
Selang enam hari kemudian......
Sengaja setiap hari selama seminggu Liang Ci pergi menantang perang, tetapi tentara Jiong tidak mau keluar untuk bertempur.
Ketika itu Koan Tiong memperkirakan Pin Si Bu bersama Houw Ji Pan dan pasukannya sudah hampir sampai di sarang bangsa San-jiong. Koan Tiong segera menyiapkan angkatan perangnya untuk menerjang ke benteng musuh.
Segera Koan Tiong memerintahkan semua anak buahnya mengangkut sekarung tanah. Tanah tersebut dimaksudkan untuk menutupi galian yang dibuat oleh musuh. Begitu pasukan Cee sampai, mereka harus melemparkan karung berisi tanah itu ke dalam lubang atau parit. Lama kelamaan parit itu akan tertutup kembali dan bisa dilewati oleh kereta perang tentara Cee.
Begitu persiapan pasukan Cee yang besar jumlahnya sudah beres, mereka bergerak maju sambil bersorak-sorak. Ketika mereka sudah sampai di mulut gunung, sambil bersorak-sorak dan mengangkuti tanah mereka singkirkan batu besar dan balok yang menghadang di mulut jalan.
Ketika serangan yang bergelombang itu datang, Raja Bit Louw dan Jenderal Sok Moai sedang enak-enak berpesta-pora sambil minum arak. Mendengar suara teriakan dan sorak-sorai yang riuh sekali, mereka kaget. Tiba-tiba anak buahnya datang melapor.
"Tentara Cee sudah datang menyerang masuk dari mulut gunung." kata anak buahnya.
Dengan sangat tergopoh-gopoh raja San-jing bersama Jenderal Sok Moai mengambil senjata mereka. Mereka naik ke atas kuda hendak menyambut serangan musuh. Tetapi di saat sedang panik datang laporan baru.
"Dari sebelah barat pasukan Cee datang menyerang!" kata pelapor tersebut.
Mendengar kabar tersebut Jenderal Sok Moai bingung, karena yakin tidak akan mampu membendung serangan musuh yang bagaikan air bah itu. Buru-buru Sok Moai mengajak Raja Bit Louw melarikan diri ke arah tenggara.
Ketika Pin Si Bu melihat raja dan jenderal bangsa San-jiong kabur, dia mencoba mengejarnya.
Dia kejar mereka sampai beberapa li jauhnya, tetapi karena melihat jalan gunung tersebut sangat berbahaya, sementara orang San-jiong melarikan kudanya seperti terbang, Pin Si Bu tidak yakin bisa menyusul mereka. Maka apa boleh buat terpaksa Pin Si Bu kembali.
Dalam peperangan ini tentara Cee berhasil merampas perbekalan dan kuda-kuda serta kerbau, kambing maupun alat senjata musuh. Sedang perempuan-perempuan rampasan dari negeri Yan pun sudah bisa dibebaskan kembali. Karena tidak punya pilihan, rakyat bangsa San-jiong bersedia menyerah kepada Raja Cee Hoan Kong.
__ADS_1
"Ke mana kaburnya Raja kalian?" kata Cee Hoan Kong.
"Negeri kami bertetangga dengan negeri Kho-tiok, kami sangat rukun. Dulu Raja kami mengirim utusan untuk minta bantuan pada mereka. Tetapi sebelum bantuan datang, kami sudah dikalahkan oleh tuanku! Kami rasa mungkin Raja kami lari ke sana!" kata orang yang ditanya.
"Apakah negeri Kho-tiok itu kuat?" tanya Raja Cee. "Berapa jauhnya negeri itu dari sini?"
"Kho-tiok sebuah negara cukup besar terletak di sebelah tenggara," sahut orang itu. "Dari sini sekitar 100 li jauhnya. Di negeri itu ada sungai bernama Pi-ji, jika kita sudah menyeberangi sungai itu, maka kita sudah ada di tapal batas negeri Kho-tiok. Tetapi jalan dan pegunungannya sangat berbahaya!"
"Aku tidak peduli bagaimana berbahayanya," kata Raja Cee. "Aku pikir bangsa Kho-tiok sahabat bangsa San-jiong, pasti sama jahatnya! Aku tidak takut mereka kuat, tetapi kami harus menaklukkannya, baru aku puas!"
Mendengar niat Raja Cee ini, rakyat bangsa San-jiong jadi ngeri.
Ketika itu Kho Hek yang mendapat perintah dari Pao Siok Gee untuk mengangkut 50 kereta ransum sudah kembali. Hal ini menambah kegembiraan Raja Cee. Sesudah istirahat mereka kemudian meneruskan perjalanan mereka.
***
Mendengar pengaduan Bit Louw, Tap Li Oh terkejut. Dia bangunkan Bit Louw yang sedang berlutut di hadapannya.
"Aku menyesal belum sempat mengirim pasukan kepadamu," kata Tap Li Oh. "Baru-baru ini aku terserang penyakit, jadi agak kurang sehat. Aku tidak mengira serangan tentara Cee begitu cepat."
Raja Bit Louw tetap berduka.
"Untuk sementara kau boleh tinggal dulu bersamaku," kata Tap Li Oh melanjutkan ucapannya.
"Di negeriku terdapat sungai bernama Pi-ji, dalamnya sulit dijajaki. Mereka tidak akan mampu menyeberang sungai itu, jika mereka tidak memakai rakit untuk menyeberang. Mereka tidak akan sampai ke mari, kecuali punya sayap!
__ADS_1
Karena lama bertahan di seberang sana, lama-lama makanan mereka akan habis. Akhirnya terpaksa mereka harus mundur. Saat itu aku akan mengambil daerahmu yang sudah mereka duduki!" kata Tap Li Oh.
"Aku masih khawatir tentara Cee itu pandai-pandai. Mereka bisa membuat rakit sendiri," kata Hong Hoa.
"Aku rasa sepanjang tepi sungai harus kita jaga ketat! Selain mencegah musuh menyeberang, sebelum mereka bergerak sudah terpantau oleh kita."
"Pendapatmu tidak masuk akal," kata Tap Li Oh. "Seandainya benar mereka bisa membuat rakit sendiri, mustahil kita tidak mengetahuinya?!"
Raja Tap Li Oh tidak mempedulikan saran Jenderal Hong Hoa. Dia terlalu yakin pada kehebatan sungai Pi-ji. Akibatnya dia jadi lengah dan kurang siaga. Bahkan gerak-gerik musuhpun tidak mereka pantau. Malah dia ajak sahabatnya Bit Louw bersenang-senang.
Dikisahkan di pihak angkatan perang Cee.....
Ketika Raja Cee Hoan Kong dan pasukan perangnya sudah berjalan kira-kira 10 li jauhnya. Hoan Kong menyaksikan gunung berjajar-jejer menghadang di depannya.
Di sana-sini batu-batu besar dan terjal terhampar luas, semak belukar dan pohon-pohonnya sangat lebat. Keadaan medan seperti itu sungguh sangat menyulitkan bagi kereta perang tentara Cee bisa bergerak. Raja Cee jadi cemas bukan main.
Hanya Koan Tiong yang tetap tenang dan sedikit pun dia tidak gentar melihat keadaan itu. Dia tidak kehabisan akal. Koan Tiong terpekur mencari siasat.
Tidak berapa lama dia mulai mengeluarkan perintahnya.
"Di tempat ini kita harus membangun perkemahan tentara!" kata Koan Tiong. "Dengan demikian pasukan kita bisa istirahat dengan baik."
Segera anak buahnya membuat markas mereka dengan cepat. Sesudah selesai mereka pun istirahat. Ada yang masak nasi ada yang masak air minum dan sebagainya. Sesudah mereka makan kenyang dan cukup istirahat, kembali Koan Tiong mengeluarkan perintah.
"Sekarang kalian kumpulkan kayu-kayu kering, rumput kering dan apa saja yang mudah terbakar! Sesudah itu barang-barang yang mudah terbakar itu letakan di hutan rimba itu. Lalu kalian bakar!" kata Koan Tiong.
__ADS_1
"Baik, Tiong-hu!" jawab anak buahnya.