
Dikisahkan Yu Si, sesudah mendapat jawaban dari Li Kek, buru-buru dia menemui Li Ki. Dia sampaikan jawaban dari Li Kek pada Li Ki. Bukan main senangnya Li Ki mendengar jawaban itu.
Pada waktu malam, dengan senyum yang manis Li Ki berkata pada Chin Hian Kong: "Si-cu sudah lama tinggal di Kiokah, kenapa Tuanku tidak memanggilnya? Coba Tuanku panggil pulang, aku ingin berbuat baik kepadanya. Siapa tahu dia mau mengubah sikapnya yang kurang baik."
"Ya, jika pendapatmu begitu, baiklah," kata Chin Hian Kong.
Memang dia selalu menuruti saja kehendak jantung hatinya itu.
***
Esok harinya.......
Benar saja Chin Hian Kong mengeluarkan perintah untuk memanggil Pangeran Sin Seng pulang ke ibukota.
Begitu menerima panggilan, Sin Seng langsung berangkat ke ibukota. Dia langsung menemui Chin Hian Kong, sesudah dia menjalankan peradatan dia menanyakan tentang kesehatan ayahnya. Baru kemudian dia masuk ke istana menemui Li Ki.
Dengan manis budi Li Ki menerima kedatangan Pangeran Sin Seng, kemudian mengatur perjamuan. Li Ki menyambut Sin Seng dengan senang, seperti ibu yang sudah lama tidak bertemu dengan putranya..
Tetapi malamnya, ketika Li Ki bertemu dengan Chin Hian Kong, dengan air mata berlinang-linang ia berkata, "Seperti sudah kukatakan kepada Tuanku, aku hendak mencoba berbaikan dengan Pangeran Sin Seng, tapi .....sungguh menyesal. Mengapa Pangeran Sin Seng begitu kurangajar!"
"Apa yang terjadi?" tanya Raja Chin dengan terperanjat. "Aku mengajak Pangeran makan siang," sambil menangis dan menyeka air matanya, "dia mau makan bersama. Ternyata dia ada maunya. Ketika sedang mabuk, sambil tersenyum dia berani bilang begini. ’Ayahku sudah tua, apa Ibu bisa merasa puas tidur bersamanya?’ Mendengar ucapannya itu hatiku jadi panas dan tidak menjawab pertanyaannya."
Raja Chin kaget.
"Karena pertanyaannya tidak dijawab, Pangeran berkata lagi begini. ’Dulu Kakekku sudah tua buat Ibuku, Cee-kiang, maka Ibuku diwariskan kepada Ayahku, dan sekarang Ayahku sudah tua, pasti beliau juga bakal mewariskan kau padaku.
Maka jika bukan aku pewarisnya, siapa lagi? Mengapa kau malu-malu, mari nikmati kesenangan dunia ini. Lalu dia mencoba mendekatiku, tetapi dengan gusar aku dorong dia! Karena aku menolak, dia jadi kurang senang."
__ADS_1
Raja Chin bengong saja dan setengah tidak percaya.
Melihat Raja Chin seperti kurang yakin, Li Ki dengan cerdik berkata lagi.
"Jika Tuanku tidak percaya omonganku, akan kuajak Pangeran jalan-jalan di taman bunga. Tuanku boleh mengintainya dari atas ranggon, Tuanku bisa menyaksikan sendiri bagaimana kelakuannya", kata Li Ki dengen aleman. "Kurang ajar!" teriak Raja Chin Hian Kong geram sekali. "Baik akan kuintai tingkah anak durhaka itu!"
Esok harinya,,,,,,
Kembali Li Ki memanggil Pangeran Sin Seng datang, dia ajak Pangeran itu jalan-jalan di kebun bunga. Tetapi terlebih dahulu Li Ki sudah menggosokkan madu (bit) di rambutnya. Tidak heran ketika mereka sedang berjalan di taman bunga, lebah dan kupu-kupu berterbangan di atas kondenya.
"Pangeran, tolong aku! Usir lebah-lebah dan kupu-kupu itu dari atas kepalaku!" kata Li Ki yang dengki dan keji itu.
Sedikit pun Pangeran Sin Seng tidak menduga, kalau itu akal busuk dari ibu tirinya. Dia tidak sadar kalau dia akan difitnah. Maka dengan tangannya dia coba mengusir kupu-kupu dan lebah-lebah dari konde ibunya, hingga tubuh dia dengan tubuh Permaisuri Li Ki jadi sangat berdekatan.
Waktu itu Chin Hian Kong memang sedang mengawasi ke arah mereka dari atas sebuah lauw-teng. Tentu saja karena jaraknya jauh, dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Li Ki pada putranya. Tetapi dengan jelas dia bisa melihat Sin Seng seolah begitu mesra; bahkan mengibas-ngibaskan lengannya di atas kepala isterinya. Seolah Sin Seng sedang mengajak isterinya bersenda-gurau dan tampak mesra.
Malam harinya dengan sangat geram Raja Chin Hian Kong berkata pada kekasihnya, bahwa dia akan menangkap Pangeran Sin Seng dan akan dihukum mati.
Li Ki pura-pura kaget. Dia segera berlutut di hadapan Raja Chin.
"Tuanku, tolong ampuni kesalahan Pangeran kali ini. Jika dia dihukum mati, maka akulah yang akan disalahkan, karena dia datang ke taman bunga atas permintaanku." Ratap Li Ki dengan cerdik."Ingat Tuanku, kejadian itu belum ada yang mengetahuinya. Jika Tuanku menghukum dia, dan umum mengetahui hal ini akan kurang baik bagi Tuanku sendiri!""
Kembali Raja Chin yang hatinya lemah itu bisa dibujuk. Dia batalkan niatnya menghukum pangeran.
Esok harinya Pangeran Sin Seng diminta agar segera kembali ke Kiok-ah. Tetapi diam-diam Raja Chin mengirim orang untuk memata-matai putranya itu.
Selang beberapa hari, Raja Chin Hian Kong pergi berburu ke Ek-hoan.
__ADS_1
Kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan oleh Li Ki, dia panggil Yu Si untuk diajak kencan sekalian berunding.
Dalam perundingan Li Ki dan Yu Si menetapkan sebuah rencana jahat. Dia kirim orang ke Kiok-ah; utusan itu diminta menyampaikan pesan Ratu Li Ki. Pesan itu begini: Tadi malam Ratu Li Ki bermimpi bahwa Ibu Pangeran Sin Seng, yaitu Permaisuri Cee Kiang almarhum dalam keadaan susah dan minta disembahyangi.
Mendengar keterangan utusan itu, buru-buru Pangeran Sin Seng bersembahyang untuk ibundanya. Seperti biasanya hidangan ada yang dikirim ke ibukota untuk Raja Chin Hian Kong. Tetapi ketika antaran makanan itu sampai, Raja Chin belum pulang dari berburu.
Enam hari kemudian...barulah Raja Chin Hian Kong pulang dari berburu. Mendengar Raja Chin pulang dan akan segera tiba di istana, Li Ki segera menaruh racun ke dalam arak kiriman Pangeran Sin Seng untuk ayahnya.
"Ketika Tuanku pergi berburu, aku bermimpi Ratu Cee Kiang sedang sengsara dan kelaparan," kata Li Ki. "Karena Tuanku sedang tidak ada di istana, maka aku memberitahu Pangeran Sin Seng di Kiok-ah supaya sembayang. Sesudah sembahyang, dia mengirim makanan untuk Tuanku."
Raja Chin senang.
"Dia ingat padaku," kata Raja Chin sambil tertawa girang.
Li Ki segera menuang arak yang sudah diberi racun ke dalam cawan, kemudian disuguhkan kepada Raja Chin.
Tetapi tiba-tiba pada saat Raja Chin akan meneguk arak itu, Li Ki memberi peringatan.
"Tunggu Tuanku!" kata Li Ki.
Raja Chin kaget dan membatalkan niatnya untuk meminum arak itu.
"Ada apa?" kata Raja Chin.
"Aku lupa memperingatkan Tuanku, barang makanan yang datang dari luar, sekalipun dari putra sendiri, harus diteliti dulu. Ini demi keselamatan Tuanku!" kata Li Ki sambil tersenyum manis.
"O. Ya, itu betul," kata Raja Chin Hian Kong.
__ADS_1
Kemudian arak dalam cawan itu dia tuang ke lantai. Betapa terkejutnya Raja Chin karena begitu arak itu jatuh ke lantai, maka arak itu pun menguap dan lantai pun rusak.