
Dikisahkan perjalanan pulang Ciu Kong Khong. Di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Raja Chin Hian Kong yang berniat datang ke pertemuan Raja Cee.
Tangis Li Ki mulai reda.
"Aku dengar bangsa Cek Tek sering datang mengganggu negeri kita. Mengapa Tuanku tidak mengirim Sin Seng untuk menumpas bangsa itu? Mari kita lihat, apakah Sin Seng mampu memakai tenaga rakyat yang dikasihinya atau tidak? Jika dia kalah, maka Tuanku punya alasan untuk menghukum dia. Tetapi jika dia menang, itu berarti dia sangat disukai oleh rakyat!" kata Li Ki.
"Ya, kau benarl," kata Chin Hian Kong.
Alangkah senangnya Li Ki, baru dia tersenyum manis seperti biasa.
Esok harinya......
Ketika Raja Chin Hian Kong bersidang dengan menteri-menterinya di istananya. Raja Chin mengeluarkan perintah agar Sin Seng memimpin pasukan perang ke Kiokah untuk menghajar bangsa Cek Tek.
Tetapi banyak menteri yang keberatan.
"Putera Mahkota orang kedua setelah Raja, jika Raja tidak ada, Putera Mahkota-lah yang mewakili mengurus pemerintahan," kata Li Kek.
__ADS_1
Menteri Li Kek berusaha hendak mencegah keinginan Raja Chin Hian Kong.
"Sebenarnya seorang Putera Mahkota dijauhkan saja dari samping Raja sudah tidak pantas, apalagi jika disuruh memimpin angkatan perang?" Li Kek menambahkan.
"Tetapi Pangeran Sin Seng sudah sering memimpin pasukan perang!" kata Raja Chin Hian Kong kurang senang.
"Dulu dia berperang ikut dengan Tuanku, tetapi sekarang mau disuruh sendiri, ini berbeda jauh sekali," sahut Li Kek.
"Aku punya sembilan orang putera, aku belum menetapkan siapa yang bakal mejadi ahli warisku!" kata Chin Hian Kong mendongkol. "Aku tidak akan membatalkan perintahku. Aku tak ingin orang ikut campur!"
Li Kek tertegun tidak berani buka suara lebih jauh.
Li Kek langsung menceritakan bahwa Raja Chin telah mengutus Pangeran Sin Seng ke medan perang.
"Ah, kalau begitu Pangeran dalam bahaya," kata Ho Tut terperanjat.
Dia sudah menduga pasti Sin Seng bakal di fitnah.
__ADS_1
Ho Tut segera menulis surat kepada Sin Seng, dalam suratnya dia menyarankan agar Sin Seng jangan pergi ke medan perang, tetapi lebih baik pergi mengasingkan diri ke negeri lain.
Ketika Sin Seng menerima surat dari Ho Tut, dia menolak nasihat menteri tua itu. Sambil menghela napas dia berkata, "Ya, aku pun sudah tahu, Ayahku menyuruh memimpin angkatan perang karena dia senang kepadaku.Baiklah, aku mengerti, jika aku menolak maka aku akan dianggap melanggar perintahnya. Jika aku ke medan perang dan aku mati tidak apa. Dengan demikian aku sudah menjalankan perintah Ayah dan Raja dengan benar!"
Sin Seng menyiapkan angkatan perangnya di Kiok-ah untuk menghadapi bangsa Cek Tek di Cek-heng.
Tidak lama terjadi pertempuran hebat antara pasukan Chin dengan tentara Cek Tek. Dalam peperangan itu Sin Seng yang gagah berhasil mengalahkan musuh. Dia segera mengirim laporan kepada Raja Chin Hian Kong.
Malamnya Raja Chin bercerita pada Li Ki bahwa putera sulungnya berhasil mengalahkan bangsa Cek Tek.
"O, Pangeran benar-benar bisa memakai tenaga rakyat Kiok-ah!" kata Li Ki seolah kaget. "Sekarang apa yang kita harus lakukan?"
"Kita belum punya alasan menghukum dia, biar kita beri waktu kepadanya," jawab Hian Kong.
Li Ki diam saja, tetapi dia sangat berduka, hanya tidak diperlihatkan saja.
Keadaan di negeri Chin ini sangat memprihatinkan menteri tua Ho Tut. Karena itu dia pura-pura sakit dan tidak mau keluar rumah.
__ADS_1
***