LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 78


__ADS_3

Berkat karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, keluarga yang terpecah-pecah itu kembali berkumpul menjadi satu.


Ketika Raja Cin Bok Kong sudah mendengar bahwa Pek Li He sudah menemukan anak dan isterinya, Raja Cin girang sekali. Raja Cin mengirim orang untuk mengucapkan selamat.


Esok harinya.....


Pagi-pagi sekali Pek Li He mengajak anak dan isterinya menghadap untuk menghaturkan terima kasih kepada Raja Cin.


Raja Cin girang dia mengangkat Beng Beng Si menjadi pembantunya bersama Se Kip Sut dan Pek It Peng, mereka diberi gelar Ciang-kun (Jenderal), untuk mengatur angkatan perang negara Cin.


Sementara itu raja bangsa Kian-jiong bernama Gouw Li telah berontak menyerang negeri Cin. Untuk menghadapi bangsa Kian-jiong itu tiga jenderal Cin segera menghadapinya. Karena hantaman dari Beng Beng Si dan dua jenderal lainnya, Raja Gouw Li mendapat kerusakan besar, dan melarikan diri ke negeri Chin, sedang tanah Kwa-ciu segera menjadi milik negara Chin.


Kemudian Raja Cin Bok Kong mendapat lagi seorang pandai, orang itu bernama Yu Ie, dengan kepandaiannya tentara Cin bisa menaklukan Cek Pan, raja bangsa Se-jiong.


Cek Pan adalah raja bangsa Jiong, sekian lama semua bangsa Jiong takluk di bawah kekuasaan raja Se-jiong, tetapi setelah mendengar Cek Peng sudah takluk kepada Raja Cin, semua bangsa Jiong tidak ada yang tidak merasa ngeri. Maka takluklah seluruh bangsa Jiong pada Raja Cin.


Sesudah Chin Hian Kong berhasil merampas negara Gi dan Kek, dua buah negeri, semua orang Chin bersuka-ria. Hanya Li Ki saja yang merasa tidak senang, karena sebenarnya ia ingin Pangeran Sin Seng yang pergi menyerang ke negeri Kek, supaya Sin Seng terbunuh di medan peperangan.Tetapi tidak disangka malah Li Kek yang pergi menggantikan Sin Seng, malah mendapat kemenangan.


Berulang-ulang Li Ki, sang permaisuri Raja Chin ini mencari akal untuk memfitnah Pangeran Sin Seng, tetapi tidak punya kesempatan yang baik dan alasan yang masuk akal, maka segera dia panggil Yu Si untuk diajak berunding.


"Li Kek masih sanak Pangeran Sin Seng," kata Li Ki, ketika Yu Si sudah datang menemuinya, "pahalanya besar dan pangkatnya pun tinggi, maka kita tidak bisa melawan dia! Apa kau punya ide yang bagus?"


"Sun Sit dengan hanya sebuah batu mustika dan seekor kuda telah bisa memusnahkan negeri Gi dan Kek, jelas kepandaiannya lebih baik dibanding Li Kek." kata Yu Si. Bagaimana jika kita minta bantuan pada Sun Sit agar dia membantu Hee Ce, aku yakin dia akan berhasil."


Li Ki girang mendengar saran tersebut. Dia setuju hendak menjalankan ide Yu Si tersebut.


Tatkala Li Ki bertemu dengan Raja Chin Hian Kong, ia memohon supaya Sun Sit diangkat menjadi pemimpin He Ce dan Tok Cu. Permohonan itu dengan senang hati dikabulkan oleh Chin Hian Kong.


Diam-diam Li Ki memanggil kekasih gelapnya, Yu Si, pada siapa dia berkata, "Sekarang Sun Sit sudah menjadi kelompok kita. Tetapi jika Li Kek masih ada di istana, niscaya ia akan menentang rencana kita. Apa akal kita untuk menyingkirkannya? Jika ia sudah tidak ada, baru Li Kek bisa kita singkirkan."


"Cuma di luarnya saja kelihatan ia pandai, tetapi sebenarnya pikirannya tidak tetap," sahut Yu Si. "Aku tahu Li Kek suka sekali minum arak, coba Hu-jin (Nyonya) tolong bikinkan masakan kambing, aku akan bawa masakan itu dan arak yang baik untuk mengajak dia makan-makan, jika dia bersedia bergabung itu rejeki Hu-jin!"


"Baik," kata Li Ki, yang segera membuatkan makanan dan minuman.

__ADS_1


Sesudah semua tersedia, Yu Si pergi menemui Li Kek, pada siapa dia mengucapkan selamat karena menang berperang dengan negeri Gi dan Kek. Kemudian ia memberi tahu bahwa ia membawa sedikit arak dan makanan untuk makan bersama.


Li Kek menerima baik ajakan itu, bahkan dia sangat berterima kasih. Mereka lalu makan bersama. Sesudah makan dan minum sampai setengah mabuk, baru Yu Si menari sambil bernyanyi:


"Pohon He Ie yang suram, tidak seperti Ouw-ouw yang bercahaya.


Semua berkumpul di tempat subur, cuma kau yang kering dan payah.


Yang subur tampak segar, yang kering menunggu kapak menebasnya.


Kapak berjalan hampir sampai, kau yang kering apakah tidak akan binasa?"


Li Kek tertawa sambil berkata, "Apa maksudmu, kau katakan yang subur dan yang kering?"


"Seumpama manusia," sahut Yu Si, "jika ibunya jadi Permaisuri, pasti putranya nanti akan menjadi raja, yaitu sebagai pohon yang akarnya dalam dan cabangnya lebat, semua burung suka datang dan hinggap. Maka itu dikatakan subur. Jika ibunya sudah meninggal dunia, putranya pun tidak berharga, ia seperti pohon yang batangnya goyah dan daunnya rontok, semua burung tidak suka singgah, karena itu dikatakan kering."


Sesudah mengucapkan perkataan itu, Yu Si lantas berpamitan dan terus pulang ke rumahnya.


"Yu Si disukai, baik dari dalam istana maupun luar istana. Sehingga Yu Si bisa bebas keluar masuk istana sekalipun terlarang." pikir Li Kek. "Pasti nyanyian yang dia nayikan, bukan nyanyian sembarangan."


Semula Li Kek mau menunggu sampai esok pagi baru memanggil Yu Si untuk menanyakan keterangan lebih jauh, tetapi karena pikirannya belum bisa tenang, dia jadi tak sabaran. Sekalipun sudah tengah malam tidak urung dia perintahkan orangnya dengan diam-diam memanggil Yu Si.


Tidak lama Yu Si datang dan langsung masuk sampai ke tempat tidur Li Kek.


Li Kek minta agar Yu Si duduk di pembaringannya, dia usap -usap paha Yu Si sambil bertanya.


"Aku hampir menerka nyanyian yang kau nyanyikan itu, apakah itu bukan masalah Kiok-ah? Coba kau jelaskan!" kata Li Kek.


"Sudah lama memang aku hendak memberitahu Tay-hu, tetapi karena takut Tay-hu marah; karena Kiok-ah adalah tanggungjawabmu," kata Yu Si.


"Jika kau memberitahu masalah bahaya, hingga aku terbebas dari bahaya itu, mengapa aku harus marah?" kata Li Kek.


Yu Si menundukkan kepalanya hingga menempel dengan bantal. Dia berbisik.

__ADS_1


"Raja sudah meluluskan kehendakan Permaisuri untuk membunuh Sin Seng dan mengangkat He Ce," bisik Yu Si.


"Apa kau tidak bisa mencegahnya?" tanya Li Kek dengan sangat terperanjat.


"Permaisuri bisa mempengaruhi Raja, sedang di luar dia dibantu oleh dua orang she Ngo. Sekalipun aku cegah, apa mungkin bisa berhasil?" kata Yu Si.


"Aku tidak tega membunuh Pangeran Sin Seng, tetapi melawan Raja bersama Sin Seng pun aku tidak berani! Jika aku pasif dan tidak ikut campur, apa aku masih bisa selamat?" kata Li Kek.


"Ya, mungkin! Dan itu yang paling benar." jawab Yu Si.


Sesudah mendengar jawaban itu Li Kek merasa lega hatinya, lalu dia persilakan Yu Si pulang.


Setelah fajar menyingsing keesokan harinya.....


Li Kek pergi berkunjung ke rumah Tay-hu Pi The Hu, Li Kek disambut oleh tuan rumah dan disilakan duduk.


Li Kek meminta agar semua pembantu Tay-hu Pi The Hu mundur semuanya dari ruang tamu. Sesudah mereka tinggal berdua saja, dengan paras muka pucat Li Kek berkata, "Tadi malam Yu Si datang memberitahuku, bahwa Cu-kong hendak membunuh Pangeran Sin Seng dan hendak mengangkat He Ce."


"Bagaimana jawabanmu ke padanya?" tanya Pi The Hu dengan hati terguncang.


"Aku bilang aku berdiri di tengah. Tidak memihak!"


"Wah, celaka!" kata Pi The Hu. "Ucapanmu itu ibarat api disiram dengan minyak. Seharusnya kau pura-pura tidak percaya. Pasti mereka ngeri terhadapmu. Kemudian kau perkuat kedudukan Pangeran Sin Seng. Sesudah itu bujuk Raja agar dia mengubah niatnya. Tetapi kau bilang kau netral, ini pasti berbahaya sekali bagi Pangeran Sin Seng yang tidak punya dukungan!" kata Pi The Hu.


"O, celaka! Aku menyesal aku tidak berunding dahulu denganmu!" kata Li Kek sambil membanting-banting kakinya.


Kemudian dia pamit pada Pi The Hu dan berjalan pulang. Tetapi ketika ia hendak naik ke kereta dia pura-pura jatuh.


Esok harinya........


Li Kek bilang kakinya terluka parah, jadi tidak bisa datang ke istana.


**

__ADS_1


__ADS_2