
”Jangan, jangan Tuanku bunuh dia,” kata Kong-sun Ci. ”Chin ada negeri besar, kita tawan rajanya pasti rakyatnya jadi benci kepada kita, apalagi jika kita bunuh rajanya, pasti rakyatnya jadi bertambah gemas pada kita, boleh jadi Chin akan membalas pada Cin, akan terlebih hebat dari pada pembalasan Cin pada Chin.”
”Maksudku bukan hanya membunuh Chin Hui-kong, tetapi kita juga angkat Kong-cu Tiong Ji menggantikannya,” kata Kong-cu Ci pada Cin Bok-kong. ”Jika kita bunuh yang jahat dan menggantinya dengan yang baik, pasti rakyat Chin akan bersyukur kepada kita. Mengapa mereka harus dendam pada kita?”
”Kong-cu Tiong Ji seorang yang bijaksana, Ayah dan sanaknya dia sayangi. Ketika Ayahnya meninggal pun, dia tak mengharapkan apa-apa. Aku ragu, apakah dia mau menerima menjadi Raja Chin, padahal kita membunuh adiknya I Gouw? Tidak ada beda siapapun yang kita angkat di sana. Seandainya Tiong Ji mau menjadi Raja Chin, pasti dia juga akan memusuhi kita, negeri Cin karena saudaranya mati di tangan kita. Malah Tuanku membuat jasa baik Tuanku dulu lenyap.” kata yang lain.
”Kalau begitu, usir dia, penjarakan dia atau kembalikan dia ke negerinya, di antara tiga pilihan itu, yang manakah yang lebih baik?” tanya Cin Bok-kong.
”Memenjarakan dia cuma menyiksa seseorang, untuk kebaikan negeri Cin, apa gunanya? Mengusir dia pasti akan ada panglima atau menterinya yang akan menyambut kembali. Hamba rasa, lebih baik kembalikan dia ke negerinya.”
”Dengan demikian tidak membuat sia-sia jika waktu dan tenaga kita terbuang sia-sia saja.”
”Maksud hamba bukan mengembalikan dia dengan percuma saja. Lebih dulu kita minta dia menyerahkan lima buah kotamu yang ada di sebelah Timur sungai Hoang-ho, dan minta puteranya, Pangeran Gi, dijadikan jaminan di negeri kita. Baru kita buat perjanjian. Dengan demikian seumur-umur Chin Hui-kong tidak berani berbuat macam-macam pada Cin. Sudah lumrah kerajaan jatuh pada anaknya. Kita baiki Pangeran Gi, hingga turtun-menurun Raja Chin tunduk pada Cin!” kata Cu Song.
”Pendapat Cu Song sungguh bagus!” kata Cin Bok-kong sambil tertawa.
Segera dia perintahkan orangnya membawa Chin Hui-kong dan ditempatkan di istana di gunung Leng-tay-san, dengan dijaga oleh seribu orang.
Ketika perintah Raja Cin Bok-kong hendak dijalankan, mendadak kelihatan mendatangi sekelompok budak istana mengenakan pakaian berkabung.
Raja Cin Bok-kong terkejut, dia mengira terjadi apa-apa pada permaisurinya.
Baru saja dia ingin bertanya, itu budak keraton sudah keburu buka suara.
Baru saja Raja Cin Bok-kong hendak bertanya. Budak-budak itu sudah berkata.
”Atas perintah Hu-jin kami disuruh menemui Tuanku!” kata budak-budak itu. ”Hu-jin bilang Thian telah menurunkan bencana, hingga Raja Chin dan Cin bermusuhan. Sekarang Raja Chin telah ditawan, Hu-jin merasa malu. Jika Tuanku tidak mengampuni Raja Chin, maka dia ingin mati saja. Semua terserah Tuanku saja!”
__ADS_1
Mendengar keterangan itu bukan main kagetnya Raja Cin Bok-kong.
”Sekarang apa yang dilakukan oleh Hu-jin?” tanya Cin Bok-kong.
”Sejak mendengar kabar Raja Chin tertangkap, dia segera berpakaian berkabung” sahut budak itu, ”dia jalan kaki keluar istana, naik ke loteng Cong-tay dan tinggal di sana. Di kaki loteng dia tumpukkan kayu-kayu bakar kering. Ketika Hu-jin dan puteranya naik maupun turun, mereka lewat tumpukan kayu kering itu. Jika Raja Chin tiba, Hujin bersama putranya akan bunuh diri. Ini katanya demi cintanya pada saudaranya, Raja Chin!”
”O, untung Cu Song melarang membunuh Raja Chin!” kata Cin Bok-kong. ”jika tidak, Hu-jin pasti sudah binasa.”
Segera dia perintahkan budak membuka pakaian berkabungnya, dia suruh mereka pulang,
”Beri tahu pada Hu-jin Bok-ki, tidak lama lagi akan kuantarkan Raja Chin.” kata Cin Bok-kong.
Maka pulanglah para budak itu hendak melapor.
Raja Chin Hui-kong ditahan di gunung Leng Tay-san belum lama, pada suatu hari Kong-sun Ci menemuinya, dia menanyakan kesehatan Raja Chin.
”Sebenarnya pembesar Cin ingin membunuh Anda, tetapi karena Permaisuri Rajaku ingin bunuh diri jika Anda mati, maka Anda dibebaskan. Tetapi dengan syarat kau harus menyerahkan lima kota yang Anda janjikan dulu, dan jaminkan Pangeran Gi pada kami. Kau boleh pulang!”
Raja Chin Hui-kong girang, dia menghaturkan terima kasih pada Raja Cin yang murah hati, segera dia perintahkan Kiok Kip pulang ke Chin, untuk memberitahu Lu I Seng mengenai syarat pemulangannnya.
Begitu menerima kabar itu, Lu I Seng datang ke negeri Cin menemui Raja Chin Bok-kong, dia serahkan peta lima kota serta dilampiri data penduduk, bangunan dan bahan makanan yang ada di lima kota itu, juga Pangeran Gi diserahkan sebagai jaminan.
”Tetapi mengapa Pangeran Gi tidak ikut datang?” tanya Raja Cin Bok-kong.
”Karena di anatara pembesar Chin belu sepakat semua, maka sementara Pangeran Gi tinggal dulu di Chin,” kata Lu I Seng. ”Begitu Rajaku kembali, Pangeran Gi akan segera kemari!”
Ketika Raja Bok-kong menanyakan ketidak cocokan di antara pembesar Chin, oleh Lu I Seng dijawab.
__ADS_1
”Atas masalah ini ada dua pendapat, ada yang ingin mengangkat Pangeran Gi sebagai pengganti Raja Chin, ada yang berharap Raja Chin dibebaskan,” kata Lu I Seng.
Chin Bok-kong mengangguk mengerti. Segera dia perintahkan Beng Beng Si menetapkan batas-batas lima kota, dan menempatkan panglima serta tentara untuk menjaganya. Kemudian Raja Chin ditempatkan di perbatasan dengan status sebagai Tamu Agung.
Sesudah semua beres Raja Cin Bok-kong memerintahkan Kong-sun Ci mengantarkan Lu I Seng dan Raja Chin Hui-kong pulang ke negerinya.
Dua bulan lamanya Chin Hui-kong menjadi tawanan di negeri Cin. Di antara menteri-menterinya yang ikut sengsara semua ikut pulang, kecuali Kek Sia yang karena sakit telah meninggal di negeri Cin.
Tatkala Chin Hui-kong hampir sampai di kota Kang-ciu, Pangeran Gi dengan mengajak Ho Tut, Kiok Peng, Keng The, Ngo Sek, Su-ma Swat dan Put Te keluar untuk menyambut.
Raja Chin Hui-kong ketika melihat Keng The segera menjadi marah sekali, dia ingat saat keretanya terperosok di lumpur, Keng The tidak mau menolonginya, sehingga dia tertangkap, Segera dia panggil Keng The menghadap, sesudah dia damprat dengan sengit Keng The akan dihukum mati.
Ngo Sek dan Kek Pouw Touw meminta ampun, tetapi Nio Yu Bi yang juga jengkel pada Keng The, karena ketika hampir Raja Cin Bok-kong hampir terangkap, Keng The menyuruh dia menolong Raja Chin Hui-kong, sehingga Raja Cin lolos.
Chin Hui-kong memutusan Keng The harus dihukum mati.
Sesudah Chin Hui-kong ada di istana, dia memerintahkaan pada pangeran Gi agar ikut bersama Kong-sun Ci ke negeri Cin, Raja Chin minta agar jenazahnya Touw Gan I dikirim ke negeri Chin untuk dikuburkan.
Pada suatu hari......
Raja Chin Hui-kong memberitahu Kiok Peng, bahwa dia khawatir Tiong Ji menyerang ke negerinya,
”Kalau begitu lebih baik kita bunuh saja Tiong Ji,” usul Kiok Peng.
”Siapa yang diperintah untuk tugas membunuh dia?” tanya Raja Chin Hui-kong.
”Put Te saja,” kata Kiok Peng.
__ADS_1