LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 96


__ADS_3

Menjelang fajar, dua dorna yang sudah putus harapan itu, kembali bersama pasukannya. Sebelum sampai di istana, mereka melihat pintu istana sudah terbuka dan di sana banyak menteri yang sudah berkumpul. Mereka mendengar dua dorna mengerahkan pasukan, maka menteri-menteri itu mengira ada kekacauan di istana, itu sebabnya mereka datang.


Di istana mereka akhirnya tahu bahwa Raja Cee Hoan-kong telah meninggal dunia. Tidak heran mereka jadi tidak puas, apalagi mendengar Istana Tengah dikepung. Hingga mereka segera menduga kedua dorna itu telah membuat huru-hara.


”Cu-kong sebenarnya mengangkat Pangeran Ciauw menjadi penggantinya. Sekarang Pangeran Ciauw tidak ada, bagiamana ini?” kata seorang menteri.


Mereka jadi kebingungan bukan main.


Saat mereka kebingungan datanglah dua dorna bersama pasukannya. Begitu dua dorna itu sampai, mereka bertanya.


”Mana Pangeran Ciauw?” kata mereka.


”Kami tidak tahu, sedang yang pantas menjadi pengganti Cu-kong adalah Bu Kui,” begitu mereka menjawab. ”Tidak, yang pantas adalah Pangeran Ciauw!” kata para menteri.


Akhirnya mereka bertengkar dan terjadilah perkelahian hebat.


Sayang para menteri tidak membawa senjata, dalam pertempuran yang kacau banyak menteri yang setia kepada Pangeran Ciauw binasa. Terpaksa mereka kabur dari istana. Dua dorna segera mengajak Bu Kui ke istana dan langsung dia diangkat menjadi raja. Saat pengangkatan tidak ada menteri yang hadir, hanya Yong Bu dan Si Tiauw saja yang ada di situ.Pangeran Bu Kui jadi kurang senang dan malu, karena itu berarti dia tidak disetujui menjadi raja.


Tahu bahwa Bu Kui tak mendapat dukungan dari para menteri negeri Cee yang lain, Si Tiauw dan Yong Bu menyarankan agara Bu Kui mengundang Kok I Tiong dan Kho Houw, dua menteri senior untuk mohon dukungan. Bu Kui menurut saja, lalu memerintahkan seorang budak istana memanggil kedua menteri itu.


Mendapat panggilan itu, dua menteri itu segera mengetahui, bahwa Raja Cee sudah meninggal. Mereka segera mengenakan pakaian berkabung dan langsung ke istana.


Yong Bu dan Si Tiauw buru-buru keluar menyambut kedatangan menteri senior itu.


”Sekarang Pangeran Bu Kui sudah menjadi Raja Cee, kami minta Tuan-tuan menetapkan kedudukannya.” kata Si Tiauw.

__ADS_1


Kok I Tiong dan Kho Houw jadi mendongkol, mereka menyahut.


”Jika jenazah Cu-kong belum dikuburkan dan sudah mengangkat raja baru, maka kami tidak setuju!” kata dua menteri senior itu.


Sambil menangis kedua menteri senior itu langsung meninggalkan istana.


Bu Kui kebingungan sekali.


”Karena urusan penguburan Ayahanda belum dilaksanakan, semua menteri tak mendukung padaku, sekarang bagaimana?” kata Bu Kui.


”Masalah hari ini mirip dengan orang yang sedang menangkap harimau, siapa yang kuat dialah yang akan menang,” kata Si Tiauw. ”Tuan tenang saja, semua ini akan kami bereskan.”


Bu Kui yang memang ingin menjadi raja jadi tidak menghiraukan pengurusan jenazah ayahnya. Dia menuruti saja keinginan dua menteri jahat itu. Si Tiauw dan Ek Gee lalu mengatur pasukan dan menjaga istana dengan ketat.


Pangeran Kay Hong berpihak dan membela anak Kat-eng yaitu Pangeram Poan. Kay Hong mengumpulkan tentara dan mendirikan benteng di sebelah kanan istana.


Pangeran Yong tidak mau terlibat perselisihan, dia pergi ke negeri Cin dan minta perlindungan pada Cin Bok-kong.


Yong Bu alias Ek Gee dan Si Tiauw yang merasa jerih pada tiga pangeran itu, mereka hanya berjaga-jaga saja di pintu istana tidak berani keluar untuk bertempur. Tiga pangeran pun tidak berani maju dulu.


Keadaan seperti itu berlangsung berbulan-bulan, tidak pasti. Kho Houw dan Kok I Tiong akhirnya mengambil putusan, apa boleh buat mengangkat Pangeran Bu Kui menjadi raja, asalkan jenazah Raja Cee Hoan-kong diurus


Mereka berdua datang ke istana, tetapi kedatangannya dihadang oleh Si Tiauw dan Ek Gee. Sesudah dijelaskan maksud kedatangan dua menteri senior itu, baru Ek Gee dan Si Tiauw girang. Dua menteri ini menemui Bu Kui, si raja Cee yang baru. Mereka menasihati Bu Kui agar mengurus jenazah ayahnya dengan baik.


Bu Kui setuju, upacara segera diadakan. Semua menteri jadi terharu sekali.

__ADS_1


Bu Kui juga jadi menangis,dia turun dari kursi kebesaran memberi hormat.


Jenazah Raja Cee almarhum ada di atas pembaringannya, tetapi selama itu tak ada yang mengurus, tubuhnya sudah mulai rusak dan bau dan penuh belatung. Semua menteri merasa ngeri dan jijik. Mereka jadi sedih dan menangis. Peti mati segera disediakan, mayat segera dibungkus dan dimasukkan ke dalam peti mati. Mereka juga menemukan mayat An Ngo Ji, selir Raja Cee yang setia, banyak menteri yang memuji kesetiaannnya itu.


Pangeran Poan, Pangeran Goan dan Pangeran Siang Jin ketika melihat menteri Kho dan Kok mengajak semua menteri melaksanakan upacara berkabung, mereka jadi curiga.


Tetapi tidak mengetahui ada masalah apa. Kemudian setelah mereka mendengar kabar jenazah Raja Cee Hoan-kong sudah diurus, semua menteri telah mengangkat Bu Kui menjadi Raja Cee, maka musnahlah harapan mereka. Mereka segera berunding. ”Jika Menteri Kho dan Kok yang memimpin upacara, kita tidak bisa berebut lagi!” kata salah seorang pangeran itu.


Segera mereka membongkar kubu-kubu mereka, mereka berdatangan ke istana untuk menyatakan berduka-cita.


Dikisahkan Pangeran Ciauw yang lari ke negri Song.


Setelah itu putra mahkota dari negri Cee sampai di negeri Song, dia menemui Raja Song Siang-kong, di hadapan raja itu dia berlutut dan menangis, dia ceritakan bagaimana Yong Bu dan Si Tiauw telah membuat huru-hara. Raja Song membujuk dan bersedia membantu.


Kemudian Raja Song mengumpulkan menterinya diajak berunding.


”Dulu Raja Cee Hoan-kong menitipkan Pangeran Ciauw kepadaku agar dibantu supaya menggantikannnya,” kata Raja Song. ”Sekarang Eg Gee dan Si Tiauw mengacau di negeri Cee. Aku berniat mengumpulkan Raja-muda untuk menghukum mereka berdua. Lalu membawa Ciauw ke Cee untuk menjadi raja. Aku sendiri akan menduduki posisi Raja Cee almarhum mengepalai semua Raja-muda. Bagaimana menurut kalian?”


”Aku rasa negeri Song tidak bisa menjadi jago, sebab ada beberapa hal yang tidak sama dengan Raja Cee,” kata salah satu menterinya.


Raja Song Siang-kong melirik dan mengawasi pada menteri itu, orang itu adalah putra sulung Raja Song Hoan-kong bernama Pangeran Bak I.


Ketika Song Hoan-kong wafat Pangeran Bak I mengalah tidak mau menjadi raja, maka Song Siang-kong yang menjadi raja, dan mengangkat dia menjadi menteri.


”Apa maksudmu?” tanya Raja Song Siang-kong.

__ADS_1


”Negeri Cee kuat bagaikan gunung Tay, luas bagai laut Put-hay. Mereka punya tanah Long-ya dan Cek-bek yang subur. Mereka juga punya menteri senior Kok dan Kho. Dulu mereka punya Koan Tiong, Leng Cek, Sek Peng dan Pauw Siok Gee yang telah membangun negaranya. Sedang negeri Song kecil dan tanahnya kurang bagus. Tentara dan ransumnya sedikit, menteri militer dan sipilnya juga sedikit. Itu alasanku.” kata Bak I. ”Maksudku aku ingin menegakkan kebijaksanaan,” kata Raja Song dengan kurang senang. ”Maka jika aku tidak membantu Ciauw, maka aku jadi kurang bijaksana.”


__ADS_2