
Esok harinya......
Melihat kota negeri Coa sepi Si Tiao memimpin pasukannya masuk ke dalam kota. Sesudah itu segera dia mengirim utusan melapor pada Raja Cee bahwa dia telah berhasil menduduki kota musuh.
Raja Coa Bok Kong yang melarikan diri telah sampai di negeri Couw, langsung dia menemui Raja Couw Seng Ong, kemudian dia menceritakan apa yang akan dilakukan tentara gabungan negeri Cee seperti yang diceritakan oleh Si Tiao kepadanya..
Raja Couw sebenarnya memang sedang mencari tahu tentang rencana serta gerak-geriknya pasukan Raja Cee. Sesudah memperoleh keterangan dari Raja Coa segera dia bersiap-siap. Dia akan menangkis serangan musuh yang akan segera tiba. Dia perinrahkan Touw Ciang agar pasukannya ditarik mundur.
"Batalkan serangan ke negeri The, tarik kembali seluruh angkatan perang kita!" perintah Raja Couw pada utusan.
Utusan itu segera menyusul Touw Ciang yang akan menyerang ke negeri The.
Dengan tergesa-gesa pasukan Couw yang dipimpin oleh Touw Ciang dan Touw Liam bergegas kembali ke negeri Couw. Kemudian disiagakan untuk menghadapi serangan mendadak dari tentara gabungan negeri Cee.
Selang beberapa hari kemudian, Raja Cee bersama pasukan perangnya sampai di kota Raja Coa. Di situ Si Tiao menyambut kedatangannya. Dia menceritakan bahwa dia berhasil merebut kota raja negeri Coa.
"Raja Coa sendiri telah melarikan diri. Mungkin ke negeri Couw." kata Si Tiao.
Selang beberapa hari kemudian pasukan perang dari tujuh negara sudah tiba. Mereka berturut-turut berdatangan. Pertama-tama Raja Seng Hoan Kong, Raja Louw Hi Kong, Raja Tan Soan Kong, Raja We Bun Kong, Raja The Bun Kong, Raja Cee Ciao Kong dan Raja Khouw Bok Kong, semua membawa pasukan perang yang tampaknya sangat gagah.
Di antara Raja-raja Muda itu, Raja Khouw Bok Kong yang sekalipun sedang sakit telah memaksakan diri memimpin pasukan perangnya datang lebih awal ke tanah Coa. Dengan demikian Raja Cee Hoan Kong menjadi sangat hormat dan memperhatikannya.
Pada malam itu penyakit Raja Khouw Bok Kong menjadi bertambah sangat berat, dan akhirnya meninggal dunia.
__ADS_1
Raja Cee bersama Raja-raja Muda yang lain menyatakan berduka-cita. Selama tiga hari mereka tinggal di negeri Coa untuk mengurus jenazah dan perkabungan atas wafatnya Raja Khouw. Raja Cee berpesan pada pejabat negara Khouw supaya jenazah Raja Khouw dibawa pulang ke negaranya. Dan diizinkan dimakamkan dengan upacara raja-raja agung.
Sesudah mengurus soal perkabungan, Raja Cee Hoan Kong baru mengajak semua Raja-raja Muda mengerahkan pasukan perang untuk menyerang ke negeri Couw.
Tiba di perbatasan negeri Couw, di tempat itu kelihatan seorang yang berpakaian sangat rapi. Orang itu sengaja menghadangkan keretanya di tepi jalan. Dia sengaja menghadang lajunya angkatan perang gabungan tersebut.
"Apa yang datang ini pasukan perang Raja Cee?" seru orang itu. "Jika benar harap tahan dulu! Aku mau bicara sebentar dengan Raja Cee. Namaku Kut Goan, selain sebagai famili Raja Couw atas perintah Rajaku, aku sudah lama menunggu kedatangan Raja Cee di sini!"
Tentara gabungan negeri Cee yang berjalan di muka segera menyampaikan pesan orang yang mengaku bernama Kut Goan tersebut kepada Raja Cee Hoan Kong.
Mendengar laporan itu Raja Cee keheranan, dia bertanya pada Koan Tiong:
"Heran sekali. Bagaimana orang Couw bisa tahu lebih dulu bakal sampainya angkatan perang gabungan ini?" kata Raja Cee.
"Lalu bagaimana akal kita sekarang?" kata Raja Cee.
"Sabar jangan cemas. Hamba akan menemui utusan itu dan akan hamba tegur dia. Dia akan hamba ajak adu bicara sampai dia malu sendiri. Akhirnya mereka takluk tanpa kita harus berperang dengan mereka!" kata Koan Tiong.
Sesudah berkata begitu, Koan Tiong keluar dari barisannya, begitu bertemu dengan Kut Goan dia memberi hormat.
Kut Goan membalas hormat yang disampaikan oleh Koan Tiong.
"Rajaku telah mendengar, Maharaja Cee telah mengerahkan angkatan perang gabungan akan berkunjung ke negeri Couw. Karena itu dia memerintahkan aku sebagai utusan menunggu di sini. Bahkan Raja kami mengatakan Raja Cee dan Couw masing-masing punya wilayah dan kekuasaan di masing-masing wilayahnya. Misalnya Raja Cee berkuasa di lautan Utara. Sedangkan Raja Couw berkuasa di lautan Selatan.
__ADS_1
Sudah sekian lama belum pernah terjadi perselisihan di antara mereka. Tetapi sekarang tiba-tiba pasukan gabungan dari negeri Cee datang ke tempat kami. Karena itu kami mohom diberi keterangan apa maksudnya?"
"Atas izin Kaisar Ciu, Raja kami membuat perserikatan Raja-raja Muda dengan tujuan menjunjung tinggi "Dewan Kerajaan Ciu". Sejak dulu Raja Couw selalu mengirim upeti rumput mao pada Kaisar Ciu." kata Koan Tiong. "Akibat Raja Couw tak mengirim rumput Mao, maka di negara Ciu tidak punya bahan untuk arak yang baik. Ditambah lagi ketika Kaisar Ciu Ciao Ong memaklumkan perang ke Selatan, dia tidak pernah kebali lagi ke negaranya.
Menurut keterangan beliau hilang di daerah Couw. Untuk masalah-masalah itulah Raja kami datang sebagai wakil Kerajaan Ciu untuk meminta penjelasan."
"Sebenarnya bukan cuma negeri Couw yang menghentikan mengantar upeti, negara lain pun banyak yang tidak lagi mengantar upeti," kata Kut Goan. "Tetapi jika Kerajaan Ciu menurut agar kami mengantar rumut mao, kami akan mengusahakannya. Tetapi mengenai tidak kembalinya Kaisar Ciu Ciao Ong, dan Raja Cee akan menimpakan kesalahan itu pada Raja Couw, hamba tidak terima. Mengenai wafatnya Kaisar Ciu tersebut, banyak saksinya. Menurut saksi mata wafatnya Kaisar Ciu Ciao Ong, karena perahunya terbalik di sungai. Jika Raja anda mau menyelidikinya, dan bertanya-tanya pada orang-orang yang hidup di sepanjang sungai pasti mendapat keterangan yang lebih pasti lagi. Nah sekian dulu, hal ini akan aku sampaikan pada Rajaku."
Sesudah berkata begitu, Kut Goan mengundurkan keretanya pulang.
Koan Tiong pun kembali untuk menemui Raja Cee Hoan Kong.
"Orang-orang Couw sangat tangguh, mereka tak bisa kita kalahkan dengan adu lidah, kita harus maju untuk mendesak mereka!" kata Koan Tiong.
Koan Tiong segera memerintahkan seluruh angkatan perang gabungan maju terus. Mereka bergerak dan kini sudah sampai di Keng-san (tanah negeri Couw). Di tempat ini tentaranya diperintahkan membangun perkemahan. Mereka bertahan di sana.
Di antara Raja-raja Muda banyak yang heran, mereka tidak tahu apa maksud Koan Tiong bertahan di tempat itu. Dari negeri jauh mereka datang untuk memerangi negeri Couw, sampai di situ malah Koan Tiong memerintahkan mereka bertahan di Keng-san. Koan Tiong tidak langsung memerintahkan mereka menyeberangi sungai Han.
Tidak heran banyak Raja Muda yang bertanya kepada Koan Tiong tentang maksud Koan Tiong tersebut.
"Raja Couw mengirim seorang utusan, maka aku yakin mereka sudah siap-siaga." kata Koan Tiong. "Dalam perang jika sudah dimulai, tidak mudah untuk damai kembali. Kita menempatkan pasukan di sini, maksudya untuk menunjukkan keangkeran pasukan kita. Apabila Raja Couw merasa ngeri melihat tentara gabungan yang begini banyak, niscaya dia akan mengirim utusan lagi untuk berunding dan minta damai. Coba bayangkan, ketika kita datang dengan niat memerangi negeri Couw; kemudian kita pulang saat negeri Couw minta damai dan takluk. Bukankah hasilnya sama juga, kita telah mencapai maksud kita dengan baik?"
Mendegar ucapan Koan Tiong banyak Raja Muda yang belum yakin pada ucapan itu. Mereka berpikir sangat mustahil, negeri Couw yang terkenal tangguh tiba-tiba akan menyerah begitu saja tanpa berperang. Tidak heran jika di tempat berkumpul pasukan gabungan terjadi perdebatan. Masing-masing mengajukan argumentasi sendiri-sendiri. Tetapi diskusi itu tidak satu pun yang menjadi keputusan yang final.
__ADS_1
***