LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 5


__ADS_3

Dikisahkan Koan Tiong yang menempatkan tentaranya di perkemahan belakang, mendapat khabar perkemahan depan mereka sudah kalah. Koan Tiong berpesan pada Siao Hut dan Pangeran Kiu agar mereka menjaga dengan baik perkemahan mereka. Koan Tiong segera mengerahkan sebagian besar tentaranya pergi menolongi Raja Louw Cong Kong.


Baru saja Koan Tiong berangkat belum berapa jauh, dia sudah berpapasan dengan Raja Louw Cong Kong. Meraka segera menggabungkan tentara mereka. Co Moay yang sudah mengumpulkan sisa laskar perangnya pun telah lari sampai di tempat itu. Ketika mereka periksa tentaranya, hanya sepertiga yang selamat. Melihat keadaan angkatan perangnya begitu buruk, Koan Tiong menggelengkan kepalanya.


”Semangat juang tentara kita sudah lenyap sama sekali! Kita tidak bisa tinggal diam lama-lama di sini!” kata Koan Tiong.


Malam itu juga mereka membongkar perkemahan mereka. dan berangkat pulang. Tetapi baru berjalan belum dua hari, tiba-tiba mereka melihat sekelompok kereta perang. Kereta perang tersebut berlerot-lerot berjalan mendatangi. Pemimpin pasukan perang itu adalah Ong-cu Seng Hu dan Tong Kok Gee.


Co Moay segera menyiapkan Hong-thian-keknya, dengan keras ia berseru.


”Tuanku lekas jalan! Biar aku yang akan beretempur sampai mati di sini!” kata Co Moay dengan gagah.


Sehabis berkata begitu dia melirik ke arah Cin Cu dan terus berkata, ”Kau bantu aku!”


Cin Cu memutarkan senjatanya menerjang Ong-cu Seng Hu, sedang Co Moay menyerang Tong Kok Gee.


Sementara itu Koan Tiong mengawal Raja Louw Cong Kong ke tempat yang aman. Siao Hut mengawal Pangeran Kiu. Mereka pergi mencari jalan untuk kabur.


Salah seorang panglima Cee berbaju merah mengejar Raja Louw Cong Kong. Raja Louw melepaskan anak panah, anak panah itu tepat mengenai jidat panglima Cee itu, dia jatuh terjungkel dari kudanya.


Tak lama seorang panglima Cee berbaju putih datang mengejar. Kembali Raja Louw Cong Kong melepaskan anak panahnya. Panglima itu pun kehilangan jiwanya. Melihat raja Louw Cong Kong pandai memanah, tentara Cee gentar mereka tidak berani mengejar terlalu deket.


Koan Tiong menggunakan tipu-muslihatnya. Sambil melarikan diri dia tinggalkan satu persatu kereta perangnya. Selain itu persenjataan dan lain-lain barang. Dia berbuat begitu dengan ”sengaja” yaitu untuk mengumpan agar musuh mengambilnya. Dengan cara begini Koan Tiong berhasil membuat musuh jadi lambat melakukan pengejaran pada mereka.Akhirnya Koan Tiong bersama anak buahnya bisa luput dari bahaya maut.


Waktu itu Co Moay yang pundak kirinya terkena bacokan musuh, masih bisa bertarung membunuh tentara Cee. Beruntung dia bisa menerobos keluar dari kepungan musuh. Tetapi kasihan sekali Cin Cu, dia telah binasa dalam peperangan itu.


Sesudah Raja Louw Cong Kong dan kawan-kawannya bisa keluar dari bahaya, mereka seperti ikan yang baru lolos dari jala. Dengan terbirit-birit mereka melarikan diri pulang ke negeri Louw


Sek Peng dan Tong Kok Gee dari pihak Cee mengejar mereka sampai melewati sungai Bun-sui. Serangan mereka itu berhasil merampas sawah-sawah yang ada di daerah Bun-yang. Tanah pesawahan itu termasuk ke dalam bilangan negeri Louw. Kemudian mereka menempatkan tentara di sana untuk menjaga tempat itu. Sesudah itu barulah mereka pulang ke negeri Cee.


**


Begitulah tentara Cee telah mendapat kemenangan besar dan pulang ke negerinya dengan gembira sekali.


Esok paginya....


Raja Cee Hoan Kong alias Pangeran Siao Pek duduk di atas tahta. Semua menterinya datang memberi selamat. Pao Siok Gee lalu maju ke hadapan Raja Cee Hoan Kong.


”Sekarang belum waktunya menerima ucapkan selamat, karena Pangeran Kiu masih ada di negeri Louw. Bukan saja dia dibantu oleh Koan Tiong dan Siao Hut yang cerdik, Raja Louw Cong Kong pun sepenuhnya membantu mereka.”

__ADS_1


”Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Raja Cee Hoan Kong..


”Saat berperang di Kian-si, raja dan panglima negeri Louw bisa dikatakan sangat ketakutan,” kata Pao Siok Gee, ”hamba akan memimpin tiga pasukan tentara pergi ke tanah Louw. Di sana hamba akan mengajukan permintaan kepada Raja Louw. Aku minta supaya dia membunuh Pangeran Kiu. Aku yakin karena takut pada kita, mau tidak mau terpaksa dia harus menuruti permintaan kita itu.”


”Ya, kau benar! Sekarang untuk urusan negara aku serahkan kepadamu,” kata Raja Cee dengan girang.


Pao Siok Gee segera memilih kereta perang, kuda dan tentaranya. Kemudian dia pimpin pasukan besar mereka berangkat sampai di daerah Bun-yang. Di sini dia perintahkan Sek Peng membawa surat untuk dipersembahkan kepada Raja Louw Cong Kong.


Surat Pao Siok Gee kira-kira demikian:


”Aku Pao Siok Gee, dengan segala hormat mempersembahkan surat ini kepada Louw Hian Houw Tian He.


Sebagaimana Hian Houw tentu sudah mengerti, di dalam rumah boleh ada dua majikan, sedang di dalam negara tidak boleh ada dua orang raja.


Sekarang rajaku sudah merawat kelenteng leluhurnya dengan sempurna, tapi Pangeran Kiu hendak mencoba merampas darinya, apakah ini bukan kelakuan yang sangat durjana?


Tapi karena rajaku masih mengingat kecintaandan persaudaraan dengannya, dia tidak tega untuk menjatuhkan hukkuman kepada Pangeran Kiu sendiri, karena itu dia ingin meminjam tangan Hian Houw untuk menghukum Pangeran Kiu. Mengenai Koan Tiong dan Siao Hut mereka musuh Rajaku, maka Rajaku minta supaya mereka dikirim ke negeri Cee, karena hendak dibunuh di hadapan kelenteng Rraja Cee Siang Konng almarhum.”


Begitu surat itu selesai. Surat diserahkan pada Sek Peng. Ketika Sek Peng akan berangkat Pao Siok Gee berpesan agar Sek Peng berhati-hati.


”Koan Tiong seorang yang pandai luar biasa. Aku sudah bicara dengan Cu-kong kita hendak memakai dia sebagai pembantu kita. Kau harus jaga dengan hati-hati jangan sampai dia binasa.” kata Pao Siok Gee.


”Katakan karena Koan Tiong telah memanah Raja Cee Hoan Kong, dia akan dibunuh sendiri oleh Raja Cee. Pasti Raja Louw akan percaya hal ini.” kata Siok Gee. ”Sebenarnya kita ingin menyelamatkannya.”


”Ya, baiklah,” kata Sek Peng sambil berjalan pergi,


Dia akan menyampaikan surat dari Pao Siok Gee kepada Raja Louw Cong Kong di negeri Louw.


* * *


Tatkala Raja Louw Cong Kong sudah menerima surat dari Pao Siok Gee dan sudah membacanya, dia bersungut-sungut. Lalu berkata kepada Si Pek, “Dulu karena aku tidak menuruti nasihatmu, angkatan perangku hancur berantakan. Sekarang aku ingin bertanya, apakah aku harus membunuh Pangeran Kiu atau membelanya terus? Mana yang lebih baik menurutmu?”


“Sekarang Siao Pek sudah menjadi raja. Sekalipun baru, ia sudah bisa memakai orang-orang yang bijaksana. Para panglimanya gagah berani, menteri-menterinya cekatan. Dia mampu mengalahkan tentara kita di Kian-si. Semua ini satu bukti bahwa ia bukan tandingan Pangeran Kiu,” kata Si Pek. “Apalagi sekarang tentara Cee sudah masuk ke perbatasan negeri kita. Kejadian ini merupakan bahaya besar yang mengancam kita. Maka sebaiknya Tuanku bunuh saja Pangeran Kiu dan berdamai dengan negeri Cee.”


Waktu itu Pangeran Kiu, Koan Tiong dan Siao Hut semuanya sedang tidak ada. Mereka ada di Seng-touw.


Mendengar nasihat dari Si Pek, Raja Louw Cong Kong langsung setuju. Dia segera memerintahkan Pangeran Yan.


“Kau bawa pasukan secukupnya, bunuh Pangeran Kiu, juga tangkap Koan Ting dan Siao Hut. Bawa kemari!” kata Raja Louw.

__ADS_1


Berangkatlah Pangeran Yan menuju ke Seng-touw. Ternyata Raja Louw Cong Kong terpengaruh oleh surat dari Pao Siok Gee. Begitu Pangeran Yan sampai, dia langsung mengepung gedung kediaman Pangeran Kiu.


Kedatangan Pangeran Yan ke Seng-touw telah membuat kaget dan sedih Pangeran Kiu dan pengikutnya.


Koan Tiong dan Siao Hut menangis sedih sekali. Mereka berat untuk berpisah dengan junjungannya itu. Tetapi apa yang bisa mereka lakukan, apa yang bisa mereka minta? Mau tidak mau terpaksa Pangeran Kiu harus menerima hukuman mati. Koan Tiong dan Siao Hut terpaksa harus siap ditangkap dan dibawa ke negeri Cee.


Ketika Siao Hut hendak dimasukkan ke dalam kerangkengnya, Siao Hut mendongak ke langit dan berkata, ”Ayah mendapat bencana, anak harus ikut binasa, itu baru bisa disebut anak yang berbakti! Raja atau junjungan mendapat celaka, hambanya ikut mati, itu baru bisa disebut menteri yang setia. Sudah selayaknya aku ikut Pangeran Kiu mati. Aku tidak mau dipermalukan dan menerima begitu saja kaki dan tanganku diborgol!”


Sehabis berkata begitu Siao Hut membenturkan kepalanya ke sebuah tiang batu. Saat itu juga rohnya melayang ke akhirat.


”Sejak dahulu kala jika ada Raja mendapat celaka, ada hambanya yang ikut mati, juga ada menterinya yang tetap hidup. Biarlah aku tetap hidup supaya aku bisa masuk ke negeri Cee. Kelak aku bisa membalaskan sakit hati Pageran Kiu dan rasa penasarannya.” pikir Koan Tiong.


Dia menyerahkan diri untuk diikat dan dimasukkan ke dalam kereta kerangkeng.


Sesudah Pangeran Yan mengambil kepala Pangeran Kiu yang telah dipenggal juga kepala Siao Hut, dia bergegas mengiringkan kereta kerangkeng kembali ke istana Louw.


Ketika Pangeran Yan sampai, dia serahkan kedua kepala korbannya kepada Raja Louw Cong Kong. Raja Louw sedikit kaget. dia menghelah napas berulang-ulang.


Si Pek buru-buru mendekati Raja Louw Cong Kong sambil berbisik.


”Menurut penglihatan hamba, pasti Koan Tiong tidak akan dibunuh, malah akan jadi pembantu utama di dalam negeri Cee. Dia pandai luar biasa.”


”Lalu bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Raja Louw Cong Kong.


”Jika dia tidak dibunuh dan malah dipakai oleh Raja Cee Hoan Kong, negara Cee akan menjadi jagoan di ini zaman. Bukan tidak mungkin kelak negeri Louw akan mengalami hal-hal yang tidak enak karena diganggu oleh negeri Cee.” kata Si Pek.


”Kalau begitu apa akal kita sekarang?” tanya Raja Louw Cong Kong.


”Karena kita sudah tahu Raja Cee Hoan Kong tidak akan membunuh Koan Tiong, sebaiknya Tuanku pura-pura memintakan ampun untuk Koan Tiong. Jika permohonan Tuanku dikabulkan, mau tidak mau Koan Tiong jadi hutang budi kepada Tuanku. Karena dia hutang budi pada kita, maka aku yakin dia mau bekerja di tempat kita. Jika hal itu bisa terjadi, kita tidak perlu gentar lagi pada negeri Cee. Sudah pasti akan datang saatnya untuk kita membuat pembalasan kepada mereka.”


”Jika kita pakai Koan Tiong menjadi pembantu kita dan dia tinggal bersama kita di sini,” sahut Louw Cong Kong dengan pelahan, ”maka aku khawatir sekalipun kita sudah membunuh Pangeran Kiu, tetapi tidak urung Raja Cee tetap marah dan tetap penasaran. Kejengkelan merek belum hilang. Selanjunya kita akan tetap bermusuhan dengan mereka!”


”Jika Tuanku tidak mau memakai dia, lebih baik Tuanku bunuh saja sekarang juga! Tuanku serahkan jenazahnya kepada Cee Hoan Kong,” kata Si Pek dengan suara dalam.1)


”Ya, baiklah,” sahut Louw Cong Kong.


Raja Louw mengeluarkan perintah untuk membunuh Koan Tiong. Ketika Sek Peng, panglima dari negeri Cee mendengar khabar ini, dengan tersipu-sipu dia menemui Raja Louw.


”Koan Tiong telah memanah Rajaku. Untung panahnya hanya mengenai sangkutan angkinnya. Rajaku sakit hati benar kepadanya,” kata Sek Peng sedikit agak cemas.

__ADS_1


__ADS_2