
Sesudah berbincang-bincang beberapa saat, Su Souw pamit pada Li Kek. Dia kembali ke rumahnya.
Selang sesaat sesudah Su Souw meningalkan rumah Li Kek, Kwee Yan juga datang berkunjung ke rumah Li Kek.
Pada kawan sejawatnya ini Li Kek memberitahu apa yang tadi dikatakan oleh Su Souw kepadanya.
"Tidak, aku rasa bukan begitu," kata Kwe Yan. "Menurut dugaanku, di negeri Chin hanya akan terjadi huru-hara besar, jika harus musnah, itu belum saatnya."
"Bagaimana kau bisa mengatakan begitu?" tanya Li Kek.
"Negeri Chin sebuah negara besar, pada saat ini sangat kuat dan maju. Jika terjadi huru-hara, negeri lain tidak akan bisa menghancurkannya. Karena huru-hara itu pasti bisa dipadamkan! Malah aku kira suatu saat negeri Chin akan menjadi jago di antara negeri-negeri kecil. Bahkan akan mengangkat pamor Kerajaan Ciu!"
"Menurut pendapatmu huru-hara itu akan terjadi kapan?" kata Li Kek.
"Aku rasa kurang dari sepuluh tahun lagi."
Li Kek mencatat ucapan Kwe Yan di dalam buku hariannya untuk dijadikan peringatan baginya.
Setelah berbincang-bincang sekian lamanya, Kwe Yan permisi akan pulang, dia diantar oleh Li Kek sampai di depan pintu luar.
__ADS_1
**
Sejak Raja Chin Hian Kong mengangkat Li Ki menjadi Permaisuri, semakin hari cintanya semakin kekal, sehingga timbul niat Raja Chin hendak mengangkat He Ce menjadi Si-cu (Putera Mahkota).
Pada suatu hari Raja Chin menyampaikan niatnya itu kepada Li Ki.
Mendengar niat Raja Chin Hian Kong mengangkat putera Li Ki menjadi Putera Mahkota, Li Ki menundukan kepalanya sambil berpikir.
"Memang ini yang aku sangat harap-harapkan," pikir Li Ki. "Tetapi, Sin Seng sudah diangkat menjadi putera Mahkota. Jika tanpa sebab mengubah kedudukan Sin Seng, aku khawatir semua menteri tidak akan sepakat. Pasti mereka akan menolak putusan Raja Chin yang aneh itu. Apalagi Tiong Ji dan Ie Gouw sangat akrab dengan Sin Seng. Ach, sudahlah, jika ketiga Kong-cu (Pangeran) itu masih ada di sini, tidak ada gunanya masalah itu dibicarakan. Percuma saja dan sia-sia saja. Paling benar aku harus menjalankan tipu-muslihat yang halus, supaya sekali bergerak akan berhasil."
Sesudah pikirannya tetap, Li Ki berlutut di hadapan Raja Chin Hian Kong sambil berkata dengan suara sedih.
"Jangan, Tuanku! Jangan Tuanku lakukan!" kata Li Ki. "Jangan lupa ketika Sin Seng diangkat, semua Raja Muda mengetahuinya. Sin Seng pandai dan tidak bersalah. Jika karena Tuanku sangat mencintaku dan anakku, lalu Tuanku menyingkirkan Sin Seng, maka orang di seluruh benua ini akan mengutuk Tuanku! Dari pada aku harus menanggung malu seumur hidupku, lebih baik aku bunuh diri saja!"
Buru-buru dia bangunkan Li Ki yang sedang berlutut di hadapannya. Raja Chin mengira ucapan "jantung hatinya" itu sangat tulus dan ikhlas.
Di antara menteri-menteri baginda Chin, ada dua Ta-hu (Menteri Besar) yang Chin Hian Kong paling sayang dan dia percayai. Yang seorang bernama Liang Ngo, yang satu lagi bernama Tong Koan Ngo. Dua pembesar itu menjadi mata-mata Chin Hian Kong untuk menyelidiki keadaan di luaran. Hanya sayang perangai mereka kejam dan tamak atau serakah. Lantaran sangat dipercaya mereka berani berbuat semena-mena dan sok berkuasa. Orang-orang di negeri Chin menamakan mereka Ji Ngo (Dua Ngo).
Selain mereka berdua ada lagi seorang yang berasal dari tanah Yu Si. Usianya masih sangat muda, parasnya cakep. Kepandaian orang ini banyak dan sangat pandai bicara. Orang ini sangat disayang oleh Chin Hian Kong, sehingga dia bebas keluar masuk istana baginda tanpa gangguan.
__ADS_1
Di luar tahu Chin Hian Kong Permaisuri Li Ki punya hubungan rahasia dengan Yu Si. Bahkan Yu Si menjadi kekasih gelap sang permaisuri ini.
Tentang maksud baginda dan rencana baginda mengangkat puteranya menjadi raja, oleh Li Ki disampaikan pada Yu Si.
Li Ki minta bantuan kepada Yu Si untuk menyingkirkan ke-tiga pangeran, Sin Seng, Tiong Ji, dan Ie Gouw, supaya He Ce, bisa merebut kedudukan Sin Seng.
"Untuk menyingkirkan mereka ke tempat jauh, harus ada alasan yang kuat. Misalnya mereka diminta untuk menjaga tapal batas negara," kata Yu Si. "Tetapi itu tidak mudah. Harus ada usulan pejabat dari luar kota. Kebetulan sekarang Dua Ong sedang sangat berluasa. Mari kita suap mereka berdua agar mereka mau mengajukan usul untuk meminta ketiga pangeran itu bertugas di perbatasan!"
Li Ki setuju pada rencana yang dibuat oleh Yu Si, bahkan dia anggap sangat sempurna. Li Ki mengambil emas dan kain sutera yang bagus, barang-barang itu diserahkan kepada Yu Si untuk diantarkan kepada Dua Ngo yang serakah itu.
Yu Si membawa barang berharga itu ke rumah dua pejabat busuk tersebut. Kedatangan Yu Si disambut dengan manis oleh tuan rumah.
"Hong-houw (Permaisuri) meminta pada hamba untuk membawa hadiah ini. Hamba harap Tuan-tuan mau menerimanya," kata Yu Si.
"O, Hong-houw begitu baik, beliau sangat meperhatikan pada kami bedua," kata dua menteri korup itu. "Kami rasa Hong-houw mungkin punya tugas untuk kami berdua, katakan saja! Kami berdua tidak berani menerima hadiah beliau ini."
Yu Si segera menceritakan satu persatu dengan jelas, apa yang Li Ki inginkan dari mereka berdua.
Setelah mendengar penjelasa dari Yu Si, kedua menteri korup itu mengangguk. Sesudah berpikir sejenak kemudian mereka mengajukan sebuah syarat.
__ADS_1
"Kami berdua siap melaksanakan tugas dari Hong-houw, tetapi kami harus dibantu oleh Tong Koan Ngo," kata mereka.
"Oh, jangan takut! Semua itu sudah dipikirkan oleh Hong-houw. " kata Yu Si.