LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 22


__ADS_3

Pada esok harinya......


Angkatan perang Cee itu berangkat meneruskan perjalan.


Tatkala pasukan Raja Cee sampai di perbatasan negeri Song, di sana pasukan Raja Tan Song Kong dan Raja Co Cong Kong telah menunggu kedatangan mereka. Di belakang mereka, panglima Ciu dan tentaranya juga sudah datang. Sehingga mereka berkumpul di satu tempat.


Sesudah menjalankan adat-istiadat, mereka segera membuka persidangan membahas rencana penyerangan ke ibukota Song.


"Tuanku telah menerima perintah Baginda membuat perserikatan dengan Raja-raja Muda. Menurut hamba daripada Tuanku menang dengan kekuatan tentara, lebih baik dengan kebijaksanaan." kata Leng Cek. "Menurut hamba, tentara jangan dimajukan dulu. Sekalipun hamba ini bukan seorang yang pandai, hamba mohon izin akan menemui Raja Song. Hamba akan menggunakan lidah hamba untuk bicara, supaya Raja Song bersedia berdamai."


Semua pembesar menyatakan setuju pada usul Leng Cek tersebut, Raja Cee Hoan Kong pun akhirnya setuju. Dia perintahkan Leng Cek menemui Raja Song.


Dengan menaiki sebuah kereta kecil dan mengajak beberapa pengikut, Leng Cek pergi ke kota Ci-yang akan menemui Raja Song.


Ketika Raja Song diberitahu bahwa Raja Cee mengirim utusan, Raja Song bertanya kepada Tay Siok Pi, "Apa kau tahu Leng Cek itu orang dari mana?"


"Hamba dengar dia orang dusun, seorang penggembala kerbau," kata Tay Siok Pi, "Raja Cee baru mengangkatnya menjadi Tay-hu. Setahu hamba ia pandai bicara, lebih pandai dari orang kebanyakan. Maka hamba yakin kedatangannya itu untuk mengajak kita adu bicara.."

__ADS_1


"Sekarang apa yang harus kita lakukan terhadapnya?" tanya Raja Song.


"Tuanku boleh panggil dia masuk, tetapi jangan menghormatinya. Kita lihat apa yang hendak dia lakukan?" kata Tay Siok Pi. "Jika dia bicara tidak pantas, akan hamba angkat angkin sebagai tanda. Tuanku boleh perintahkan orang menangkap dan memenjarakannya. Dengan semikian tipu-muslihat Raja Cee jadi gagal."


Raja Song mengangguk, dia memerintahkan tentaranya yang gagah mengatur persiapan. Baru kemudian dia izinkan Leng Cek menghadap.


Leng Cek datang memakai pakaian kebesaranya dan memakai angkin lebar. Dia berjala perlahan-lahan masuk, lalu memberi hormat di hadapan Raja Song.


Raja Song duduk diam saja mengawasinya.


Mendengar ucapan Leng Cek itu Raja Song tekejut, dia berkata: "Aku bergelar Kong, rakyatku lebih banyak dari Raja Muda yang lain, dari mana datangnya bahaya itu?"


"Aku mohon bertanya, jika Tuanku dibandingkan dengan Kaisar Ciu yang mana lebih pandai?" kata Leng Cek dengan suara angkuh.


"Barangkali kau orang gila!" bentak Raja Song dengan suara nyaring. "Kaisar Ciu bagaikan nabi, bagaimana aku bisa dibandingkan dengannya?"


"Kaisar Ciu memerintah di Kerajaan Ciu yang sedang jaya," kata Leng Cek sambil mesem, "meskipun keadaan dunia sedang aman sekali dan bangsa Ie di empat penjuru semua sudah takluk, toh selalu bersikap murah hati dan manis budi bahasanya pada orang-orang pandai dan terpelajar. Sekarang Tuanku boleh dikatakan menjadi raja dari sisa negeri yang sudah mau musnah. Di zaman Raja-raja Muda sedang mengadu kekuatan. Sekalipun Tuanku bisa meneladani Kaisar Ciu mau merendah kepada orang-orang terpelajar, toh masih dikhawatirkan, orang-orang itu tidak akan datang. Apalagi jika Tuanku bertingkah sombong dan merasa diri sendiri sangat kuat, dan Tuanku tidak memandang sebelah mata pada orang pandai. Tuanku menghina kepada seorang tamu? Kalau begini, kendati pun ada orang mau bicara jujur, bagaimana bisa sampai ke hadapan Tuanku? Ke mana mukanya jika bukan mendapat bahaya?

__ADS_1


Setelah mendengar ucpan Leng Cek yang demikian tajam, Raja Song jadi tercengang dan pucat. Dia bangkit dari tempat duduknya seraya berkata, "Aku menjadi Raja beberapa hari, sehingga aku belum mendengar pelajaran dari orang budiman seperti anda, aku harap Sian-seng (Tuan) suka memaafkan aku."


Melihat rajanya telah tergerak hatinya oleh Leng Cek, Tay Siok Pi sebentar-bentar mengangkat angkinnya. Tetapi Raja Song sekali pun tahu tanda apa yang dimaksud oleh Tay Siok Pi, dia tidak peduli. Malah dia minta pelajaran kepada Leng Cek.


"Atas kedatangan Sian-seng ini, pelajaran apa yang berguna bagiku?" kata Raja Song.


"Kaisar Ciu telah kehilangan kekuasaannya, sehingga semua Raja Muda jadi berantakan," kata Leng Cek mulai menjalankan siasatnya. "Karena itu raja dan hambanya jadi tidak menentu kedudukannya. Mana yang tinggi dan mana yang rendah? Hampir setiap hari terdengar tentang pengkhianatan. Raja Cee karena tidak tega melihat kekalutan ini, dia menerima perintah Baginda buat memimpin perserikatan orang Tiongkok. Dulu nama Tuanku sudah ditetapkan oleh Kaisar Ciu. Tetapi sayang Tuanku meninggalkan perserikatan, hingga Kaisar Ciu marah besar. Memerintahkan angkatan perang dan menyerang negeri Song. Semua karena Tuanku dianggap pembangkang!"


Mendengar ucapan Leng Ceng wajah Raja Song jadi semakin pucat, dengan hati berdebar-debar dia berkata, "Menurut pendapat Sian-seng bagaimana sebaiknya?"


"Menurut pendapatku, jangan sayang mengantar sedikit barang bingkisan untuk minta berdamai kepada Raja Cee. Dengan berbuat demikian, ke atas Tuanku tidak kehilang hak menjadi hamba Kerajaan Ciu, ke bawah bisa menyenangkan hati raja-raja yang tergabung dalam perserikatan. Karena tidak harus mengerahkan angkatan perang, negeri Song tetap selamat tidak terganggu."


"Karena aku kurang berpkir jauh, sehingga aku berbuat keliru." kata Raja Song. "Aku sangat menyesal meninggalkan acara sebelum selesai. Sekarang jika aku mengantar bingkisan, padahal Raja Cee sedang marah. Dia telah mengerahkan angkatan perangnya. Masakan dia akan mau menerima bingkisan dariku?"


"Raja Cee seorang yang sabar dan bijaksana. Dia tidak pernah mendendam pada orang yang berbuat salah. Bahkan dia tidak mau mencari kesalahan orang lain. Seperti contohnya Raja Louw yang tidak hadir di pertemuan itu. Tapi Raja Louw mau mengakui kesalahannya. Dia juga bersedia bertemu di tanah Ko. Sawah-sawah yang telah dirampas oleh Raja Cee, kemudian dikembalikan semuanya. Apalagi Tuanku hadir pada pertemuan pertamanya, mustahil dia tidak mau berdamai?"


"Barang apa yang pantas untuk bingkisan?" tanya Raja Song.

__ADS_1


__ADS_2