LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 72


__ADS_3

Ketika itu negeri Gi dan negeri Kek bersahabat kekal, bukan saja rajanya sesama she (marga), sedang negaranya bertetangga dan salah satu berbatasan dengan negeri Chin.


Raja negeri Kek sangat sombong dan suka mencari masalah, tidak heran jika ada masalah, walaupun kecil, dia langsung menyerang ke daerah Chin.


Pembesar Chin yang menjaga perbatasan negeri melapor kepada Raja Chin Hian Kong.


"Raja Kek sangat keterlaluan dan sombong. Dia perlu diajar adat!" kata panglima penjaga perbatasan.


Mendengar laporan itu Raja Chin Hian Kong marah sekali. Dia sepakat akan melabrak negara Kek itu.


Niat Raja Chin diketahui oleh Li Ki, isterinya, kembali dia hendak meminjam tangan musuh untuk membinasakan Sin Seng.


"Jika Tuanku hendak menghajar negara Kek, mengapa Tuanku tidak menyuruh Pangheran Sin Seng saja." kata Li Ki.


"Tidak aku tidak setuju!" kata Raja Chin.


"Mengapa Tuanku tidak setuju?" tanya Li Ki.


Raja Chin yang sudah terpengaruh oleh hasutan Li Ki, dia mulai curiga pada Sin Seng.


"Jika sekarang dia lagi yang maju ke medan perang, dan dia menang. Bukankah namanya akan jadi lebih terkenal. Malah dia akan makin disayang oleh semua menteriku. Dengan demikian, bagaimana aku bisa menyingkirkan dia?" kata Raja Chin.


Raja Chin lalu mengumpulkan menteri-menterinya untuk diajak berunding. Dia bertanya pada menteri Sun Sit.


"Menurut Anda, apakah negeri Kek boleh kita serang?" tanya Raja Chin.


"Saat ini negara Gi dan Kek sedang rukun," sahut Sun Sit, "jika kita serang negeri Kek, pasti Raja Gi akan membantunya. Begitu juga jika kita serang negeri Gi, pasti Kek akan membantunya. Jika keduanya kita serang, hamba tidak yakin kita akan menang!"


"Kalau begitu harus bagaimana?" tanya Raja Chin. "Hamba dengar Raja Kek sangat suka perempuan elok, kita gunakan saja sebuah tipu "Bi Jin Ke" pasti kita bisa mengalahkan dia. Sekarang kita cari beberapa perempuan cantik, ajari mereka bernyanyi dan menari. Jika mereka sudah pandai. Dandani mereka lalu kirim ke sana." kata Sun Sit.

__ADS_1


"Boleh juga!" kata Raja Chin. "Lalu selanjutnya bagaimana?"


"Jika Raja Kek sudah tergila-gila oleh perempuan cantik, dia akan lupa diri. Lupa mengurus pemerintahan. Pasti menterinya yang setia akan jengkel kepadanya." kata Sun Sit.


"Ah bagus!"


"Selanjutnya kita suap Raja bangsa Kian-jiong, minta bangsa itu mengacaukan negara Kek. Sesudah kacau, baru kita serang mereka. Hamba yakin kita bisa menang!" kata Sun Sit.


Raja Chin Hian Kong setuju pada saran Sun Sit.


Mulailah Raja Chin menyuruh mencari wanita cantik. Dia berhasil mengumpulkan beberapa orang. Kemudian dilatih. Sesudah pandai mereka dikirim ke negeri Kek.


Benar saja kiriman Raja Chin itu sangat menarik hati Raja Kek.


Salah seorang menteri Raja Kek curiga.


"Tuanku jangan terima!" kata Menteri Ciu Ci Kiao. "Ini pasti jebakan Raja Chin dan memberi umpan pada Tuanku. Mengapa Tuanku menerimanya?"


Benar saja semenjak mendapatkan beberapa wanita cantik Raja Kek jadi lupa daratan. Siang dan malam bersenang-senang saja. Dia jarang menghadiri persidangan di istananya.


Sekalipun berulangkali Ciu Ci Kiao menasihatinya tetapi Raja Kek tidak mau menghiraukannya. Malah berbalik marah-marah pada Ciu Ci Kiao. Dia peritahkan Ciu Ci Kiao menjaga kota He-yang. Dengan demikian Raja Kek jadi bebas dari gangguan menteri Ciu tersebut.


Selang beberapa bulan kemudian, bangsa Kian-jiong yang mendapat suapan dari Raja Chin, datang menyerang daerah Kek. Waktu tentara Kian-jiong sudah sampai di Wi-jwe, tetapi telah berhasil dipukul mundur oleh tentara Kek. Raja Kian-jiong yang masih penasaran segera mengeluarkan seluruh kekuatan tentaranya datang menantang lagi. Raja Kek mengerahkan tentaranya menangkis serangan musuh tersebut. Sesudah berperang cukup lama, mereka jadi terpaku di daerah Song-tian.


Berita tentang terhentinya peperangan antara Raja Kek dan bangsa Kian-jing, karena masing-masing bertahan di tempat, sampai ke telinga Raja Chin.


"Aku dengar tentara San-jing dan Kek masih bertahan di daerah Song-tian. Apa sekarang kita boleh mulai menyerang mereka?" kata Raja Chin.


"Jangan, belum boleh, sebab hubungan negeri Gi dan Kek belum putus," sahut Sun Sit. "Tetapi hamba sudah menyiapkan sebuah tipu. Hari ini kita ambil Kek. Esoknya kita ambil Gi."

__ADS_1


"Tipu bagaimana?"


"Tuanku suap Raja Gi, sesudah itu minta pinjam jalan untuk melabrak negeri Kek."


"Kita dengan Kek baru berdamai, tidak ada alasan melabrak mereka, apa Raja Gi mau percaya?"


"Dengan diam-diam Tuanku perintahkan orang di Utara mencari gara-gara dengan Kek, panglima Kek yang menjaga perbatasan pasti akan menegur, Lalu kita pakai alasan itu untuk meminjam jalan pada Gi."


Raja Chin Hian Kong girang sekali.


Kembali dugaan Sun Sit tidak meleset, benar saja panglima Kek yang menjaga perbatasan menegur tatkala orang Chin melanggar perbatasan. Ketika itu baik dari pihak Kek, maupun dari pihak Chin, masing-masing sudah menyiapkan pasukan perang siap untuk bertempur.


Padahal waktu itu Raja Kek sedang siaga menghadapi serangan bangsa Kian-jiong, sehingga tak mungkin menghadapi perselisihan perbatasan dengan Chin.


Ketika Raja Chin Hian Kong sudah mendapat kabar tentang perselisihan perbatasan itu, dia girang. Lalu memanggil Sun Sit.


"Sekarang sudah ada alasan untuk menghajar negeri Kek. Barang apa yang harus kita berikan pada Raja Gi?" kata Raja Chin.


"Raja Gi sekalipun serakah, tetapi jika tidak disuap dengan mustika yang bagus, pasti dia tidak akan tertarik," kata Sun Sit. "Hamba pikir hendak menyuap dia dengan barang berharga, tetapi hamba khawatir Tuanku tidak mengizinkannya."


"Barang apa it? Katakan saja!" kata Raja Chin.


"Hamba dengar Raja Gi menginkan batu Giok dari Sui-kek dan kuda bagus dari Kut-can milik Tuanku. Dua barang itu bisa membuat dia terkecoh, dan usaha kita akan berhasil!" kata Sun Sit.


"O, tidak bisa!" kata Raja Chin terperanjat. "Dua barang barang wasiat, bagaimana bisa aku serahkan pada orang lain?"


"Nah, hamba juga menduga begitu." kata Sun Sit. "Jika tidak bisa meminjam jalan, berarti usaha kita gagal! Padahal jika Tuanku setuju, barang-barang itu cuma dipinjam sementara. Sesudah mendapat jalan dan berhasil melabrak negeri Kek, kita bisa merampasnya lagi dari negeri Gi. Ibarat pepatah tua mengatakan :Menyimpan batu giok di gudang orang dan memelihara kuda bagus di istal orang lain, cuma untuk sementara saja."


"Tetapi ingat di negeri Gi ada dua menteri pandai. Mereka Kiong Ci Ki dan Pek Li He," kata Li Kek. "Apa mereka tak akan menerka siasat kita. Lalu menasihati Raja mereka, hingga berbalik menipu kita?"

__ADS_1


"Tidak masalah," kata Sun Sit. "Raja Gi sangat serakah dan bodoh. Sekalipun dinasehati, pasti tak akan didengar!"


__ADS_2