
"Negeri Kang dan negeri Ui karena tidak tahan oleh kekejaman raja dari negeri Couw, telah mengirim utusan datang ke sini untuk minta berserikat. Aku pikir aku hendak menerima permohonan mereka. Kelak jika kita menyerang negeri Couw, akan aku minta mereka membantu kita dari dalam. Bagaimana menurut Tiong-hu, boleh tidak?" kata Raja Cee.
"Menurut hamba lebih baik permintaan mereka ditolak saja," kata Koan Tiong, "sebab negeri Kang dan negeri Ui sangat jauh dari negeri Cee dan lebih dekat dengan negeri Couw. Selama mereka tunduk pada negeri Couw, negara mereka tetap utuh!"
"Alasan Tiong-hu?" kata Raja Cee.
"Jika mereka bergabung dengan kita dan memutuskan hubungan dengan negeri Couw, pasti Raja Couw akan marah besar. Suatu ketika Couw akan menyerang mereka. Jika sudah begitu mereka minta bantuan pada kita. Mau tidak mau kita harus menolong mereka, tetapi jaraknya terlampau jauh. Jika kita tidak menolonginya, itu artinya kita melanggar perjanjian perserikatan. Padahal semua Raja Muda sudah takluk kepada Cee, apa itu bukan jadi berabe buat kita? Negara mereka negara kecil." kata Koan Tiong.
"Tetapi negeri yang begitu jauh karena mendengar kehebatan kita, dia mengirim utusan ke tempat kita. Jika permohonan mereka kita tolak, apa itu tidak akan berakibat buruk. Misalnya dari negeri yang jauh jadi kurang kepercayaan kepada kita." kata Raja Cee.
"Jika Tuanku berpikir begitu, apa boleh buat terima saja mereka! Tetapi Tuanku beri tanda ucapan hamba di tembok, supaya di kemudian hari tidak lupa tentang kejadian ini." kata Koan Tiong.
Raja Cee Hoan Kong menurut kata-kata Koan Tiong dicatat. Baru dia panggil utusan negeri Kang dan Ui.
"Permohonan kalian dikabulkan. Tetapi ingat di musim Cun pada bulan satu kami akan menyerang ke negeri Couw. Kalian harus membantu kami." kata Raja Cee.
Utusan itu berjanji akan memperhatikan pesan Raja Cee.
"Selain itu negeri Si telah membantu negeri Couw melakukan kejahatan. Mereka juga harus diserang!" kata utusan itu.
"Baik, akan kutaklukan dulu negeri Si, baru aku serang negeri Couw!" kata Raja Cee berjanji.
Setelah utusan negeri Kang dan Ui pulang, Raja Cee Hoan Kong menulis surat kepada Raja Ci yang negerinya dekat dengan negeri Si, dia minta Raja Ci supaya mengerahkan tentaranya membasmi negeri Si.
__ADS_1
Perintah Raja Cee Hoan Kong segera dilaksanakan oleh Raja Ci, dia serang negeri Si. Raja Ci berhasil mengalahkan negeri Si. Raja Cee memerintahkan Raja Ci menempatkan tentaranya di kota raja Si.
Raja Louw Hi Kong mengutus Kui Yu ke negeri Cee untuk minta maaf, karena negeri Louw sedang bertikai dengan negeri Chu dan negeri Ki, sehingga mereka tidak bisa membantu Raja Cee dalam masalah negeri Heng dan negeri We. Dia juga mengucapkan selamat, karena negeri Kang dan Ui telah berserikat.
"Jika Raja Cee akan berperang Raja kami siap membantu," kata Kui YU.
Raja Cee Hoan Kong senang juga menerima Kui Yu.
"Tidak lama lagi kami akan menyerang ke negeri Couw!" kata Raja Cee.
"Hamba berjanji akan membantu," kata Kui Yu.
Sesudah itu pulanglah Kui Yu ke negaranya.
Saat Raja Cee sedang mengadakan persiapan untuk menyerang negeri Couw. Saat itu tentara Couw sudah sampai di perbatasan negeri The.
"Jangan! Kita tidak boleh menyerah!" kata Khong Siok. "Ketika negeri Cee berselisih dengan negeri Couw. Itu semua karena kita. Raja Cee sangat baik kepada kita, sebaliknya sekarang kita akan melupakan jasanya. Ini sungguh tidak pantas sekali. Sebaiknya kita bertahan, pasti Raja Cee akan datang membantu kita!"
Raja The Bun Kong berpikir.
"Ucapan Khong Siok ada benarnya," pikir Raja The.
Segera dia mengutus orang ke negeri Cee untuk minta bantuan.
__ADS_1
Ketika utusan Raja The sampai, Raja Cee kaget. Tetapi segera dia mengatur siasat.
"Katakan pada Rajamu, dia harus menyebarkan khabar bohong. Katakan tidak lama lagi bala-bantuan dari negeri Cee akan segera tiba. Pasti Raja Couw kaget dan akan mengendurkan serangannya. Ingat suatu saat aku minta Raja The mengirim pasukan untuk bersama-sama menyerang ke negeri Couw!" kata Raja Cee.
"Baik, Tuanku. Hal ini akan hamba sampaikan pada Raja kami," kata utusan itu.
Sesudah itu utusan itu pulang ke negaranya dan menyampaikan pesan Raja Cee.
Sementara itu Raja Cee Hoan Kong mengirim utusan ke negeri-negeri serikatnya. Mereka harus berkumpul di suatu tempat, kemudian bersama-sama menyerang ke negeri Couw.
***
Setelah berganti tahun, pada awal musim Cun bulan Chia-gwe (bulan satu Imlek), Raja Cee Hoan Kong mengerahkan angkatan perangnya akan menyerang ke negeri Coa. Koan Tiong diangkat menjadi kepala perang, Si Tiao menjadi Sian Hong (Pemimpin Pasukan Pelopor), Sek Peng, Pin Si Bu, Pao Siok Gee dan Pangeran Kai Hong menjadi kepala pasukan pembantu.
Sekalipun Raja Coa sudah tahu negerinya bakal kedatangan musuh, karena merasa punya andalan negeri Couw yang sangat kuat, dia tidak merasa gentar sedikit pun. Dia juga tidak bersiaga. Ketika pasukan gabungan yang dipimpin Raja Cee tiba, baru dia mengatur tentaranya untuk menangkis serangan tersebut.
Si Tiao yang bawa barisan depan mulai menyerang, dari pagi sampai sore dia melabrak negeri Coa. Tetapi tidak berhasil merebut benteng musuh. Terpaksa dia harus berhenti untuk istirahat karena hari pun mulai gelap.
Setelah megetahui Si Tao yang menjadi Sian Hong dari barisan Cee, Raja Coa Bok Kong jadi sangat girang. Karena dia sudah tahu siapa Si Tiao.
Pada tengah malam Raja Coa perintahkan anak buahnya dengan diam-diam mengantarkan barang bingkisan yang berharga mahal kepada Si Tiao. Dia minta supaya Si Tiao tidak menyerang kotanya dengan sungguh hati.
Memang Si Tiao ini manusia serakah. Dengan senang dia terima bingkisan itu. Karena ingin dianggap baik, Si Tiao membuka rahasia kekuatan angkatan perang Cee.
__ADS_1
"Raja kami pura-pura akan menyerang negeri Coa, tetapi sebenarnya akan menghajar negeri Couw!" kata Si Tiao pada uitusan Raja Coa. "Jika rajamu mau selamat segera tinggalkan kota itu. Karena tentara gabungan akan menghancurkannya!"
Ketika itu utusan Raja Coa kembali dan menceritakan apa yang dikatakan Si Tiao kepada Raja Coa, sehingga sang raja sangat terkejut. Malam itu juga dia bawa keluarganya. Dia minta dibukakan pintu kota dan kabur ke negeri Couw. Rakyat yang mendapat khabar bocoran segera berlarian simpang-siur.