LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 59


__ADS_3

Pada saat Raja Couw Seng Ong mendapat keterangan dari Raja Coa Bok Kong bahwa Raja Cee bersama Raja-raja Muda yang lain hendak menyerang negerinya, dia jadi merasa khawatir. Kemudian dia menganggkat Touw Kok O-to (Chu Bun) menjadi panglima perang, untuk memimpin angkatan perang berjaga di sebelah Selatan sungai Han-sui. Chu Bun hanya menunggu. Jika angkatan perang musuh sudah menyeberangi sungai, dia harus segera memaklumkan peperangan yang hebat.


Pada suatu hari, juru kabar datang melapor pada Raja Couw Seng Ong.


"Entah mengapa tentara musuh mendirikan kemah mereka di Keng-san. " kata pelaor.


Sebelum Raja Couw bisa berkata apa-apa, Chu Bun menyampaikan pendapatnya.


"Koan Tiong sangat paham ilmu perang, jika dia pikir siasatnya belum sempurna pasti dia tidak akan menyerang." kata Chu Bun. "Sekarang tentaranya bertahan di Keng-san. Pasti dia sedang menjalankan siasat. Sebaiknya Tuanku mengirim utusan untuk memata-matai mereka. Apakah pasukannya kuat atau lemah? Baru kita pikirkan apa yang harus kita jalankan. Damai atau perang?"


"Ya, aku mengerti, Chu Bun," kata Raja Couw Seng Ong. "Tetapi siapa yang harus pergi menjadi utusan lagi?"


"Kut Goan sudah kenal dengan Koan Tiong lebih baik suruh dia yang pergi lagi ke sana," kata Chu Bun.


"Tetapi kepergian hamba untuk membicarakan soal damai atau perang?" kata Kut Goan pada Raja Couw Seng Ong. "Jika untuk urusan damai dengan senang hamba bersedia pergi. Jika masalah perang, sebaiknya Tuanku menyuruh menteri yang lain saja. Dulu hamba sudah janji akan mengurus urusan mengantarkan rumput mao ke negeri Ciu."


"Dalam hal ini aku memberi kuasa penuh kepadamu," sahut Raja Couw Seng Ong, "apa itu berdamai atau perang! Kau boleh mengambil putusan sendiri, aku tidak akan menyalahkan kau."


Kut Goan pamit pada Raja Couw Seng Ong untuk pergi ke perkemahan musuh.


Kala Kut Goan sampai di perkemahan Cee, dia menemui penjaga.

__ADS_1


"Tolong sampaikan pada Rajamu, aku Kut Goan ingin bertemu untuk membicarakan masalah penting," kata Kut Goan.


Penjaga masuk dan melapor.


Mendengar laporan itu Koan Tiong berkata pada Raja Cee Hoan Kong.


"Kedatangan utusan Couw kembali, pasti hendak membicarakan soal perdamaian, harap Tuanku suka berlaku hormat kepadanya." kata Koan Tiong.


Cee Hoan Kong manggut.


"Baik! Izinkan dia masuk!" kata Raja Cee.


Kedatangan Kut Goan disambut dengan hormat oleh Cee Hoan Kong, sesudah itu utusan Couw itu dipersilakan duduk. Baru Raja Cee bertanya.


"Karena Rajaku tidak mengantar upeti, sehingga Tuanku sudah datang memeranginya. Karena itu Rajaku mengaku salah," kata Kut Goan.


"Jika tidak keberatan, harap Tuanku menarik mundur pasukan perang Tuanku dulu. Pasti Rajaku akan datang untuk minta berdamai."


"Jika Tay-hu bisa membujuk Rajamu melaksanakan aturan dan mau mengantar upeti, itu sudah cukup apa yang diinginkan oleh Kaisae Ciu," kata Raja Cee. "Maka aku pun tidak perlu cari ribut lagi."


"Hamba berjanji akan mengaturnya," kata Kut Goan.

__ADS_1


Sesudah memberi kepastian Kut Goan pamit akan kembali ke negaranya.


Begitu sampai Kut Goan melaporkan apa yang dia bicarakan dengan Raja Cee kepada Raja Couw.


"Hamba sudah berunding dengan Raja Cee. Dia bersedia mundur beberapa li dari Keng-san. Sedang hamba berjanji akan mengatur pengiriman upeti ke negeri Ciu. Hamba harap Tuanku tidak melanggar perjanjian hingga membuat malu seluruh bangsa Couw!" kata Kut Goan.


Selang sesaat kemudian sesudah Kut Goan melapor, juru kabar datang memberi kabar.


"Sekarang tentara Cee bersama pasukan raja yang lain sedang membongkar kemah mereka. Tidak lama lagi mereka akan meninggalkan Keng-san!" kata si pelapor.


Raja Couw masih belum percaya, dia kirim mata-matanya untuk mencari keterangan lebih jauh. Ketika itu juru kabar sudah kembali lagi.


"Benar, pasukan gabungan itu sudah mundur 30 li jauhnya dari tempat semula. Sekarang mereka membangun perkemahan di Siao-leng. Mereka bilang mereka agak jerih pada tentara Couw!" kata mata-mata itu.


Mendengar laporan itu dengan sangat menyesal Raja Couw berkata. "Jika mundurnya Raja Cee karena jerih kepada kita, sungguh sayang sekali kita sudah berjanji hendak mengirim upeti!"


"Apa Tuanku punya niat hendak ingkar janji?" kata Chu Bun. "Apa yang Raja-raja itu telah lakukan itu untuk menunjukan bahwa mereka memegang kepercayaan, jika sampai kita ingkar janji, sungguh sangat tidak baik."


Raja Couw tercengang, dia berpikir ucapan Chu Bun sangat pantas, sehingga mau tidak mau dia terpaksa mengawal delapan gerobak terisi emas, kain sutera dan barang lain. Mereka pergi ke Siao-leng untuk memberi hadiah kepada delapan Raja Muda dan sebuah gerobak berisi rumput mao untuk diantar ke negeri Ciu.


Waktu itu Raja Khouw Hi Kong telah memerintahkan Pek To memimpin pasukan perang untuk berkumpul di Siao-leng, karena dia merasa berhutang budi pada Raja Cee Hoan Kong, sebab jenazah ayahnya, Khouw Bok Kong, telah diantarkan ke negerinya dan diizinkan dikubur dengan upacara agung.

__ADS_1


Kedatangan Pek To membuat Raja Cee Hoan Kong girang, dia puji sikap Raja Khouw Hi Kong setia pada perserikatan.


Ketika Raja Cee Hoan Kong menerima khabar Kut Goan datang lagi, Raja Cee segera waspada. Dia perintahkan pasukan semua Raja Muda siaga. Siapa tahu kedatangan pasukan Cee akan menyerang mereka.


__ADS_2