LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 26


__ADS_3

Kaisar Ciu Li Ong sesudah menjadi kaisar selama 5 tahun, dia meninggal. Puteranya Liang menggantikan ayahnya dengan gelar Ciu Hui Ong.


Pada tahun ke-dua dari pemerintahan Baginda Ciu Hui Ong, ketika itu Raja Couw Bun Ong memerintah dengan sangat buruk dan dia sangat senang berperang.


Beberapa tahun yang lalu Raja Couw Bun Ong pernah bersama Raja Pa menyerang ke negeri Sin. Raja Couw membuat ulah mengganggu tentara negara Pa. Karena itu Raja Pa yang merasa dicurangi jadi gusar. Maka itu dia serang tanah milik Couw.


Panglima Couw yang menjaga di tanah tersebut, bernama Giam Go. Karena kalah perang melawan Raja Pa panglima Giam Go kabur lewat sungai. Karena dianggap lalai oleh Raja Couw ditangkap dia dihukum mati.


Sanak-famili Giam Go sakit hati kepada Raja Couw. Mereka mengadakan hubungan rahasia dengan Raja Pa. Mereka menghasut Raja Pa supaya menyerang ke negeri Couw. Mereka berjanji akan membantu Raja Pa dari dalam kota.


Tatkala tentara Pa datang menyerang ke negeri Couw, Raja Couw memimpin sendiri pasukan perangnya. Diam-diam kaum famili Giam yang berjumlah ratusan orang itu, menyusup ke dalam pasukan Couw. Sebelum angkatan perang Couw berperang dengan angkatan perang Raja Pa, pasukan Couw sudah kacau. Ini akibat serangan dan dikacaukan dari dalam oleh famili Giam.


Melihat tentara Couw kalut, tentara Pa menggunakan kesempatan itu untuk melabrak pasukan Couw. Dalam serangan itu pasukan Couw mendapat kerusakan besar. Raja Couw Bun Ong sendiri wajahnya terkena anak panah. Dengan tersipu-sipu Couw Bun Ong melarikan diri.


Raja Pa tidak berani mengejar Raja Couw yang kabur itu, dia tarik kembali tentaranya. Sedang kaum famili Giam ikut dengan tentara Pa dan menjadi rakyat negeri Pa.


Setelah Raja Couw pulang ke negaranya, waktu Couw Bun Ong sampai, pintu kota sudah ditutup karena hari sudah malam. Couw Bun Ong berteriak minta dibukakan pintu.


"Apa Tuanku mendapat kemenangan?" tanya Yo Koan yang menjaga pintu kota saat itu.


"Kalah!" sahut Raja Couw dengan kesal.


"Sejak Raja Couw almarhum, sampai sekarang, tentara Couw setiap kali keluar berperang, belum pernah kalah!" kata Yo Koan dengan perasaan dan kurang senang. "Padahal negeri Pa sebuah negeri kecil, tetapi Tuanku dikalahkan oleh mereka! Apa ini tidak memalukan sekali? Sudah lama negara Ui tidak mengirim upeti, mereka mau membangkang. Sebaiknya Tuanku serang mereka untuk menebus kekalahan kali ini. Baru perasaan malu itu lenyap!"

__ADS_1


Sekalipun Couw Bun Ong memaksa, Yo Koan tetap tidak mau membukakan pintu kota untuknya.


Raja Couw sangat mendongkol sekali, lalu dia berkata pada tentaranya.


"Mari kita pergi melabrak negeri Ui, jika kita tidak bisa mengalahkan mereka, aku tidak akan pulang!" kata Raja Couw.


Dia memimpin tentaranya menyerang ke negeri Ui, di sana dia mengalahkan pasukan negeri Ui di Cek-leng (tanahnya Uij). Tetapi karena terlalu bekerja keras luka di wajah Raja Couw bekas terkena anak panah telah terbuka lebar. Darahnya mengucur tidak berhenti-hentinya. Dengan sangat kesakitan Raja Couw pulang; tetapi baru sampai di tanah Ciu (tanah milik negeri Couw), pada tengah malam karena tidak tahan lagi Couw Bun Ong dia meninggal.


Mendengar Raja Couw Bun Ong meninggal, Yo Koan kaget. Dia menyambut kedatangan peti jenazah Raja Couw. Mereka buru-buru mengangkat putera mahkota, Him Pi, menjadi raja.


Seusai upacara penguburan jenazah Raja Couw, Yo Koan dengan penuh sesal berkata seorang diri, "Aku sudah dua kali berbantah dengan Baginda Couw. Sekarang aku enak-enakan tinggal hidup? Akh, sudahlah. Lebih baik aku ikut bermasa Baginda masuk ke dalam tanah." kata Yo Koan.


Begitu tetap pikirannya itu, Yo Koan lalu mengumpulkan kerluraganya. Kepada mereka Yo Koan berkata, "Kalau aku sudah mati, kalian harus menguburkan jenazahku di pintu kota Tiat-hong. Maksudnya supaya anak cucuku mengetahui bahwa aku menjaga pintu kota itu!"


Sehabis berkata begitu dengan kegesitannya yang luar biasa, Yo Koan menggorok lehernya sendiri hingga binasa.


**


Mendengar khabar Raja Couw Bun Ong telah meninggal dunia, dengan girang The Le Kong berkata, "Sekarang baru kita tidak akan jengkel lagi."


"Menurut pendapat hamba, jika kita terlalu bersandar pada orang lain sangat berbahaya. Jika kita tetap menghamba pada orang lain, malu," kata Siok Ciam. "Karena negeri kita berada di antara negeri Cee dan negeri Couw, kita jadi serba susah. Tetapi Raja The almarhum, sejak Raja Hoan, Raja Bu sampai Raja Cong, tiga turunan, semua menjabat pangkat Keng-su di Dewan Kerajaan Ciu. Derajatnya lebih agung dari lain-lain negeri dan membuat tunduk semua Raja Muda. Sekarang Baginda telah memegang pemerintahan. Raja dari negeri Kek dan Chin telah memberi selamat. Tuanku harus mengadakan pesta, usahakan Tuanku mengirim upeti ke Kerajaan Ciu. Jika Kaisar Ciu ingat jasa Tuanku maka pangkat Keng-hu akan dikembalikan kepada Tuanku. Lalu siapa yang harus kita takutkan?"


"Ya, kau benar," kata Raja The dengan girang.

__ADS_1


Kemudian Raja The memerintahkan Su Siok pergi ke negeri Ciu; dia berharap diberi pangkat Keng-su (Pembesar Kerajaan) oleh Kaisar Ciu.


Tetapi malang saat Su Siok kembali dari negeri Ciu dia melaporkan kedaan di sana.


"Ternyata dalam Dewan Kerajaan Ciu telah terjadi kekacauan," kata Su Siok.


Mendengar laporan tersebut The Le Kong terkejut, dia minta keterangan lebih jauh.


"Bagaimana terjadinya huru-hara itu?" kata The Lee Kong.


"Baginda Ciu Li Ong mempunyai saudara tiri yang bernama Ong Cu Tui," kata Su Siok mulai menceritakan pengetahuannya, "ia membuat persekutuan rahasia dengan Kui Kok, Pian Kek, Cu Kim, Ciok Kui dan Ciam Hu. Mereka berjumlah lima orang Tay-hu, kemudian dia membuat huru-hara. Tetapi beruntung Ciu Kong Ki Hu, Siao Pek Liauw dan beberapa pejabat negara yang bijaksana berhasil melabrak mereka. Sehingga para pengkhianat itu melarikan diri ke negeri Souw. Dengan bantuan dari negeri Souw dan We para pengkhianat itu menyerang ke kota raja. Sayang Ciu Kong Ki Hu, Siao Pek Liauw dan kawan-kawannya kalah perang dengan mereka. Kemudian mereka mengajak Baginda melarikan diri ke tanah Yan. Tay-hu itu lalu mengangkat Ong Cu Tui menjadi Kaisar. Tetapi orang-orang tidak mau menyerah kepada Kaisar yang baru itu."


"Wah celaka, bagaimana sekarang?" kata Raja The.


"Sekarang sebaiknya Tuanku mengerahkan tentara menjemput dan antarkan Kaisar ke Ibukota. Dengan demikian Tuanku jadi berjasa, dan akan mendapat pahala besar!" kata Su Siok.


"Ya, itu benar," kata The Le Kong. "Tetapi sebelum kita menyerang, bagaimana jika kita beri peringatan dulu mereka? Barangkali saja mereka mau menyesali kesalahan dan mengubah kelakuannya."


Semua menteri membenarkan ucapan Raja The. Raja The segera mengirim utusan ke negeri Yan untuk menyambut Kaisar dan diminta sementara tinggal di kota Lek-ip. Raja The pun mengirim utusan yang membawa surat untuk Ong Cu Tui.


Bunyi suratnya kira-kira begini:


"Dengan segala hormat Tut persembahkan surat ini ke hadapan Ong Cu yang mulia.

__ADS_1


Tut dengar, orang yang menjadi hamba dan melawan kepada Rajanya disebut tidak setia, sedang yang menjadi adik berkhianat kepada kandanya, disebut kurang ajar, bila orang yang tidak setia dan kurang ajar, sudah pasti akan mendapat kutukan dari Allah.


Ong Cu sangat keliru mau mendengarkan hasutan meneteri dorna, sehingga Ong Cu sudah mengusir Baginda, atau mengikat tangan sendiri buat menerima dosa itu, masih belum terlambat untuk meraih kekayaan dan kemuliaan. Tut minta agar Ong Cu mengerti dan suka menyerah. Tetapi jika tidak mau harap mundur ke suatu tempat. Di sana Ong Cu bisa hidup sederhana dan senang. Dengan demikian Ong Cu akan terhindar dari bencana dan dosa besar.


__ADS_2