LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 56


__ADS_3

Ketika pasukan gabungan bersama Raja Heng masuk ke dalam kota, mereka hanya menyaksikan kobaran api raksasa yang menghabisi rumah penduduk kota. Sedang bangsa Tek sudah kabur semua.


Raja Cee Hoan Kong mengeluarkan perintah untuk memadamkan api kebakaran.


"Apakah kota ini masih layak ditinggali?" tanya Raja Cee.


"Aku rasa tidak bisa lagi, karena bangsa Tek telah merusakannya," sahut Raja Heng dengan terharu.


"Sekarang bagaimana pendapatmu? Mau memperbaiki kota yang hancur, atau mau membangun yang baru?" tanya Raja Cee.


"Rakyat kami semua kabur ke tanah I-gi. Jika Tuanku merasa kasihan pada kami, kami akan membangun kota baru di I-gi saja," kata Siok Gan.


Raja Cee Hoan Kong meluluskan permohonan Raja Heng, dia perintahkan tentara ketiga negara untuk membantu membangun kota baru di I-gi. Raja Cee juga mengirim berbagai binatang peliharaan untuk bibit seperti sapi, kerbau, kuda, ayam dan sebagainya. Ini dimaksudkan agar kota yang baru itu sempurna adanya.


Raja negeri Heng, Sio Gan bersama rakyatnya jadi girang sekali.


Setelah urusan di negeri Heng jadi beres, Raja Song dan Raja Co pamit pada Raja Cee hendak pulang ke negerinya. Tapi Cee Hoan Kong mencegahnya, dia ajak mereka menolong negeri We. Karena negeri Heng sudah dibuatkan kota baru, seharusnya negeri We pun dibuatkan kota. Ajakan ini diterima baik oleh Raja Song dan Raja Co.


Berangkatlah pasukan tentara tiga negara mereka berangkat dari negeri Heng pergi ke negeri We.


Ketika Raja We Bun Kong mendapat kabar Raja Cee Hoan Kong akan datang ke negaranya, dia segera datang menyambut. Raja Cee sangat senang melihat Raja We hidupnya demikian sederhana.


Raja Cee Hoan Kong memberitahu maksud kedatangannya, yaitu hendak memperbaiki kota Raja We.


Kemudian bertanya pada Raja We Bun Kong.


"Kota mana yang anda setujui untuk kota raja?" kata Raja Cee.


"Aku berniat mendirikannya di Couw-kiu," sahut We Bun Kong. "Cuma biaya mendirikannya tidak kecil. Hamba rasa biaya sebesar itu tidak mungkin bisa dipikul oleh kami, sebuah negara yang hampir musnah!" kata Raja We.


"Tidak usah kau cemaskan masalah itu," kata Raja Cee. "Semua biaya pembangunan. Biar aku yang tanggung!"


Raja Cee Hoan Kong memerintahkan tentara dari tiga negara pergi ke Couw-kiu. Mereka ditugaskan untuk mendirikan ibukota di sana. Sedang semua bahan dan biaya didatangkan dari negeri Cee.


Sesudah kota selesai dibangun, Cee Hoan Kong mempersilakan Raja We meninggalinya. Tentu saja Raja We girang dan sangat berterima kasih pada Cee Hoan Kong.


Sesudah semua beres, raja-raja itu kembali ke negerinya masing-masing.


Oleh karena Raja Cee Hoan Kong telah membangun kembali tiga buah negara yang hampir musnah. Pertama dia telah mengangkat Hi Kong menjadi Raja Louw, membangun kota I-gi untuk negara Heng. Membangun kota Couw-kiu untuk negara We. Maka ketiga negara itu menganggungkan Kerajaan Cee. Dari kelima negara, Cee Hoan Konglah yang terhitung paling terkenal. Di antara Ngo Pa (Lima Raja Jago), Cee Hoan Kong adalah jagonya.

__ADS_1


***


Waktu itu Raja Cee sangat terkenal, tetapi di negeri Couw, Couw Seng Ong mengandalkan Leng-i Pangeran Bun (Touw Kok O-to) untuk mengurus pemerintahan negaranya. Dengan demikian negaranya jadi makmur dan tentaranya sangat kuat. Tidak heran jika Raja Couw Seng Ong senantiasa berniat merebut kedudukan sebagai Jago di Tiongkok.


Sejak Couw Seng Ong mendengar Raja Cee telah membantu Raja Louw, dia jadi kurang senang. Dia khawatir negaranya akan berada di bawah para Raja Muda yang tergabung dengan negeri Cee itu.


"Aku berpendapat, Raja Cee tidak boleh dibiarkan berbuat semena-mena," kata Couw Seng Ong pada Chu Bun. "Dia hanya berpura-pura menyiarkan kebajikan, padahal dia memikat hati para Raja Muda agar takluk kepadanya. Sedang aku tinggal statis di bagian timur sungai Han-sui. Dengan demikian kebaikanku tidak membangkitkan kebaikan. Sedang kegagahanku pun tenggelam di mata para raja muda. Aku sangat malu. Itu sebabnya aku ingin mencoba kekuatan Raja Cee itu!"


"Jangan, kita belum pantas untuk berselisih dengan negeri Cee," kata Chu Bun. "Buat mendapatkan gelar Hong Pek, Raja Cee telah bekerja keras hampir 30 tahun lamanya. Dengan menggunakan alasan hendak menjunjung tinggi "Dewan Kerajaan Ciu", maka banyak Raja-raja Muda yang bersedia takluk kepadanya. Itu sebabnya kita belum boleh bermusuhan dengannya. Letak negeri The ada di antara bagian Selatan dan Utara. Negeri itu mirip tenggorokan daerah Tiong-goan (Tiongkok). Manakala Tuanku punya niat hendak menjagoi di Tiong-goan, jika belum mendapatkan negeri The pasti tidak akan berhasil."


Raja Couw memerintahkan panglimanya memimpin 200 kereta perang dan pasukannya menyerang ke negeri The.


Ketika mendengar Raja Couw menyerang, Raja The sangat khawatir dia perintahkan Tam Pek memimpin pasukan Tje menjaga pintu kota. Lalu mengutus orang untuk minta bantuan kepada Raja Cee.


Ketika utusan negeri The sampai dan melaporkan keadaan negaranya. Serta meminta pada Raja Cee agar membantu mereka. Raja Cee memanggil semua Raja Muda dalam perserikatannnya agar membantu negeri The.


Ketika Touw Ciang maju sampai ke perbatasan negeri The, dia kaget saat mendengar pasukan bantuan dari negeri Cee telah datang. Maka karena tak akan sanggup melawan, dia menarik mundur pasukannya. Raja Couw Seng Ong mendengar kahabr ini. Dia marah kepada Touw Ciang yang tanpa berperang sudah mundur. Dia loloskan pedang di pinggangnya yang dia serahkan pada Touw Liam.


"Segera kau berangkat, penggal kepala Touw Ciang!" kata Couw Seng Ong.


Touw Liam terpaksa menerima pedang itu. Tetapi walau bagaimana dia adalah kakak Touw Ciang. Mana tega dia membunuh adik sendiri. Ketika bertemu dengan adiknya, Touw Liam menceritakan perintah Couw Seng Ong agar membunuh dia. Tentu saja Touw Ciang kaget.


Touw Ciang senang dia turuti nasihat kakaknya itu.


"Terima kasih, Kak." kata Touw Ciang.


Dia bagi tentaranya menjadi dua bagian. Dia memimpin pasukan depan. Sedang Touw Liam memimpin pasukan belakang.


Dalam perjalanan kembali ke negeri The, Touw Ciang melarang tentaranya membunyikan genderang maupun mengibarkan bendera mereka. Diam-diam mereka maju menyerang dan masuk kembali ke perbatasan negeri The. Saat itu kebetulan dia betemu dengan Tam Pek yang sedang memeriksa kereta perang mereka.


Mendengar tentara musuh datang, Tam Pek tidak mengetahui musuh dari mana, karena dia tidak menduga Touw Ciang bakal kembali lagi. Dengan tergesa-gesa dia pimpin pasukannya untuk melakukan perlawanan.


Saat Tam Pek asyik bertarung melawan Touw Ciang, datang Touw Liam membantu Touw Ciang. Diserang dari dua jurusan Tam Pek kaget dan kebingungan. Pasukan The jadi kacau-balau.


Karena dikepung dari dua jurusan. Tam Pek yang gugup agak lengah, dia terhajar oleh ruyung milik Touw Ciang. Dia terguling dan ditangkap oleh tentara Touw Ciang.


Touw Liam berhasil mengobrak-abrik pasukan The hingga berantakan. Sesudah berhasil menawan Tam Pek, Touw Ciang akan maju terus menyerang tentara The.


Tetapi Touw Liam mencegah niat adiknya itu.

__ADS_1


"Kita sudah menang, lebih baik kembali saja. Kau pun sekarang sudah luput dari hukuman mati Raja Couw!" kata Touw Liam.


Nasihat sang kakak kembali diturut oleh Touw Ciang. Lalu dia pimpin pasukannya pulang.


Begitu sampai di negeri Couw dia menghadap pada Raja Couw Seng Ong.


"Touw Ciang! Aku dengar kau telah mundur dari medan perang. Sekarang kau berani datang menemuiku!" kata Raja Couw.


"Memang benar hamba mundur, tetapi itu cuma siasat hamba untuk kembali memukul musuh, Tuanku. Buktinya hamba menang!" kata Touw Ciam berbohong.


"Ya, kau boleh bilang begitu!" kata Raja Couw Seng Ong dengan hati masih mendongkol. "Karena kau berhasil menangkap panglima musuh, maka kuampuni kesalahanmu! Negeri The belum takluk, mengapa kau sudah menarik mundur angkatan perang kita?"


"Karena tentara hamba sedikit, jika maju terus hamba khawatir gagal, sehingga merusak nama baik tentara Couw," sahut Touw Ciang.


Dia kaget dan hatinya berdebar-debar ditegur begitu.


"O, kau gunakan alasan tentaramu sedikit," kata Raja Couw dengan marah. "Nah, sekarang aku tambah dengan 299 kereta perang dan tentara. Kau harus berangkat lagi jika kau tidak bisa mengalahkan Kerajaan The, kau jangan kembali lagi ke sini!"


"Tuanku, izinkan aku ikut dengan adikku ke medan perang," kata Touw Liam. "Jika adikku tidak bisa mengalahkan Kerajaan The, maka jika adik hamba tak berhasil menaklukan negeri The. Dia akan hamba ikat dan akan hamba bawa ke hadapan Tuanku!"


"Baik, kau kuzinkan pergi bersamanya. Kau boleh bawa 400 kereta perang dan tentara untuk memerangi negeri The!" kata Couw Seng Ong.


Touw Liam diangkat menjadi Jenderal Besar, sedang Touw Ciang menjadi pembantunya. Mereka berangkat bersama-sama ke negeri The.


Ketika Raja The mendengar kabar Tam Pek tertangkap oleh musuh, dia perintahkan anak buahnya pergi ke negeri Cee untuk minta bantuan.


Mendengar khabar itu, Koan Tiong berkata pada Raja Cee Hoan Kong.


"Dalam beberapa tahun ini, Tuanku telah menolong negeri Yan, membereskan kekacauan di negeri Louw, membangun kota untuk negeri Heng, dan menyempurnakan negeri We, sehingga kepribadian Tuanku tersiar di seluruh negeri. Keangkeran Tuanku termasyur di kalangan Raja-raja Muda. Sehingga jika Tuanku akan menggunakan tenaga mereka, mereka siap membantu. Jika Tuanku ingin menyelamatkan negeri The, serang saja negeri Couw. Tetapi jika mau menyerang negeri Couw, Tuanku harus membuat perserikatan dengan semua Raja-raja Muda." Kata Koan Tiong.


"Jika kita harus mengadakan pertemuan dengan semua Raja-raja Muda, itu akan makan waktu," kata Raja Cee. "Dengan demikian orang-orang Couw sempat melakukan persiapan. Maka akan sulit kita menang melawan mereka!"


"Bukankah sudah lama Tuanku berniat melabrak negeri Coa, karena dia membantah tidak mau tunduk di bawah perintah Tuanku?" kata Koan Tiong. "Letak negeri bersambung dengan negeri Couw. Jika kita gunakan alasam hendak menghajar negeri Coa, tetapi sesampai di sana kita berbalik menyerang negeri Couw. Pasti orang Couw tidak akan menyangka kita akan menyerang mereka! siasat ini dinamakan : Bergerak saat musuh tidak menduga."


Raja Cee Hoan Kong mengangguk dan setuju pada saran Koan Tiong ini. Dia segera menghubungi semua Raja Muda agar bersiap-siap. Mereka harus menunggu perintah dan langsung bergerak.


Pada suatu hari.......


Raja dari negeri Kang dan negeri Ui mengirim utusan minta berserikat dengan negeri Cee.

__ADS_1


Sebelum meluluskan permintaan itu, Raja Cee Hoan Kong berunding dulu dengan Koan Tiong.


__ADS_2