
Pi The Hu jadi terkejut.
”Eh ada apa ini, mengapa kau berkata begitu?” tanya Pi.
”Cu-Kong menyangka aku membantu Li Kek membinasakan He Ce dan Tok Cu, dia hendak menjatuhkan hukuman padaku, sekarang bagaimana baiknya?”
”Lu dan Kiok yang memegang kekuasaan, mengapa kau tidak minta pertolongan mereka?” kata Pi The Hu.
”Aku hendak dihukum, semua itu ulah kedua jahanam itu!” kata Youw Gan I. Jika bisa aku ingin menelannnya, apa gunanya minta tolong pada mereka?”
”Lalu apa maumu?”
”Pangeran Tiong Ji sangat baik, orang terpelajar semua suka membantu dia, semua rakyat negeri pun ingin dia yang menjadi raja. Selain itu Raja Cin juga benci pada raja yang sekarang. Karena dia melanggar janji. Jika mau apa saja boleh Tay-hu perintahkan aku, misalnya menemui Pangeran Tiong Ji. Untuk membujuk Kong-cu Tiong Ji melawan dengan kekuatan dari dua negeri Cin dan Ek mengusir Chin Hui-kong!”
Mendengar ucapan Touw, Pi The Hu kaget. Tetapi dia tetap tidak segera mempercayai kata-kata Touw.
Tetapi Touw Gan I terus berusaha meyakinkan Pi The Hu yang akhirnya terjebak juga.
”Apa benar kau punya niat seperti itu?” kata Pi The Hu dengan hati berdebar.
Touw Gan I gigit salah satu jari tangannya, sehingga mengeluarkan darah, dia mengangkat sumpah.
”Jika aku berhati serong, biarlah seluruh kaum keluargaku habis seluruhnya!” kata Touw Gan I.
Melihat sikap Touw Gan I yang sungguh-sungguh, Pi The Hu baru yakin.
”Besok aku akan mengadakan pertemuan,” kata Pi The Hu akhrinya. ”Nanti masalah ini akan kami putuskan.”
Pada esok malamnya, Touw Gan I pergi kembali ke rumah Pi The Hu, di sana dia melihat Ki Ki, Kiong Hoa, Ke Hoa dan Tiauw Coan sudah sampai lebih dulu, dan ada lagi Siok Kian, Lu Hu, Tek Kiong dan Tian Ki, yaitu kerabat Pangeran Sin Seng, dengan Pi The Hu dan Touw Gan I jumlahnya sepuluh orang. Di situ mereka mengatur meja sembayang dengan minum darah mengangkat sumpah, bahwa sama-sama akan mengangkat Pangeran Tiong Ji menjadi raja.
__ADS_1
Sesudah mengangkat sumpah, Pi The Hu mengajak kawan-kawannnya minum arak, sampai semuanya mabuk baru berpisah pulang ke masing-masing rumahnya.
Kejadian ini diam-diam oleh Touw Gan I dilaporkan pada Kiok Peng.
Kiok Peng jadi girang, dengan muka manis dia berkata. ”Kalau cuma kau punya omongan saja tidak ada buktinya, maka kau harus mendapatkan surat Pi The Hu, dengan demikian baru bisa jatuhkan hukuman kepadanya.”
Esok malamnya Touw Gan I datang lagi ke rumah Pi The Hu. Kebetulan Pi ingin mengirim surat untuk Pangeran Tiong Ji.
Surat itu memang sudah lama disediakan oleh Pi The Hu. Dalam itu sudah dicantumkan sepuluh nama, dan sembilan orang sudah membubuhkan tanda tangannya, cuma tinggal Touw Gan I seorang yang belum menanda tangani surat itu.
Touw Gan I mengambil pit dan membubuhkan tanda tangannya.
Pi The Hu segera memasukkan surat itu ke dalam sampul dan segera ditutup dengan rapih, kemudian diserahkan pada Touw Gan I, serta dipesan harus berhati-hati jangan sampai rahasia itu bocor.
Touw Gan I girang karena sekarang dia telah mendapatkan bukti yang diinginkan.
”Mampuslah kalian!” pikir Touw Gan I.
Setelah Kiok Peng membuka dan memeriksa surat itu, dia menjadi girang sekali, lalu dia suruh Touw Gan I bersembunyi di dalam rumahnya, sedang surat itu ditaruh di dalam tangan bajunya. Dengan tidak ayal lagi dia temui Lu I Seng. Mereka pergi menemui Kok-kiu Kek Shia, untuk melaporkan adanya gerakan rahasia itu.
”Jika tidak segerea menyingkirkan orang-orang yang hendak berkhianat itu, maka negara akan kacau!” kata Lu I Seng.
Malam hari itu juga Kek Shia pergi mengetuk pintu istana, setelah berjumpa dengan Raja Chin Hui- Kong, dia segera menceritakan bahwa Pi The Hu dan kelompoknya hendak berkhianat, maka ia minta besok pagi jika Chin Hui-Kong bersidang di istana boleh langsung menjatuhkan hukuman pada mereka. Buktinya adalah surat itu.
Esok harinya, Chin Hui- Kong mengadakan sidang di istana, sedang Kiok Peng dan Lu I Seng sudah menyembunyikan beberapa orangnya di bagian dalam istana.
Sesudah semua pembesar memberi hormat, Chin Hui Kong segera memanggil Pi The Hu menghadap.
”Aku tahu kau hendak menyingkirkan aku untuk mengangkat Pangeran Tiong Ji!” begitu kata Chin Hui-Kong dengan geram. ”Sekarang aku mau tanya hukuman apa kau inginkan?”
__ADS_1
Ketika Pi The Hu mau menyahut, Kiok Peng sudah segera mencabut pedangnya dan berteriak.
”Kau memerintahkan Touw Gan I membawa surat untuk mengundang Tiong Ji, untung rejeki Rajaku besar, Touw Gan I sudah tertangkap di luar kota dan kami mendapatkan surat itu! Orang yang ikut berkhianat berjumlah sepuluh orang! Sekarang Touw Gan I sudah mengaku, kau tidak usah banyak bicara lagi!”
Chin Hui-kong segera melemparkan surat itu di atas meja.
Lu I Seng segera mengambilnya maka sesuai yang namanya tertulis di situ, dibacakan satu persatu.
Secara serempak diadakan penangkapan besar-besaran.
Di antara para penanda tangan hanya Kiong Hoa yang tinggal di rumah tidak datang ke istana, tetapi dia juga disuruh ditangkap.
Delapan menteri yang ada di situ jadi saling pandang dan kaget tidak mengira rahasia mereka telah bocor. Mereka sudah tidak punya harapan akan lolos dari kematian.
Chin Hui-Kong segera memanggil algojo untuk mengggiring delapan orang itu dibawa keluar istana untuk ditebas batang lehernya.
Sementara itu Kiong Hoa yang ada di rumahnya. setelah mendengar Pi The Hu dan yang lain-lain sudah dihukum mati, dia segera datang ke istana untuk menerima hukuman mati, sehingga tanpa ditangkap lagi dia menyerahkan diri.
Chin Hui-Kong yang memang kejam segera mengeluarkan perintah untuk menghukum mati Kiong Hoa.
Anak Pi The Hu, Pi Pa namanya, ketika mendengar ayahnya sudah dibunuh, dengan tidak ayal lagi dia segera pergi ke negeri Cin.
Rupanya Chin Hui-Kong masih penasaran, segera hendak membasmi kaum Li, Pi dan lain-lain kaum keluarganya. Tetapi untung kekejaman Chin Hui-Kong bisa dicegah oleh Kiok Peng, sehingga Chin Hui-Kong membatalkan niatnya. Ia mengangkat Touw Gan I menjadi Tiong-tay-hu serta diberi hadiah sawah di Hui-kui tiga ratus petak.
Pi Pa yang lari ke negeri Cin lalu menghadap pada Raja Cin Bok-kong, dia ceritakan apa yang sudah terjadi, dan dia minta supaya Raja Cin Bok-kong mengerahkan pasukan perang menyerang ke negeri Chin. Tetapi Kian Siok dan Pek Li He menyatakan tidak setuju.
”Jangan Tuanku, jika Tuanku memerangi Chin, sama juga Tuanku membantu menteri memerangi rajanya. Ini jadi kurang baik di mata para raja. Kita tunggu saja sampai di negeri Chin timbul kekacauan. Saat itu baru kita serang mereka!” kata Kian Siok.
Raja Cin Bok- Kong menurut dia tidak setuju pada usul Pi Pa, tetapi Pi Pa dipakai dan bekerja menjadi menteri di negeri Cin.
__ADS_1
***