
Pesta besar berlangsung sampai semua orang puas, akhirnya pesta pun ditutup. Para pembesar pulang ke rumahnya masing-masing.
Selang beberapa hari kemudian.....
Datang orang melapor.
"Tadi baru saja tiba Siao Pek Liauw utusan Baginda Ciu Hui Ong datang berkunjung, " kata pelapor itu.
Buru-buru Raja Cee Hoan Kong menyambut dengan gembira kedatangan Siao Pek Liauw itu.
Sesudah menjalankan adat istiadat, Siao Pek Liauw menyampaikan maksud kedatangannya.
"Baginda Ciu Hui Ong memberi gelar Hong Pek (Raja Muda Yang Mulia) kepada Tuanku Raja Cee. Tuanku mendapat izin untuk menghukum raja-raja pembangkang." kata Siao Pek Liauw.
"Terima kasih," kata Raja Cee. "Apa perintah beliau?"
__ADS_1
"Raja We dulu telah membantu Ong Cu Tui mengusir Baginda, Baginda sakit hati kepadanya. Baginda minta agar Raja Cee menghukumnya," kata utusan itu.
"Hamba akan memperhatikan perintah Baginda!" kata Raja Cee.
Sesudah berbasa-basi sebentar Siao Pek Liauw pamit kembali ke negeri Ciu.
Pada tahun pemerintahan Ciu Hui Ong ke-sebelas, Raja Cee Hoan Kong memimpin pasukan perang menyerang ke negeri We.
Waktu itu We Hui Kong sudah meninggal. Puteranya yang bernama Ci sudah menjadi raja. Raja We yang bergelar We I Kong langsung melakukan perlawanan. Tetapi sial Raja We menderita kalah besar. Buru-buru kembali ke kota dan menutup pintu kota secara ketat.
"Oh, kalau begitu almarhum Raja We punya kesalahan besar! Tetapi aku tidak punya sangkut-paut dengan dosa ayahku itu." pikir Raja We I Kong.
Dia perintahkan putera sulungnya yang bernama Kai Hong. Dia membawa lima gerobak bingkisan berharga diserahkan pada Raja Cee. Raja We juga minta berdamai.
Ketika Kai Hong sampai dia langsung menghadap. Kemudian menyerahkan hadiah-hadiah dari ayahnya pada Cee Hoan Kong.
__ADS_1
"Ayah hamba tidak berdosa, itu sebabnya dia mohon dimaafkan dan minta damai." kata Kai Hong. "Menurut aturan Baginda almarhum, jika ayahnya berdosa, anak cucunya tidak terlibat dosa," kata Cee Hoan Kong. "Jika Raja We sudah menerima salah mau menurut perintah Baginda Ciu, aku pun tidak usah memperpanjang masalah ini."
Kai Hong atas nama ayahnya mengucapkan terima kasih. Kai Hong tahu negeri Cee makmur dan kuat. Maka dia minta ikut dan ingin mengabdi pada Raja Cee.
"Kau putera sulung Raja We," kata Cee Hoan Kong heran, "menurut peraturan, kau kelak bakal jadi pengganti ayahmu. Mengapa kau mau menjadi mentriku?"
"Tuanku seorang Raja yang bijaksana saat ini," sahut Kai Hong, "aku lebih beruntung jika bekerja di tempat Tuanku, dibanding menjadi raja di negeri We."
Mendengar jawaban Kai Hong tersebut Raja Cee Hoan Kong mengira Kai Hong sangat mencinta dirinya. Raja Cee setuju dan mengangkat Kai Hong menjadi menteri.
Ketika Raja Cee pulang ke negaranya Kai Hong ikut ke negeri Cee. Di sana Kai Hong menginginkan dirinya lebih disayang oleh Raja Cee. Dia selalu memuji-muji kecantikan putri Raja We.
Raja Cee Hoan Kong memang sangat senang pada perempuan cantik, dia jadi girang mendengar pujian Kai Hong atas dirinya dan putri Raja We itu. Dengan tidak membuang waktu lagi, Raja Cee mengirim utusan mengantarkan barang bingkisan untuk melamar nona yang cantik itu untuk dijadikan selirnya.
Permintaan Raja Cee tidak ditolak oleh We I Kong yang takut pada Raja Cee. Raja We langsung menyerahkan nona We Ki dibawa ke negeri Cee.
__ADS_1
Bukan main girangnya Raja Cee setelah melihat sendiri nona We Ki sesungguhnya sangat elok sekali. Untuk membedakan kakak nona Ki dengan adiknya, Raja Cee memberi nama We Ki Besar dan We Ki Kecil. Keduanya sangat disayang oleh Raja Cee.