
Ketika Ong Cu Cui menerima surat itu dan membacanya, dia jadi bingung dan tak tahu harus bagaimana.
Di antara kelima Tay-hu itu ada yang berkata begini.
"Tuanku, seumpama orang ada di atas punggung harimau, tidak mungkin bisa turun tanpa menghadapi bahaya, begitu kata pepatah, bukan? Maka apa patut orang yang sudah menjadi Kaisar disuruh menjadi meneteri lagi? Ucapan Raja The itu terlalu menghina pada Tuanku, harap Baginda jangan mempedulikannya!"
Mendengar hasutan itu Ong Cu Tui jadi sangat gusar, dia usir utusan The tersebut.
Utusan itu pulang ke negerinya, dan menyampaikan laporannya pada rajanya.
Raja The memui Baginda Ciu di Lek-ip atau Lek-shia. Kemudian Raja The mengejar Baginda ke ibu kota negeri The. Sesudah diadakan pesta besar dan Raja The menyerahkan berbagai hadiah pada Baginda, baru Baginda kembali ke kota Lek-shia.
Waktu itu tahun ke-tiga pemerintahan Baginda Ciu Hui Ong.
Pada musim Tang (gugur) Raja The mengirim utusan ke negeri Kek untuk mengajak Raja Kek bersama-sama mengerahkan angkatan perang mereka menolong Baginda; ajakan tersebut diterima baik oleh Raja Kek.
Pada tahun ke-empat dari pemerintahan Baginda Hui Ong, Raja The mengumpulkan tentaranya di tanah Ji (tanah negeri The). Pada bulan Si-gwe (bulan empat Imlek), mereka mengiring Baginda dan mengerahkan tentaranya menyerang ke kota raja Ciu.
Kui Kok, Pian Kek, Cu Kim, Ciok Ku dan Ciam Hu dengan susah payah mengatur penjagaan di kota raja. Tetapi rakyat negeri Ciu yang kurang senang pada Ong Cu Tui, mendengar Baginda Hui Ong datang mereka bersorak-sorak gembira. Suaranya gemuruh bagaikan suara guntur. Mereka berebutan membukakan pintu kota dan menyambut kedatangan Baginda Ciu Hui Ong tersebut.
Waktu itu Kui Kok sedang menulis surat untuk minta bantuan ke negeri We. Sebelum surat selesai, terdengar suara lonceng dan genderang dibunyikan. Kemudian datang laporan.
"Baginda Ciu Hui Ong sudah kembali dan menjadi raja."
Kui Kok kaget bukan main sampai kursi yang diduduknya bergetar. Karena takut dan ngeri dia menggorok lehernya dengan sebilah pedang.
__ADS_1
Ciok Kui dan Cu Kim binasa dalam keributan itu. Pian Hek dan Ciam Hu tertawan oleh rakyat mereka diserahkan kepada Baginda Ciu Hui Ong. Sedang Ong Cu Tui dengan Sek Sok berhasil kabur. Untung mereka terkejar dan ditawan oleh tentara Kek dan The. Semua pengkhianat itu kemudian dihukum mati semuanya.
Setelah Baginda Ciu Hui Ong naik tahta kembali, dia memberi hadiah kepada Raja The berupa tanah-tanah dimulai dari Houw-bouw terus ke timur.Sedang Raja Kek diberi hadiah tanah di Ciu-coan dan tempat arak.
Kedua raja itu mengucapkan terima kasih. Sesudah itu mereka pamit pada Baginda, masing-masing memimpin tentaranya kembali ke negerinya.
Di tengah jalan Raja The Le Kong jatuh sakit, setelah pulang ke negerinya tidak berapa lama dia meninggal. Semua pembesar mengangkat Si Cu Ciat mejadi Raja The menggantikan Raja The Le Kong, beliau bergelar Bun Kong.
**
Pada tahun pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong ke-empat, di musim Ciu (Semi) bulan Cit-gwe (bulan tujuh Imlek). Permaisuri Bun Kiang jatuh sakit. Sakitnya keras dan tidak bisa diobati lagi. Maka tidak berapa lama Permaisuri Bu meninggal. Sebelum meninggal ketika sedang sekarat, beliau berpesan kepada Louw Cong Kong.
"Kau harus segera menikah dengan puteri dari negeri Cee. Ingat kau harus dengan sepenuh hati membantu Raja Cee dan jangan putus hubungan famili," kata Permaisuri Bun.
Sesudah ibunya meninggal Raja Louw Cong Kong sedih sekali. Dia makamkan jenazah ibunya dengan baik.
"Masa berkabung atas meninggalnya Lau-hu-jin Bun Kiang belum selesai, hamba rasa kurang pantas jika Tuanku langsung membicarakan soal perkawinan," kata Co We "Sebaiknya kita tunggu lagi sampai tiga tahun kemudian, sesudah lepas berkabung baru kita bicarakan urusan perkawinam itu. Hamba rasa masih belum terlambat."
"Tetapi ibuku berpesan aku harus segera menikah dengan puteri negeri Cee," sahut Louw Cong Kong. "Memang jika sedang berkabung segera menikah itu kurang pantas, cuma jika harus menunggu sampai tiga tahun lamanya, sesudah lepas berkabung itu terlalu lama. Sekarang aku mau bersikap adil, aku mau mengambil jalan tengah saja."
Semua menteri tidak ada yang berani membantah kehendak rajanya.
Tepat pada akhir tahun, Raja Louw merundingkan masalah perkawinannya. Dia mengutus orang untuk membicarakan perkawinan itu dan lamarannya kepada Raja Cee. Dia berjanji akan datang sendiri ke negeri Cee untuk melangsungkan pernikahannya. Raja Cee tidak setuju dan agak keberatan, karena Raja Louw belum lepas berkabung. Dia minta urusan pernikahan itu supaya ditunda saja dulu.
Sampai tahun pemerintahan Ciu Hui Ong yang ke tujuh, masalah pernikahan baru ditetapkan. Harinya dipilih di musim Ciu (Semi) karena dianggap hari baik.
__ADS_1
Waktu itu Louw Cong Kong sudah menjadi raja selama 24 tahun, dan umurnya sudah 37 tahun.
**
Ketika telah tiba saat pernikahan itu Raja Louw berangkat ke negeri Cee. Maka pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah. Sesudah selesai pernikahan, Raja Louw membawa Permaisuri Kang-si pulang ke negeri Louw. Permaisuri juga disebut Permaisuri Ai-kiang.
Sejak saat itu negeri Cee dan negeri Louw bersahabat kekal.
Suatu hari......
Raja Cee menggabungkan tentaranya dengan tentara Louw, maksudnya akan melabrak bangsa Ci dan menyerang bangsa Jiong (Mongol). Kemudian dua bangsa itu semuanya berhasil mereka kalahkan.
Pada tahun pemerintahan Ciu Hui Ong ke-sepuluh, bangsa Ci dan Jiong sudah tunduk benar di bawah pengaruh negeri Cee.
Melihat pengaruh negeri Cee semakin besar, Raja The Bun Kong jadi semakin khawatir. Buru-buru Raja The mengirim utusan untuk minta berserikat lagi.
Waktu itu semua negara-negara kecil, kecuali negeri Couw, semuanya sudah di bawah kekuasaan negeri Cee. Raja Cee Hoan Kong sangat senang. Raja Cee mengadakan pesta besar untuk menyenangkan anak buah dan tentaranya.
Setelah minum arak sampai mabuk, Pao Siok Gee sambil memegang cawan arak datang ke hadapan Raja Cee Hoan Kong. Dia menuang secawan arak untuk mengucapkan selamat kepada Raja Cee.
Raja Cee Hoan Kong menyambut arak itu yang terus dia minum hingga cawan itu kering.
"Hari ini aku senang sekali minum arak bersama kalian!" kata Raja Cee.
"Setahu hamba seorang Raja yang budiman dan bijaksana, baik dalam suka dan duka tidak melupakan kesusahan. Tuanku tidak lupa saat sebelum menjadi Raja; begitu juga Koan Tiong. Dia harus ingat saat dia masih dikerangkeng. Leng Cek jangan melupakan saat dia masih jadi penggembala kerbau." kata Pao Siok Ge.
__ADS_1
Buru-buru Raja Cee Hoan Kong bangkit dari tempat duduknya sambil memberi hormat kepada Pao Siok Gee.
"Banyak terima kasih untuk nasihatmu! Jika semua menteri tidak melupakan kesengsaraan aku pun gembira." Kata Raja Cee.