LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 48


__ADS_3

Sehari di muka sebelum upacara sembahyang dilaksanakan, di paseban rumah pejabat she Liang (turunannya Liang Cu) diadakan acara hiburan musik Tionghoa.


Menteri Liang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik sekali. Pangeran Pan mencintai gadis itu. Bahkan saat memadu cinta Pangeran Pan berjanji, jika kelak dia menjadi raja, maka gadis itu akan diangkat menjadi permaisurinya.


Suatu saat ketika ada keramaian di rumah pejabat Liang itu. Nona Liang naik ke tangga yang disandarkan ke tembok. Maksudnya untuk menonton permainan musik tersebut.


Pada saat si nona manis sedang memuaskan matanya, ketika itu Gi Jin Kiat (tukang kuda bernama Kiat) melihat dia. Gi Jin Kiat menghampiri dan sengaja bernyanyi demikian nyanyiannya:


"Kembang To yang bagus dan licin, di musim Tang (salju) yang dingin bertambah wangi,.


Dalam hati seperti terkancing, tapi tidak bisa melewati tembok yang tinggi,.


Ingin sekali bersama-sama memiliki sayap, berubah menjadi belibis berjalan pergi."


Ketika itu Pangeran Pan pun ada di rumah menteri Liang. Dia juga hendak menyaksikan keramaian itu. Ketika dia dengar nyanyian itu, dia jadi curiga. Kemudian pergi keluar hendak menyelidik. Saat itu Pangeran Pan melihat Gi Jin Kiat sedang bertingkah genit di hadapan kekasihnya.


"Akh, kurang ajar sekali jahanam ini!" gerutu Pangeran Pan dengan sangat marah.

__ADS_1


Pangeran Pan memerintahkan orangnya menangkap tukang kuda itu. Kemudian Gi Jin Kiat dicambuk 300 kali. Darahnya berhamburan di tanah.


Sesudah Gi Jin Kiat menangis sesambatan dan minta-minta ampun, barulah siksaan itu dihentikan.


Ketika Pangeran Pan pulang ke istana, dia memberi tahu ayahnya tentang kejadian itu.


"Karena Gi Jin Kiat melakukan pelanggaran, maka aku hajar dia setengah mati," kata Pangeran Pan.


Mendengar laporan Pangeran Pan, Raja Louw Cong Kong pucat wajahnya.


"O, Ayah jangan khawatir soal itu!" kata Pangeran Pan. "Dia manusia, aku pun manusia. Mengapa aku harus takut kepadanya!"


Dugaan Raja Louw Cong Kong ternyata benar terjadi. Sedikit pun tidak meleset. Karena dihajar, Gi Jin Kiat sakit hati kepada Pangeran Pan. Sebisanya dia hendak membalas dendam. Gi Jin Kiat kemudian melamar kerja kepada Pangeran Keng Hu. Karena Gi Jin Kiat mengetahui Pangeran Keng Hu sedang berusaha mendapatkan tahta, pasti pangeran itu berniat menyingkirkan Pangeran Pan, begitu pikir Jin Kiat.


Pada tahun berikutnya di musim Ciu, Raja Louw Cong Kong sakit keras. Dia yakin penyakitnya sulit disembuhkan kembali. Raja Louw merasa curiga melihat kelakuan Pangeran Keng Hu. Raja juga menduga pasti Pangeran Siok Gee ikut dalam komplotan itu. Raja Louw sengaja memanggil Pangeran Siok Gee. Raja Louw dengan berpura-pura bertanya.


"Menurutmu siapa yang pantas diangkat menjadi raja, apabila aku menutup mata?" kata Louw Cong Kong.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Raja Louw, Pangeran Siok Gee girang sekali. Kemudian Pangeran Siok Gee menjawab.


"Dari semua Pangeran, Pangeran Keng Hu-lah yang terpandai. Jika Pangeran Keng Hu yang menjadi raja, maka negeri Louw akan aman dan tentram. Karena sudah lumrah, ketika kandanya meninggal, sang adiklah yang menggantikan kedudukannya!" kata Siok Gee.


Jawaban Siok Gee membuat Raja Louw terperanjat. Tetapi dia diam saja. Sesudah Siok Gee meninggalkannya, buru-buru Raja Louw memanggil Pangeran Kui Yu menghadap. Kepada Pangeran Kui Yu baginda pun menanyakan siapa yang pantas menggantikan dirinya, jika dia wafat.


"Bukankah Tuanku dulu pernah berjanji hendak mengangkat Beng Jim menjadi permaisuri?" kata Pangeran Kiu Yu. "Sekarang sesudah Beng Jim tidak mendapatkan kedudukan itu, pantaskah Tuanku sekarang mengabaikan putranya?"


"Ya, kau benar. Tetapi Siok Gee memberi saran padaku, lebih baik aku mengangkat Keng Hu. Bagaimana pendapatmu?" kata Raja Louw Cong Kong dengan napas tersengal-sengal.


"Keng Hu seorang yang kejam, dia tidak kenal budi dan persaudaraan," kata Kui Yu. "Siok Gee menyarankan Keng Hu menjadi raja, karena dia saudara kandung Keng Hu. Mereka berkomplot, maka itu jangan Tuanku hiraukan sarannya. Sekali pun hamba harus mati, hamba tetap akan membela Pangeran Pan!"


Raja Louw Cong Kong mengangguk tanda setuju, tetapi tidak bisa bicara lagi. Baginda kelihatan sangat kelelahan.


Pangeran Kui Yu sangat sedih melihat penyakit kakaknya yang begitu berat. Dengan amat berat Kui Yu pamit. Kemudian Kui Yu memerintahkan budak istana pergi ke rumah Pangeran Siok Gee. Dia berpesan pada pesuruh itu.


"Katakan pada Pangeran, atas perintah Raja Louw Cong Kong meminta agar Pangeran Siok Gee menunggu di rumah Tay-hu Kiam Kui. Karena ada utusan Raja yang hendak datang ke tempat itu menemuinya!" kata Kui Yu.

__ADS_1


__ADS_2