
Ketika pesuruh Kui Yu sampai dan mengabarkan perintah Kui Yu. Bukan main senangnya Siok Gee mendengar khabar itu. Dia bergegas pergi ke rumah Tay-hu Kiam Kui.
Tetapi sebelum Siok Gee tiba di rumah Kiam Kui, Pangeran Kui Yu sudah mengirim sebotol arak yang sudah dicampur racun dan bulu burung Tim. Bersama barang itu disertakan sepucuk surat kepada Kiam Kui. Dengan pesan agar Kiam Kui menyerahkan arak dan surat itu kepada Pangeran Siok Gee.
Kedatangan Siok Gee disambut dengan hormat oleh Kiam Kui. Sesudah Siok Gee dipersilahan duduk, Kiam Kiu menyerahkan surat dari Pangeran Kui Yu.
Dengan sangat girang Siok Gee menyambut surat itu karena dia menduga bunyi surat itu pasti membawa keberuntungan bagi dirinya. Dengan hati-hati sekali dia buka surat itu dan membacanya::
"Raja Louw memerintahkan untuk menghadiahkan kematian kepada Pangeran. Jika Pangeran bersedia meminum arak itu akan segera mati, tetapi anak dan cucu turun-temurun tidak akan kehilangan kedudukannya. Jika menolak, maka Pangeran dan semua sanak-keluarga Pangeran akan dihabisi seluruhnya."
Kui Yu
Bukan main kagetnya Pangeran Siok Gee setelah membaca surat itu, wajahnya pucat sekali dan sekujur tubuhnya gemetar. Dengan wajah kecut dan mata berkedip-kedip dia menghadap ke arah Kiam Kui, seperti mau minta dikasihani.
"Lekas minum arak itu, Pangeran!" kata Kiam Kui sambil menyodorkan arak bercampur racun itu.
"Ampun, Tay-hu, kasihanilah jiwaku!" ratap Siok Gee yang tidak mau menerima botol arak itu.
Karena Siok Gee menolak maka Kiam Kui lalu memegang kepala Siok Gee dan memaksa meminumkan racun tersebut ke mulut sang pangeran. Sungguh manjur racun tersebut. Seketika itu juga Siok Gee membelalakan matanya. Kemudia roboh. Dari mata, hidung maupun mulut sang pangeran keluar darah. Maka tewaslah Siok Gee dengan sia-sia.
Kiam Kui segera mengurus jenazah Siok Gee dan dia mengirim laporan kepada Kui Yu.
Pada malam itu Raja Louw Cong Kong menutup mata.
Kui Yu segera mengangkat Pangeran Pan serta mengurus urusan perkabungan atas wafatnya Raja Louw. Kemudian Kui Yu juga mengeluarkan maklumat pada rakyat, pada tahun depan menjadi tahun pertama Raja baru duduk di tahtanya.
Semua negara yang mendapat khabar tentang wafatnya Raja Louw, mereka semua mengirim utusan untuk menyatakan ikut berduka-cita. Jenazah Raja Louw Cong Kong kemudian dikebumikan dengan upacara yang sangat indah.
**
Pada musim Tang (Sakju) di bulan Cap-gwe (bulan sepuluh Imlek), karena kakek luar Pangeran Pan, Tong Sin (ayah Beng Jim), meninggal dunia. Pangeran Pan berangkat ke rumah keluarga Tong untuk menjenguk.
Sudah lama Pangeran Keng Hu sedang mencari jalan hendak membunuh Pangeran Pan, saat mendapat kesempatan yang baik ini, dia segera memanggil Gi Jin Kiat.
__ADS_1
Ketika Gi Jin Kiat datang, Keng Hu bertanya.
"Apa kau masih ingat sakit hatimu pada orang yang menghajarmu?" kata Keng Hu.
."O, masih! Aku tidak bisa melupakannya!" sahut Gi Jin Kiat dengan gemas. "Apa sudah tiba saatnya aku melakukan pembalasan?"
"Ya, sudah! Ibarat naga atau ular bersayap terpisah dari air, dengan mudah orang bisa membinasakannya. Begitu keadaan musuh besarmu saat ini. Sekarang dia berada di rumah keluarga Tong. Segera kau ke sana bunuh dia! Dengan demikian aku akan menjadi Rajamu!" kata Keng Hu.
"Jika Pangeran bersedia bertanggung jawab, mengapa aku tidak berani melaksanakan perintah itu!" jawab Gi Jin Kiat.
"Baik!" kata Keng Hu.
Gi Jin Kiat senang sekali, dia segera membawa sebilah pisau tajam, sesudah pamit pada Keng Hu, dia berangkat ke rumah famili Tong.
Tiba di sana hari pun hampir tengah malam. Gi Jin Kiat langsung memanjat tembok dan masuk ke dalam pekarangan rumah famili Tong. Sesampai di dalam Gi Jin Kiat bersembunyi di sebuah pondokan yang letaknya ada di ruang bagian luar.
Ketika fajar menyingsing, seorang budak keluarga Tong dari dalam rumah membuka pintu hendak pergi mengambil air.
Waktu itu Pangeran Pan sedang turun dari ranjang dan hendak memakai kasut atau sandalnya, setelah melihat Gi Jin Kiat dia terkejut.
"Mau apa kau datang kemari?" bentak Pangeran Pan.
"O, aku datang untuk membalas dendam atas perlakuanmu tahun lalu!" jawab Gi Jin Kiat.
.Gi Jin Kiat yang telah maju langsung menyerbu, sedang Pangeran Pan segera mengambil pedang yang diletakan di kepala ranjangnya. Pangeran Pan membacok Gi Jin Kiat, sehingga dahinya terluka. Gi Jin Kiat karena sangat marah, meski pun sudah terluka berat, dia tidak rasakan, dengan tangan kirinya dia menangkap pedang Pangeran Pan, dan dengan tangan kanan mencabut pisau terus menikam iga Pangeran Pan.
"O! Celaka aku kali ini!" teriak Pangeran Pan.
Kemudian tubuhnya terguling ke lantai.
"Mampuslah kau!" teriak Gi Jin Kiat sambil menusuk tubuh Pangeran Pan berulang-ulang.
Tidak lama kemudian nyawa Pangeran Pan melayang ke alam baka.
__ADS_1
Ketika para budak di rumah itu mendengar suara jeritan Pangeran Pan, semua kaget sekali.Buru-buru mereka melaporkan hal itu kepada famili Tong.
"Celaka Kongcu Pan telah dibunuh oleh seorang penjahat!" lapor mereka.
Serempak para famili Tong masing-masing membawa senjata tajam, secara bersamaan menyerang pada Gi Jin Kiat.
Waktu itu Gi Jin Kiat baru merasakan luka sangat sakit, dia tidak bisa melawan sebagaimana mestinya. Maka tubuh Gi Jin Kiat pun tercincang hingga hancur.
Mendengar khabar tentang kecelakaan yang terjadi atas Pangeran Pan sehingga pangeran tewas. Kui Yu yakin pasti semua itu perbuatan Keng Hu. Karena Kui Yu khawatir ikut terembet-rembet, segera dia menyingkirkan diri ke negeri Tan.
Pangeran Keng Hu pura-pura marah kepada Gi Jin Kiat. Dia menjatuhkan semua kesalahan kepada si pembunuh tersebut. Dia perintahkan agar pasukan istana membereskan seluruh sanak keluarga Gi Jin Kiat. Ini untuk membuktikan bahwa Keng Hu sangat peduli atas kematian Pangeran Pan tersebut. Dengan demikian Pangeran Keng Hu hendak menarik dukungan dan simpatik rakyat kepadanya.
Kemudian Keng Hu pergi menemui Kiang Si untuk menceritakan tentang hal itu.
Alangkah girangnya Kiang Si setelah mengetahui Pangeran Pan sudah binasa. Dia hendak segera mengangkat Keng Hu menjadi raja.
"O, sekarang belum saatnya," kata Keng Hu pada kekasihnya, "karena dua Pangeran lagi belum terbunuh! Maka aku belum boleh bertindak!"
"Kalau begitu apa kita harus mengangkat Pangeran Sin?" tanya Kiang Si.
"O, jangan!" sahut Keng Hu. "Pangeran Sin usianya lebih tua, pasti akan mendapat kesulitan. Lebih baik kita angkat Pangeran Kee."
Kiang Si menuruti jalan pikiran Keng Hu tersebut. Pangeran Keng Hu segera menjalankan upacara berkabung atas wafatnya Pangeran Pan. Kemudian dia sendiri pergi ke negeri Cee untuk memberi tahu bahwa Pangeran Pan telah wafat. Kemudian Keng Hu menyuap Si Tiao supaya membantu bicara pada Raja Cee Hoan Kong, agar Raja Cee mensahkan pengangkatan Pangeran Kee menjadi raja di negeri Louw.
Atas bantuan Raja Cee yang sudah digosok oleh Si Tiao, Pangeran Kee yang baru berumur 8 tahun itu, diangkat menjadi raja bergelar Bin Kong.
Raja Louw Bin Kong adalah putera Siok Siang, sedang Siok Siang adalah adik permaisuri Kiang Si. L:ouw Bin Kong terhitung cucu luar dari Raja Cee Hoan Kong.
Sekali pun Raja Louw Bin Kong masih sangat muda, tetapi otaknya jernih dan pikirannya tajam. Dengan hanya melihat tingkah-laku orang, dia bisa tahu bahwa Pangeran Keng Hu dan Kiang Si atau Ai Kiang hendak berkhianat kepadanya. Maka tidak heran di dalam istana dia takut pada setan perempuan, sedang di luar istana dia ngeri kepada iblis lelaki itu.
Oleh karena Raja Louw Bin Kong mengetahui pada masa itu famili luarnya, Raja Cee Hoan Kong sangat berpengaruh. Dia menganggap perlu untuk minta bantuan kepada famili luarnya itu. Maka dengan tidak membuang waktu lagi, Raja Louw Bin Kong mengirim utusan ke negeri Cee. Utusan itu membawa pesan Louw Bin Kong yang memohon pada Raja Cee Hoan Kong untuk bisa bertemu di tanah Lok-kouw (Tanah milik negeri Cee).
Permohonan Raja Louw Bin Kong itu oleh Raja Cee Hoan Kong dikabulkan.
__ADS_1