LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 81


__ADS_3

Karena Raja Chin tahu benar Touw Goan Koan tidak pernah berbohong, Raja Chin terperanjat. Dia jadi ragu-ragu. Tapi Li Ki yang berdiri di belakang tirai, langsung berbisik.


"Goan Koan-lah yang mengajari Pangeran Sin Seng berbuat jahat. Mengapa Tuanku tidak segera memerintahkan algojo membunuhnya?" kata Li Ki.


Dengaan tidak berpikir panjang lagi karena hasutan Li Ki Raja Chin Hian Kong segera memerintahkan pada algojo supaya memukul kepala Touw Goan Koan dengan sebuah martil besar hingga binasa. Menyaksikan kekejaman di mata mereka, banyak menteri merasa ngeri dan sangat terharu menyaksikan Touw harus mati secara mengenaskan.


Sesudah itu persidangan ditutup dan semua menteri pun bubar.


Dorna Liang Ngo dan Tong Koan Ngo menemui Yu Si. Begitu sampai mereka bilang pada Yu Si.


"Beri tahu Permaisuri Li Ki karena Pangeran Tiong Ji dan Pangeran I Gouw masih sanak Pangeran Sin Seng, mereka harus segera disingkirkan." kata dorna itu.


Dengan tidak membuang waktu ketika ada kesempatan Yu Si diam-diam menemui Li Ki. Dia menyampaikan saran kedua dorna itu.


Malamnya kembali Li Ki merayu Raja Chin dan mengatakan, bahwa Pangeran Sin Seng saat melakukan kejahatan dibantu oleh Pangeran I Gouw dan Pangeran Tiong Ji.


"Jadi mereka juga termasuk orang berbahaya," kata Li Ki pada Raja Chin."Mungkin sesudah tahu Pangeran Sin Seng binasa, mereka akan datang menyerang ke negara Chin."


Mendengar desakan itu Raja Chin agak ragu. Dia tahu benar kedua putranya itu sangat baik. Tidak mungkin dia berniat jahat kepadanya. Maka dia abaikan saja masalah itu.


Esok harinya datang laporan pada Raja Chin, bahwa dua pangeran yaitu Pangeran I Gouw dari kota Kut dan Pangeran Tiong Ji dari kota Po akan datang; tetapi ketika mengetahui masalah yang terjadi atas Pangeran Sin Seng, mereka membatalkan niat mereka datang. Sekarang mereka kembali ke masing-masing negaranya.


Khabar itu membuat Chin Hian Kong marah, dia menduga boleh jadi kedua pangeran itu pun bersekongkol dengan Pangeran Sin Seng. Hari itu juga Raja Chin mengirim panglima Pu Te menangkap dua puteranya itu di masing-masing negaranya.


Mendengar kabar itu Ho Tut kaget. Dia panggil putranya yang bernama Ho Yan menghadap. Ketika Ho Yan sudah menghadap ayahnya, sang ayah bilang.


"Pangeran Tiong Ji tulang iganya menjadi satu; sedang anak-anakan pada bola matanya ada dua," kata Ho Tut. "Parasnya cakap dan angker, berbeda dengan orang kebanyakan. Ditambah lagi dia terkenal seorang yang sangat budiman. Di kemudian hari pasti dia bisa menjadi orang besar. Sekarang Pangeran Sin Seng sudah meninggal, menurut aturan dialah penggantinya. Sekarang lekas kau pergi ke Po, kau ajak dia melarikan diri ke lain negeri. Kau bersama Kandamu, Ho Mo, bantu dia sungguh-sungguh."


"Baik, Ayah," kata Ho Yan berjanji.


Sesudah pamit pada ayahnya Ho Yan langsung berangkat ke Po akan menemui Pangeran Tiong Ji.


Kedatangan Ho Yan danHo Mo membuat Tiong Ji jadi sangat terkejut. Dari Ho Yan-lah dia mendapat kabar tentang adanya bahaya atas dirinya.

__ADS_1


Saat Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan sedang berunding untuk melarikan diri; tidak diduga pasukan Put Te sudah keburu datang.


Ketika prajurit Po hendak menutup pintu kota untuk mencegah pasukan Chin masuk; tetapi dicegah oleh Pangeran Tiong Ji sambil berkata: "Titah Raja tidak boleh dilawan."


Put Te dengan leluasa bersama pasukannya masuk ke dalam kota Po dan langsung mengepung gedung Pangeran Tiong Ji.


Pangeran Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan melarikan diri lewat kebun belakang. Put Te yang menerobos masuk sempat melihat mereka, kabur. Dia cabut pedangnya lalu mengejar. Ho Mo dan Ho Yan melompat lebih dulu ke atas tembok, dari sana mereka menaikan Tiong Ji. Put Te sempat menjamret Pangeran Tiong Ji, tetapi yang kena hanya bajunya, namun karena kuatnya tarikan dua bersaudara Ho, sehingga baju itu robek. Beruntung Tiong Ji luput dari bahaya maut.


Karena tidak yakin bisa menyususul korbannya, apa boleh buat Put Te menyimpan sehelai kain baju Pangeran Tiong Ji. Kemudian memimpin tentaranya pulang dan akan memberi laporan pada Raja Chin.


Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan melarikan diri menuju ke negeri Ek, dan kedatangan mereka diterima oleh Raja Ek dengan senang hati.Tidak berapa lama di bawah kota terdengar suara derap kaki kuda dan riuhnya terikan orang yang minta dibukakan pintu. Mereka ada yang naik kuda dan banyak yang naik kereta perang.


Esok harinya........


Tong Koan Ngo dan tentaranya telah sampai, karena dia sudah mengetahui Sin Seng sudah mati, dia tangkap Touw Goan Koan dan dia masukkan ke dalam kerangkeng terus dibawa ke kota raja Chin.


Tatkala dorna itu menghadap pada Chin Hian Kong, ia bilang.


"Karena Pangeran Sin Seng sadar akan dosanya, dia telah bunuh diri dengan menjerat lehernya," kata Tong Koan Ngo. "Sekarang hamba bawa Touw Goan Koan menghadap pada Tuanku."


"O Tuhan! Sungguh ini masalah pelik dan sangat penasaran...." kata Touw Goan Koan. "Hamba tidak ikut bunuh diri bersama Pangeran, karena hamba ingin menjelaskan sesuatu kepada Tuanku. Pangeran Sin Seng hatinya bersih. Harap Tuanku ketahui, makanan yang dikirimkan oleh Pangeran, sudah lewat enam hari dan berada di istana. Jika bukan ditaruhi racun di istana ini, tidak mungkin itu dilakukan oleh Pangeran Sin Seng. Hamba berani bersumpah!"


Karena Raja Chin tahu benar Touw Goan Koan tidak pernah berbohong, Raja Chin terperanjat. Dia jadi ragu-ragu. Tapi Li Ki yang berdiri di belakang tirai, langsung berbisik.


"Goan Koan-lah yang mengajari Pangeran Sin Seng berbuat jahat. Mengapa Tuanku tidak segera memerintahkan algojo membunuhnya?" kata Li Ki.


Dengaan tidak berpikir panjang lagi karena hasutan Li Ki Raja Chin Hian Kong segera memerintahkan pada algojo supaya memukul kepala Touw Goan Koan dengan sebuah martil besar hingga binasa. Menyaksikan kekejaman di mata mereka, banyak menteri merasa ngeri dan sangat terharu menyaksikan Touw harus mati secara mengenaskan.


Sesudah itu persidangan ditutup dan semua menteri pun bubar.


Dorna Liang Ngo dan Tong Koan Ngo menemui Yu Si. Begitu sampai mereka bilang pada Yu Si.


"Beri tahu Permaisuri Li Ki karena Pangeran Tiong Ji dan Pangeran I Gouw masih sanak Pangeran Sin Seng, mereka harus segera disingkirkan." kata dorna itu.

__ADS_1


Dengan tidak membuang waktu ketika ada kesempatan Yu Si diam-diam menemui Li Ki. Dia menyampaikan saran kedua dorna itu.


Malamnya kembali Li Ki merayu Raja Chin dan mengatakan, bahwa Pangeran Sin Seng saat melakukan kejahatan dibantu oleh Pangeran I Gouw dan Pangeran Tiong Ji.


"Jadi mereka juga termasuk orang berbahaya," kata Li Ki pada Raja Chin."Mungkin sesudah tahu Pangeran Sin Seng binasa, mereka akan datang menyerang ke negara Chin."


Mendengar desakan itu Raja Chin agak ragu. Dia tahu benar kedua putranya itu sangat baik. Tidak mungkin dia berniat jahat kepadanya. Maka dia abaikan saja masalah itu.


Esok harinya datang laporan pada Raja Chin, bahwa dua pangeran yaitu Pangeran I Gouw dari kota Kut dan Pangeran Tiong Ji dari kota Po akan datang; tetapi ketika mengetahui masalah yang terjadi atas Pangeran Sin Seng, mereka membatalkan niat mereka datang. Sekarang mereka kembali ke masing-masing negaranya.


Khabar itu membuat Chin Hian Kong marah, dia menduga boleh jadi kedua pangeran itu pun bersekongkol dengan Pangeran Sin Seng. Hari itu juga Raja Chin mengirim panglima Pu Te menangkap dua puteranya itu di masing-masing negaranya.


Mendengar kabar itu Ho Tut kaget. Dia panggil putranya yang bernama Ho Yan menghadap. Ketika Ho Yan sudah menghadap ayahnya, sang ayah bilang.


"Pangeran Tiong Ji tulang iganya menjadi satu; sedang anak-anakan pada bola matanya ada dua," kata Ho Tut. "Parasnya cakap dan angker, berbeda dengan orang kebanyakan. Ditambah lagi dia terkenal seorang yang sangat budiman. Di kemudian hari pasti dia bisa menjadi orang besar. Sekarang Pangeran Sin Seng sudah meninggal, menurut aturan dialah penggantinya. Sekarang lekas kau pergi ke Po, kau ajak dia melarikan diri ke lain negeri. Kau bersama Kandamu, Ho Mo, bantu dia sungguh-sungguh."


"Baik, Ayah," kata Ho Yan berjanji.


Sesudah pamit pada ayahnya Ho Yan langsung berangkat ke Po akan menemui Pangeran Tiong Ji.


Kedatangan Ho Yan danHo Mo membuat Tiong Ji jadi sangat terkejut. Dari Ho Yan-lah dia mendapat kabar tentang adanya bahaya atas dirinya.


Saat Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan sedang berunding untuk melarikan diri; tidak diduga pasukan Put Te sudah keburu datang.


Ketika prajurit Po hendak menutup pintu kota untuk mencegah pasukan Chin masuk; tetapi dicegah oleh Pangeran Tiong Ji sambil berkata: "Titah Raja tidak boleh dilawan."


Put Te dengan leluasa bersama pasukannya masuk ke dalam kota Po dan langsung mengepung gedung Pangeran Tiong Ji.


Pangeran Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan melarikan diri lewat kebun belakang. Put Te yang menerobos masuk sempat melihat mereka, kabur. Dia cabut pedangnya lalu mengejar. Ho Mo dan Ho Yan melompat lebih dulu ke atas tembok, dari sana mereka menaikan Tiong Ji. Put Te sempat menjamret Pangeran Tiong Ji, tetapi yang kena hanya bajunya, namun karena kuatnya tarikan dua bersaudara Ho, sehingga baju itu robek. Beruntung Tiong Ji luput dari bahaya maut.


Karena tidak yakin bisa menyususul korbannya, apa boleh buat Put Te menyimpan sehelai kain baju Pangeran Tiong Ji. Kemudian memimpin tentaranya pulang dan akan memberi laporan pada Raja Chin.


Tiong Ji bersama Ho Mo dan Ho Yan melarikan diri menuju ke negeri Ek, dan kedatangan mereka diterima oleh Raja Ek dengan senang hati.Tidak berapa lama di bawah kota terdengar suara derap kaki kuda dan riuhnya terikan orang yang minta dibukakan pintu. Mereka ada yang naik kuda dan banyak yang naik kereta perang.

__ADS_1


Tiong Ji kaget dan curiga kalau-kalau yang datangi itu balatentara Chin yang sedang mengejar. Maka dia segera memerintahkan tentara melepaskan panah dari atas kota.


Tetapi orang-orang yang ada di bawah kota segera berseru: "Jangan, jangan memanah kami! Dengarlah Kong-cu, kami bukan bala-tentara yang hendak mengejarmu, sebenarnya kami ini pembesar dari negeri Chin yang hendak ikut pada Kong-cu!"


__ADS_2