LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 21


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Raja Cee Hoan Kong dengan angkatan perangnya sampai di kaki Gunung Niu itu.


Waktu itu dandanan Leng Cek masih seperti dulu, berbaju buntung, celana pendek, topi rombeng dan kaki telanjang. Dia berdiri di tepi jalan, sedikit pun tidak kelihatan takut atau gentar.


Ketika kereta Raja Cee sudah dekat, Leng Cek memukul tanduk kerbau sambil bernyanyi demikian:


"Di air sungai Ciang-long ada batu putih yang bercahaya gilang-gemilang,


"Di dalamnya hidup ikan Le yang satu kaki setengah panjangnya,


"Seum,ur hidup tidak bertemu Raja Giauw atau Sun yang suka pada kepandaian seseorang,


"Cuma berpakaian baju buntung dan celana pendek yang hanya sampai tulang betis,


"Dari pagi menggembala kerbau sampai tengah malam yang gelapnya bukan kepalang,


"Panjangnya malam begitu jauh sampai kapan baru datang pagi yang terang?"


Mendengar nyanyian itu Raja Cee Hoan Kong jadi keheranan, dia perintahkan orangnya memanggil Leng Cek dan dibawa menghadap ke depan keretanya.


"Hei, gembala kerbau! She apa kau dan siapa namau?" tanya Raja Cee Hoan Kong.


"Hamba she Leng nama hamba Cek," sahut Leng Cek dengan hormat.

__ADS_1


"Kau penggembala kerbau, mengapa berani sekali bernyanyi menyindir pemerintah?" kata Raja Cee.


"Hamba orang rendahan, mana berani hamba menyindir Pemerintah?"


"Aku adalah bawahan Kaisar Ciu. Aku membawa angkatan perangku akan menaklukan Raja Muda yang menentang kami. Pada saat rakyat hidup senang. rerumputan dan pohon tumbuh subur. Aku kira di zaman Raja Giauw dan Sun pun tidak seperti sekarang! Tetapi kau bilang tak sehebat di zaman Giauw dan Sun. Kau bilang malam yang panjang tak segera jadi pagi. Apa itu bukan namanya menyindir?" kata Raja Cee.


"Meski hamba orang dusun dan belum mengalami Zaman Kaisar Goiauw dan Sun yang katanya, salam sepuluh hari ada angin sekali , setiap lima hari turun hujan sekali. Sehingga rakyat bisa bekerja di sawah dengan tenang. Tetapi pada masa ini peraturan tidak beres. Pengetahuan tidak terpakai. Jika dikatakan lebih baik dengan zaman Giauw dan Sun, tentu saja hamba tidak mengerti. Sepengetahuan hamba, pada zaman Raja Giauw dan Sun membereskan para menteri dan pejabat, semua Raja Muda takluk. Orang-orang jahat disingkirkan, hingga negara aman sentausa. Tidak banyak bicara tetapi hukum berjalan sempurna. Dengan tidak usah marah keagungan nyata. Sekarang Tuanku ditinggalkan oleh Raja Song, Raja Louw pun bisa mendapatkan kembali tanahnya. Keadaan keuangan payah, tentara harus terus berperang. Bagaimana dikatakan rakyat tenteram? Hamba dengar Raja Giauw menyisihkan puteranya Tan Cu, tahtanya dia serahkan pada Sun. Tetapi Sun menolak dan bersembunyi di Lam-hoo. Akhirnya rakyat menyusulnya. Mengangkat dia menjadi Raja. Sebaliknya Tuanku membunuh kakak sendiri untuk menjadi raja. Menggunakan nama besar Kaisar Ciu untuk menundukkan semua Raja Muda. Mana bisa Tuanku dibandingkan dengan Raja Giauw dan Sun?" kata Leng Cek.


"Hm, kurang ajar betul orang dusun ini! Mengapa kau begitu berani menghinaku!" sentak Raja Cee Hoan Kong karena gusar.


Kemudian ia perintahkan orangnya membunuh Leng Cek.


Pengikut Raja Cee Hoan Kong yang ada di sebelah kiri dan kanannya segera menangkap Leng Cek, lalu mereka ikat.


Melihat kelakuan Leng Cek bukan seperti orang sembarangan, Sek Peng berkata pada Raja Cee, "Orang ini sekali pun menghadapi maut, tidak gentar! Takut pun tidak. Pasti dia bukan pengembala biasa. Harap Tuanku ampuni dia!"


Mendengar Sek Peng berkata begitu, Raja Cee Hoan Kong diam sejenak. Dia mencoba menahan amarahnya. Kemudian dia perintahkan orangnya membukakan ikatan Leng Cek.


"Aku harap kau tidak menjadi kecil hati," kata Cee Hoan Kong dengan muka manis. "Aku cuma mau menguji sampai di mana keberanianmu? Sekarang aku tahu sesungguhnya kau seorang terpelajar yang pandai."


Leng Cek merogoh ke dalam saku bajunya. Dia persembahkan sepucuk surat kepada Raja Cee.


Cee Hoan-kong segera membuka dan melihat surat itu, bunyinya kira-kira begini:

__ADS_1


"Hamba telah terima titah akan memimpin pasukan perang, ketika di tengah jalan sampai di gunung Niu San, hamba bertemu dengan seorang dari negeri We she Leng namanya Cek. Orang ini bukan pengembala kerbau sewajarnya, tetapi seseorang yang mempunyai kepandaian yang bisa dipakai di zaman ini, maka baiklah Tuanku pakai padanya untuk membantu. Jika kita melepaskanya sehingga terpakai oleh lain negeri, niscaya di kemudian hari kita akan menyesal."


Hormat dari, KOAN TIONG.


Sehabis membaca surat itu Cee Hoan Kong memandang ke arah Leng Cek dan berkata: "Kau sudah mendapat sepucuk surat dari Tiong-hu, mengapa tadi tidak mau kau tunjukan kepadaku?"


"Setahu hamba, Raja yang adil memilih orang untuk pembantunya, sedang seorang hamba yang pandai juga mencari majikan yang bersedia membelanya," sahut Leng Cek. "Andai kata Tuanku benci karena kata-kata hamba yang jujur dan Tuanku cuma suka pada puji-pujian saja. Karena gusar Tuanku menghukum mati hamba. Sekali pun hamba harus mati tidak akan hamba keluarkan surat dari Siang-kok ini."


Mendengar ucapan Leng Cek, Raja Cee Hoan Kong kagum bukan main, dia suruh Leng Cek naik kereta di belakang Raja Cee.


Ketika hari sudah sore, tentara Cee segera mendirikan perkemahan untuk tempat mengaso


Di kemah Raja Cee Hoan Kong minta disedikan pakaian dan sebuah kopiah. Dengan sangat terburu-buru. Si Tiao yang mengerti tanda rahasia dari rajanya, langsung bertanya, "Tuanku minta pakaian dan kopiah, apakah Tuanku hendak memberi pangkat kepada Leng Cek?"


"Ya, betul," sahut Cee Hoan Kong.


"Hamba rasa sebaikmya Tuanku jangan terburu nafsu," kata Si Tiao "Dari negeri Cee ke negeri We tidak seberapa jauhnya. Mengapa Tuanku tidak menyuruh orang mencari tahu dulu asal-usulnya? Seandainya benar dia pandai dan terpelajar, hamba rasa masih belum terlambat memberinya pangkat."


"Orang ini punya kepandaian, tetapi adatnya sangat keras. Boleh jadi di negeri We dia punya masalah," kata Raja Cee Hoan Kong. "Jika kita menyelidikinya dan bisa mengusut kesalahannya, tetapi kita beri juga dia pangkat. Sungguh sayang sekali, maka aku rasa tidak perlu mencari tahu lagi asal-usulnya."


Diterangi oleh api lilin yang terang Raja Cee Hoan Kong mengangkat Leng Cek menjadi Tay-hu dan disuruh mengurus pemerintahan negeri Cee bersama-sama dengan Koan Tiong.


Leng Cek segera bertukar pakaian dan mengenakan kopiah kebesaran. Sesudah berdandan rapi dia menghaturkan terima kasih kepada Raja Cee Hoan Kong.

__ADS_1


***


__ADS_2