LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 52


__ADS_3

Ketika Keng Hu melarikan diri ke negeri Ki, dia sengaja membawa barang berharga dan mempersembahkannya kepada Raja Ki. Dengan demikian kedatangan Keng Hu ke sana diterima dengan baik oleh Raja Ki. Tetapi setelah datang utusan dari negeri Louw yang meminta supaya Keng Hu dibinasakan dan dia dijanjikan akan diberi hadiah besar, maka timbul pikiran tamak dari Raja Ki. Raja Ki segera memerintahkan orang menemui Keng Hu. Orang itu menyampaikan pesan Raja Ki.


"Negeri Ki sangat kecil, karena Keng Hu menumpang di sini, Raja Louw kurang senang. Jika karena gara-gara itu, negeri Ki harus berperang dengan negeri Louw, Raja kami khawatir negeri Ki akan hancur berantakan. Maka Raja kami berharap, Anda meninggalkan negeri kami." kata utusan Raja Ki.


Ucapan utusan Raja KI itu membuat Keng Hu kaget, ia jadi berduka sekali. Dia langsung bengong dan memikirkan nasibnya yang buruk itu. Sesudah utusan pergi Keng Hu jadi bingung harus ke mana dia pergi? Karena Keng Hu terlalu lama mengambil putusan, Raja Ki kurang senang. Kemudian Raja Ki mengirim orang untuk mengusir Keng Hu.


Mau tidak mau maka terpaksa Keng Hu harus angkat kaki dari negeri Ki. Dia teringat kepada Si Tiao yang sudah pernah makan suap darinya, maka dia berharap dia bisa membantu kepadanya. Dari negeri Ki lalu Keng Hu pergi menuju ke negeri Cee.


Dasar orang jahat seperti anjing gudik, sampai ke mana pun dia datang pasti akan diusir orang, begitu juga nasib Keng Hu sekarang. Ketika dia berjalan dan sampai di perbatasan negeri Cee, pembesar yang bertugas di perbatasan negeri Cee, karena tahu kejahatannnya, lalu menahan Keng Hu di sebuah pondok di tanah bun-sui.


Waktu itu Pangeran He Su yang baru saja menemui Raja Cee dalam perjalanan pulang, sampai di Bun-sui. Begitu dia bertemu dengan Keng Hu, dan mengetahui betapa menderitanya Keng Hu, lalu mengajak Keng Hu pulang ke negeri Louw.


Tapi Keng Hu tahu diri berdosa besar, dia menolak ajakan Pangeran He Su tersebut. Dia hanya berpesan dan minta tolong.


"Tolong kau sampaikan permintaan ampunku kepada Raja yang baru dan kepada Kui Yu, jika aku diberi ampun baru aku berani pulang." kata Keng Hu.


Pangeran He Su berjanji bersedia membantu Keng Hu mengajukan permohonan ampunnya. Begitu sampai di negeri Louw, sesudah mengisahkan perjalannya sebagai utusan ke negeri Cee pada Louw Hi Kong dan Kui Yu, Pangeran He Su lalu menceritakan kesusahan Keng Hu dan menyampaikan permohonan ampunnya.


Mendengar keadaan Keng Hu begitu Raja Louw Hi Kong jadi kasihan pada Keng Hu dan hendak meluluskan permohonannya.

__ADS_1


"Jangan, Tuanku jangan ampuni dia," kata Kui Yu coba mencegah. "Jika seseorang yang berani membunuh seorang Raja tidak dibinasakan, hal ini akan menjadi contoh yang buruk di kemudian hari."


Raja Louw Hi Kong menuruti nasihat dari Kui Yu dan mengurungkan niatnya memberi ampun.


Kemudian dengan diam-diam Kui Yu menemui He Su.


"Kau pergi temui Keng Hu, katakan padanya. Jika dia mau bunuh diri, maka sanak familinya akan selamat. Tetapi jika tidak jangan salahkan aku!" kata Kui Yu tegas.


Pangeran He Su menerima baik perintah itu, dia pergi lagi ke Bun-sui akan menemui Keng Hu. Sesampai di tempat tersebut dia merasa berat sekali untuk menyampaikan pesan Kui Yu tersebut. Kemudian He Su menangis terisak-isak di depan pintu rumah Keng Hu.


Mendengar ada orang menangis di depan pondoknya, Keng Hu terkejut. Dia mengenali suara He Su, karena itu dia menggelengkan kepalanya.


Sehabis berkata begitu Keng Hu membuka angkin (ikat pinggang), dengan angkin itu dia menggantung diri di sebuah pohon sehingga mati.


Ketika He Su mengetahui Keng Hu sudah mati, dia rawat jenazahnya sebagaimana mestinya, kemudian baru dia pulang untuk melaporkan peristiwa itu kepada Louw Hi Kong.


Meski pun sang paman jahat, tetapi mendengar kematiannya Louw Hi Kong berduka juga.


Ketika Louw Hi Kong dan Kui Yu sedang duduk membicarakan kematian Keng Hu, tiba-tiba tiba kabar Raja Ki datang hendak minta uang hadiah atas meninggalnya Keng Hu. Raja Ki mengutus adiknya yang bernama Eng No.

__ADS_1


"O, mana bisa begitu!" kata Kui Yu dengan mendongkol. "Orang Ki tidak pernah menangkap Keng Hu dan mengantarkannya ke sini.Mana bisa mendapat ganjaran!"


Kui Yu minta izin akan mengerahkan pasukan menyambut kedatangan Eng No sebagai utusan Raja Ki itu.


Raja Louw Hi Kong meloloskan pedang yang tersangkut di pinggangnya, kemudian dia serahkan kepada Kui Yu.


"Nama pedang ini Beng-lo, panjangnya tidak sampai satu kaki, tajamnya tidak ada bandingannya. Pedang ini boleh dianggap sebagai barang wasiat, Paman." kata Louw Hi Kong.


Kui Yu menghaturkan terima kasih atas pemberian itu, lalu dia sandang pedang Beng-lo tersebut di pinggangnya. Sesudah itu dia pamit pada Louw Hi Kong, dia pimpin tentaranya ke tanah Li (tanah milik negeri Louw).


Di tempat itu baik Kui Yu, maupun Pangeran Eng No sudah mengatur angkatan perangnya untuk bertempur.


Kui Yu berpikir keras.


"Raja Louw baru diangkat menjadi Raja, urusan negara belum rapih. Jika harus berperang dan aku kalah, pasti akibatnya buruk sekali. Aku tahu Eng No gagah, tetapi dia bodoh. Lebih baik akan aku gunakan akal untuk mengalahkannya." Pikir Kui Yu.


Begitu sudah mantap dengan rencananya, Kui Yu keluar dari barisannya dan minta bicara dengan Eng No.


Eng No tidak keberatan, dia keluar dari barisannya untuk menemui Kui Yu.

__ADS_1


"Kongcu, sebenarnya kita berdua yang saling bermusuhan. Maka tidak pantas kita menyeret tentara kita yang tidak berdosa. Aku dengar kau gagah dan pandai berperang. " kata Kui Yu. "Jika kau bersedia mari kita bertarung satu lawan satu. Mari kita buktikan siapa yang paling jagioan di antara kita?"


__ADS_2