
Ketika sampai di tepi sungai Hoang-hoo (Sungai Kuning), Cio Ki Cu memimpin Pangeran Sin naik perahu lebih dulu, sedang Leng Sok mengumpulkan rakyat yang menyusul mereka di belakangnya. Dari situ mereka harus pergi ke Cu-ip.
Sesampai di kota Cu-ip, Leng Sok dan Ciu Ki Cu berdamai. Mereka berpendapat harus diangkat seorang raja baru. Maka mereka sepakat mengangkat Pangeran Sin menjadi Raja We dengan gelar We Tai Kong.
Mendengar di negeri We telah ada raja baru, Raja Song dan Raja Khouw mengirim utusan untuk mengucapkan selamat kepada We Tai Kong yang baru jadi raja. Pemberian selamat itu dibalas dengan ucapan terima kasih.
Raja We Tai Kong sebelum menjadi raja pun tubuhnya kurang sehat dan sering sakit-sakitan. Ketika dinobatkan menjadi raja, We Tai Kong sedang sakit keras. Jadi hanya beberapa hari saja dia menyandang gelar raja, kemudian meninggal.
Wafatnya We Tai Kong membuat Cio Ki Cu dan Leng Sok serta rakyat We jadi sangat berduka. Sesudah selesai menguburkan jenazah Raja We Tai Kong, Leng Sok pergi ke negeri Cee untuk menyambut kedatangan Pangeran Hui.
Kedatangan Leng Sok membuat Raja Cee Hoan Kong sangat terkejut, dia merasa menyesal tidak dapat datang menolong, sehingga negeri We berantakan dan We I Kong mati dibunuh musuh. Tetapi Raja Cee merasa bersyukur karena Pangeran Hui bakal jadi raja.
Raja Cee Hoan Kong menghadiahkan seperangkat kereta bersama kuda-kuda bagus kepada Pangeran Hui, lima pasang pakaian sembahyang, kerbau, kambing, babi dan ayam masing-masing tiga ratus ekor.
Selanjutnya Raja Cee memerintahkan Pangeran Bu Kui memimpin 300 kereta perang untuk mengantarkan Pangeran Hui ke negeri We. Dan dipesan agar Pangeran Bu Kui membantu membangun kembali kota We.
Pangeran Hui menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan Raja Cee Hoan Kong kepadanya. Sesudah itu Pangeran Hui mengucapkan selamat berpisah.
Ketika Pangeran Hui baru berjalan dan sampai di kota Cu-ip, mereka bertemu dengan anak buah Hong Yan almarhum. Dia sedang membawa budak yang kakinya patah itu. Anak buah Hong Yan langsung menemui raja baru itu. Dia menceritakan bagaimana dia telah mengubur hati Raja We di dalam perut Hong Yan. Jenazah Hong Yan dikuburkan di suatu tempat.
__ADS_1
Mendengar cerita anak buah Hong Yan, Pangeran Hui tidak hentinya menangis. Dia sangat terharu atas terjadinya musibah pada keluarganya itu. Segera dia perintahkan orang membawa peti mati pergi ke Eng-tek untuk mengurus jenazah almarhum I Kong. Baru kemudian dia mengenakan pakaian berkabung atas wafatnya I Kong dan Tai Kong dua raja We itu.
Dia juga ingat kepada Hong Yan yang begitu setia kepada rajanya.
Ketika mendengar khabar bagaimana Raja Cee Hoan Kong begitu memegang teguh janjinya dan budinya luhur, banyak Raja Muda yang mengirim utusan untuk turut berduka cita.
Sekarang Pangeran Hui yang menjadi raja di negeri We. Dia bergelar We Bun Kong. Dia berusaha memajukan negara dan rakyatnya. We Bun Kong mendapat pujian sebagai raja yang bijaksana.
Ketika Pangeran Bu Kui mau pulang ke negeri Cee, sengaja dia tinggalkan sebahagian tentaranya untuk membantu membetulkan kota yang rusak. Ketika sudah pulang kepada Raja Cee Hoan Kong diceritakan, bagaimana raja yang baru itu hidup hemat. Mau bekerja keras dan rajin. Begitu juga tentang kesetiaan Hong Yan pada junjungannya.
"Akh, sungguh mengherankan," kata Hoan Kong sambil menarik napas, "seorang raja lalai kewajibannya, tokh masih ada menterinya yang begitu setia.Kalau begitu memang pantas negeri We tidak boleh musnah."
Raja Cee Hoan Kong setuju, dia hendak mengumpulkan Raja-raja muda, namun mendadak negeri Heng mengirim utusan memberi khabar.
"Bangsa Tek kembali menyerang ke negeri Heng, kami tidak tahan mohon bantuan!" kata utusan tersebut.
"Apa perlu kita menolong negeri Heng?" tanya Raja Cee Hoan Kong pada Koan Tiong.
"Semua Raja-raja Muda bersedia tunduk pada negeri Cee, mereka menganggap negeri Cee kuat dan bisa membantu mereka jika ada bahaya. Jika kita tidak mau membantu mereka untuk apa kita menjadi jago di antara mereka?" kata Koan Tiong..
__ADS_1
"Kalau begini negeri Heng dan negeri We punya kepentingan yang sama. Mana yang harus ditolong lebih dahulu?" kata Raja Cee.
"Amankan dahulu negeri Heng dari ancaman bangsa Tek, sesudah beres, baru kita bantu negeri We membangun Ibukotanya," kata Koan Tiong. Raja Cee Hoan Kong setuju. Segera dia mengirim khabar ke negeri Song, Louw, Co dan Chu. Mereka diminta masing-masing mengerahkan pasukan perangnya berkumpul di Liap-pak (tanah Heng).
Sesampai pasukan Cee di Liap-pak hampir berbareng dengan pasukan dari negeri Song dan Co. Di tempat itu Koan Tiong mengatur siasat dan berkata pada Raja Cee Hoan Kong.
"Orang Tek sedang berkonsentrasi menyerang negeri Heng," kata Koan Tiong. "Semangat bangsa Tek masih tinggi dan gagah. Jika kita serang mereka maka kita harus menggunakan kekuatan dua kali lipat. Sebaliknya untuk membantu belum habis kekuatannya, maka jasa kita dianggap kecil."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Raja Cee.
"Untuk sementara waktu, kita harus menunggu sampai Raja Heng tidak sanggup menangkis serangan bangsa Tek. Maka tentara Heng akan rusak berat, sedang tentara bangsa Tek sudah kelelahan. Saat itu baru kita turun tangan mengusir bangsa Tek. Dengan demikian kita bisa mengalahkannya dengan gampang. Ini namanya siasat menggunakan sedikit tenaga, mendapat pahala besar!" kata Koan Tiong.
Raja Cee Hoan Kong setuju. Dengan alasan masih menunggu kedatangan pasukan Louw dan Chu, Raja Cee menahan tentaranya. Dia mengirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan di medan perang.
Dua bulan lamanya tentara gabungan pihak Cee berada di Liap-pak, selama dua bulan itu bangsa Tek menyerang kota Heng semakin sengit. Siang dan malam tidak hentinya. Maka habislah kekuatan tentara Heng. Mereka dengan mati-matian mencoba menerobos kepungan bangsa Tek .Baru saja juru kabar memberi laporan pada Cee Hoan Kong, apa yang terjadi atas tentara Heng. Orang-orang Heng, lelaki dan perempuan serempak berdatangan. Mereka berlindung di perkemahan tentara Cee. Raja negeri Heng, Siok Gan berlutut sambil menangis minta tolong.
Raja Cee Hoan Kong segera membangunkan Siok Gan. Dengan manis Raja Cee menghiburnya.
Sesudah itu baru Raja Cee mengajak Raja Song dan Raja Co bersama-sama mengerahkan tentaranya hendak mengusir bangsa Tek.
__ADS_1
Raja Tek, So Mhoa, karena sudah berhasil merampok harta Raja Heng, tidak bersemangat untuk berperang lagi, ketika mendapat khabar pasukan dari tiga negara hampir sampai. Dia memerintahkan tentaranya membakari rumah-rumah penduduk. Mereka lalu kabur ke arah Utara.