
Raja Chin Hian Kong diam berpikir sebentar, kemudian mengambil putusan.
"Baik, barang-barang itu akan kuserahkan!" kata Raja Chin.
Setelah mendapatkan dua barang itu Sun Sit pamit, dia mengantarkan batu giok dan kuda itu ke negeri Gi. Tentu saja Raja Gi girang diberi hadiah dua barang berharga itu.
"Ini barang wasiat milik negaramu, di kolong langit jarang ada, mengapa Rajamu mau memberikannya kepadaku?" kata Raja Gi heran,
"Rajaku senang kepada Tuanku," kata Sun Sit. "Dia juga kagum oleh kegagahan dan kebajikanmu, maka dia bersedia menghadiahkan barang itu pada Tuanku!"
"Tetapi aku rasa hadiah ini harus ada imbalannya, apa mau Rajamu." Kata Raja Gi.
"Ya, cuma sedikit saja. Lantaran orang Kek sering datang menyerang daerah Chin. Demi keamanan dan ketenteraan negeri kami maka Rajaku akan menemui Raja Kek untuk berdamai. Tetapi damai belum lama, sudah timbul perselisihan perbatasan. Maka dengan terpaksa Rajaku mau meminjam jalan pada Tuanku untuk memberi pelajaran pada Raja Kek.
Jika dalam perang nanti Rajaku berhasil mengalahkan Raja Kek, maka semua harta-benda milik Raja Kek akan diserahkan kepada Tuanku. Bagaimana pendapat Tuanku?"
Raja Gi memang ada goblok, dia tidak sadar pancing itu sudah mulai nyangkut di tenggorokannya.
"Baik! Baik aku setuju!" kata Raja Gi.
"Harap jangan Tuanku luluskan permintaannya!" kata Kiong Ci Ki. "Peribahasa mengatakan: Jika bibir telah hilang maka gigi akan kedinginan. Bukankah Tuanku sudah tahu, Raja Chin telah menghancurkan negeri-negeri yang rajanya sesama she dengannya? Malah bukan cuma satu negeri saja? Jika selama ini dia tidak berani berbuat begitu pada negeri Gi dan Kek, lantaran dua negeri ini bersahabat kekal satu sama lain. Sehingga mirip dengan gigi dan bibir. Hamba yakin jika Kek hari ini musnah, maka besok negeri kita! Percaya pada hamba."
"Raja Chin rela menyerahkan mustika negaranya. Masakah aku kikir hanya meminjamkan jalan untuk mereka lalui?" kata Raja Gi yang bodoh itu."Apa kau lupa, Chin lebih kuat. Aku kehilangan Kek, tetapi mendapatkan Chin menjadi sahabatku. Sudah, kau pergi dari sini. Jangan banyak bicara!"
Ketika Kong Ci Ki hendak menasihatinya lagi, lengan bajunya ditarik oleh Pek Li He. Dia batalkan niatnya.
"Baik aku setuju memberi jalan, katakan pada Rajamu terima kasih atas hadiahnya," kata Raha Gi girang sekali.
Sun Sit pamit kembali ke negerinya.
Sesudah meninggalkan istana Kiong Ci Ki bertanya pada Pek Li He.
"Sahabatku, kau bukan membantuku bicara, malah mencegah aku bicara. Apa maksudmu?" kata Kiong Ci Ki. "Setahuku memberi nasihat pada orang booh sama saja dengan batu mustika jatuh dalam kotoran," kata Pek Li He. "Jangan lupa, Raja Kiat membunuh Koan Liong Hong, Kaisar Tiu Ong membunuh Pi Kan. Sebabnya karena terlalu mendesak memberi nasihat! Karena aku anggap kau dalam bahaya, maka kau kuingatkan!"
"Tetapi jika begini gelagatnya negeri Gi bakal musnah, apa tidak lebih baik kita kabur saja?" kata Kiong Ci Ki.
"Jika kau mau pergi, pergilah! Jika kau ajak oranglain, dosamu makin berat.Tentang aku jangan kau pikirkan, aku sendiri tahu bagaimana baiknya."
Akhirnya Kiong Ci Ki mengucapkan selamat tinggal kepada Pek Li He, dia ajak seluruh keluarganya melarikan diri.
Di negeri Chin....
Begitu Sun Sit sampai ke negerinya, dia melapor.
"Tuanku Raja Gi menyetujui saran kita. Kita boleh melewati negaranya," kata Sun Sit.
Raja Chin sangat girang, dia siapkan pasukan perangnya untuk menyerang ke negeri Kek.
Li Kek minta izin untuk memimpin pasukan perang itu, Chin Hian Kong setuju, Li Kek diangkat menjadi Jenderal Besar dan Sun Sit menjadi pembantunya.
Sebelum angkatan perang itu berangkat, Sun Sit memerintahkan orangnya memberi khabar kepada Raja Gi bahwa tentara Chin akan segera sampai ke negeri Gi. Sementara Raja Gie sibuk menyiapkan penyambutan.
__ADS_1
Tidak lama pasukan Chin sudah sampai di negara Gi.
"Aku sangat berhutang budi pada Raja Chin, beliau merelakan barang mustikanya. Karena aku tak punya apa-apa, maka aku bersedia menyertakan tentara kami berperang dengan Raja Kek," kata Raja Gi pada Sun Sit.
"Aku senang Anda jujur," kata Sun Sit girang. "Jika Tuanku hendak ikut berperang, Tuanku serahkan saja kota He-yang."
"Kota He-yang dijaga oleh panglima Kek, bagaimana aku bisa menyerahkannya?" kata Raja Gi.
"Aku dengar Raja Kek sedang berperang dengan bangsa Kian-jiong di Song-tian, mana yang bakal menang dan kalah belum ketahuan? Sekarang Tuanku pura-pura hendak membantu Raja Kek, tetapi diam-diam dalam pasukan Tuanku kita sertakan tentara Chin. Dengan demikian Tuanku bisa masuk dan merampas kota He-yang."
Raja Gi memuji kepandaian Sun Sit, dia turuti siasat Sun Sit tersebut.
Panglima Kek yang menjaga kota He-yang bernama Ciu Ci Kiao. Ketika melihat tentara Gi datang dia senang. Lalu membuka pintu kota. Tetapi seketika dia kaget sebab di tengah-tengah tentara Gi terdapat tentara Chin. Serentak tentara Chin menyerang Ciu Ci Kiao.
Sementara pasukan yang dipimpin oleh Sun Sit dan Li Kek pun sudah sampai di situ. Ciu Ci Kiao jadi panik, sehingga kota itu jatuh ke tangan musuh. Ciu Ci Kiao yang takut dihukum oleh Raja Kek, terpaksa mereka takluk pada tentara Chin.
Li Kek menerima takluknya Ciu Ci Kiao dengan baik, Ci Kiao dipakai menjadi penunjuk jalan untuk menyerang kota Siang-yang.
Ketika itu Raja Kek ada di Song-tian. Mendengar kota He-yag telah jatuh ke tangan musuh, dia kaget sekali. Dengan tergersa-gesa dia tarik mundur tentaranya.
Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh bangsa Kian-jiong, mereka serang tentara Kek hingga rusak berat, maka terpaksa mereka kembali ke negaranya.
Begitu sampai di kota Siang Yang, Raja Kek memerintahkan tentaranya menjaga keras kota itu. Tetapi dia sudah tidak punya harapan bisa mengusir tentara Chin yang datang menyerangnya.
Kepungan yang dilakukan oleh tentara Chin sangat hebat. Dari mulai bulan delapan sampai bulan duabelas, Siang-yang dikepung dengan ketat. Celakanya di kota Siang-yang sudah mulai kekurangan makanan. Sudah beberapa kali Raja Kek mencoba menerobos keluar dari kepungan. Tapi usahanya sia-sia saja.
Dengan demikian bukan saja tentaranya kelelahan, tetapi yang mati dan terluka pun bertambah banyak. Rakyat menangis dan sangat menderita.
Mengetahui kedaaan musuh sudah sangat parah, Li Kek memerintahkan pada Ciu Ci Kiao, agar bekas panglima Kek itu menulis surat untuk membujuk supaya Raja Kek mau menakluk. Surat itu oleh Ciu Ci Kiao diikat pada sebatang panah, lalu dilepaskan ke dalam kota.
Untuk melawan sudah tidak mungkin. Dengan terpaksa dan mengajak semua keluarganya, Raja Kek keluar kota hendak melarikan diri ke negara Ciu.
Ketika Li Kek mengetahui Raja Kek sudah kabur, dia tidak mengejar raja itu, tetapi langsung masuk ke dalam kota Siang-yang.
Li Kek dengan tegas melarang tentaranya mengganggu harta maupun rakyat Siang-yang. Perintah ini membuat rakyat sangat bersyukur. Kemudian Li Kek membuka gudang milik negara Kek, mengambil sepertiga harta dan memilih wanita cantik. Semua itu dia serahkan kepada Raja Gi sebagai hadiah.
Dengan cepat kota Siang-yang tentram kembali.
Berbagai hadiah dari Li Kek kepada Raja Gi sebenarnya seperti umpan berbahaya. Tetapi karena Raja Gi sangat tolol, dia malah girang bukan main. Diam-diam Li Kek mengirim orang melapor pada Raja Chin.Dengan sengaja Li Kek suatu hari menyebar khabar bohong. Dia katakan dia sakit keras dan belum bisa pulang ke negaranya.
Mendengar Li Kek sakit Raja Gi setiap hari mengirim obat dan menanyakan kesehatannya.
Dengan begitu satu bulan telah lewat.
Pada suatu hari tiba-tiba datang juru kabar melapor kepada Raja Gi.
"Raja Chin bersama angkatan perangnya datang dan telah masuk ke perbatasan negara Gi!" kata pelapor itu.
"Apa maksud kedatangan Raja Chin kemari?" tanya Raja Gi.
"Katanya Raja Chin khawatir tentaranya yang menyerang negeri Kek tidak berhasil, maka dia datang akan membantu!" kata si pelapor itu.
__ADS_1
"Akh kebetulan," kata Raja Gi. "Tadinya aku akan datang ke negeri Chin untuk mempererat persahabatan. Malah sekarang dia datang! Ini sungguh kebetulan!"
Raja Gi mengadakan penyambutan. Pertemuan mereka sangat menggembirakan kedua belah pihak.
Segera juga raja Gie perintahkan tentaranya pergi menemui raja Chin, pertemuan mana akan menggirangkan pada kedua pihak.
Raja Chin Hian Kong mengajak Raja Gi pergi berburu di gunung Ki-san.
Raja Gi sedikit pun tidak curiga malah dia sengaja memamerkan kekuatan tentaranya. Dia tunjukkan kereta-kereta perang dan pasukan berkudanya pada Raja Chin.
Mereka bersama-sama pergi berburu ke Ki-san. Saat mereka sedang asyik mengepung buruannya. Datang khabar buruk, di kota Gi terjadi kebakaran besar.
"Akh celaka!" kata Raja Gi.
"O ini pasti ada penduduk yang alpa sehingga rumahnya terbakar," kata Raja Chin. Anda tak perlu cemas!"
Raja Gi mau pulang. Dia ingin tahu bagaimana terjadinya kebakaran tersebut.
"Tidak pelu cemas, pasti api akan segera padam! Mari kita teruskan saja berburu," kata Raja Chin.
Ketika Raja Gi memaksa akan pulang, Raja Chin tetap mengajak meneruskan perburuan mereka. Karena tidak enak hati akhirnya Raja Gi setuju meneruskan berburu.
Pek Li He mendapat firasat kurang enak, dia bisiki Raja Gi.
"Karena di dalam kota terjadi kebakaran, Tuanku tidak boleh terlalu lama di sini." kata Pek Li He.
Raja Gi menngangguk setuju, dia pamit pada Raja Chin akan pulang lebih dulu.
Di tengah jalan Raja Gi melihat rakyatnya banyak yang melarikan diri.
"Hai kalian mau ke mana? Tunggu!" kata panglima tentara Gi.
"Kota sudah diduduki oleh tentara Chin! Kota sudah jatuh ke tangan bangsa Chin!" kata mereka.
Bukan main terkejutnya Raja Gi ketika mendengar teriakan itu. Dengan gusar dia perintahkan tentaranya maju untuk bertempur.
Sampai di depan kota, dia melihat di atas loteng kota berdiri seorang panglima perang yang kelihatan angker sekali, panglima itu ternyata Sun Sit adanya.
"Dulu Tuanku telah meminjamkan jalan!" kata Sun Sit sambil tersenyum, "Sekarang Tuanku meminjamkan negeri Gi, sungguh aku harus mengucapkan banyak terima kasih pada Tuanku."
Sindiran itu membuat Raja Gi murka sekali, segera perintahkan tentaranya hendak melabrak pintu kota. Tetapi sebelum dia bisa berbuat apa-apa, di atas kota terdengar suara letusan yang keras. Berbareng dengan itu berhamburan anak panah bagaikan hujan menyambar ke arah tentara Gi. Terpaksa mereka harus mundur.
Ketika Raja Gi memerintahkan orang agar meminta pasukan kereta perangnya; dia mendapat jawaban, bahawa pasukan kereta perangnya tel;ah dihadang musuh. Hadangan ini memubuat tentara Gi banyak yang mati dan luka parah.
Sekarang Raja Gi terjepit di tengah-tengah kepungan musuh. Dia jadi serba salah, maju salah mundur pun susah.
"O celaka. Mengapa aku tak mau mendengar nasihat Kiong Ci Ki?" kata Raja Gi. "Li He, mengapa kau tak menasihatiku?"
"Nasihat Ci Ki saja tidak diturut, apa Tuanku mau mendengar omongan hamba?" kata Pek Li He.
"Kenapa kau tak ikut kabur bersama Ci Ki?" kata Raja Gi.
__ADS_1
"Aku ingin ikut Tuanku sampai mati!" kata Pek Li He.
Kembali Raja Gi menarik napas.