LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 20


__ADS_3

Esok harinya.....


Raja Cee mengadakan perjamuan lagi di gedung tamu, maksudnya untuk mengucapkan selamat berpisah kepada Raja Louw.


Dengan sikap hormat Raja Louw menghaturkan terima kasih atas budi kecintaan Raja Cee. Kemudian sesudah makan minum, Raja Louw pamit dan berangkat pulang ke negrinya.


Raja Cee memerintahkan para pembesar negeri Cee untuk segera mengembalikan sawah-sawah negeri Louw di Bun-yang kepada pemiliknya.


Tatkala Raja-raja Muda mendengar tentang Raja Cee dan Raja Louw telah mengadakan perserikatan di tanah Ko, mereka semua sangat kagum. Mereka pikir Raja Cee Hoan Kong ternyata jujur. Dia memegang betul kepercayaan dan janjinya. Karena itu raja negeri We dan raja negeri Co segera mengirim utusan untuk menerima salah dan minta ikut berserikat.


Pada suatu hari Raja Cee Hoan Kong mengirim utusan pergi ke negeri Ciu. Dia akan memberitahu bahwa Raja Song tidak mengindahkan perintah Kaisar Ciu. Raja Cee dalam suratnya memohon supaya Baginda mengerahkan angkatan perang dan bersama-sama pasukan Cee pergi untuk menegur Raja Song.


Setelah utusan Cee itu menyampaikan surat dari Raja Cee, Kaisar Ciu Li Ong mengerti maksud surat itu. Segera Kaisar Ciu memerintahkan Tay-hu Tan Biat memimpin pasukan perang pergi ke negeri Cee untuk membantu melabrak negeri Song.


Ketika pasukan Ciu telah sampai di negeri Cee, angkatan perang ini disambut oleh Raja Cee dengan girang sekali.


Tidak lama juru khabar datang memberi laporan.


"Negeri Tan dan negeri Co datang membawa pasukan perangnya dan siap maju di depan.


Khabar itu membuat Raja Cee menjadi bertambah girang. Dia perintahkan Koan Tiong menggabungkan tentaranya dengan tentara dari negeri Tan dan Co. Mereka akan segera berangkat lebih dahulu. Sedang Raja Cee mengajak Sek Peng, Ong-cu Seng Hu, Tong Kok Ge dan lain panglimanya, bergabung dengan tentara dari negeri Ciu. Kemudian mereka berangkat menyusul dari belakang.


Waktu itu musim Cun (Semi) pada tahun ke-dua dari bertahtanya Kaisar Ciu Li Ong.

__ADS_1


Dalam perjalanan itu Koan Tiong membawa gundiknya yang sangat dia cintatai. Gundiknya bernama Ceng. Gundik Koan Tiong ini berasal dari kota Ciong-li. Dia mengerti surat dan banyak kepandaiannya.


Raja Cee Hoan Kong sangat suka pada keelokan seorang perempuan. Tidak heran setiap kali Raja Cee pergi, ke mana pun dia pergi, pasti selirnya yang bernama Ki Pin yang cantik diajaknya. Kebiasaan Raja Cee ini telah ditiru oleh Koan Tiong. Dia juga selalu mengajak gundiknya, yaitu nona Ceng yang pintar itu.


Pada hari Koan Tiong dan tentaranya sudah berjalan menuju ke selatan, setelah berjalan kira-kira 30 li lebih, Koan Tiong sampai di gunung Niu-san (Gunung Kerbau).


Di tempat itu melihat seorang dusun yang berpakaian buntung, bercelana pendek, topi rombeng dan kaki telanjang. Orang itu sedang menggembalakan kerbau di kaki gunung. Sambil duduk di atas punggung kerbau ia menyanyi.


Koan Tiong di atas kereta perangnya mengawasi kelakuan orang dusun itu. Dia lihat orang dusun itu bukan orang sembarangan. Buru-buru Koan Tiong menyuruh anak buahnya menyuguhi arak dan makanan pada orang dusun itu. Koan Tiong meneruskan perjalanannya.


Sesudah makan orang dusun itu berkata pada pesuruh Koan Tiong, "Aku ingin bertemu dengan Tiong-hu yang baik hati itu!" .


"O, sudah terlambat," kata si pesuruh. "Kereta Siang-kok (Menteri Negara) sudah berjalan jauh!"


"Ya, sudahlah! Tetapi aku ingin bicara dengan beliau," kata orang dusun itu. "Harap kau sampaikan saja kepada Siang-kok."


"Sungguh besarlah air yang putih itu!" kata orang dusun itu.


"Baiklah," sahut pesuruh itu.


Pesuruh itu segera mengejar kereta Koan Tiong, setelah tersusul dia sampaikan pesan orang dusun penggembala kerbau itu kepada Koan Tiong..


Mendengar pesan gembala kerbau itu Koan Tiong bingung, karena dia tidak mengerti maksud ucapan gembala itu; kemudian Koan Tiong bertanya kepada isteri mudanya.

__ADS_1


"Tahukah kau maksud ucapan orang dusun itu?" kata Koan Tiong.


"Memang aku sudah pernah mendengar," kata nona Ceng menyahut dengan suara merdu, "zaman dulu ada syair tentang 'Air yang putih' yang berbunyi: Sungguh besarlah air yang putih itu, ikan li-liu bermain kian kemari, Tuan panggil padaku ini, aku akan membuat senang yang menempatinya. Kalau begitu rupanya orang itu mau minta pekerjaan."


Mendengar keterangan Nyonya Ceng tersebut, Koan Tiong sangat girang. Segera dia perintahkan kusirnya menghentikan keretanya. Dia menyuruh orang memanggil orang dusun itu.


Setelah mendapat panggilan dari Koan Tiong, orang dusun itu menitipkan kerbaunya ke rumah orang, lalu ikut pesuruh Koan Ting pergi menemui Koan Tiong.


Ketika sudah berjumpa dengan Koan Tiong, dia cuma manggut saja.


"Kau orang mana, she apa dan siapa namamu?" tanya Koan Tiong.


Dia awasi orang dusun itu dengan teliti.


"Aku orang dusun dari negeri We, she Leng. Namaku Cek," sahut orang itu dengan suara mantap. "Aku mendengar khabar Siang-kun suka pada orang pandai. Katanya juga menaruh hormat pada orang terpelajar. Karena aku tidak beruntung dan tidak punya kesempatan yang baik, maka aku bekerja menjadi penggembala kerbau pada orang di dusun ini."


Koan Tiong mengajukan berbagai macam pertanyaan untuk menguji kepandaian Leng Cek. Semua dijawab dengan lancar sekali oleh yang bersangkutan.


Melihat Leng Cek seorang yang berpengetahuan banyak; dengan menghela napas Koan Tiong berkata, "Ah, sayang sekali seorang yang bijaksana telah merendahkan diri di tempat kotor; jika tidak ada yang memimpin, bagaimana dia bisa menunjukkan dirinya? Sekarang Rajaku dengan pasukan besar berada di belakang kami. Tidak sampai beberapa hari lagi pasti bakal lewat di tempat ini. Akan aku buatkan sebuah surat untukmu. Jika surat itu kau serahkan kepada Rajaku, pasti beliau akan memakaimu."


Leng Cek berdiri diam tidak berkata apa-apa.


Koan Tiong segera menulis sepucuk surat, kemudian diserahkan kepada Leng Cek.

__ADS_1


Dengan hormat Leng Cek menyambut surat itu dan dia ucapkan terima kasih.


Sesudah Leng Cek pamit, satu sama lain lalu berpisah. Leng Cek kembali lagi menggembalakan kerbaunya di kaki Gunung Niu.


__ADS_2