LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 82


__ADS_3

Mendengar ucapan itu Tiong Ji segera naik ke atas kota untuk melihat sendiri orang itu. Di antara mereka dia mengenali pemimpinnya, yaitu seorang she Tio bernama Swe alias Cu I, dia adik Tio Wi.


”Karena Cu I datang, aku tidak merasa khawatir lagi!” kata Tiong Ji dengan girang,


Maka dia perintahkan orang membukakan pintu kota dan menyuruh semua orang masuk ke dalam kota.


Menteri-menteri yang ikut bersama Tio Swe, di antaranya Tan Sin, Gui Cun, Ho Sia Kouw, Tian Kiat, Kai Cu Cui, Sian Cin dan beberapa puluh pengikutnya.


”Kalian para pegawai istana, mengapa kalian datang kemari?” tanya Tiong Ji dengan sangat terkejut. ”Lantaran Cu-kong salah, ia mencintai Li-ki, perempuan siluman itu, sehingga Cu-kong telah membunuh pangeran, maka kami yakin tidak lama lagi di negeri Chin akan kacau! Kami tahu kau pandai dan berbudi, maka kami kabur dari istana mau ikut denganmu!”


Sementara itu raja Ek dengan budi bahasa yang manis segera menyilakan semua orang masuk ke dalam kota.


Memang Kong-cu Tiong Ji sejak masih kecil telah berkelakuan manis dan mau merendah dan hormat pada orang. Ketika dia sudah berusia tujuh belas tahun, terhadap Ho Yan, dia memperlakukannya seperti memperlakukan ayahnya. Tio Swe dia anggap sebagai gurunya, dan terhadap Ho Sia Kouw, ia bersikap seperti kepada kandanya.


Saat itu orang terpelajar dan ternama, baik yang di istana, maupun yang di luar istana, semua simpatik kepada Pangeran Tiong Ji. Maka tidak heran, ketika Tiong Ji minggat dari negri Chin, dan keselamatannnya terancam pun, banyak orang yang ingin mengabdi kepadanya. Mereka tidak takut bahaya maupun akan hidup sengsara.


Cuma Kiok Peng dan Lu I Seng yang merasa lebih suka kepada Kong-cu I Gouw, sedang Kek Sia memang saudara ibu Pangeran I Gouw, hingga mereka kabur ke negeri Kut dan membela I Gouw.


Tatkala mereka itu sudah bertemu dengan I Gouw, mereka memberi tahu, bahwa tidak berapa lama lagi Ke Hoa dan tentaranya bakal datang menyerang.


Kabar ini membuat I Gouw sangat kaget, segera dia perintah orang mengatur bala-tentaranya untuk melakukan penjagaan ketat terhadap kotanya.


Beruntung Ke Hoa baik hati, dia tidak tega untuk menangkap I Gouw, maka waktu tentaranya sudah sampai di Kut, dia sengaja bertindak lambat ketika mengepung kota. Malah dengan secara rahasia dia suruh orang membari tahu pada I Gouw, agar I Gouw segera melarikan diri, sebab jika ayal sedikit saja, tentara Chin sudah ditambah pasti akan bertambah susah untuk bisa lolos.


Begitu mendapat kabar, I Gouw segera berunding.


”Kong-cu Tiong Ji ada di negri Ek, apakah tidak lebih baik kita juga pergi ke sana?” kata I Gouw. ”Oh, jangan, Pangeran tidak boleh ke sana,” kata Kiok Peng mencegah. ”Cu-kong memang menyangka dua Pangeran ikut berkhianat. Jika sekarang Pangeran ke sana berkumpul dengan pangeran Tiong Ji, niscaya Li-ki punya alasan yang bagus sekali, sehingga pasti tentara Chin akan datang ke negeri Ek. Maka paling benar Pangeran lari ke negeri Liang, karena negeri Liang dekat dengan negeri Cin, sedang negeri Cin saat ini sangat maju dan kuat! Apalagi Rajanya masih famili Pangeran, maka di kemudian hari Pangeran bisa meminjam tentara negeri Cin agar bisa kembali ke negeri Chin!”

__ADS_1


I Gouw setuju pada saran tersebut, segera dia berangkat ke negeri Liang.


Ke Ho pura-pura mengejar, tetapi tentu saja dia sengaja agar tidak bisa mengejar, lalu ia pulang ke Kota-raja Chin dan memberi laporan pada Chin Hian Kong.


Karena kedua Kong-cu tidak satu yang tertangkap, Chin Hian-kong marah sekali. Dia akan membunuh Ke Hoa. Tetapi untung Pi The Hu yang mencegahnya dengan alasan karena dua pangeran berkuasa atas angkatan perang, mereka mampu melawan Ke Hoa. Chin Hoan Kong tidak berdaya terpaksa menurut. Ke Hoa diampuni.


Kemudian atas usul Liang Ngo, Raja Chin memberi perintah pada Put Te membawa pasukan perang pergi menyerang ke negeri Ek untuk menangkap Pangeran Tiong Ji.


Tetapi raja Ek tidak tinggal diam, dia mengatur tentaranya di Cay-song (batas negeri Chin) siap menangkis serangan dari negeri Chin.


Keduanya tidak berani bergerak lebih dulu, hingga keduanya cuma menunggu hingga dua bulan lebih tanpa bertempur.


Keadaan seperti ini membuat Pi The Hu jadi girang, dia menyarankan pada Chin Hian Kong, agar Raja Chin ini menarik mundur pasukannya.


”Jika kita berperang dengan negeri Ek, belum tentu kita menang. Ditambah lagi ini akan kurang baik di mata para Raja-muda, masakan Tuanku sebagai seorang ayah begitu kejam ingin membunuh kedua anak kandungnya. Malah ini akan membuahkan bahan lelucon di mata umum!” kata Pi Te Hu pada Chin Hian Kong.


He Ce diangkat menjadi Si-cu (Putra Mahkota). Semua pembesar kecuali dua Ngo dan Sun Sit, tidak seorang pun yang jengkel. Maka banyak yang berlasan sakit mereka minta berhenti. Pada tahun pertama dari bertahtanya Baginda Tiu Siang Ong, waktu itu Chin Hian-kong sudah bertahta selama 26 tahun.


Pada tahun itu dalam musim Ciu, Cee Hoan-kong dan para Raja-muda mengadakan pertemuan di Kui-kiu. Chin Hian-kong akan hadir, tetapi terlambat. Saat dia pulang di tengah jalan dia jatuh sakit.


Sesampai di negerinya, penyakit Chin Hian-kong bertambah parah.


Melihat adalannya bakal lenyap Li-ki merasa khawatir sekali. Dia duduk di dekat pembaringan Raja Chin sambil menangis. Melihat tingkah Li-ki Raja Chin merasa kasihan sekali pada Li-ki.


Ketika Chin Hian-kong merasakan penyakitnya makin parah dan bakal meninggal, dia memanggil Sun Sit datang menghadap. Dia berpesan pada Sun Sit.


”Hati-hati kau harus membela He Ce dan Li-ki.” kata Raja Chin.

__ADS_1


Sun Sit berjanji akan memperhatikan benar pesan junjungannya itu.


Selang beberapa hari kemudian, Chin Hian-kong menghembuskan napasnya yang penghabisan.


Li-ki segera memondong He Ce yang waktu itu baru berusia sebelas tahun, lalu dia serahkan kepada Sun Sit.


Karena Sun Sit ingat telah menerima pesanan dari Chin Hian-kong yang paling penghabisan, dia angkat He Ce untuk memimpin upacara duka cita.


Semua pembesar berkumpul akan menyatakan berduka-cita atas wafatnya raja mereka.


Saat itu Li-ki mengangkat Sun Sit menjadi Siang-kong (Perdana Mentri), Liang Ngo dan Tong Koan Ngo dinaikan pangkatnya menjadi Co Yu Su Ma.


Tatkala semua urusan sudah selesai dan semua pembesar sudah bubar, diam-diam Li Kek mengunjungi rumah Pi The Hu untuk mengadakan pembicaraan rahasia.


”Anak kecil itu bakal jadi raja, sekarang bagaimana sebaiknya kita menolong Pangeran yang menanggung sengsara di luar?” kata Li Kek pada temannya.


”Semua urusan tergantung pada Sun Sit seorang, mari kita temui dia apa yang akan dilakukannnya?” sahut Pi The Hu.


Li Kek setuju dengan pendapat itu. Mereka berdua berkunjung ke gedung Sun Sit.


Kedatangan mereka disambut oleh Sun Sit dengan manis, mereka diajak masuk ke ruang dalam.


”Cu-kong telah wafat, tetapi Pangeran Tiong Ji dan Pangeran I Gouw semua ada di luar negeri,” kata Li Kek pada Sun Sit, ”Siok Hu menjadi pembesar di negeri ini. Mengapa Tuan tidak mengundang mereka, malah mengangkat anak-anak pendengki untuk memimpin upacara berkabung. Apa ini bisa membuat semua orang puas?”


”Aku telah menerima pesan Cu-kong almarhum,” kata Sun Sit, ”Maka kuanggap He Ce-lah junjunganku. Aku tidak bisa mengingkari pesan Cu-kong kita, keculai aku mati!”


”Kalau mati secara demikian tidak ada gunanya, apa lebih baik kau ubah saja putusan Cu-kong itu?” kata Pi The Hu.

__ADS_1


”Oh, tidak bisa!” sahut Sun Sit. ”Aku sudah berjanji hendak memperhatikan pesan itu! Sekalipun aku harus mati tidak ada gunanya, aku tidak mau melangggar pesan Cu-kong.”


__ADS_2