
Raja Cee menemui Koan Tiong dan mereka bicara berdua saja. Dia menanyakan pendapat Koan Tiong mengenai saran dari Si Cu Hoa.
"O, jangan, Tuanku jangan percaya kata-katanya," kata Koan Tiong. "Semua Raja Muda tunduk pada kita, karena Raja Cee bisa dipercaya. Anak itu hendak melawan ayahnya, berarti dia anak durhaka! Kedatangannya atas perintah ayahnya dengan tujuan yang sangat baik. Jika dia usul begitu, berarti dia akan menimbulkan kekacauan. Tiga Tay-hu negeri The itu orang-orag budiman, di negerinya mereka bergelar "Sam Liang". Menurut hamba Si Cu Hoa pasti akan celaka!"
Raja Cee Hoan Kong manggut, kemudian dia menemui Si Cu Hoa kembali.
"Apa yang kau katakan tadi, sebenarnya masalah besar, maka sebaiknya suruh Ayahmu datang. Aku akan membicarakannya dengan baik." kata Raja Cee.
Saat itu juga paras Si Cu Hoa berubah merah dan sekujur tubuhnya berkeringat, karena dia tidak menduga bakal mendapat jawaban begitu. Mau tidak mau terpaksa dia pamit pada Cee Hoan Kong.
Karena Koan Tiong sangat benci apada niat buruk Si Cu Hoa, dia sengaja membocorkan rahasia itu pada orang-orang The.
Maka sebelum Si Cu Hoa sampai ke negaranya, sudah ada yang melaporkan kelakuan Si Cu Hoa itu kepada ayahnya.
Begitu menghadap dia berlutut di hadapan ayahnya.
"Bagaimana hasil kunjunganmu itu?" tanya Raja The pura-pura belum tahu.
"Raja Cee sangat marah karena Ayah tidak datang sendiri, dan Raja Cee tidak terima. Maka menurut saran hamba, lebih baik Ayah kembali berserikat dengan Raja Couw!" kata Si Cu Hoa.
Mendengar laporan itu bukan main marahnya Raja The.
"O, anak durhaka, hampir saja kau jual negeriku ini!" kata The Bun Kong dengan sangat gusar. "Aku sudah tahu semua kelakuanmu di sana. Hm! Sekarang kau karang cerita dusta di depanku! Pengawal tangkap dia dan seret masukan ke kamar gelap!"
Tetapi anak nakal ini tidak mau menyerah begitu saja, di dalam penjara dia coba membobol tembok hendak kabur. Tetapi keburu ketahuan oleh penjaga. Karena gusar Raja The lalu mengeluarkan perintah membunuh anak nakal itu.
__ADS_1
Raja The sangat hormat pada Raja Cee yang tidak mau mendengar hasutan dari anaknya. Maka dia kirim Khong Siok untuk menghaturkan terima kasih pada Raja Cee.
Dalam tahun ke-22 pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong, pada musim Tang (Gugur) Baginda Ciu Hui Ong sakit keras. Pangeran The sangat khawatir adik tirinya akan merebut tahtanya jika ayahnya meninggal. Diam-diam dia perintahkan Ong-cu Houw memberitahu Raja Cee, bahwa Baginda sedang sakit keras.
Selang beberapa hari kemudian Kaisar Ciu Hui Ong pun wafat.
Pangeran The berunding dengan Ciu Kong Khong dan Siao Pek Liauw, mereka mengambil putusan akan mengurus perkabungan dulu, sebelum mengurus pengangkatan pengganti Kaisar. Tetapi diam-diam mereka mengutus orang untuk menyusul Ong-cu Houw dan memberitahukan bahwa Kaisar telah meninggal.
Mendapat khabar itu Ong-cu Houw begitu sampai di hadapan Raja Cee, langsung melaporkan tentang wafatnya Kaisar Ciu tersebut. Raja Cee segera mengirim utusan ke berbagai negara untuk mengupulkan raja-raja di tanah Yao, tanah milik negeri Co.
Dalam pertemuan raja-raja itu Raja The Bun Kong ikut hadir.
Seluruh Perserikatan Raja-raja Muda sepakat mengajukan usulan ke Kerajaan Ciu. Lalu mereka mengirim delapan pembesar dari masing-masing negaranya.
Ong-cu Houw masuk ke Ibukota lebih dulu untuk melapor.
Pangeran The memerintahkan Siao Pek Liauw pergi menyambut semua Tay-hu atau menteri besar dari berbagai negara itu. Kemudian baru dia mengurus masalah berkabung.
Ketika semua semua menteri dari berbagai negara itu sudah bertemu dengan Kaisar yang baru. Ciu Kong Khong dan Siao Pek Liauw memimpin Pangeran The mengurus perkabungan ayahandanya.
Begitu upacara selesai, seorang Menteri Besar mewakili semua utusan lalu bicara.
"Atas perintah Raja-raja kami, kami datang untuk menyatakan ikut berduka-cita! Dengan ini pula atas kesepakatan Raja-raja kami, maka kami mohon Pangeran The naik tahta menjadi Kaisar Ciu!" kata juru bicara Menteri Besar itu.
Ucapan itu mendapat sambutan yang meriah. Pangeran The lalu duduk di tahta kerajaan. Sesudah itu semua menteri mengucapkan selamat kepada Kaisar Ciu yang baru, yang bergelar Ciu Siang Ong.
__ADS_1
Pada tahun berikutnya di musim Cun (Semi) sebagai tahun pertama pemerintahan Kaisar Ciu Siang Ong. Hari itu Kaisar Ciu hendak bersembahyang di kelenteng almarhum ayahnya. Dia juga mengatakan akan menganugrahkan sesuatu kepada Raja Cee yang membantu sepenuh hati kepadanya.
Mendengar niat Kaisar Ciu itu, Raja Cee mengundang seluruh Raja Muda untuk datang ke Kui-kiu.
Di tengah perjalanan menuju ke tempat pertemuan, Raja Cee Hoan Kong dan Koan Tiong membicarakan masalah Kerajaan Ciu.
"Dewan kerajaan Ciu, karena tidak sejak semula menentukan calon pengganti Kaisar, hampir saja terjadi huru-hara," kata Koan Tiong. "Sekarang Tuanku sendiri harus menetapkan ahli waris, agar di kemudian hari tidak timbul kekacauan."
"Aku mempunyai enam orang putra, semua dilahirkan oleh Selir-selirku," kata Cee Hoan Kong. "Yang paling besar Pangeran Bu Kui, tetapi yang paling pintar Pangeran Ciao. Ibu Pangeran Bu Kui yang bernama Tiang We Ki, telah merawatku paling lama, sedang Ek Ge dan Si Tiao mengusulkan agar aku mengangkat Pangeran Bu Kui sebagai ahli warisku. Tetapi aku sangsi karena aku sayang pada kepandaian Pangeran Ciao. Bagaimana pendapat Tiong-hu?"
Koan Tiong tahu Ek Ge dan Si Tiao adalah bangsa dorna, apalagi mereka senantiasa disayang oleh Tiang We Ki. Jika di kemudian hari Pangera Bu Kui menjadi raja, Koan Tiong khawatir kedua dorna itu akan mengacau dari dalam dan luar. Pasti negara Cee akan kacau!
Pangeran Ciao lahir dari Selir The Ki dan Koan Tiong ingat betul negeri The baru ikut berserikat. Maka jika Pangeran Ciao yang menjadi Putera Mahkota, maka hubungan negara Cee dan The akan bertambah erat.
Sesudah berpikir begitu, Koan Tiong baru berkata.
"Jika Tuanku hendak mewariskan Kerajaan Cee pada seorang yang pandai, lebih baik angkat Pangeran Ciao! Jika negara diurus oleh Raja yang tidak pandai, pasti tidak akan bagus!" kata Koan Tiong.
"Tetapi Bu Kui putraku yang tertua, apa dia tidak akan merebut kedudukan adiknya?" tanya Raja Cee.
"Tuanku ingat, untuk calon Kaisar Ciu saja Tuanku yang mengurus, karena Tuanku pemimpin seluruh raja-raja. Kumpulkan para Raja Muda kemudian tetapkan Pangeran Ciao agar semua Raja Muda membelanya! Lalu apa yang Tuanku khawatirkan lagi?" kata Koan Tiong.
Raja Cee Hoan Kong manggut.
"Baiklah," kata Raja Cee..
__ADS_1