tok, Tiang Ban mengangkat adik misan Raja Song Bin Kong, yaitu Pangeran Yu menjadi raja. Dia usir seluruh kaum keluarga Song Bin Kong dari istana.


Para pangeran, putera-putera Raja Song Bin Kong melarikan diri ke kota Siao, sedang Pangeran Gi Wat melarikan diri ke kota Pok.


Tiang Ban berpikir.


”Pangeran Gi Wat, seorang yang pandai dan cerdas, apalagi ia adik kandung Raja Song Bin Kong almarhum. Jika ia dibiarkan hidup dan tinggal di Pok, di kemudian hari pasti ia akan datang menyerang untuk membuat pembalasan.” pikir Tiang Ban. ”Aku harus membunuh Gi Wat, jika pangeran yang pintar itu sudah binasa, pangeran yang lainnya aku tidak khawatir.”.


Sesudah pikirannya tetap, Tiang Ban segera memerintahkan puteranya, Lam-kiong Ngiu bersama Beng Hek memimpin pasukan perang pergi mengepung kota Pok.


Pangeran Gi Wat segera memimpin tentara di Pok dengan sungguh-sungguh menjaga kota tersebut.


Sampai musim Tang (Musim Gugur) bulan Cap-gwe (bulan sepuluh Imlek). Siao-siok Tay Sin telah mengajak kaum Tay, Bu, Soan, Bok dan Cong, lima keluarga bergabung dengan tentara negeri Co. Mereka beramai-ramai menolongi kota Pok.


Ketika Pangera Gi Wat melihat tentara musuh datang ke Pok, dia membuka pintu kota keluar berperang dengan musuh.

__ADS_1


Lam-kiong Ngiu dan Beng Hek ketika diserang oleh musuh dari luar dan dari dalam, mereka tidak tahan dan melarikan diri.


__ADS_2