LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 15


__ADS_3

Yo Koan berusaha mencegah niat rajanya itu, tetapi Raja Couw tetap menolak sarannya; dengan begitu sehingga tiga sampai empat kali Yo Koan memberi nasihat. Tetapi Raja Couw selalu tidak mau menurut, sehingga Yo Koan jadi mendongkol dan sengit sekali. Dengan tangan kirinya dia pegang lengan baju Raja Couw. Sedang dengan tangan kanannya dia cabut pedangnya. Dia mengancam sang junjungan seraya berkata, ”Hamba lebih suka mati bersama-sama baginda. Tetapi hamba tidak tega melihat baginda kehilangan Raja-raja Muda!”


”Ya, baik . .Baik . . . aku ikuti nasihatmu. . aku turuti kehendakmu!” kata Raja Couw Bun Ong dengan ketakutan.


Kemudian dia memerintahkan orangnya membebaskan Raja Coa dari hukuman mati.


”Nah, jika baginda bersedia mendengar omongan hamba, ini adalah rejeki dari negeri Couw,” kata Yo Koan sambil melepaskan kembali cengkeramannya pada tangan baju Couw Bun Ong. ”Tetapi salah seorang hamba tuanku telah berani memaksa pada rajanya, karena dosanya maka ia harus dihukuman mati. Maka hamba mohon supaya baginda menjatuhkan hukuman kepada hamba ini!”


”O, tidak! Kau tidak bersalah,” kata Raja Couw. ”Aku tahu betul hatimu dan kau memang seorang menteri yang setia. Maka atas sikapmu tadi, aku tidak menganggap kau berdosa.”


”Meskipun baginda mengampuni hamba, tetapi hamba tidak berani mengampuni diri hamba!” kata Yo Koan dengan suara keras, ia lantas angkat pedangnya dan membacok kakinya sendiri.


”Lihatlah!” kata Yo Koan pada sekalian pembesar. ”Orang yang jadi hamba tidak memegang aturan rajanya. Ini boleh menjadi contoh!”


Menyaksikan kejadian itu Raja Couw menggoyangkan kepalanya, ia merasa kagum pada kejujuran hati Yo Koan. Kemudian ia perintahkan orangnya menyimpan kaki Yo Koan di gudang negara, sebagai tanda bahwa Raja Couw telah bersalah karena tidak mau mendengar nasihat menterinya yang setia, dan memerintahkan tabib mengobati Yo Koan.


Di kemudian hari sekalipun Yo Koan sudah sembuh, ia tidak bisa berjalan lagi. Raja Couw mengangkat dia menjadi Tay-hu untuk memegang kekuasaan di pintu kota dan memberi gelar kehormatan kepada Yo Koan yang disebut Tay-pek.


Kemudian Raja Couw mengizinkan Raja Coa kembali ke negerinya. Tetapi sebelum Raja Coa berangkat; Raja Couw mengadakan perjamuan untuk mengucapkan selamat jalan kepada Raja Coa.


Di ruang pesta Raja Coa dilayanin oleh perempuan-perempuan cantik, di antaranya ada seorang yang memainkan tetabuhan pi-pe (gitar Tionghoa), parasnya sangat elok sekali.

__ADS_1


Sambil menunjuk ke arah perempuan elok yang main pi-pe itu Raja Couw berkata pada Raja Coa.


”Perempuan itu parasnya paling elok di antara semua perempuan di istanaku ini. Aku rasa sangat pantas dia menyuguhi secawan arak pada Kun-houw (Raja-muda).” Kata Raja Couw.


Sesudah berkata begitu Raja Couw memberi perintah pada perempuan cantik itu, supaya ia mengantarkan secawan besar arak untuk disu€guhkan kepada Raja Coa.


Raja Coa menyambut arak itu dengan gembira dan meminumnya sampai cawannya kering. Kemudian ia membalas menuangkan secawan besar arak, dengan sikap hormat menyuguhkannya kepada Raja Couw.


Raja Couw Bun Ong segera menenggak kering cawan araknya; ia tertawa terbahak-bahak menyatakan kegirangannya. Kemudian saking senang hatinya ia bertanya kepada Raja Coa Ai-houw.


”Apakah selama ini Kun-houw sudah pernah melihat kecantikan perempuan yang luar biasa atau belum?” kata Raja Couw Bun Ong.


Pertanyaan itu telah membangkitkan pikiran Coa Ai-houw. Dia ingat pada Raja Sit musuh besarnya. Dia sakit hati karena Raja Sit telah menipu dirinya. Akhirnya dia ditangkap oleh Raja Couw. Dia sangat sakit hati. Sekarang Raja Couw mengajukan pertanyaan tentang perempuan cantik. Dia pikir ini saatnya untuk membalas dendam pada Raja Sit.


”Eh! Benarkah begitu?” kata Raja Couw penasaran. ”Coba kau ceritakan kecantikannya itu?”


”Matanya seperti air kencana,” kata Raja Coa, ”mukanya serupa dengan bulan purnama, perawakannya tinggi dan bentuk tubuhnya sedang, gerak-geriknya ayu sekali, . . . wah! . . . aduh! . . . sudahlah! . . . pendeknya untuk dilihat kecantikannya tidak ada duanya!”


”Kalau aku bisa melihat sekali saja Sit Hu-jin, sekalipun aku harus mati pun, aku tidak penasaran!” kata Raja Couw dengan sangat kagum.


”Ha, ha, ha, kenapa harapan Sri Baginda begitu kecil!” kata Raja Coa menghasut. ”Buat keangkeran dan keagungan baginda dan negeri Couw, sekalipun puteri Raja Cee dan negeri Song, tidak sulit baginda mendapatkannya. Apalagi hanya perempuan yang tinggal di bawah pengaruh baginda seperti negeri Sit?”

__ADS_1


Mendengar umpan dan pujian dari Raja Coa, raja Couw Bun Ong girang sekali. Hari itu dia meneruskan pesta sampai puas. Sesudah perjamuan selesai, Raja Coa Ai-houw pamit pada Couw Bun Ong. Dia pulang ke negeri Coa.


Sepulang tamunya, Raja Couw ingat terus omongan Raja Coa, sehingga ia ingin sekali bisa mendapatkan Sit-kui, isteri Raja Sit itu.


Pada suatu hari......


Raja Couw pura-pura mengatakan hendak jalan-jalan memeriksa ke negeri jajahannya. Sesudah berkunjung ke tempat-tempat lain, ia juga berkunjung ke negeri Sit.


Dengan sangat hormat Raja Sit menyambut kedatangan Raja Couw di tengah jalan. Raja Couw dipersilakan datang ke istana Raja Sit. Di istana Raja Sit mengadakan pesta besar. Ketika semua sudah mulai duduk bersantap, Raja Sit mengangkat secawan arak untuk disuguhkan kepada Raja Couw sebagai ucapan selamat.


Raja Couw menyambut cawan arak itu, tetapi sambil tersenyum ia berkata, "Tempo hari aku sudah berjasa membalaskan saakit hati isteri anda. Sekarang kebetulan aku sampai di sini. Apa boleh aku minta isterimu datang menemuiku untuk menyuguhkan secawan arak kepadaku?"


Raja Sit Tetapi karena ia sangat takut pada pengaruh Raja Couw yang besar kuasanya, sekalipun merasa keberatan untuk meluluskan permintaannya, ia tidak berani membantah. Apa boleh buat ia perintahkan orangnya pergi memberitahukan hal itu kepada isterinya.


Selang tidak berapa lama kedengaran suara anting-anting dan gelang beradu. Itu menandakan seorang perempuan berpakaian rebo sedang berjalan mendatangi. Tidak lama terlihat Nyonya Sit-kui maju ke hadapannya untuk mengucapkan terima kasih.


Raja Couw Bun Ong membalas hormatnya, tetapi matanya terus mengawasi dengan tajam ke arah Sit-kui yang elok itu.


Kemudian Sit Kui mengambil cawan batu giok yang ia isi dengan arak. Dengan sangat hormat ia suguhkan arak itu kepada Raja Couw. Waktu itu kelihatan putihnya tangan Sit-kui serupa dengan warna cawan batu giok arakyang ada di tangannya itu. Melihat kecantikan Nyonya Sit-kui begitu luar biasa, Raja Couw merasakan semangatnya bagaikan terbang ke angkasa. Dengan hati kebat-kebit ia berpikir.


"Astaga! Betul-betul omongan Raja Coa tidak salah sedikitpun. Perempuan yang begini cantik aku cuma bisa melihatnya di dalam sebuah lukisan puteri kahyangan. Aku tidak menyangka ternyata bisa juga ada di antara manusia. Akh, ini perkara yang ganjil sekali!" pikir Raja Couw.

__ADS_1


Dia akan menyambut cawan arak itu dari tangan Sit-kui. Sebaliknya Sit-kui kelihatan tenang dan tidak bingung atawa gugup sedikitun. Dia serahkan cawan arak itu kepada budak istana untuk disampaikan kepada Raja Couw, yang terus diminum kering araknya oleh sang raja.


Nyonya Sit-kui memberi hormat lagi, lalu minta permisi akan masuk kembali ke dalam keraton.Raja Couw meluluskan permohonannya itu, tapi mata Raja Couw terus mengincar pada wanita manis yang berjalan begitu elok dan masuk ke dapalm keraton. Ketika itu kelakukan Raja Couw mirip seekor luak atau musang sedang mengincar seekor ayam yang gemuk. Perbuatan ini tentu saja membuat gondok hati Raja Sit. Tetapi dia tidak berani berkata apa-apa lantaran sangat takut.


__ADS_2