LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 93


__ADS_3

”Sekalipun dia melarat, sebagai tamu kita harus menjamunya. Hal itu buang waktu dan biaya saja. Lebih baik kita usir saja dia dari sini!”


Sehabis berkata begitu, Raja We mengeluarkan perintah, agar Tiong Ji dilarang masuk ke negeri We.


Tiong Ji tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa menahan sabar dan meneruskan perjalanan.


Tetapi Gui Cun dan Tian Kiat menjadi gusar, mereka merasa geram sekali pada penghinaan Raja We ini.


”Raja We tidak punya aturan!” kata Gui Cun pada Tiong Ji.


”Akh, biarkan saja, jangan ambil pusing,” kata Tio Swi. ”Ular besar atau naga, jika hilang pengaruhnya seumpama seekor cacing saja. Kong-cu harus tahan sabar saja, meski orang sudah tidak punya aturan, kita sedang tak berdaya.”


”Karena Raja We sebagai Tuan rumah tidak punya aturan, bagaimana kita rampok saja rakyatnya?” kata Tian Kiat.


”Orang yang merampok namanya penjahat,” kata Tiong Ji dengan air mata berlinang-linang. ”biarlah aku sengsara menanggung lapar, aku tidak sudi menjalankan pekerjaan penjahat.”


Mendengar ucapan Pangeran Tiong Ji semua anak buahnya terharu bukan main.


Pangeran Tiong dan anak buahnya semuanya belum makan pagi, dengan menanggung lapar mereka berjalan perlahan-lahan.


Tidak lama pagi pun sudah menjadi siang.


Waktu itu mereka sudah sampai di suatu tempat yang disebut Ngo-lok, di sana mereka melihat sekelompok petani sedang berkumpul makan nasi di atas gili-gili.

__ADS_1


Karena sangat kelaparan, Pangeran Tiong Ji segera memerintahkan pada Ho Yan menemui para petani itu minta dibagi sedikit makanan.


”Sobat datang dari mana?” tanya salah seorang petani itu.


”Kami dari negeri Chin, itu orang yang ada di atas kereta majikan kami,” kata Ho Yan sambil menunjuk pada Tiong Ji. ”Karena kami hendak berjalan jauh dan di sini kami kekurangan ransum, maka ingin minta sedikit makanan pada kalian.”


”Ha, ha, ha! He, he, he!” para petani tertawa semua.


Di antaranya ada yang berkata, ”Mengapa seorang laki-laki tidak mampu mencari makanan sendiri, malah menumpang makan pada kami orang miskin! Kami petani pedusunan, kami kerja keras baru bisa makan. Mana kami punya makanan lebih?”


Ho Yan jadi sangat mendongkol dan malu, tetapi seberapa bisa dia tahan sabar dan berkata lagi, ”Kendati tidak dapat makanan, bisakah kami diberi alat masak.”


Salah seorang petani itu mengambil sebongkah tanah sambil tertawa cengar-cengir dia berikan pada Ho Yan sambil berkata, ”Nah, tanah ini kau bikin alat masak.”


Gui Cun yang sudah sangat mendongkol atas kekurangajaran petani itu, sudah tidak bisa menahan sabar lagi.


Gui Cun merebut alat masak terbuat dari tanah milik petani yang dia banting sampai hancur.


Tiong Ji pun sangat murka, segera mengambil cambuk hendak menghajar petani-petani itu.


Tetapi Ho Yan segera mencegah tindakan Tiong Ji it.


”Mendapatkan nasi gampang, tetapi mendapatkan tanah susah. Tanah adalah modal utama sebuah negara. Allah telah meminjam tangan petani untuk menyerahkan tanah kepada Kong-cu, ini adalah alamat Kong-cu bakal mendapat negeri. Mengapa marah? Sebaiklah Kong-cu turun dari kereta terima tanah itu.”

__ADS_1


Tiong Ji menuruti saran dari Ho Yan, dia turun dari keretanya, dengan hormat dia sambut tanah itu.


Petani-petani itu keheranan menyaksikan sikap Tiong Ji ini. Mereka lalu berkumpul dengan kawan-kawannya dan tetawa terbahak-bahak. Mereka pikir mereka telah bertemu dengan serombongan orang kurang waras.


Tiong Ji dan semua pengikutnya tidak menghiraukannnya. Mereka meneruskan perjalanan mereka.


Setelah berjalan kira-kira sepuluh li lebih, saking laparnya banyak yang tidak bisa meneruskan perjalanannya. Mereka segera berhenti dan istirahat di bawah sebuah pohon.


Ketika itu Tiong Ji merasakan sangat kelaparan, sehingga sekujur badannya menjadi lemas, dia rebahkan kepalanya di lutut Ho Mo sambil tiduran.


”Cu I masih membawa sedikit bubur encer,” kata Ho Mo terharu, ”ia berjalan di belakang, sebaiknya tunggu dia.”


”Bubur encer itu,” kata Gui Cun, ”untuk Cu I sediri pun tidak akan cukup, barangkali malah sudah tidak tersisa!”


Semua berebut mencari rumput dan akar yang bisa mereka masak untuk dimakan. Tetapi Tiong Ji tidak bisa makan makanan itu.


Tiba-tiba datang Kai Cu Cui membawa semangkok daging rebus yang dia suguhkan kepada Tiong Ji, yang segera dimakannya dengan lahap sekali.


Sesudah selesai makan Tiong Ji segera bertanya.,


”Di tempat seperti ini, dari manakah kau bisa mendapatlan daging selezat itu?” tanya Pangeran Tiong Ji.


”Itu daging paha hamba, Tuanku,” jawab Kaij Cu Cui, ”karena hamba mendengar pepatah begini : anak yang berbakti mengorbankan dirinya untuk membela orang tuanya, sedang hamba yang setia berkorban untuk membela majikannya. Sekarang Kong-cu kebetulan kekurangan makanan, maka hamba sengaja memotong paha hamba untuk Tuanku makan.”

__ADS_1


”Ya, Allah, telah menyusahkanmu sungguh keterlaluan, di kemudian hari entah aku bisa membalas budimu entah tidak?” kata Tiong Ji sambil menangis.


”Biarlah hamba doakan supaya Kong-cu bisa segera pulang ke negeri Chin,” jawab Kai Cu Cui. ”Kalau hamba telah melakukan kewajiban hamba, dan memotong paha hamba. Itu bukan karena hamba mengharapkan untuk mendapatkan balasan, maka jangan Kong-cu pikiran soal itu.”


__ADS_2