LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 54


__ADS_3

Malam harinya, Raja We I Kong melakukan perondaan di markasnya. Ketika itu dia hanya sendirian saja. Dia ingin tahu bagaimana keadaan tentaranya. Saat itu dia mendengar tentaranya banyak yang bernyanyi demikian bunyi nyanyian itu:


"Burung bangau makan makanan enak, rakyat menghabisan tenaganya bekerja di sawah.


Burung bangau naik di kereta, rakyat memegang senjata mengadu jiwa.


Senjata bangsa Tek sangat tajam, sungguh tidak bisa diremehkan.


Jika dicoba melawan perang, dari sepuluh bagian tinggal hidup dua orang.


Burung bangau sekarang di mana adanya?


Membuat aku ngeri melakukan pekerjaan yang sia-sia!"


Mendengar nyanyian itu We I Kong jadi sangat berduka, dia tidak tahu bagaimana caranya harus berdaya agar bisa menggembirakan hati tentaranya.


Kesulitan jadi bertambah karena Ki Khong menjalankan aturan terlalu keras, sehingga balatentara menjadi semakin tidak senangi.


Ketika tentara bangsa Tek datang, Ki Khong melihat mereka cuma beberapa ribu orang saja banyaknya. Sedang pasukan itu tampak kalut, dia jadi girang sekali, dia pikir bangsa Tek itu pengecut dan tidak mengerti mengatur pasukan. Dia perintahkan tentaranya membunyikan genderang perang, dia maju menerjang tentara Tek


Bangsa Tek hanya melawan sebentar, mereka berpura-pura kalah dan lari serabutan.


Ki Khong mengira musuh tersebut kabur sebenarnya. Dia perintahkan anak buahnya mengejar.


Setelah sampai di Eng-tek, tiba-tiba terdengar suara sorakan riuh sekali, sesaat kemudian barisan We jadi terpecah menjadi tiga bagian. Dengan demikian mereka jadi tidak bisa saling membantu.


Tentara We memang tidak punya keberanian untuk berperang, begitu mengetahui mereka sudah terjebak ke dalam tipu-muslihat musuh, mereka langsung melemparkan senjatanya dan meninggalkan kereta perang untuk melarikan diri.

__ADS_1


Saat itu We I Kong sedang terkepung oleh tentara Tek dan kepungannya itu berlapis-lapis.


Melihat gelagat kurang baik itu, Ki Khong memberi saran pada We I Kong supaya merobohkan bendera kerajaan dan Raja We harus segera menyamar menjadi serdadu untuk melarikan diri.


Tetapi Raja We menolak saran tersebut.


"Aku tahu rakyat tidak menyuakiku. Jika aku tidak bisa menang perang, biarlah aku binasa di medan perang saja! Biar supaya rakyatku puas!" kata We I Kong dengan gagah.


Tidak lama tentara We di bagian depan maupun belakang semua sudah musnah.


Ui I telah binasa di tangan musuh. Khong Eng Ce karena ketakutan tertangkap oleh musuh, dia telah bunuh diri.


Makin lama tentara Tek mengepung makin hebat, sehingga I Pek pun terguling dari kereta perangnya karena terkena anak panah. Raja We I Kong dan Ki Khong sial mereka mati dicincang sampai hancur. Tay-su Liong Kut dan Le Kong tertangkap hidup-hidup. Ketika bangsa Tek hendak menbunuhnya, dia tersenyum dan berkata, "Aku berdua berpangkat Tay-su di negeri We, aku yang mengatur upacara sembahyang di negeri ini.


Jika kau mau mengizinkan kami pulang dulu, aku akan menyiapkan upacara sembahyang untuk keselamatanmu. Tetapi jika kau bunuh kami berdua, pasti malaikat dan iblis tidak suka padamu, hingga jangan harap kau bisa dapat negeri We."


Orang Tek memang percaya soal tahyul, mereka meluluskan permintaan itu. Begitu bebas kedua Taysu itu naik kereta mereka dan langsung kabur ke negeri We.


"Mengapa Raja kita tidak ikut kembali?" tanya Leng Sok.


"Cu-kong dan tentaranya sudah binasa sama sekali!" teriak Hoa Liong Kut. "Balatentara bangsa Tek sangat gagah perkasa dan jumlahnya besar sekali. Kita harus segera menyelamatkan diri!"


Leng Sok membuka pintu kota supaya kedua Tay-su bisa masuk.


"Tidak, aku tidak mau masuk ke dalam kota," kata Le Khong dengan suara terharu. "Aku keluar bersama-sama Cu-kong, tetapi masuk kota tidak bersama-sama dengannya, itu namanya bukan seorang menteri yang setia. Akh, sudahlah, lebih baik kita ikut Cu-kong kita ke alam baka!"


Sehabis berkata begitu dia cabut pedangnya dan menggorok lehernya hingga binasa.

__ADS_1


Tetapi Hoa Liong Kut berpikir lain seorang Tay-su sangat penting, jika dia ikut bunuh diri seperti Le Khong, dia khawatir buku sejarah akan hilang karena itu dia langsung masuk kota.


Leng Sok dan Ciu Ki Cu cepat-cepat mengajak keluarga Raja We ke istana, malam itu juga dengan kereta kecil mereka keluar dari kota menuju ke Timur. Begitu juga Hoa Liong Kut sambil memeluk buku hikayat negara We ikut melarikan diri.


Mendengar dua Tay-hu telah kabur mengajak keluarga raja pergi.


"Tahukah kau di mana Raja kita telah binasa?" tanya Hong Yan pada seorang budak.


Budak tersebut menunjuk ke onggokan daging berlumuran darah, sambil menangis dia berkata.


"Itulah jenazah Raja kita! Aku menyaksikan Raja kita dicincang oleh musuh! Aku bisa menyaksikannya karena aku pura-pura mati dan kakiku terluka parah." kata budak tersebut.


"O, Tuhan! Mengapa Cu Kong jadi begini!" ratap Hong Yan.


Hatinya hancur karena sangat terharu melihat mayat sudah tidak berbentuk itu.


Hong Yan memberi hormat ke arah tumpukan daging manusia itu.


"O sungguh malang nasibmu, Tuanku. Jenazahmu tidak ada yag menguburkan. Baiklah hatimu yang belum hancur akan kumasukkan ke tubuhku." kata Hong Yan.


Sesudah itu Hong Yan berpesan.


"Jika aku sudah mati, hati Raja We kau masukkan ke dalam tubuhku, sebagai ganti peti mati. Lalu kau kubur jenazah bersama hati Raja We di tengah hutan. Kelak jika ada Raja We yang baru, beritahu di mana kuburan hati Raja We. Kau ceritakan juga apa yang telah terjadi atas Raja kita." kata Hong Ya.


Sesudah itu dia cabut pedangnya lalu bunuh diri.


Anak buahnya kaget, tetapi tidak sempat mencegahnya.

__ADS_1


Pengikut Hong Yan menuruti apa pesan Hong Yan kepadanya. Sesudah hati Raja We dimasukkan ke dalam perut Hong Yan, mayat Hong Yan dinaikan ke atas sebuah kereta. Budak yang kakinya terluka itu juga dinaikan bersama. Sesudah menguburkan jenazah Hong Yan maka mereka menyeberangi sungai Huang-hoo akan mencari kabar ke mana perginya sanak famili Raja We.


**


__ADS_2