LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 100


__ADS_3

”Orang Couw menawan raja kita dan menyerang negeri kita, karena ada yang mereka inginkan. . . . ”


Bak I membisiki kuping Kong-sun Kouw menyampaikan apa yang dimaui Raja Couw.


”Pasti Raja kita akan dibebaskan,” kata Bak I akhirnya.


”Ya,” kata Kong-sun Kouw girang.


Sesudah itu Kong-sun Kouw berkata kepada semua menterinya.


”Raja kita belum tentu bisa pulang, karena itu kita harus mengangkat Pangeran Bak I untuk mengatur negeri ini.” kata Kong-sun Kouw.


Karena semua menteri sudah mengetahui kepandaian Bak I, mereka girang mendengar kabar itu.


Pangeran Bak I lalu diangkat menjadi pengganti Raja Song. Dia segera mengatur tentaranya dengan keras tetapi adil untuk menghadapi tentara Couw.


Tidak lama, benar saja tentara Couw datang menyerang. Mereka telah membangun perkemahan di luar kota.


”Raja kalian sudah kami tangkap, sekarang dia sudah dibawa ke sini! Sekarang kalian serahkan kota ini dan takluk pada kami. Dengan demikian jiwa rajamu bisa tertolong!” kata panglima Couw.


Kong-sun Kouw segera menjawab dari atas loteng kota.


”Kami sudah mengangkat Raja yang baru! Maka itu Raja lama, jika hendak kalian bunuh atau tidak, terserah kalian saja! Tetapi jika kami disuruh takluk, jangan harap!”


”Tetapi raja kalian masih hidup, jadi mana boleh kalian mengangkat raja lagi?”


”Raja kami harus ada di dalam negeri, karena dia tidak ada, maka kami mengangkat raja yang baru!” kata Kong-sun Kouw.


”Seandainya kami kembalikan rajamu, bagaimana kau membalas budi kami?” tanya panglima Couw.


”Bila raja lama sudah tertangkap, berarti dia telah membuat malu negeri kami, sekalipun dia kembali, dia tak bisa jadi raja lagi.” kata Kong-sun Kouw. ”Pulang atau tidak pulang baginya sama saja. Jika kalian mau berperang pun, akan kami ladeni. Terserah apa maumu?”


Touw Put mendongkol, lalu pulang ke pesanggrahannya untuk memberitahu Raja Couw.


Bukan main marahnya Raja Couw Seng-ong, dia perintahkan agar tentaranya melabrak kota secara hebat.


Tetapi bagaimanapun hebatnya serangan tentara Couw, mereka tidak bisa mendekati tembok kota. Bahkan tentara Couw rusak berat, karena terkena anak panah dan batu yang dilemparkan dari atas kota oleh tentara Song.


Sudah tiga hari tiga malam lamanya tentara Couw menyerang, tetapi tetap sia-sia saja.


Melihat keadaan itu, Raja Couw Seng-ong berkata pada meneteri-menterinya.


”Karena sekarang Raja Song Siang-kong tidak dihargai lagi oleh rakyatnya, apa kita bunuh saja?” kata Raja Couw.


”Jangan, kita tidak boleh berbuat begitu,” Seng Tek Sin mencegah. ”Bukankah Tuanku menuduh Raja Song berdosa karena dia membunuh Raja Kwee? Jika sekarang Tuanku membunuh Raja Song, itu sama saja Tuanku meniru perbuatannya. Jika kita bunuh Raja Song, artinya kita hanya membunuh seorang, itu tidak ada artinya. Bukan mendapat daerah Song, malah membuat orang jadi gusar.


Menurut pendapat hamba, lebih baik lepaskan saja dia.”


”Menyerang Song saja tidak berhasil, malah kita melepaskan rajanya. Apa itu tidak memalukan sekali?” kata Raja Couw Seng-ong sangsi. ”Jika mau membebaskannya, kita harus mencari alasan yang tepat?”


”Soal itu sudah hamba pikirkan,” kata Seng Tek Sin. ”Negeri Cee sahabat kita, tidak perlu kita pikirkan lagi. Sedang Louw sahabat Cee dan jika dia membantu Cee menjadi jago, maka Couw tidak akan mereka hiraukan lagi. Sekarang kita kirim barang hasil rampasan dari negeri Song ke negeri Louw, hadiahkan kepadanya. Jika mereka mau menerimanya, Song pasti ngeri dan mau berserikat dengan kita. Louw dan Song bersahabat baik. Ingat Raja Louw sangat budiman, pasti dia akan meminta agar Raja Song kita bebaskan. Lalu kita kabulkan permintaannya. Maka dengan demikian bukan saja kita bisa memiliki daerah Louw, tetapi juga daerah Song.”


Raja Couw girang dia sepakat pada usul itu.


Tak lama Raja Couw Seng-ong menarik mundur tentaranya pergi ke Pok-touw, sebagai utusan dia mengirim Gi Seng. Dengan membawa iringan kereta barang rampasan dari negeri Song mereka pergi ke negeri Louw.


Setiba di negeri Louw. utusan negeri Couw diterima baik oleh Louw Hi-kong. Dalam surat Raja Louw meminta pertimbangan mengenai masalah Raja Song yang dia telah tawan. Membaca surat itu Raja Louw kaget. Dia tak sadar kalau itu cuma gertakan Raja Couw kepadanya. Namun, jika Louw mau melawan, Raja Louw sadar negaranya lemah.


Raja Louw itu berkata pada Gi Seng.


”Baiklah, aku menerima dengan baik undangan itu.” kata Raja Louw.


Raja Louw Hi-kong dengan mengajak Tay-hu Tiong Sui datang ke Pok-touw.


Saat itu Raja-muda Tan, Coa, The, Khouw, Louw dan Co, sudah datang semua. Sebelum pertemuan dimulai, para raja muda itu sepakat mengangkat Raja Couw menjadi pemimpin perserikatan raja-raja. Hanya syaratnya Raja Song harus dibebaskan oleh Raja Couw.

__ADS_1


Rencana itu bocor ke tangan Seng Tek Sin yang menyampaikannnya kepada Raja Couw.


”Ternyata dugaanmu itu benar!” kata Raja Couw pada Seng Tek Sin.


Raja Couw setuju sekali. Sehari sebelum diadakan persidangan, Raja Song Siang-kong dibebaskan.


Esok harinya, The Bun-kong mengajak semua raja muda mengundang Couw Seng-ong naik ke panggung mengepalai persidangan.


Semua raja-raja minum darah mengangkat sumpah, Raja Couw Seng-ong diangkat menjadi kepala perserikatan.


Raja Song Siang-kong sangat mendongkol, tetapi tidak berani berkata apa-apa.


Setelah semua selesai, raja-raja itu bubar dan pulang ke negerinya masing-masing.


Sedang Raja Song Siang-kong yang mendengar kabar Bak I sudah jadi raja, dia mengungsi ke negeri We untuk menumpang di sana. Tetapi sebelum berangkat, datang utusan dari Bak I menyerahkan surat.


”Hamba menduduki takhta kerajaan, menggantikan Tuanku buat menjaga negeri. Sekarang silahkan Tuanku pulang, sebab negeri Song milik Tuanku.”


Raja Song Siang-kong merasa kagum sekali atas kesetiaan Bak I ini.


Tidak lama kereta yang indah sudah tersedia, untuk membawa pulang Raja Song Siang-kong ke negeri Song.


Tatkala Raja Song Siang-kong sampai di negrinya, Bak I segera turun dari tahta kerajaan lalu berbaris di tempat menteri-menteri.


Sementara itu Raja Song yang sudah pulang ke negrinya, senantiasa merasa sakit hati kepada Raja Couw. Karena sudah dengan susah payah dia berikhtiar hendak menjagoi di antara para raja, tetapi ternyata dia ditawan oleh Raja Couw. Dia merasa malu dan gemas kepada Raja The yang mengajak semua raja muda mengangkat Raja Couw menjadi kepala perserikatan.


***


Pada tahun Raja Ciu Siang-ong memerintah yang ke-14, di musim Cun bulan tiga, Raja The Bun-kong pergi ke negeri Couw untuk memberi hormat pada Raja Couw seolah kepada Kaisar.


Kabar ini membuat Raja Song Siang-kong sangat marah, dia ingin mengerahkan tentara Song untuk melabrak negeri The yang dianggap merendahkan diri itu.


Tetapi Bak I segera mencegah niat Raja Song ini, karena dia tak setuju.


”Ingat Tuanku, Raja Couw dan Raja The sedang rukun!” kata Bak I. ”Jika Song menyerang Raja The, pasti Raja Couw akan menolongnya. Bila hal ini terjadi, hamba khawatir kita akan kalah. Lebih baik Tuanku renungkan kembali dengan bijaksana sambil menunggu datangnya kesempatan yang tepat.”


Song Siang-kong yang sudah sering membuktikan kepandaian Bak I, dan Kong-sun Kouw, tetapi dia tidak mau mendengarkan nasehat mereka.


”Jika kalian tidak setuju, biar aku yang memimpin sendiri berperang!” kata Raja Song.


Melihat kemarahan Song Siang-kong, tanpa banyak bicara Kong-sun Kouw mengeluarkan tentara untuk menyerang negeri The.


Song Siang-kong memimpin pasukan perang bagian tengah, dibantu oleh Kong-sun Kouw. Sedangkan Gak Pok I, Hoa Siu Lo, Pangeran Tong memimpin pasukan depan dan belakang.


Tetapi gerakan tentara Song ini segera dilaporkan oleh mata-mata dari negeri The pada Raja The Bun-kong.


Raja The terkejut mendengar tentara Song menyerang negaranya. Dengan terburu-buru dia menyuruh orang untuk minta pertolongan kepada Raja Couw.


Raja Couw Seng-ong mengumpulkan menteri-menterinya.


”Raja The sangat hormat kepada kita, maka itu kita harus menolongnya.” kata Raja Couw.


”Daripada kita menolong Raja The, lebih baik kita sendiri menyerang ke negeri Song,” kata Seng Tek Sin mengajukan usul.


”Kenapa?”


”Sebab Raja Song tanpa menyadari kekuatannya, telah mengerahkan pasukan besar untuk menyerang negeri The. Dengan demikian negrinya pasti kosong. Apabila kita serang negrinya yang kosong itu, pasti orang-orang yang ada di dalam negeri jadi ketakutan. Jadi tanpa harus berperang lagi kita akan menang. Bila Raja Song yang pulang hendak menolong negerinya, tentaranya pasti sudah lelah dalam perjalanan. Dengan demikian tentara kita yang masih segar, akan mampu mengalahkan tentara Song yang sudah lelah itu dengan gampang. Dan pasti kita akan mendapatkan kemenangan!”


Raja Couw Seng-ong setuju pada usul Seng Tek Sin, dia segera mengangkat Seng Tek Sin menjadi komandan perang. Touw Put menjadi pembantunya. Angkatan perang Couw segera berangkat akan menyerang ke negeri Song.


Saat itu Raja Song Siang-kong belum memaklumkan perang pada Raja The, dia mendapat laporan bahwa Raja Couw menyerang ke negeri Song. Mendengar laporan itu Raja Song kaget. Dia segera memimpin tentaranya pulang untuk menolong negaranya. Setiba di sana dia mendirikan pesanggrahan di tepi Selatan sungai Hong-sui untuk menangkis serangan tentara Couw.


Seng Tek Sin memerintahkan orang untuk membawa surat tantangan.


Kong-sun Kouw mengajukan saran pada Raja Song.

__ADS_1


”Kedatangan tentara Couw kemari, maksudnya hendak membantu Raja The. Jika The tidak jadi kita serang, lalu Tuanku minta maaf pada Raja Couw, pasti Raja Couw akan menarik mundur pasukannya dan tidak terjadi berperang.” kata Kong-sun Kouw.


”Dulu Raja Cee Hoan-kong mengerahkan angkatan perangnya menyerang ke negeri Couw,” kata Raja Song Siang-kong dengan tidak senang, ”Sekarang orang Couw malah menyerang kita. Kalau aku tidak melayaninya, bagaimana mungkin aku bisa meneruskan pekerjaan Raja Cee Hoan-kong?”


”Tapi pasukan perang kita tidak seperti tentara Couw yang masih gagah,” kata Kong-sun Kouw. ”Bisa dikatakan tentara Song takut kepada tentara Couw. Mereka takut seperti takut pada harimau, jadi bagaimana mungkin kita berharap akan memenangkan peperangan ini?”


”Walau pun Raja Couw dan tentaranya sangat kuat, tapi Raja Couw tidak bijaksana. ” kata Raja Song. ”Sebaliknya aku, sekalipun tentaraku sedikit, tetapi aku bijaksana.”


Sesudah itu Raja Song membalas surat tantangan perang. Dalam surat itu dia menantang perang di Hong-yang.


Ketika itu dua pasukan perang sudah saling berhadapan. Kong-sun Kouw mengusulkan pada Raja Song agar segera menyiapkan pasukan. Tetapi Raja Song santai saja. Ketika tentara Couw sudah menyeberangi sungai, Kong-sun Kouw kembali mengajukan usul supaya menyerang musuh.


”Tunggu sampai mereka menyernang semua!” kata Raja Song.


”Seharusnya dalam ilmu perang, tentara Couw harus menyeberang pada malam hari. Maksudnya supaya kita tidak mengetahui gerakannya,” kata Kong-sun Kouw. ”Kali ini ternyata mereka menyeberang sesudah fajar menyingsing, itu berarti mereka sangat menghina kita. Saat mereka sedang menyeberangi sungai dan tentara nereka baru separuhnya yang menyeberang, mereka harus kita serang! Ini saat yang sangat baik! Dengan demikian kita pasti akan mendapat kemenangan. Apabila kita menunggu sampai tentara mereka sudah menyeberangi sungai semua, maka karena jumlah tentara Couw lebih banyak dari tentara kita yang sedikit, aku khawatir kita tidak akan sanggup melawan mereka.”


Raja Song Siang-kong segera menunjuk ke bendera besarnya sambil berkata, ”Coba kau lihat dua huruf ”Jin Gi” itu! Sudah berkali-kali aku jelaskan kepadamu, bahwa aku hendak berpegang teguh pada kebajikan dan budi! Apakah kau masih belum juga mengerti? Apalagi pasukanku yang gagah dan banyak. Lagipula di mana ada peraturan musuh baru menyeberang separuh sudah diserang!”


Mengetahui rajanya tidak bisa dinasehati, Kong-sun Kouw jadi kesal hatinya.


Tidak berapa lama tentara Couw pun sudah menyeberang semuanya. Terlihat Seng Tek Sin sedang mengatur tentaranya.


Melihat hal itu Kong-sun Kouw kembali menasehati Raja Song Siang-kong.


”Panglima Couw sedang mengatur pasukannya dan belum rapi benar, segera bunyikan tambur tanda berperang. Dengan demikian musuh akan kacau.”


Raja Song Siang-kong meludahi muka Kong-sun Kouw. Dengan marah dia berkata, ”Kau sungguh licik! Apa kau akan menang dengan kelicikanmu, tetapi kau lupa, perbuatanmu itu akan merusak nama kita!”


Mendengar jawaban itu bukan main mendongkolnya Kong-sun Kouw. Sekarang tentara Couw sudah ada di seberang, sehingga membuat tentara Song merasa jerih.


Baru Raja Song Siang-kong memerintahkan membunyikan tambur tanda berperang. Tetapi hal ini disambut oleh pasukan Couw dengan hebat.


Raja Song maju sambil memegang tombak panjang, mengajak Pangeran Tong, Hiang Cu Siu, kedua panglima perangnya itu, maju menyerang pasukan Couw.


Melihat kedatangan musuh begitu buas, diam-diam Seng Tek Sin mengeluarkan perintah agar membiarkan musuh maju terus ke dalam pasukannya. Tetapi yang diincar untuk masuk cuma Raja Song Siang-kong dan satu pasukan perangnya saja.


Sedangkan Kong-sun Kouw yang mengikuti Raja Song Siang-kong berada di belakang.


Setelah Raja Song Siang-kong menyerang masuk ke tengah pasukan musuh, mereka bertemu dengan Touw Put, Kong-sun Kouw maju ke depan rajanya menghadapi musuh.


Touw Put dan Kong-sun Touw pun bertarung hebat.


Tidak lama Gak Pok I dari pihak Song datang, tetapi dia dihadapi oleh Kui Lu Si.


Ketika Kong-sun Kouw sudah agak terdesak segera dia kabur ke tengah pasukan Couw. Touw Put mengangkat goloknya dan mengejar Kong-sun Kouw. Tetapi panglima Song yang bernama Hoa Siu Lo datang ke tempat itu, mereka jadi bertempur hebat.


Kong-sun Kouw tidak melihat Raja Song di sekitarnya, dia mencoba mencarinya. Tetapi sia-sia. Dia maju terus tetapi dihadang oleh tentara Couw yang menyemut banyak sekali. Dia segera maju terus, dan bertemu dengan panglima Song bernama Hiang Cu Siu yang mukanya berlumuran darah.


”Su-ma lekas tolongi Cu-kong kita!” teriak panglima Song itu.


Kong-sun Kouw dan Hiang Cu Siu menyerang masuk ke dalam kepungan musuh yang berlapis-lapis itu. Di sana dia melihat tentara Song banyak yang terluka berat, tetapi mereka tidak mau mundur.


Melihat Kong-sun Kouw yang gagah perkasa mengamuk, tentara Couw mundur sedikit tidak berani merapat.


Ketika Kong-sun Kouw menoleh ke dalam kereta perang Raja Song, dia melihat Pangeran Tong yang terluka berat, telah rebah di dalam kereta perangnya, sedangkan bendera besar yang terlukis huruf ”Jin Gi”, sudah dirampas oleh musuh. Raja Song Siang-kong juga terluka parah. Paha kanannya terkena panah sehingga urat lututnya putus. Dengan demikian dia tidak bisa bangun untuk berdiri.


Ketika melihat Kong-sun Kouw Pangeran Tong girang sekali.


”Su-ma! Jaga Cu-kong kita baik-baik, aku rasa aku sudah tidak tahan lagi!” kata Pangeran Tong.


Benar saja Pangeran Tong menghembuskan napasnya yang penghabisan.


Hati Kong-sun Kouw sangat pilu, buru-buru dia angkat Raja Song Siang-kong ke dalam kereta perangnya. Dengan tubuh sengaja menghalangi Raja Song, dan dengan seluruh kekuatannya Kong-sun Kouw menerjang keluar dari kepungan musuh.


Sedang Hiang Cu Siu menjaga di belakang mereka, dibantu oleh tentara Song.

__ADS_1


Tetapi karena orang Song banyak yang melarikan diri sambil berperang, akhirnya setelah keluar dari kepungan tentara Couw, tentara istana Song itu sudah hampir binasa semuanya. Tepatnya pasukan Song sembilan puluh persen telah binasa oleh musuh.


Ketika Gak Pok I dan Hoa Siu Lo melihat raja mereka sudah terhindar dari bahaya maut mereka pulang.


__ADS_2