
Li Ki pura-pura kaget sekali, dia berlari ke ruang tengah.
"Oh, Allah! Oh, Allah!" Li Ki berseru sambil menengadah ke langit. "Negeri Chin ini milik Pangeran Sin Seng, Ayahnya sudah tua, mengapa dia sampai tidak sabar menunggu. Mengapa dia tega akan meracuni Ayahnya sendiri?"
Sesudah berkata begitu, entah dari mana datangnya, perempuan itu meneteskan air matanya. Dia berlutut di hadapan Raja Chin Hian Kong, sambil meratap dia berkata lagi.
"O Pangeran Sin Seng sungguh kejam! Karena aku dan putraku, dia tega meracuni Tuanku! Kalau begitu, biarlah aku yang makan daging beracun dan arak beracun itu!" kata Li Ki. "Kalau aku sudah mati barangkali hatinya akan senang!"
Sesudah itu dia berlari ke meja akan mengambil arak dan makanan beracun dan pura-pura akan menyantapnya. Raja Chin Hian Kong yang ada di dekatnya, segera merampas dan melemparkan makan itu ke lantai. Begitu geramnya Raja Chin waktu itu, hingga dia tidak bisa berkata apa-apa. Napasnya jadi sesak oleh amarah yang meluap-luap.
Li Ki yang cerdik segera menjatuhkan diri di lantai, sambil menangis sesambatan. Kemudian dengan suara terharu dia berkata lagi.
"Tidak kusangka...Pangeran Sin Seng demikian kejamnya! Ayah sendiri mau dibunuhnya!" kata Li Ki. "Ketika di taman kau rayu aku, karena aku tolak kau berbuat nekat!"
Raja Chin Hian Kong beberapa lamanya bengong saja. Dia berusaha menentramkan hatinya yang panas. Kemudian dia pegang tangan Li Ki erat-erat.
"Sudah, jangan menangis, mari bangun, aku akan bicarakan masalah ini dengan semua menteriku," kata Raja Chin. "Akan aku hukum anak durhaka itu setimpal dengan perbuatannya!"
Sesudah Li Ki bisa dibujuk dan reda tangisnya, saat itu juga Raja Chin ke istana. Dia kumpulkan semua menterinyaa untuk bersidang.
Sesudah semua menterinya berkumpul di istana, kecuali Ho Tut yang sedang berpergian, dan Pi The Hu karena sangat sibuk dan pergi ke luar kota, juka Li Kek yang memberi alasan kakinya sakit mereka tidak hadir.
Di depan menteri-menterinya Raja Chin memberi penjelasan, bagaimana Pangeran Sin Seng telah mengirim makanan beracun untuknya. Dan Raja Chin minta pertimbangan untuk memberi hukuman yang setimpal pada putranya itu.
Keterangan Raja Chin mendapat tanggapan yang berbeda-beda. Ada yang langsung percaya, tetapi kebanyakan ragu-ragu. Semua menteri jadi saling pandang dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Hanya dorna Tong Koan Ngo yang memihak pada Li Ki, segera maju ke hadapan Raja Chin Hian Kong dan berkata, "Jika Pangeran sudah begitu jahatnya, hamba bersedia menggantikan Tuanku untuk menghukum dia!"
Raja Chin yang sedang gusar langsung meluluskan permintaannya. Maka berangkatlah angkatan perang yang dipimpin oleh Tong Koan Ngo ke Kiok-ah.
__ADS_1
Diam-diam Ho Tut memata-matai gerakan di istana, ketika mengetahui Raja Chin akan menghukum Pangeran Sin Seng, diam-diam dia mengutus orang untuk memberitahu Pangeran Sin Seng di Kiok-ah.
Mendapat kabar dari Ho Tut itu Pangeran Sin Seng jadi terkejut. Segera dia menemui gurunya dan melaporkan hal itu pada Touw Goan Koan gurunya.
"Suhu, bagaimana pendapatmu tentang racun dalam makanan untuk Ayahku?" kata Sin Seng.
"Makanan itu sudah berada di istana selama enam hari, aku yakin orang istana yang menaruh racun ke dalam makanan itu," kata Touw Goan Koan. "Maka Pangeran harus melawan. Buktikan bahwa kau tidak bersalah. Jangan pasrah saja! Buktikan bahwa bukan kau yang berbuat jahat!"
"Aku kira semua ini perbuatan ibu-tiriku Li Ki. Jika kubuka rahasianya, dan aku tahu Ayahku tanpa Li Ki pasti tidak enak makan dan tidak enak tidur," kata Sin Seng dengan suara berduka.
"Jika aku melawan dalam masalah ini dan aku tidak bisa menang, pasti dosaku jadi semakin besar, dan jika aku beruntung bisa menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi, dan Li Ki harus dihukum mati.
Maka kebencian Ayahku padaku tidak akan reda. O Tuhan, sungguh malang nasibku. Lebih baik mati saja aku!"
"Bagaimana jika kau kabur saja ke negeri lain dan menunggu kesempatan yang baik, baru muncul kembali?" kata Touw Goan Koan.
"Ayahku yang tanpa memeriksa dengan teliti kesalahanku langsung melabrakku," kata Sin Seng sambil menangis. "Jika aku kabur ke negeri lain, niscaya namaku jadi cacat benar-benar.
Bahkan menurunkan pamor Kerajaan Chin. Setahuku, seorang bijaksana tidak akan memburukkan rajanya sendiri. Orang pandai tidak sudi menanggung kesengsaraan. Sedang orang gagah tidak takut mati. Sudahlah, aku sudah mengambil ketetapan, cara paling baik aku harus mati!"
Sesudah berkata begitu, Sin Seng menulis surat balasan buat Ho Tut, yang bunyinya kira-kira demikian:
"Sin Seng dianggap berdosa, maka tidak sayang jiwa untuk menghindari kematian. Meski begitu, ayahku sudah tua, He Ce dan Tok Cu masih terlalu muda, pasti negara akan mendapat banyak kesusahan.
Karena itu harap Pe-hu dengan segenap tenaga membantu mengurus unrusan negara, sekalipun Sin Seng harus mati, tetapi tetap menjunjung tinggi budi Pe-hu."
Setelah surat dikirim, Sin Seng menghadap ke arah kota raja Chin, lalu memberi hormat, kemudian baru mengambil kain sutra dan menjeret lehernya sendiri hingga mati.
Bukan main sedihnya Tong Goan Koan waktu itu, sambil menangis dia urus jenazah Sin Seng.
__ADS_1
Esok harinya........
Tong Koan Ngo dan tentaranya telah sampai, karena dia sudah mengetahui Sin Seng sudah mati, dia tangkap Touw Goan Koan dan dia masukkan ke dalam kerangkeng terus dibawa ke kota raja Chin.
Tatkala dorna itu menghadap pada Chin Hian Kong, ia bilang.
"Karena Pangeran Sin Seng sadar akan dosanya, dia telah bunuh diri dengan menjerat lehernya," kata Tong Koan Ngo. "Sekarang hamba bawa Touw Goan Koan menghadap pada Tuanku."
Ketika Touw Goan Koan dihadapkan, oleh Raja Chin dia dipaksa supaya mengakui bahwa Sin Seng telah berniat jahat.
"O Tuhan! Sungguh ini masalah pelik dan sangat penasaran...." kata Touw Goan Koan. "Hamba tidak ikut bunuh diri bersama Pangeran, karena hamba ingin menjelaskan sesuatu kepada Tuanku. Pangeran Sin Seng hatinya bersih. Harap Tuanku ketahui, makanan yang dikirimkan oleh Pangeran, sudah lewat enam hari dan berada di istana. Jika bukan ditaruhi racun di istana ini, tidak mungkin itu dilakukan oleh Pangeran Sin Seng. Hamba berani bersumpah!"
Karena Raja Chin tahu benar Touw Goan Koan tidak pernah berbohong, Raja Chin terperanjat. Dia jadi ragu-ragu. Tapi Li Ki yang berdiri di belakang tirai, langsung berbisik.
"Goan Koan-lah yang mengajari Pangeran Sin Seng berbuat jahat. Mengapa Tuanku tidak segera memerintahkan algojo membunuhnya?" kata Li Ki.
Dengaan tidak berpikir panjang lagi karena hasutan Li Ki Raja Chin Hian Kong segera memerintahkan pada algojo supaya memukul kepala Touw Goan Koan dengan sebuah martil besar hingga binasa. Menyaksikan kekejaman di mata mereka, banyak menteri merasa ngeri dan sangat terharu menyaksikan Touw harus mati secara mengenaskan.
Sesudah itu persidangan ditutup dan semua menteri pun bubar.
Dorna Liang Ngo dan Tong Koan Ngo menemui Yu Si. Begitu sampai mereka bilang pada Yu Si.
"Beri tahu Permaisuri Li Ki karena Pangeran Tiong Ji dan Pangeran I Gouw masih sanak Pangeran Sin Seng, mereka harus segera disingkirkan." kata dorna itu.
Dengan tidak membuang waktu ketika ada kesempatan Yu Si diam-diam menemui Li Ki. Dia menyampaikan saran kedua dorna itu.
Malamnya kembali Li Ki merayu Raja Chin dan mengatakan, bahwa Pangeran Sin Seng saat melakukan kejahatan dibantu oleh Pangeran I Gouw dan Pangeran Tiong Ji.
"Jadi mereka juga termasuk orang berbahaya," kata Li Ki pada Raja Chin."Mungkin sesudah tahu Pangeran Sin Seng binasa, mereka akan datang menyerang ke negara Chin."
__ADS_1
Mendengar desakan itu Raja Chin agak ragu. Dia tahu benar kedua putranya itu sangat baik. Tidak mungkin dia berniat jahat kepadanya. Maka dia abaikan saja masalah itu.