LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 12


__ADS_3

Ketika Pangera Gi Wat melihat tentara musuh datang ke Pok, dia membuka pintu kota keluar berperang dengan musuh.


Lam-kiong Ngiu dan Beng Hek ketika diserang oleh musuh dari luar dan dari dalam, mereka tidak tahan dan melarikan diri.


Sial bagi Lam-kiong Ngiu dia dibinasakan oleh Gi Wat. Tentara Song menyatakan bersedia menyerah. Beng Hek tidak berani pulang ke negeri Song, ia pergi menumpang di negeri We.


Tay Siok Pi mengajukan saran kepada Gi Wat.


”Sebaiknya tuanku memakai bendera tentara Song yang takluk, lalu mengatakan Lam-kiong Ngiu sudah berhasil merampas tanah Pok dan menangkap tuanku. Sekarang sedang pulang.” kata Tay Siok Pi.


Pangeran Gi Wat senang sekali, ia setujui dengan muslihat usul Tay Siok Pi tersebut.


Gi Wat memerintahkan beberapa orang menyamar berpakaian tentara Song, mereka berangkat lebih dulu. Di sepanjang jalan mereka menyiarkan khabar bohong tersebut.


Benar saja Lam-kiong Tiang Ban mempercayai khabar bohong itu. Dia tidak siaga malah senang sekali.


Setelah semua pangeran sampai di depan pintu kota, mereka masuk ke dalam kota. Mereka berseru-seru hanya ingin menangkap pengkhianat Tiang Ban seorang. Yang lain tidak perlu khawatir.


Melihat situasi yang kurang baik itu, Tiang Ban bingung. Buru-buru dia lari ke dalam istana hendak mengajak Pangeran Yu kabur.


Di istana ia melihat banyak tentara bersenjata lengkap siap bergerak. Tidak lama keluarlah seorang budak istana. Dia memberi tahu Tiang Ban.


”Pangeran Yu sudah dibinasakan oleh tentara para pangeran!” kata si pelapor.


Tiang Ban kaget seperti orang terkesima. Berulang-ulang ia menghela napas panjang-pendek. Dia merasa putus harapan. Kemudian dia berpikir di antara semua negeri hanya negeri Tan yang tidak akrab dengan negeri Song. Dia hendak melarikan diri ke negeri Tan. Tetapi tiba-tiba ia ingat pada rumahnya. Di sana masih ada ibunya yang sudah berusia 80 tahun lebih. Dia tidak tega meninggalkan ibunya. Maka pulanglah dia ke rumahnya.


Sesampai di rumahnya, buru-buru dia dukung ibunya. Kemudian ia naikkan ke gerobak kecil. Dengan tangan kanan mendorong gerobak. Sedangkan tangan kirinya memegang tian-keknya. Kemudian Tiang Ban menerjang keluar dari pintu kota.


Semua orang sudah tahu tenaga Tiang Ban sangat kuat, sehingga tidak seorang pun yang berani mencegah atau menghalanginya.

__ADS_1


Dari negeri Song ke negeri Tan jauhnya kira-kira 200 li lebih, ini bukan jarak yang dekat, malah sebuah perjalanan yang sangat jauh. Tetapi aneh sekali tenaga Tiang Ban begitu luar biasa. Dia mendorong kereta itu hanya dalam sehari saja sudah sampai di negeri Tan.


**


Ketika semua pangeran sudah membunuh Pangeran Yu, mereka mengangkat Pangeran Gi Wat menjadi raja bergelar Song Hoan Kong. Begitu naik tahta, Raja Song Hoan Kong mengangkat Tay Siok Pi menjadi Tay-hu, serta memilih orang yang pandai di istana itu dari kaum keluarganya. Mereka diangkat menjadi Kong-ciok Tay-hu. Sedang Siao-siok Tay Sin diperintahkan menjaga kota Siao. Raja Song Hoan Kong mengirim utusan pergi ke negeri We untuk minta izin menangkap Beng Hek. Selain itu Song Hoan Kong juga mengutus orang ke negeri Tan akan menangkap Lam-kiong Tiang Ban.


Pangeran Bak I, putera almarhum Raja Song Soan Kong dari isteri muda baginda, waktu itu usianya baru lima tahun. Dia berdiri di samping Raja Song Hoan Kong. Mendengar Raja Song Hoan Kong mengeluarkan titah tersebut, sambil tertawa dia berkata, ”Wah, jika putusannya begitu pasti Tiang Ban tidak akan datang!”


Raja Song Hoan Kong terheran-heran mendengar kata-kata Bok I, ia bertanya, ”He, anak kecil, kenapa kau berkata begitu?”


”Kegagahan, ialah sesuatu yang orang paling kagumi,” kata Bak I. ”Padahal kegagahan Tiang Ban sangat luar biasa, Song malah membuangnya. Pasti negeri Tan yang akan menerima dia. Pendeknya jika kita pergi dengan tangan kosong, bagaimana Raja Tan mau meladeni kita?”


Mendengar ucapan anak kecil yang cerdik itu, Raja Song Hoan Kong baru sadar. Segera dia perintahkan utusan yang akan pergi ke negeri Tan membawa barang bingkisan berharga untuk menyuap Raja Tan.


Ketika utusan Song sudah sampai di negeri We, utusan itu menyampaikan maksud kedatangannya pada Raja We Hui Kong.


Sebagian besar menteri-menterinya memberi saran lebih baik melindungi Beng Hek dan menolak permintaan dari Raja Song. Tetapi seorang menteri segera maju ke hadapan Raja We.


”Tidak, kita tidak boleh berbuat begitu!” kata Tay-hu Kong-sun Ji.


Dia tidak sepakat dengan menteri-menteri yang lain. Kemudian Kong-sun Ji melanjutkan pendapatnya.


”Di dunia ini kejahatan di mana pun sama saja;” kata Kong-sun Ji. ”Kejahatan di negeri Song dan kejahatan di negeri We sama saja! Jika membiarkan seseorang berbuat jahat, apa faedahnya bagi negeri We? Apalagi negeri We dan negeri Song bersahabat sudah lama; jika kita tidak menyerahkan Beng Hek kepada mereka, pasti Raja Song akan gusar. Jika hanya untuk menyelamatkan seorang penjahat dan tidak menghiraukan persahabatan yang sudah dijalin lama. Itu bukan suatu kebijakan yang harus dijalankan.”


”Ya, itu baru betul!” kata Raja We yang menyetujui saran dari Kong-sun Ji,


Kemudian Raja We memerintahkan orangnya segera mengikat Beng Hek untuk diserahkan kepada raja di negeri Song.


**

__ADS_1


Tatkala utusan Song yang satu lagi sudah sampai di negeri Tan, untusan ini pun menyerahkan barang antaran sebagai suap kepada Raja Tan Soan Kong. Untusan memberitahu bahwa Raja Song meminta tolong untuk menangkap Tiang Ban.


Dengan girang Raja Tan menerima barang bingkisan tersebut, dia berjanji akan mengantarkan Tiang Ban ke negeri Song.


Utusan Song mengucapkan terima kasih kemudian kembali ke negerinya.


Sepulang utusan Song itu Raja Tan Soan Kong berpikir.


”Tenaga Lam-kiong Tiang Ban kuat sekali, pasti sulit untuk ditangkap. Dia bakal melawan jika tidak menggunakan tipu-muslihat.” pikir Raja Tan.


Sesudah berpikir cukup lama, dia panggil Pangeran Kiat. Sambil berbisik Tan Soan Kong bertanya.


”Bagaimana cara yang harus kita jalankan untuk menangkap Tiang Ban tersebut?” kata Raja Tan.


Pangeran Kiat berjanji akan memperhatikan pesan Raja Tan itu. Begitu selesai bicara Pangeran Kiat pergi ke tempat Tiang Ban.


Dengan segala hormat Pangeran Kiat disambut baik oleh Tiang Ban. Pangeran Kiat dipersilakan duduk dan disuguhi air teh yang harum.


”Terus terang aku mau katakan, Rajaku mendapatkan Ciang-kun (Jenderal), sama dengan telah mendapatkan sepuluh buah kota saja,” kata Pangeran Kiat dengan manis. ”Pendeknya sekalipun orang Song datang dan mereka meminta sampai ratusan kali agar kami menyerahkanmu, Pasti Rajaku tidak akan mau meluluskannya. Karena Rajaku khawatir Ciang-kun curiga, maka beliau memerintahkan aku untuk menyampaikan pikirannya kepada Ciang-kun. Tetapi, apabila Ciang-kun berpendapat negeri Tan terlalu kecil, dan Ciang-kun berniat hendak tinggal di negeri yang lebih besar, Rajaku tidak keberatan. Beliau berharap Ciang-kun mau bersabar sampai beberapa bulan lagi. Karena Rajaku sedang membuatkan sebuah kereta untuk perjalanan Ciang-kun.”


”Oh, aku mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan Maha Raja Tan kepadaku!” kata Tiang Ban dengan air mata berlinang-linang. ”Jika Tuanku bisa memakaiku, buat apa aku mencari negeri lain?”


”Jika Ciang-kun sudi tinggal di sini, pasti Rajaku akan merasa sangat beruntung!” kata Pangeran Kiat dengan pura-pura girang.


Dia segera mengambil arak dan menyuguhkannya kepada Tiang Ban sebagai ucapan selamat.


Tiang Ban tidak hentinya mengucap terima kasih. Hatinya sangat girang. Dia minum arak itu dengan sepuas-puasnya. Sebentar-bentar dia tertawa terbahak-bahak.


Akhirnya Pangeran Kiat pura-pura mengangkat saudara dengan Tiang Ban. Sesudah minum arak beberapa saat lagi, barulah Pangeran Kiat permisi pulang.

__ADS_1


__ADS_2