
Ketika tentara Song sadar dari tidurnya, dari sinar api mereka melihat ada sekelompol macan berjalan mendatangi. Mereka semua sangat ketakutan, mereka kabur saling mendahului berebut untuk bisa selamat dari terkaman harimau. Lam-kiong Tiang Ban sekalipun gagah perkasa, karena melihat tentaranya sudah sangat kalut, terpaksa ikut mundur bersama tentaranya.
Pasukan Raja Louw Cong Kong yang menyusul pasukan Pangeran Yan pun telah sampai. Mereka bergabung dengan tentara Pangeran Yan. Pada malam itu mereka mengejar tentara Song sampai ke tanah Seng-kiu (tapal batas negeri Co).
Lam-kiong Tiang Ban sangat gusar, dia tahan kereta perangnya sambil berkata kepada Beng Hek.
”Hari ini kita harus berperang secara mati-matian, jika tidak pasti kita tidak akan luput dari bahaya!” kata Tiang Ban.
”Baik!” sahut Beng Hek.
Beng Hek maju dengan kereta perangnya hendak bertempur dengan musuh. Dia bertemu dengan Pangeran Yan. Mereka berdua langsung saling serang-menyerang dengan sengit sekali.
Sementara itu Lam-kiong Tiang Ban sudah memutarkan senjata Cian-kek panjangnya menerjang Raja Louw dan pasukan besarnya.
Bala-tentara negeri Louw takut sekali kepada Tiang Ban yang gagah itu. Ketika Tiang Ban maju, tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Melihat begitu Raja Louw Cong Kong menoleh ke arah Coan Sun Seng yang ada di sampingnya.
”Aku dengan tenagamu yang sangat kuat sekali, apakah kau sanggup bertempur melawan Tiang Ban?” kata Raja Louw.
Dengan tidak banyak bicara lagi Coan Sun Seng segera memutarkan senjata Thian-kek besarnya. Dia hadang majunya Tiang Ban dan mereka pun langsung bertarung.
Raja Louw Cong Kong dari atas kereta mengawasi pertarungan kedua orang gagah itu, tetapi belum berselang lama, Raja Louw Cong Kong melihat Coan Sun Seng tidak bisa mengalahkan Tiang Ban yang gagah itu. Raja Louw Cong Kong berkata kepada pengikutnya, ”Lekas ambil busur dan anak panah Kim-pok-kouw!”
Anak buah Louw Cong Kong segera menyerahkan busur dan anak panah yang diminta. Kemudian Louw Cong Kong menarik busur dan membidik ke arah Lam-kiong Tiang Ban. Setelah busur panah lepas, anak panah itu menyambar pada bahu kanan Tiang Ban. Anak panah otu masuk sampai ke tulang.
Tiang Ban terkejut, dengan tangannya dia akan mencabut anak panah itu.
__ADS_1
Melihat tangan Tiang Ban agak ayal, buru-buru Copan Sun Seng membarenginya dengan menusuk paha kiri Tiang Ban.
Tiang Ban kaget dan sangat kesakitan. Dia jatuh terguling ke tanah. Ketika dia hendak bangun kembali, tiba-tiba Coan Sun Seng sudah keburu melompat turun dari keretanya. Dengan kedua tangannya Coan Sun Seng menekannya. Tak lama tentara Louw berbareng datang menangkapnya.
Sementara itu Beng Hek melihat jenderalnya ditawan musuh, dia tinggalkan keretanya lari ”sipat kuping”.
Melihat tentaranya sudah mendapat kemenangan besar, Raja Louw memerintahkan membunyikan gemdreng untuk memberi tanda berhenti perang. Coan Sun Seng menggiring Lam-kiong Tiang Ban yang dia bawa ke markas besarnya.
Sekalipun bahu dan pahanya terluka parah, Tiang Ban masih bisa berdiri tegak. Sedikitpun tidak tampak dia sedang kesakitan.
Raja Louw Cong Kong kagum melihat kegagahan Tiang Ban, dia perintahkan orangnya merawat lukanya dengan baik.
Setelah Pao Siok Gee mengtahui pasukan perang Song mendapat kerusakan berat, dia merasa tidak yakin mampu melawan musuh. Segera dia perintahkan tentaranya pulang. Kemudian melaporkan kepada Cee Hoan Kong apa yang telah terjadi atas angkatan perang negeri Song.
Pada tahun itu juga Raja Cee Hoan Kong memerintahkan Tay-su-heng Sek Peng pergi ke Kerajaan Ciu, akan memberi tahu tentang diangkatannya dia menjadi Raja Cee. Dia juga meminang puteri Kaisar Ciu.
Kaisar Ciu dengan senang hati menyetujui permohonan Raja Cee tersebut.
***
Setahun kemudian....
Kaiser Ciu memerintahkan Raja Louw menjadi wali untuk mengurus perkawinan Ong-hi (putrinya Kaisar Ciu) dengan Raja Cee. Sedang raja dari negeri Ci, Coa dan We sesuai peraturan di masa itu, mereka masing-masing mengirimkan puteri mereka untuk ikut bersama Ong-hi pergi ke negeri Cee. Puteri-puteri mereka dijadikan selir Raja Cee.
Karena Raja Louw berjasa menjadi Cu-hun (Wali) dalam pernikahan Raja Cee, maka negara Cee dengan negara Louw akur kembali dan jadi bersahabat lagi.
__ADS_1
**
Tatkala datang musim Ciu (Semi), di negeri Song telah timbul bahaya banjir.
Mendapat khabar buruk ini Raja Louw yang berpikir dia sudah bersahabat baik dengan Raja Cee, menganggap buat apa bermusuhan dengan negeri Song? Segera dia memerintahkan orangnya untuk pergi memberi pertolongan ke negeri Song.
Karena ingat Raja Louw begitu baik budi, Raja Song juga memerintahkan orangnya pergi mengucapkan terima kasih. Dia minta pada Raja Louw supaya Lam-kiong Tiang Ban dikembalikan. Permohonan itu oleh Raja Louw segera dikabulkan.
Sejak saat itu negara Louw, Song dan negara Cee, tiga negara, menjadi bersahabat kekal, satu sama lain tidak mendendam sakit hati soal lama mereka.
Ketika Lam-kiong Tiang Ban pulang ke negeri Song, ia disindir oleh Song Bin Kong. Sambil tertawa Raja Song berkata pada Tiang Ban, sebenarnya Raja Song waktu itu cuma bergurau.
”Sekian lama aku sangat menghormatimu, tetapi siapa sangka akhirnya kau telah menjadi tawanan orang di negeri Louw? Maka mulai saat ini aku jadi tidak menaruh hormat lagi kepadamu!” kata Song Bin Kong sambil tersenyum.
Ejekan Song Bin Kong ini membuat Tiang Ban jadi sangat malu. Hatinya mendongkol sekali, dia berlalu dari hadapan rajanya. Dia juga tak bisa bicara apa-apa.
Ketika mendengar rajanya senang bercanda tak beraturan, Kiu Bok khawatir. Di kemudian hari, gurauan Rajanya itu akan menjadi sebuah bencana besar. Dengan diam-diam Kiu Bok pergi menemui Raja-muda Song Bin Kong.
”Tuanku,” kata Kiu Bok, ”di antara Raja dan hambanya, harus bergaul menurut peraturan yang berlaku. Tuanku tidak boleh bercanda keterlaluan. Jika hamba-hamba tuanku diajak bercanda, dia tidak akan menaruh hormat lagi kepada kita. Orang itu bisa jadi sombong dan tidak mempedulikan peraturan. Akhirnya dia akan berbuat durhaka. Dari itu harap tuanku mengubah tabiat yang buruk itu.”
”Ah, itu tidak jadi soal, sebab aku dengan Tiang Ban sering bercanda, kok,” kata Raja Song.
Dia kurang memperhatikan nasihat Kiu Bok ini. Melihat Cu-kongnya begitu, Kiu Bok pamit dan berjalan pulang dengan hati masgul.
**
__ADS_1